Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan

Surat kepada Kanjeng Nabi by Emha Ainun Nadjib

Surat kepada Kanjeng Nabi by Emha Ainun Nadjib

Tak Pernah Mati Muhammad senantiasa hadir kembali. Muhammad senantiasa lahir dan lahir kembali: memunculkan “diri”-nya dalam setiap konteks pemikiran, manifestasi peradaban dan kebudayaan, serta dalam setiap produk dan ungkapan kemajuan. Muhammad tidak pernah mati, kecuali darah daging dan tulang belulangnya telah manunggal dengan tanah. Badan Muhammad telah  ber-tauhid dengan hakikatnya, yakni tanah itu. Muhammad yang hidup sekarang bukan lagi jasmani itu, karena telah ditransformasikan ke dalam wujud-wujud yang lebih lembut dan hakiki. Setiap transformasi selalu berlangsung dengan pengurangan, penambahan, perubahan, dan pergeseran. Darah daging Muhammad tidak terbawa sampai kepada kita sekarang, apalagi ke Negeri Allah yang hakiki kelak. Muhammad yang abadi, yang mengabadi, atau yang menjadi keabadian, dan hari-hari ini melintasi kehidupan kita terbuat dari segala yang dilakukannya semasa jasmaninya hidup. Wajah Muhammad kini terdiri dari seluruh nilai perilakunya dulu. Cahaya wajah itu terbuat dari sujud-sujud sembahyangnya. Badannya terbikin dari amal bajik selama terlibat menghancurkan kebudayaan Jahiliyah. Kaki dan tangannya dirakit dari pahala dan jasa sosial yang kelak menolongnya memperoleh tempat paling khusus di Surga Jannatunna‘im. Demikian juga kita kelak. Daging kita akan rapuh, kulit mengeriput, rambut memutih, dan seluruh badan kita akan musnah menjadi debu material yang hina. “Badan” dan identitas kita selanjutnya dibentuk oleh sistem assembling dari pilihan-pilihan kelakuan kita, dari kepribadian dan sikap sosial kita, dari barang-barang yang kita amalkan atau
kita korup, dari segala sesuatu yang kita Islamkan atau kita curi. Teologi Islam telah memandu kita bagaimana memilih assembling diri masa depan yang terbaik dan termulia. Filosofi Islam membimbing kita untuk merancang jenis kemakhlukan macam apa kita akan menjadi kelak. Dan kosmologi Islam memberi pilihan kepada kita, apakah kita akan merekayasa diri menjadi benda setingkat debu, menjadi energi yang gentayangan jadi hantu dan klenik, atau menjadi api dan kayu bakar penyiksa diri sendiri, atau alhamdulillah kita lulus menempuh transformasi dari materi ke energi ke cahaya. Jika kita menjadi cahaya—karena bersih dari tindak korupsi ekonomi, penindasan politik, kecurangan sosial, penyelewengan hokum serta maksiat kebudayaan—maka insya Allah itulah yang bernama tauhid. Menyatu dengan Allah: Allâh nûrussamâwâti walardh. Allah itu cahaya langit dan bumi. Bukan Allah mencahayai atau menyinari langit dan bumi. Kita bergabung menjadi Muhammad autentik, Muhammad hakiki: Nur Muhammad. Cahaya yang terpuji. Asalusul inisiatif penciptaan oleh Allah. Cahaya cikal-bakal yang pada abad ke-13 dimanifestasikan melalui seorang laki-laki yang progresif menentang arus, menjajakan tauhid di tengah-tengah berhala, yang bersedia menggenggam pedang untuk mempertahankan diri dan menegakkan nilai, dan yang bersedia tidur beralaskan daun kurma. Yang kalau kelaparan, dia merasa pekewuh untuk meminta sehingga mengganjal perutnya dengan batu, dan yang punya bargaining power untuk berkuasa, tetapi memilih hidup melarat. Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya
satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah. Akan tetapi, tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah. Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain. Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, tetapi pada saat itu nanti wajah kami


Detail Buku:
Judul         : Surat Kepada Kanjeng Nabi
Penulis      : Emha Ainun Nadjib,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-979-433-888-9
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Mati Ketawa Ala Refotnasi Penulis: Emha Ainun Nadjib PDF

Mati Ketawa Ala Refotnasi Penulis: Emha Ainun Nadjib PDF

Detail Buku:

Judul: Mati Ketawa Ala Refotnasi
Penerjemah: Triwibowo B.S.
Penerbit: Mizan, 2016
ISBN: 978-602-291-224-8
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 200 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 6,96Mb

Deskripsi:


Tiap hari saya bertemu dengan ribuan rakyat di berbagai daerah dan pulau. Hampir semua bertanya, “Kok, partai politik kita sekarang begitu banyak? Ini demokrasi ataukah perpecahan ataukah ketidakdewasaan? Kami harus memilih yang mana?”

Saya tidak bisa menjawab. Malah balik bertanya, “Orang partai mana yang sudah kulonuwun kepada Sampean-Sampean di kampung ini?”

Mereka menjawab, “Belum ada .…”

Pertemuan saya dengan mereka biasanya bermuara pada satu tema: jangan sampai kita rakyat kecil ini gampang didustai lagi.

Kagum Kepada Orang Indonesia karya Emha Ainun Nadjib

Kagum Kepada Orang Indonesia karya Emha Ainun Nadjib

Detail Buku:

Judul: Kagum Kepada Orang Indonesia
Penerbit: Bentang Pustaka, 2015
ISBN: 978-602-291-133-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 93 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,10Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti :terjebak" dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan karena berbagai macam sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.

Padahal di muka bumi tak ada orang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget-joget gembira siang malam melebihi orang Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss bass buuss, jagokan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita dan yang budaya semacam itu sungguh memang hanya terdapat di kepulauan Nusantara, Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini.


Kagum Kepada Orang Indonesia karya Emha Ainun Nadjib

Kagum Kepada Orang Indonesia karya Emha Ainun Nadjib

Detail Buku:

Judul: Kagum Kepada Orang Indonesia
Penerbit: Bentang Pustaka, 2015
ISBN: 978-602-291-133-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 93 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,10Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti :terjebak" dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan karena berbagai macam sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.

Padahal di muka bumi tak ada orang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget-joget gembira siang malam melebihi orang Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss bass buuss, jagokan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita dan yang budaya semacam itu sungguh memang hanya terdapat di kepulauan Nusantara, Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini.