Tampilkan postingan dengan label tere liye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tere liye. Tampilkan semua postingan

Download Gratis Novel Ceros & Batozar PDF - Tere Liye

Ini novelnya tere liye, ceros dan batozar pdf
download novel ceros & batozar pdf
Awalnya kami hanya mengikuti karyawisata biasa seperti murid-murid sekolah lain. Hingga Ali, dengan kegeniusan dan keisengannya, memutuskan menyelidiki sebuah ruangan kuno. Kami tiba di bagian dunia paralel lainnya, menemui petarung kuat, mendapat kekuatan baru serta teknik-teknik menkjubkan. Dunia paralel ternyata sangat luas, dengan begitu banyak orang hebat didalamnya.

Kisah ini tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja.


Ceros

Bagian pertama menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Ceros. Ceros adalah makhluk berbadan manusia dengan kepala badak. Makhluk yang ganas itu berusaha membunuh mereka saat mereka masuk ke lorong kuno yang mereka temukan saat karyawisata. Mereka bahkan behadapan dengan kemungkinan tidak akan bisa keluar dari ruangan tempat Ceros berada.

Pada bagian ini mereka bertemu dengan dua orang manusia dari clan yang usianya jauh lebih tua daripada clan dunia paralel yang mereka kenal selama ini. Clan inilah yang mengajari clan permukaan berbagai pengetahuan yang mereka miliki saat ini.

Tiga sahabat pun sempat berlatih kekuatan demi menghabiskan waktu di sana. Dan di tempat ini pula Ali mempelajari asal muasal kekuatan yang ia miliki. Dalam kisah ini, Ali menjadi kunci kebebasan mereka.

Batozar

Seorang penjahat yang telah dipenjara selama seratus tahun di clan bulan telah melarikan diri. Terdapat bukti bahwa penjahat tersebut ada di Bumi, di kota tempat tiga sekawan tinggal. Meski dilarang oleh Miss Selena untuk mencari penjahat tersebut, tapi pertemuan awal yang tak disengaja membuat mereka tetap terlibat. Tentu saja beberapa diantaranya karena rasa penasaran Ali.

Kisah Batozar kembali membuka wawasan mereka, tentang ketamakan manusia serta perebutan kekuasaan yang tidak ada habisnya. Hal ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, hingga sekarang tidak berubah.

Batozar memang melakukan kesalahan dan telah membunuh banyak orang. Tapi apa alasan sebenarnya yang tidak mau diceritakannya. Dapatkah Raib, sebagai putri bulan memenuhi permintaan akhir Batozar?

Download novel Ceros & Batozar - Tere Liye PDF [Compressed]
via Safelink------>> [GoogleDrive]
Via Skiplink ---->> [GoogleDrive]
password = rajaning

download [tanpa password]
Via safelinku--->>[LINK

download novel komet pdf
download ceros dan batozar pdf free
bookabuku
berita tere liye
download novel tere liye bintang pdf
spin off serial bintang pdf
kapan novel komet minor terbit
spin off bintang tere liye
tentang kamu
tere liye sang penandai pdf
novel tere liye bumi pdf
novel terbaru bulan juni 2018
kapan novel komet tere liye terbit?
download novel tere liye bintang pdf
rindu pdf download
berjuta rasanya
ebook about love
download novel sunset dan rosie pdf
harga novel ceros dan batozar
beli novel komet
berita tere liye
po novel komet
serial bumi tere liye

spin off bintang

# About Love by Tere Liye

# About Love by Tere Liye

“ Jatuh cinta adalah salah satu anugerah terbaik. Cinta memberi kita kesempatan untuk memahami banyak hal. Cinta juga menjadikan kita lebih dewasa, lebih berani, dan bertanggung jawab. Cinta pula yang menjadikan manusia sebagai manusia.”

“Masing-masing dari kita memiliki kutipan favorit tentang cinta. Satu, sepuluh, atau bahkan seratus kutipan seperti yang ada dalam buku ini bisa menjadi pegangan kita dalam mencinta.”
“Jatuh cinta itu persis kau naik gunung, tiba-tiba terjerambab ke dalam jurang dalam, meluncurnya mudah, tapi susah payah merangkak naik kembali. Jatuh cinta itu persis seperti komputer atau HP kau tiba-tiba terkena virus, kena-nya gampang, tapi memperbaiki, servis datanya susah kali–bahkan tetap tidak bisa diperbaiki hingga kapan pun. Jatuh cinta itu sama dengan kau naik mobil cepat, kau gas kencang, jalan landai, tiba-tiba rem-nya blong. Mobil kau melaju tak terkira, susah payah menghentikannya. Bahkan harus menabrak sana-sini, kau patah hati.”

“ Siapa yang suka rendang? Well, makanan yang konon katanya terenak sedunia ini ternyata ada hubungannya dengan memilih pasangan lho. Kok bisa? Iya. Memilih pasangan itu bukan sekadar melihat fisik luarnya. Karena kalau hanya itu, bukankah kalian sendiri pernah mengalaminya? Mengambil potongan paling besar, ternyata itu bukan rendang, itu lengkuas yang tertutup bumbu lezat. Luarnya memang sama-sama menggoda, tapi ketika digigit rasanya berbeda.”
“Pilihlah pasangan yang kaya. Tapi bukan kaya hartanya, melainkan kaya waktunya, sehingga dia punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama kita termasuk saat dia sibuk sekalipun.
Karena hari ini, orang2 sebenarnya lebih banyak bercengkerama dengan pasangan nempel terusnya, yaitu gagdet macam HP, laptop, dan sebagainya.”

#AboutLove merupakan rangkuman kutipan cinta terfavorit dari Tere Liye.

Detail Buku:
Judul         : #AboutLove
Penulis      : Tere Liye.
Penerbit     : PT. Gramedi Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-1778-6
Tebal         : 128 hlm
Download      : Google Drive


Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Pesawat berbadan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London. Penerbangan ini nonstop menuju Singapura. Gadis dengan rambut dikucir dan seperangkat touchscreen di tangan, berisi corat-coret daftar pertanyaan, tersenyum gugup di kursi berlapis kulit asli di sebelahku. Aku sedang tidak berselera untuk tersenyum, cukup menyeringai, menatapnya datar. ”Silakan,” kataku. ”Maaf, wawancara ini sudah berkali-kali ditunda. Kami sudah berusaha menyesuaikan jadwal. Tapi begitulah, tidak mudah mengejar kesibukan Anda.” Dia sedikit percaya diri tampaknya. Senyumnya lebih baik. Aku mengangguk. Aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Janji pertama bertemu di Jakarta kemarin pagi batal karena aku sudah berangkat menghadiri konferensi. Editor senior majalah mingguan  tu spesial meneleponku, minta maaf, bilang wawancara ini  amat penting, waktunya mendesak, pembaca setia mereka ingin tahu bagaimana cara terbaik menyikapi turbulensi ekonomi dunia saat ini. Apa pun akan mereka lakukan untuk mendapatkan materi wawancara, termasuk menyusulku ke London. Baiklah, aku memberikan waktu satu jam selepas konferensi. Lagi-lagi wartawan mereka datang terlambat di gedung konferensi, dan aku sudah menumpang taksi bergegas menuju bandara. Editor itu kembali terburu-buru menelepon, bilang mereka  udah berusaha mengirimkan wartawan terbaik mengejarku ke Eropa, tetapi jadwalku terlalu padat untuk diikuti. Sambil tertawa, dia bergurau, ”Kau tahu, Thom. Bahkan jadwalmu lebih padat dibanding presiden.” Demi sopan santun aku ikut tertawa, lantas berkata pendek, ”Kita lakukan saja sekarang di atas langit atau lupakan sama sekali.” ”Seperti yang mungkin sudah disebutkan dalam e-mail, ini akan menjadi judul di halaman depan.” Gadis dengan blus putih dan rok hitam konservatif selutut itu masih melanjutkan dengan kalimat pembukanya. ”Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya, tapi karena saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan.ebih besar dibandingkan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali pesawat biasa. Dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.” Aku mengangguk, lebih asyik mengamati penampilan ”wartaIsi-wan terbaik” di sebelahku itu. Aku bergumam, semoga isi kepalanya secantik penampilannya. Gadis itu lebih cocok menjadi pembawa acara di layar televisi dibandingkan kuli tinta, bergenit ria dengan dandanan dan kalimat, padahal kosong. Apa tadi kualifikasinya? Lulusan terbaik sekolah bisnis? Ada ribuan orang yang memiliki predikat itu—aku bahkan punya dua. ”Sejak kapan kau menjadi wartawan?” Senyum riang gadis itu terlipat, meski ekspresi wajah terbaiknya tetap menggantung. ”Saya?” ”Ya, sejak kapan kau menjadi wartawan?” ”Dua tahun,” dia menjawab ragu-ragu. ”Berapa usiamu sekarang?” ”Usia? Eh, dua puluh lima.” ”Ada berapa wartawan di kantormu?” ”Eh?” ”Ya, anggap saja aku yang sedang mewawancaraimu.” Aku menatapnya tipis, mengabaikan pramugari yang penuh sopan santun berlalu-lalang menawarkan kaviar serta anggur terbaik. ”Hampir tiga puluh.” ”Menarik.” Aku menjentikkan telunjuk. ”Dari tiga puluh
wartawan di kantor review ekonomi mingguan yang mengklaim terbesar di Asia Tenggara, pemimpin redaksi kalian ternyata memutuskan mengirimkan juniornya yang berusia dua puluh lima dan baru bekerja dua tahun, melakukan wawancara yang katanya paling penting, topik paling aktual, yang judulnya akan diletakkan di halaman depan edisi breaking news. Amat menarik, bukan?” Wajah gadis itu memerah. Sepertinya aku berhasil meIsi-

Detail Buku:
Judul         : NEGERI PARA BEDEBAH
Penulis      :
Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8552 - 9
Tebal         :
440 hlm
Download      : Google Drive


Sepotong Hati Yang Baru by Tere Liye

Sepotong Hati Yang Baru by Tere Liye

Awal dari semua kerumitan masalah ini adalah suatu malam, saat Puteri begitu semangatnya bercerita kalau dia baru saja bertemu dengan Rio, di salah-satu tempat makan tenda tepi jalan paling ramai dekat kampus kami. “Kenapa lama sekali, Put?” Sari, teman satu kontrakan bertanya, kami sedang mengerjakan tugas desain interior di ruang tengah, bersama tiga teman cewek satu jurusan lainnya, sibuk melototin laptop.  Putri hanya tersenyum simpul. “Bukannya lu bilang mau makan di rumah? Nggak jadi dibungkus ikan gorengnya?”Aku ikut bertanya, menoleh, “Aduh, gue kira tadi bakalan bisa ngambil bungkusan lu, Put. Laper, nih.” “Ngambil? Perasaan selama ini yang ada ngerampok, maksa minta.” Sari menyikutku, tertawa. Aku nyengir. Putri masih tersenyum simpul, loncat duduk di sofa, menyalakan televisi. “Eh, sejak kapan lu suka nonton, Put? Bukannya lu jam segini lebih suka di kamar, internetan?” Sari bertanya lagi. Sebenarnya kami sudah mulai bosan mengerjakan tugas sejak tadi sore, Sari sedang melemaskan badan, ikut naik ke atas sofa, membiarkan yang lain di karpet menyelesaikan gambar desain, bercakap-cakap dengan Puteri bisa jadi intermezzo yang baik. “Gue lapar, nih. Sudah nggak tahan.” Aku ikut berdiri, “Ada yang mau mie rebus?” Semua teman-teman di karpet mengacungkan jari semangat. Siapa pula menolak ditawari mie rebus gratis. Aku nyengir, sedikit menyesal telah menawarkan diri, tahu semua bakal mau, mending nggak usah bilang. Menggaruk kepala yang tidak gatal, kadang berbuat baik itu memang perlu niat, bukan basa-basi doang. “Eh, kenapa lu sekarang senyum-senyum sendiri, Put?” Sari tidak ikut mengacungkan tangan, masih sibuk menyelidiki Puteri, menatap Sari di sebelahnya, kepo, ingin tahu urusan orang lain, “Memangnya acara di tipi lucu? Cuma siaran berita doang?” Sari melihat sekilas layar televisi. Puteri malah semakin tersenyum simpul. “Ada apa sih, Put?” Sari penasaran. “Rahasia.” Puteri tertawa. “Ayolah,” Sari sebal mengangkat bantal di depan Puteri, agar berhenti menonton televisi, pindah memperhatikan dia. Puteri nyengir, menatap Sari lamat-lamat, lantas sengaja sekali berbisik, “Rio.” Pelan saja Puteri mengatakan kalimat itu, berbisik malah, sengaja agar yang mendengar hanya Sari, tapi itu cukup untuk menghentikan langkah kakiku yang persis sudah di bawah bingkai pintu menuju dapur kontrakan. Dan juga tentu saja, tiga teman satu jurusan lain yang masih sibuk dengan tugas di karpet ruang tengah.
What??? Rio? Lupakan mie rebus, bergegas balik kanan. Bah, kalau mendengarkan baik-baik cerita Puteri, aku pikir nggak ada yang spesial. Apanya yang spesial? Puteri pergi ke warung tenda, mau bungkus makan malam menu ikan goreng, tapi saat dia berdiri di depan abang pemilik warung yang sibuk mencatat pesanan, sambil meneriaki juru masaknya, sudut mata Puteri menangkap ada Rio yang ikut melangkah masuk. “Eh, ada Puteri. Malam, Put.” Rio tersenyum. Aduh, semua orang di kampus juga tahu siapa Rio, gebetan satu kampus. High class jomblo. Disenyumin seperti itu bahkan membuat Puteri seperti sesak. “Suka makan di sini juga, Put?” Puteri mengangguk-angguk seperti orang-orangan sawah. “Makan bareng yuk, itu teman-teman satu kostanku juga mau makan.” Rio menunjuk beberapa teman kampus lain yang mengambil posisi kursi masing-masing. “Jadinya dua puluh ribu, Neng.” Abang pemilik warung yang menerima bungkusan dari bagian masak berseru. “Nggak jadi dibawa pulang, Bang. Makan di sini saja.” Puteri berbisik. Rio sedang menoleh, mengkoordinir pesanan temannya. “Lah? Bukannya Neng minta dibungkus tadi?” “Ssshhh….” Puteri melotot, aduh, Abang jangan pura-pura bego, tahu. Ini kesempatan emas. Rio sudah kembali memperhatikan Puteri. “Terserah, Neng-lah. Woi, makan di sini ternyata, tolong taruh di piring.” Abang warung mana paham, tetap berteriak, menyuruh salah-satu anak buahnya. “Eh, Put? Tadi kamu sebenarnya mau bungkus bawa pulang, ya?” Rio bertanya. “Nggak kok. Nggak. Abangnya saja yang salah.” Puteri buru-buru menggeleng, “Aku memang mau makan di sini.” “Si Neng tega deh. Padahal Neng sendiri yang barusan batalin dibungkus, jadi makan di sini saja.” Abang warung masuk dalam percakapan lagi, protes. Di tengah asap dan aroma ikan goreng, kesibukan orang makan, dan lalu lalang pengamen, mana paham Abang warung kalau sejak tadi Puteri sudah melotot-lotot menyuruhnya tutup mulut. Maka jadilah Puteri makan malam bareng Rio. Bareng? Enak saja, yang tepat itu adalah Puteri makan malam bareng enam teman kampus lainnya. Dan itu biasa saja. Apanya yang

Detail Buku:
Judul         : Sepotong Hati yang Baru
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Komet karya Tere Liye PDF

Komet karya Tere Liye PDF

Detail Buku:

Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2018
ISBN: 9786020385938
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 384 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 2,83Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Setelah “musuh besar” kami lolos, dunia paralel dalam situasi genting. Hanya soal waktu, pertempuran besar akan terjadi. Bagaimana jika ribuan petarung yang bisa menghilang, mengeluarkan petir, termasuk teknologi maju lainnya muncul di permukaan Bumi? Tidak ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi. Situasi menjadi lebih rumit lagi saat Ali, pada detik terakhir, melompat ke portal menuju Klan Komet. Kami bertiga tersesat di klan asing untuk mencari pusaka paling hebat di dunia paralel.

Buku ini berkisah tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini juga berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian, dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Ceros dan Batozar karya Tere Liye PDF

Ceros dan Batozar karya Tere Liye PDF

Detail Buku:

Judul: Ceros dan Batozar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2018
ISBN: 9786020385914
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 376 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,81Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Awalnya kami hanya mengikuti karyawisata biasa seperti murid-murid sekolah lain. Hingga Ali, dengan kegeniusan dan keisengannya, memutuskan menyelidiki sebuah ruangan kuno. Kami tiba di bagian dunia paralel lainnya, menemui petarung kuat, mendapat kekuatan baru serta teknik-teknik menakjubkan.

Dunia paralel ternyata sangat luas, dengan begitu banyak orang hebat di dalamnya. Kisah ini tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja.


download novel komet pdf
download ceros dan batozar pdf free
bookabuku
berita tere liye
download novel tere liye bintang pdf
spin off serial bintang pdf
kapan novel komet minor terbit
spin off bintang tere liye
tentang kamu
tere liye sang penandai pdf
novel tere liye bumi pdf
novel terbaru bulan juni 2018
kapan novel komet tere liye terbit?
download novel tere liye bintang pdf
rindu pdf download
berjuta rasanya
ebook about love
download novel sunset dan rosie pdf
harga novel ceros dan batozar
beli novel komet
berita tere liye
po novel komet
serial bumi tere liye
spin off bintang

Bumi karya Tere Liye PDF terbitan 2016

Bumi karya Tere Liye PDF terbitan 2016

Detail Buku:

Judul: Bumi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016
ISBN: 9786020332956
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 440 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 4,95Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.

Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.

Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

Buku pertama dari serial “BUMI”


Sebelumnya juga kami sudah posting buku yang berjudul Bumi karya Tere Liye terbitan Tahun 2014 yang bisa anda baca disini :  Bumi Tere Liye 2014

Bulan by Tere Liye

Bulan by Tere Liye

Gerimis membungkus halaman sekolah. Langit mendung. Gumpalan awan hitam seakan bosan beranjak di atas sana. Satu-dua tetes air mengenai jendela kelas lalu terbawa angin. Udara terasa lembap dan dingin. Ini sebenarnya sudah di ujung musim hujan. Tak lama lagi musim kemarau yang kering akan tiba. ”Bagus sekali, Ali! Kamu lagi-lagi memperoleh nilai terbaik.” Suara Pak Gun memecah keheningan kelas. Lelaki itu berseru dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Ali yang baru saja menerima hasil ulangan. Kelas seketika ramai oleh tawa. Seli di sebelahku juga tertawa. Aku menyikutnya. Dengan mata melotot, kutegur dia, ”Itu tidak sopan, tahu!” Seli mengangkat bahu. ”Apanya yang tidak sopan?” Ini pelajaran pertama, pelajaran biologi. Pak Gun memulai pelajaran dengan membagikan satu per satu lembar jawaban ulangan anak-anak minggu lalu. Aku tahu sekali maksud kalimat ”nilai terbaik” itu. Di kertas yang dipegang Ali sekarang pasti hanya ada angka 2 atau 3 dari maksimal  10. Aku menoleh ke lorong meja. Ali berjalan tidak peduli, duduk di bangkunya, memasukkan kertas ulangannya ke kolong meja. ”Dua hari lagi kita ulangan.” Pak Gun sudah membagikan kertas terakhir. ”Yaaa...,” anak-anak berseru kecewa, serempak. Termasuk Seli. Dia menepuk dahi. ”Jangan protes.” Pak Gun menggeleng. ”Kalian harus terbiasa belajar setiap hari, mempersiapkan diri. Tinggal satu minggu lagi ujian akhir semester. Bapak kecewa dengan nilai rata-rata yang hanya tujuh. Bapak percaya kalian bisa lebih baik lagi. Dan kamu, Ali, kamu merusak nilai rata rata kelas. Kapan kamu akhirnya mau belajar sungguhsungguh?” Semua teman di kelas sekarang menoleh ke arah Ali. Yang ditatap hanya menggaruk-garuk kepala dengan rambut berantakan.
”Sekali lagi kamu memperoleh nilai dua saat ulangan, kamu harus konsultasi ke guru BK. Semoga setelah itu kamu bisa memahami pentingnya belajar. Kamu dengar itu, Ali?” Pak Gun menghela napas panjang. Seli lagi-lagi menutup mulut, menahan tawa. ”Apanya yang lucu, Sel?” aku menoleh, berbisik. ”Eh, lihat tuh, wajah Ali lucu sekali. Rambutnya yang berantakan itu serasi sekali dengan wajah kusutnya. Aku berani bertaruh, dia pasti tidak sempat mandi pagi tadi. Dan nilai dua, Ra...,” Seli berbisik geli. Aku keberatan, lantas memotong kalimat Seli, ”Ali teman kita, Sel. Kamu tidak boleh menertawakannya. Lagi pula, kamu tahu persis dia hanya malas, bukan bodoh. Dia bahkan menguasai pelajaran biologi sejak SD.” Seli lagi-lagi mengangkat bahu. Apa salahnya tertawa? Demikian maksud ekspresi wajahnya. Gerimis terus turun sepanjang pelajaran biologi. Pak Gun adalah guru biologi yang baik dan telaten menjelaskan, pun pengetahuannya luas. Usianya hampir lima puluh tahun, dan beliau salah satu guru senior di sekolah. Meski generasi guru lama, Pak Gun selalu punya metode mengajar
yang up-to-date dan menarik. Seperti hari ini, dia menggunakan video. Hampir semua anak memperhatikan dengan antusias, sesekali mencatat. Aku tidak terlalu suka pelajaran ini. Aku lebih suka pelajaran bahasa. Tapi karena yang mengajar Pak Gun, aku ikut menyimak. Mungkin hanya Ali yang menguap bosan. ”Electrophorus electricus atau disebut juga electric eel adalah belut listrik yang bisa menghasilkan sengatan listrik hingga 600 volt.” Pak Gun menunjuk ke layar di depan kelas. Dia memutar video singkat tiga puluh detik yang memperlihatkan seekor belut besar sedang menyengat heIsi

 Detail Buku:
Judul         : Bulan
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978-602-03-1411-2
Tebal         : 400 hlm
Download      : Google Drive


Negeri Di Ujung Tanduk by Tere Liye

Negeri Di Ujung Tanduk by Tere Liye

RUANGAN besar yang disulap menjadi arena pertarungan itu terlihat ramai. Seruan tertahan, suara mengaduh, suara tepisan, bunyi berdebuk, terbanting, teriakan menyemangati, hingga teriakan bersahut-sahutan memenuhi langit-langit ruangan. Satu-dua berseru dalam bahasa yang tidak dipahami bahkan oleh orang yang berdiri di sebelahnya. Wajah-wajah dan perawakan antarbangsa, wajah-wajah antusias bercampur tegang. Udara terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Dua petarung sedang jual-beli pukulan di tengah ruangan, bertinju. Arena pertandingan tanpa ring pemisah apalagi kerangkeng tertutup. Hanya lingkaran merah di atas lantai, berdiameter dua depa. Percik keringat petarung, dengus napas, suara pukulan menghantam badan, semuanya terdengar langsung, tanpa jarak. Penonton berkerumun di sekitar lingkaran,  berdesak-desakan, dan berdiri menonton. Tangan mereka terangkat menyemangati. Ini jenis pertunjukan yang mengesankan. Satu tinju lagi menghantam cepat rahang salah seorang petarung. Membuat penonton berseru tertahan, sebagian besar berseru girang, ”Yes!” Sebagian mengeluh, ”Oh, no!” Disusul tinju lainnya mengenai dagu, kali ini lebih telak. Sepersekian detik berlalu, penantang yang beberapa menit lalu masih terlihat segar bugar segera tumbang ke lantai. Knockout alias KO.Pengunjung serempak berteriak kegirangan, melontarkan kebisingan. Napas petarung satunya, yang masih berdiri kokoh di tengah arena, bahkan tidak terlihat tersengal. Hanya kausnya yang sedikit basah oleh keringat.
”Fantastico!” ”Bravo!” Aku menelan ludah, melirik jam besar di tiang ruangan. Hanya dua menit lima belas detik lawan pertamanya dibuat tersungkur. ”Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?” Sebuah tangan menyikut lenganku, berkata kencang, berusaha mengalahkan bising. Aku menoleh, menatap wajah menyebalkan di sebelahku. ”Maksudku, jika kau mau, aku masih bisa membatalkan pertarungan. Aku bisa pergi ke mereka, mengarang-ngarang alasan. Kau sakit perut misalnya. Atau asmamu kambuh, mag kronis.” Theo mengangkat bahu, menunjuk salah satu sudut kerumunan, tempat beberapa anggota klub petarung yang bertindak sebagai inspektur pertandingan malam ini. ”Atau kita bisa mengarang  cerita, tiba-tiba bisulmu pecah....”
”Aku tidak akan membatalkan pertarungan,” aku menyergah Theo, memotong kalimatnya, ”simpan omong kosongmu!” Theo tertawa ringan, menyeka peluh di pelipis. Salah satu inspektur pertandingan meraih pengeras suara. Dia mengenakan pakaian kerja seperti kebanyakan pengunjung lain—hanya kemejanya terlihat berantakan, keluar dari celana, lengan dilipat, dan dasi entah tersumpal di mana. Dengan bahasa Inggris bercampur Portugis yang sama fasihnya, dia berseru tentang pertarungan yang baru saja selesai. ”Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentlemen. Well, simpan teriakan kalian. Pertarungan kedua akan segera tiba. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertarung sejak enam bulan.” Wajah inspektur antusias, juga keramaian di ruangan. ”Jangan lupa, seperti yang kami sebutkan pada awal pertemuan malam ini, kami telah menyiapkan kejutan besar di pertarungan terakhir, ladies and gentlemen. Ini sungguh kejutan hebat. Kalian pasti suka.” Petarung yang masih bertahan di tengah lingkaran merah menolak duduk di kursi yang disediakan. Dia memilih berdiri, melemaskan bahunya. Tatapan matanya tajam, gestur wajahnya tenang. Sama sekali tidak terpengaruh situasi sekitar. Sementara penantang keduanya bersiap di tepi lingkaran. Dia memasang sarung tinju tipis dan pelindung kepala. Beberapa orang berseru menyemangati, menepuk-nepuk bahu. Detik-detik pertarungan
semakin dekat. Suasana semakin panas. ”Lee! Lee!” Nama sang juara bertahan diteriakkan beramai-ramai.


Detail Buku:
Judul         : Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9429 - 3
Tebal         : 360 hlm
Download      : Google Drive


KAU, AKU, DAN Sepucuk Angpau Merah

Novel KAU, AKU, DAN Sepucuk Angpau Merah

Sinopsis :
USIA enam tahun, aku suka memikirkan hal-hal aneh. Salah satunya aku pernah sibuk memikirkan: Jika kita buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan kami? ”Kau ada-ada saja, Borno. Urusan kotoran saja kaulamunkan.” Bapak bukannya menjawab, malah tergelak, sibuk membereskan jarring Aku mengeluarkan nada kecewa, pindah bertanya pada Ibu. ”Borno, jangan tanya macam-macam! Melihat tingkah kau satu macam saja Ibu sudah pusing.” Ibu melotot, tangannya terus memilah-milah ikan hasil tangkapan semalam, menyuruhku bergegas mengantar pesanan. Jadilah, sebelum Ibu meneriakiku dua kali, aku berdiri membawa tampuk tali rotan yang ikannya kait-mengait seperti setangkai buah rambai. Tiba di rumah Koh Acong pemilik toko kelontong yang menghadap persis Sungai Kapuas, pemesan ikan pertama pagi
in aku bertanya sambil menjulurkan setampuk ikan segar. ”Koh, berapa panjang Kapuas?” ”Mana aku tahu.” Koh Acong yang sedang repot melayani nelayan yang berbelanja keperluan rumah setelah pulang melaut tidak memedulikanku. ”Koh pernah ke hulu Kapuas?” aku mendesak. ”Haiya, kau tidak lihat aku sibuk? Berapa liter gulanya? Satu setengah? Kau jadi ambil karung goni berapa? Tiga? Ah iya, semuanya jadi 149.650 perak.” Koh Acong menceracau rincian belanja dan harga. Soal berhitung cepat, mencongak, tak ada yang mengalahkan Koh Acong. Kalkulator besar milik pedagang di perempatan kota saja kalah cepat. Misalnya kalian bawa selembar kertas belanjaan, jangan yang mudah, bawa saja yang rumit sekalian: tiga perempat bungkus kopi, satu tujuh perdua liter minyak tanah, enam perdelapan liter gula, setengah botol spiritus, dua kotak korek api, sepuluh liter beras. Tunggu
sekejap, Koh Acong bagai dukun Dayak sakti merapal mantra menyebut total harga tanpa salah. Sekian rupiah. Jangan protes dia salah hitung, atau perahu kalian tidak boleh merapat lagi ke toko kelontong seumur hidup. ”Ayolah, bagaimana mungkin Koh tidak tahu,” aku terus mendesak. ”Kau menganggu saja, Borno. Bawa ikannya ke belakang sana. Jangan taruh di atas etalase kaca mahalku.” Koh Acong melotot sambil mereken uang kembalian, tidak peduli. Aku bersungut-sungut membawa ikan ke bagian belakang toko kelontong. Istri Koh Acong sedang menyalakan kompor, tertawa senang melihatku membawa ikan segar. Dia pun menyerahkan uang. Masih sisa dua tampuk, aku harus bergegas. Tiba di warung makan Cik Tulani, masih terhitung paman jauhku, pertanyaan itu tetap memenuhi kepala. Kutanyakan pada Cik Tulani. Dia yang sedangberpeluh membuka tutup panci gulai menyeringai. ”Kau tanya apa tadi, hah?” ”Cik pernah ke hulu Kapuas?” ”Belum pernah.” ”Cik tahu di mana hulu Kapuas?”
”Tidak tahu.” ”Cik tahu, berapa lama naik kapal ke sana?” ”Hah, kalau kau bertanya soal racikan pindang ikan atau bagaimana membuat jengkol santan yang lezat, aku tahu. Mana ikannya? Alamak, alangkah sikit-nya ikan yang kaubawa ini, Borno. Tidak cukup hanya setampuk. Kemarin siang saja warungku kedatangan rombongan dari Jakarta. Habis pindang ikanku, rakus mereka makan, sampai melepas kancing baju, memperlihatkan buncit perut. Kalau terus seperti ini, lama-lama aku beli ikan ke nelayan lain saja.” Cik Tulani tidak peduli pertanyaanku. Dia justru sibuk mengocehkan protes yang selalu saja diulang-ulang setiap kali aku mengantar ikan. Aku menelan ludah. Semua orang di tepian Kapuas juga tahu Cik Tulani memang suka mengomel. Pernah aku membawa ikan satu ember besar, sampai tersengal menyeretnya, masih saja dia bilang sedikit. Dia berbual nanti siang Gubernur Kalimantan Barat hendak makan di warungnya.

