Tampilkan postingan dengan label dee lestari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dee lestari. Tampilkan semua postingan

Supernova 4: Partikel by Dee Lestari

Supernova 4: Partikel by Dee Lestari

Dalam lembaran faks yang sudah mengeriput itu tertulis ZRH. Kode untuk Zarah. Aku. Brad to Borneo. Itu nama proyeknya. Kulit keningku ikut berkerut, otakku menelusuri perbendaharaan nama selebritas yang kupunya. “Brad the ‘If’ song? How old are these people now? Mereka bukan mau tur keliling pabrik LNG di Bontang, kan?” tanyaku bingung. Zach, yang menyerahkan lembar faks tadi, berusaha keras mencerna komentarku, baru kemudian terpingkal-pingkal. “That’s Bread, you moron,” serunya. “This is BRAD. The sexiest Homo sapiens of 21st century. God, you’re so pathetic!” Valerie Wilkes, profesor muda dari Departemen Geosciences di Massachusetts University yang baru dua hari bergabung dengan kami masih bau kopi Starbucks, kalau kata Zach langsung membelalakkan mata. “PITT?” Valerie melengking. “Brad fucking Pitt?” Aku merenung sejenak. Berusaha mengingat-ingat yang mana. Zach roboh ke tanah dan tertawa terguling-guling melihat pemandangan itu. Antara Valerie yang rela kencan dengan sepuluh orangutan demi masuk ke short list pendamping WWF yang secara berkala memboyong selebritas Hollywood masuk hutan, dengan aku yang berkali-kali ditawari ikut tapi selalu menolak tanpa tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Tahun lalu, mereka membawa Julia something Roberts? Lupa lagi. Zach membodoh-bodohiku
selama sebulan karena ia sendiri rela melakukan apa saja demi memotret senyum maut Julia di pagi hari. Seakan-akan panjang gigi perempuan itu bakal bertambah atau berkurang seinci, tergantung sinar matahari. “Oh, please, Zach. Jangan mentang-mentang saya native,” ujarku. “Masih banyak orang lain di Indonesia yang sama kompetennya.” “Bukan karena kamu native,” Zach berkata dengan intonasi bijak yang membuat aku semakin tidak percaya, “tapi karena kamu yang terbaik.” “Yeah, right.” Aku menjulurkan lidah. Bujukan basi. Bukannya kami akan menyelidiki manusia berekor atau apa. Ini, toh, proyek promosi. Tidak lebih. Hollywood memang
amplifier raksasa dan strategis bagi suara kami ini. Peranku sendiri tidak berarti banyak. Tabir surya SPF +50 dan makanan kaleng impor barangkali lebih penting bagi seorang Brad daripada kehadiranku. Lebih baik aku tenggelam di sini, Madidi, Taman Nasional Bolivia seluas 19 ribu kilometer persegi, berlokasikan di salah satu negara termiskin di Amerika Selatan, tapi bisa jadi yang terkaya dalam soal koleksi spesies flora fauna. Harta sejati. Fred Dunston, temanku dari Wildlife Conservation Society, meyakinkanku berkali-kali bahwa Madidi mengerdilkan koleksi flora dan fauna Taman Nasional Manu, primadonanya Amazon, menjadi seperti Taman Safari Bogor. Fred sengaja membuat analogi menggunakan tempat dari kampung halamanku agar aku lebih paham. Ironisnya, belum pernah kukunjungi yang namanya Taman Safari Bogor itu.
Begitu ada tawaran pergi ke Bolivia, aku mengepak tasku tanpa berpikir. Padahal, baru seminggu lalu aku berangkat dari Bandara Entebbe, pulang ke London, markas besar sekaligus
tempatku bermukim. Sejak lama, aku sudah membidik Madidi. Namun, karena sempat ditahan oleh The Journal of Infectious Disease yang selalu haus data, plus menyambi untuk WHO yang selalu kekurangan orang gila untuk ditempatkan di mana saja, akhirnya tiga bulan kahku dan Zach. Dengan ringan, Paul membenamkan kepalaku di kepitan ketiaknya. Usiaku dan Paul terpaut sepuluh tahun. Badanku yang tingginya 172 sentimeter seperti bonsai jika berada di sebelahnya. Entah karena alasan yang pertama atau kedua, Paul menganggapku adik kecilnya sejak kami berteman. Dia kerap memanggilku “Missy”. Kami menjulukinya “Cro-Mag” karena, jika ada manusia modern yang wujudnya mendekati prototipe Cro-Magnon, itulah Paul. “No, no, no,” aku berontak dari dekapannya, “I’m not going.” “Kamu nggak kangen rumah, apa?” balasnya polos. Mulutku sampai ternganga. Tidak terima pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Paul. Pria ini sudah seperti abangku sendiri. Ia tahu persis aku tak punya “rumah” yang ia maksud. “Ah, come on, Missy. It’s been what—ten years? Eleven?” “Twelve. But that’s not the point.” “Listen,” Paul menarik tanganku, pergi menjauh dari Zach dan keramaian base camp, lalu mendudukkanku di sebelahnya. Air mukanya berubah serius. “Please, don’t be mad at us.
Kami tahu kamu pasti menolak. Tapi coba pikir, Zarah. Sudah dua belas tahun kamu mencari dan tetap tidak ketemu. Mungkin dengan pulang ke rumah, kamu malah menemukan sesuatu.”
“Dia tidak ada di sana. Kamu dan Zach boleh ikut meng

Detail Buku:
Judul         : Supernova Episode: Partikel
Penulis      : Dee Lestari
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :
978-602-8811-73-6
Tebal         : 286 hlm
Download      : Google Drive


Supernova 1: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh - Dee Lestari

SUPERNOVA 1: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh - Dee Lestari

Yang Ada Hanyalah ADA Kedua pria itu duduk berhadapan. Kehangatan terpancar dari mata mereka. Rasa itu memang masih ada. Masa sepuluh tahun tidak mengaratkan esensi, sekalipun menyusutkan bara. Tidak lagi bergejolak, tapi hangat. Hangat yang tampaknya kekal. Bukankah itu yang semua orang cari? Sepuluh tahun yang lalu, mereka bertemu di Georgetown, tepat di bawah plang Wisconsin Avenue, bermandi teriknya matahari musim panas Washington, D.C. Masing- masing bersama rombongan teman yang berbeda, banyak yang tidak saling kenal, dan perkenalan keduanya pun berlangsung datar-datar saja. Tidak ada yang spesial. Washington, D.C.“Dimas, George Washington University,” Dimas memperkenalkan diri. Wajahnya yang manis membuat ia selalu tampak tersipu-sipu. Reuben menyambut tangan itu, terasa halus, sehalus paras dan penampilan orangnya yang terawat. Berbeda dengan dirinya, guratan wajah yang tegas, setegas jabat tangannya. “Reuben, Johns Hopkins Medical School.” “Bagaimana perjalanan dari Baltimore tadi?” “Yah, lancar-lancar.” “Saya dengar 295 North dari arah New York Ave ditutup.” “Kami lewat G.W. Park.” Nada itu terdengar angkuh. Dimas langsung tahu kalau Reuben termasuk geng anak beasiswa; orang-orang sinis dan kuper yang cuma cocok bersosialisasi dengan buku. Sementara dari gayanya, Reuben pun langsung tahu kalau Dimas termasuk geng anak orang kaya; kalangan mahasiswa
Indonesia berlebih harta yang tidak pernah ia suka.Namun, hari itu memang berbeda. Semangat musim panas sanggup membuat seseorang berbuat di luar kebiasaannya. Malam itu, kedua rombongan yang tidak pernah bergabung sebelumnya, akhirnya sama-sama terdampar diWatergate Condominium, dalam satu unit apartemen mewah milik kawan Dimas. Dimulai dengan makan malam hingga ber-“pesta-kimia” kecil-kecilan. Semua orang terkapar tanpa terkecuali, di sofa, di atas karpet, di kasur, bahkan di kamar mandi. Tinggal alunan sayup-sayup musik trance ditambah suara dua orang bercakap- cakap. “Ini badai serotonin1 pertamaku. Gila, rasanya luar biasa,”  ujar Reuben. Sorot matanya menyeberang jauh. “Badai serotonin,” Dimas menyahut dengan senyum tolol, “istilah yang bagus.” “Saya nggak mengerti. Kok, ada orang-orang yang malah tidur? Ini adalah momen yang nggak ada duanya. A milestone.” “Apa yang kamu lihat?” Reuben melihat sekeliling. Bagaimana ia mampu menjelaskan ini semua? Ia baru saja menemukan cermin yang selama ini ia cari-cari, dan sekarang sedang menikmati refleksinya. Jangan suruh bicara dulu. Sejak kali pertama Reuben membaca ulasan Benoit Mandelbrot, seorang matematikawan Prancis yang dengan revolusioner membuka gerbang baru untuk memahami ilmu turbulensi, ia langsung merasakan secercah keindahan harmoni antara dua sisi cermin kehidupan, antara keteraturan dan ketidakteraturan, yang tertebak dan tidak tertebak. Order dan chaos.2 Sesempurna apa pun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, ia pun lepas mengubrakabrik. Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selai itu adalah zona kuantum; rimba infinit di mana segalanya relatif; kumpulan potensi dan probabilitas. Dalam kehidupan sehari-hari, kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan. Keterputus- putusan. Paradigma reduksionisme, yang telah berabad-abad mendominasi dunia sains, tidak pernah memberikan perhatian pada fenomena ini. Dan, bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siapsiap terguncang setiap kali memasuki area abu-abu dimensi kuantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat bagi yang mengagung-agungkan objektivitas. Sains ternyata tidak selamanya objektif. Sains, sering kali, harus subjektif.


Detail Buku:
Judul         : SUPERNOVA 1: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh
Penulis      : Dee Lestari
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :
978-602-291-167-8
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Supernova 2: Akar by Dee Lestari

Supernova: Akar by Dee Lestari

Kini Gio percaya. Hati dapat berdenting membentuk harmoni mayor sempurna yang manis di kuping tanpa perlu buka suara atau memetik gitar. Dawai terakhirnya, yang berbunyi tipis tinggi tetapi menggenapi, telah terpetik. Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang-waktu. Dan, ia percaya kini. Puluhan orang perempuan-perempuan dalam chola terbaik mereka dengan warna semencolok mungkin menari cueca di jalan. Beberapa drum band dengan alat music char ango, quena, dan seperangkat alat tabuh, memainkan lagu lagu berbeda pada saat yang bersamaan. Chicha, minuman rakyat dari fermentasi jagung, dibagikan cuma-cuma dalam batok kelapa. Lewat dua porsi, semua hiruk pikuk tadi jadi semerdu simfoni Beethoven. Gio keluar dari Amazon dan tiba di Vallegrande pada saat yang tepat. Setelah tiga puluh lima hari matanya eksklusif memandang hijau tanaman, putih buih sungai, dan biru langit yang terbentang tanpa pucuk bangunan, baru lagi ia injakkan kaki ke peradaban dan melihat warna-warna celupan manusia.
Satu kota ini tengah merayakan Fiesta de La Cruz demi mengenang salib Kristus di Golgota. Dan, lepas dari tema sucinya, orang-orang Bolivia ini benar-benar tahu cara berpesta. Gio pun tersenyum. Entah kepada siapa. Hawa Amerika Selatan adalah kendali jarak jauh yang membangkitkan jejak sejumlah arwah dalam dirinya. Pada kehidupan sekarang, ia berkewarganegaraan indonesia dengan darah campur aduk; ibu Tionghoa dan ayah Indo-Portugal. Namun, sama seperti  anak kecil yang beriman Sinterklas ada, Gio menyimpan secuil iman bahwa di kehidupan lalu dirinya adalah seorang Inca. Tak peduli dunia bilang apa.Sejak dua hari lalu, Gio mendaratkan kakinya di Vallegrande. Perjalanan yang melelahkan dengan folta dari Santa Cruz. Kalau saja tidak kepalang janji mengunjungi seseorang di kota ini, barangkali ia tak akan pernah melepaskan diri dari magnet Mangkuk Amazon. Barulah saat berhadapan langsung dengan Chaska, Gio tersadar akan perasaan rindu yang telah lama bertengger di tebing hati. Tinggal menunggu jatuh. Chaska Pumachua adalah wanita Quechua asal Huaraz, Peru, yang tinggal di Kota kecil Vallegrande. Gio bertemu dengannya sejak kali pertama mengunjungi Bolivia. Delapan tahun yang lalu. Adalah Paulo, sahabatnya, yang mengajak Gio untuk mampir ke Vallegrande demi menemui Chaska setelah mereka keluar dari Taman Nasional Amboró. Paulo, yang berdomisili di Peru, sudah lima bulan tidak mengunjungi
ibunya dan diancam tidak dianggap anak lagi, plus berhenti dimasakkan empanadas salteñas, pai isi daging Llama. Gara- gara lebih ngeri akan ancaman yang kedua, berhubung menurut Paulo, pai buatan ibunya itu juara dunia, ia memohon- mohon kepada Gio agar ikut berangkat ke Vallegrande dari Samaipata, dengan asumsi ibunya bakalan lebih lunak di hadapan tamu. Seharusnya Paulo menyesal telah mengajaknya waktuitu. Cuma tiga hari di Vallegrande, Gio merebut total hati Chaska. Paulo memang tetap dianggap anak, tetapi anak tiri. Di sisi lainnya, Gio juga kecipratan sial karena ancamanancaman yang dulu jadi jatah Paulo kini menjadi jatahnya. Dan, ia sudah kecanduan empanadas salteñas buatan Chaska. Dua hari yang lalu, Chaska menjemputnya di terminal dengan trukbiru uzur yang menggilasi jalan penuh percaya
diri. “Qhari wawa! Anakku!” teriaknya sambil mendekap kuat-kuat hingga Gio terbatuk kecil. Tinggi Chaska cuma

Detail Buku:
Judul         : Supernova Episode: akar
Penulis      : Dee Lestari
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :
978-602-8811-71-2
Tebal         : 262 hlm
Download      : Google Drive


Supernova 3 : Petir by Dee Lestari

Supernova 3 : Petir by Dee Lestari

Dalam lembaran faks yang sudah mengeriput itu tertulis ZRH. Kode untuk Zarah. Aku. Brad to Borneo. Itu nama proyeknya. Kulit keningku ikut berkerut, otakku menelusuri perbendaharaan nama selebritas yang kupunya. “Brad the ‘If’ song? How old are these people now? Mereka bukan mau tur keliling pabrik LNG di Bontang, kan?” tanyaku bingung. Zach, yang menyerahkan lembar faks tadi, berusaha keras mencerna komentarku, baru kemudian terpingkal-pingkal. “That’s Bread, you moron,” serunya. “This is BRAD. The sexiest Homo sapiens of 21st century. God, you’re so pathetic!” Valerie Wilkes, profesor muda dari Departemen Geosciences di Massachusetts University yang baru dua hari bergabung dengan kami masih bau kopi Starbucks, kalau kata Zach langsung membelalakkan mata. “PITT?” Valerie melengking. “Brad fucking Pitt?” Aku merenung sejenak. Berusaha mengingat-ingat yang mana. Zach roboh ke tanah dan tertawa terguling-guling melihat pemandangan itu. Antara Valerie yang rela kencan dengan sepuluh orangutan demi masuk ke short list pendamping WWF yang secara berkala memboyong selebritas Hollywood masuk hutan, dengan aku yang berkali-kali ditawari ikut tapi selalu menolak tanpa tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Tahun lalu, mereka membawa Julia something Roberts? Lupa lagi. Zach membodoh-bodohiku
selama sebulan karena ia sendiri rela melakukan apa saja demi memotret senyum maut Julia di pagi hari. Seakan-akan panjang gigi perempuan itu bakal bertambah atau berkurang seinci, tergantung sinar matahari. “Oh, please, Zach. Jangan mentang-mentang saya native,” ujarku. “Masih banyak orang lain di Indonesia yang sama kompetennya.” “Bukan karena kamu native,” Zach berkata dengan intonasi bijak yang membuat aku semakin tidak percaya, “tapi karena kamu yang terbaik.” “Yeah, right.” Aku menjulurkan lidah. Bujukan basi. Bukannya kami akan menyelidiki manusia berekor atau apa. Ini, toh, proyek promosi. Tidak lebih. Hollywood memang
amplifier raksasa dan strategis bagi suara kami ini. Peranku sendiri tidak berarti banyak. Tabir surya SPF +50 dan makanan kaleng impor barangkali lebih penting bagi seorang Brad daripada kehadiranku. Lebih baik aku tenggelam di sini, Madidi, Taman Nasional Bolivia seluas 19 ribu kilometer persegi, berlokasikan di salah satu negara termiskin di Amerika Selatan, tapi bisa jadi yang terkaya dalam soal koleksi spesies flora fauna. Harta sejati. Fred Dunston, temanku dari Wildlife Conservation Society, meyakinkanku berkali-kali bahwa Madidi mengerdilkan koleksi flora dan fauna Taman Nasional Manu, primadonanya Amazon, menjadi seperti Taman Safari Bogor. Fred sengaja membuat analogi menggunakan tempat dari kampung halamanku agar aku lebih paham. Ironisnya, belum pernah kukunjungi yang namanya Taman Safari Bogor itu.
Begitu ada tawaran pergi ke Bolivia, aku mengepak tasku tanpa berpikir. Padahal, baru seminggu lalu aku berangkat dari Bandara Entebbe, pulang ke London, markas besar sekaligus
tempatku bermukim. Sejak lama, aku sudah membidik Madidi. Namun, karena sempat ditahan oleh The Journal of Infectious Disease yang selalu haus data, plus menyambi untuk WHO yang selalu kekurangan orang gila untuk ditempatkan di mana saja, akhirnya tiga bulan kahku dan Zach. Dengan ringan, Paul membenamkan kepalaku di kepitan ketiaknya. Usiaku dan Paul terpaut sepuluh tahun. Badanku yang tingginya 172 sentimeter seperti bonsai jika berada di sebelahnya. Entah karena alasan yang pertama atau kedua, Paul menganggapku adik kecilnya sejak kami berteman. Dia kerap memanggilku “Missy”. Kami menjulukinya “Cro-Mag” karena, jika ada manusia modern yang wujudnya mendekati prototipe Cro-Magnon, itulah Paul. “No, no, no,” aku berontak dari dekapannya, “I’m not going.” “Kamu nggak kangen rumah, apa?” balasnya polos. Mulutku sampai ternganga. Tidak terima pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Paul. Pria ini sudah seperti abangku sendiri. Ia tahu persis aku tak punya “rumah” yang ia maksud. “Ah, come on, Missy. It’s been what—ten years? Eleven?” “Twelve. But that’s not the point.” “Listen,” Paul menarik tanganku, pergi menjauh dari Zach dan keramaian base camp, lalu mendudukkanku di sebelahnya. Air mukanya berubah serius. “Please, don’t be mad at us.
Kami tahu kamu pasti menolak. Tapi coba pikir, Zarah. Sudah dua belas tahun kamu mencari dan tetap tidak ketemu. Mungkin dengan pulang ke rumah, kamu malah menemukan sesuatu.”
“Dia tidak ada di sana. Kamu dan Zach boleh ikut meng

Detail Buku:
Judul         : Supernova Episode: Petir
Penulis      : Dee Lestari
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :
978-602-8811-73-6
Tebal         : 286 hlm
Download      : Google Drive


Supernova 5: Gelombang by Dee Lestari

Gelombang by Dee Lestari - Goodreads

Hutan dapat mengubah seseorang dalam sekali sentuhan. Siapa pun yang mengenal hutan dengan cukup dalam akan paham. Tak terkecuali Gio. Gio tak menyangka, pemahaman yang sama akan berbalik bagai bumerang yang menyudutkannya. Diva Anastasia terkena sentuhan hutan. Ia terpilih untuk ditelan hilang. Dan, alam adalah misteri yang tak selalu bisa terpecahkan. Genap pada hari keempat puluh pencariannya, tinggal itulah satusatunya penjelasan yang bisa diterima oleh orang-orang di sekelilingnya. Kecuali Gio. Tim SAR yang Gio bentuk mulai meninggalkannya satu demi satu setelah tujuh hari mencari tanpa hasil. Seminggu terakhir, Gio kembali ke Taman Nasional Bahuaja-Sonene, menyusuri belantara di pinggir Rio Tambopata hanya ditemani Paulo dan kru kecil yang ia biayai sendiri. Sepanjang pencarian, Paulo lebih banyak diam. Mereka bergerak dituntun oleh intuisi Gio, yang semakin hari semakin terkeruhkan oleh keputusasaan. Akhirnya, mereka bergerak oleh rasa kasihan. Hujan, yang lalu turun deras dua hari berturut-turut dan membuat sungai terlalu berbahaya untuk ditumpangi, akhirnya menjadi lembar penutup. Gio dan Paulo terpaksa bertolak pulang ke Cusco. “Mungkin kamu harus pulang ke Indonesia dulu,” kata Paulo setelah melihat Gio membiarkan semangkuk lawa de maiz menjadi dingin tanpa disentuh. Sup jagung kental itu adalah buruan utama Gio setiap mereka ke Cusco. Tak pernah ia mendiamkannya sebegitu lama seolah berhadapan dengan sup batu. “Kalau kamu harus kembali ke Vallegrande, silakan saja, Paulo. Aku nggak apa-apa,” balas Gio. Tangannya bahkan tidak menyentuh sendok. “Aku nggak berencana ke Vallegrande.” Paulo menggeleng. “Kecuali kalau kamu mau ikut.” “Aku belum tahu mau ke mana.” Gio mengerucutkan bibirnya, seperti tidak nyaman dengan jawabannya sendiri. “Aku… aku nggak tahu harus berbuat apa lagi.” Paulo mengembuskan napas lega. Akhirnya, sahabatnya sanggup mengakui. Hal tersulit dari tragedi semacam ini adalah menerima dan mengakui. Paulo tidak sanggup membayangkan harus kehilangan orang yang ia cintai tanpa kabar dan jasad. Andai saja sebagian duka Gio bisa dibagi, Paulo bersedia ikut menanggungnya. Namun, duka menyukai kesendirian. Di dalam ruang yang hanya diperuntukkan bagi satu orang, Gio sedang disiksa oleh duka. Paulo hanya bisa mengamati dan menanti sahabatnya merangkak keluar dari sana. “Menurutmu, dia masih hidup?” Tiba-tiba, Gio bertanya. Paulo tercekat. Sahabatnya ternyata belum siap. “Empat puluh hari, Gio. Itu baru pencarianmu. Tim SAR dari pihak taman nasional sudah mencarinya lebih lama lagi. Dua bulan
totalnya. Dia sudah hilang dua bulan.” “Tapi, dia hilang di hutan tropis, tidak kekurangan air, ada pohon buah-buahan….” Paulo tak tega melihat pemandangan itu lebih lama. Ia membuang muka ke arah jendela restoran. Mengganti pemandangannya dengan lalu lalang orang yang berjalan di depan Plaza de Armas. Sudah tidak pada tempatnya lagi kalau ia masih harus berargumentasi soal probabilitas semacam itu dengan Gio. Mereka sudah sama-sama tahu. Di luar ketersediaan air dan makanan, bahaya yang mengintai di hutan tropis pun berlimpah Tanpa rekam jejak dan pengalaman di alam terbuka sebelumnya, turis perempuan bernama Diva Anastasia pergi meninggalkan tendanya pada suatu petang tanpa membawa perlengkapan apa pun. Semua barangnya ia tinggalkan begitu saja. Dua bulan Diva lenyap tanpa jejak di hutan belantara terpencil di jantung Amazon, di salah satu kawasan hutan terakhir di dunia yang terbebas dari populasi manusia. Tempat di mana manusia menjadi tamu asing yang seharusnya tahu diri dan tidak gegabah. Menyadari perubahan di wajah Paulo, Gio menghentikan ocehannya. “Ada apa?” ia bertanya. “Aku benci jadi orang di posisi ini,” gumam Paulo. “Tapi, harus ada yang berani mengatakannya kepadamu. Se acabó.1 It’s over.” “Bagimu mungkin sudah, Paulo,” kata Gio seraya menggeser kursinya menjauh dari meja. “Bagiku belum.” Ia pun tegap berdiri. “Mau ke mana lagi? Apa lagi yang bisa kamu lakukan?” seru Paulo gemas. “Jangan hukum dirimu seperti ini, Gio.” Ransel yang sedari tadi bersandar di kaki meja disambar oleh pemiliknya. Dengan langkah-langkah besar, Gio Alvarado berjalan keluar dari restoran dengan ransel menggantung di satu bahu.

Detail Buku:
Judul         : Supernova Episode: Gelombang
Penulis      : Dee Lestari
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :
978-602-8811-73-6
Tebal         : 286 hlm
Download      : Google Drive