Detail Buku:­­
Judul         : KAU, AKU, DAN Sepucuk Angpau Merah
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 7913 - 9
Tebal         : 512 hlm
Download      : Google Drive


Matahari by Tere Liye

Matahari by Tere Liye

Sinopsis:
PUKUL satu siang Hujan turun deras di luar. Suara petir terdengar susulmenyusul, angin kencang berkesiur. Udara terasa lembap dan dingin. Namun, itu tidak menyurutkan suasana. Aula sekolah yang seminggu terakhir menjadi tempat pertandingan basket riuh rendah oleh teriakan penonton. Suara tepuk tangan, seruan tertahan, dan sorakan semangat terdengar di sekelilingku. Bahkan Seli, yang biasanya kalem urusan begini, juga ikut berseru-seru, sambil tangannya tak berhenti memukulkan balon tepuk alat suporter yang terbuat dari balon panjang, seperti pentungan yang mengeluarkan suara berisik itu Aku menatap keramaian. Semua kursi di pinggir lapangan penuh sesak, lebih banyak yang berdiri. Tidak ada sudut aula yang kosong. Semua dipenuhi murid dari sekolah kami dan dari sekolah-sekolah lain. Menariknya, seruan penonton semakin kencang setiap kali Ali menyentuh bola. Ali? Iya, si biang kerok itu. Dia menjadi pusat perhatian di lapangan basket. Aku mengusap wajah, tetap belum terbiasa menatap Ali yang lincah berkelit mendribel bola di lapangan. Dia lihai melewati dua lawan seperti pemain profesional (penonton berteriak), juga dua lawan berikutnya lagi (teriakan semakin kencang), kemudian tanpa terkawal, penuh gaya Ali lompat menembak ke keranjang Gerakan tangannya begitu dramatis, bola melengkung. Masuk! Kupingku seperti pekak oleh teriakan histeris fans Ali ketika bola basket menembus keranjang. Satu-dua penonton meniup terompet kegirangan, menyambut poin tambahan dari Ali. Aku menelan ludah. Ini pemandangan yang musykil mungkin bisa masuk keajaiban dunia nomor delapan. Entah bagaimana caranya, si biang kerok, tukang cari ribut, yang pakaiannya selalu kusut, rambut berantakan, sering diusir guru dari kelas karena tidak mengerjakan PR, bertengkar, tidak punya teman (kecuali aku dan Seli), seminggu terakhir mendadak menjadi murid paling populer di sekolah. Semua orang meneriakkan namanya. Ali, Ali, dan Ali! Lihatlah, di tengah lapangan, Ali sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tertawa lebar, membalas teriakan fansnya yang semakin gila berseru-seru termasuk Seli di sebelahku. Aku menyikut lengan Seli. ”Eh, kenapa, Ra?” Seli menoleh. Aku melotot, menahan kesal, sambil memperbaiki anak rambut di dahi. Salah satu balon tepuk yang dipegang Seli tidak sengaja mengenai kepalaku. ”Lihat-lihat dong, tidak usah berlebihanlah...” Seli tertawa melihat ekspresi wajahku. ”Maaf,” ujarnya singkat, kemudian dia melanjutkan memukul balon tepuk bersama yang lain. Tim basket sekolah kami semakin jauh meninggalkan lawan. Poin sementara 42-18, dengan Ali, lagi-lagi menjadi bintang
pertandingan. Minggu-minggu ini, di pertengahan semester, setiap hari Sabtu dan Minggu, OSIS sekolah kami mengadakan kompetisi pertandingan basket antar-SMA seluruh kota. Kompetisi ini rutin diadakan setiap tahun, salah satu kompetisi prestisius dengan banyak sponsor dan liputan media. Hampir semua sekolah di kota kami berpartisipasi mengirimkan tim. Hari ini sudah masuk pertandingan semifinal dan final. Tim basket sekolah kami salah satu di antara empat tim terbaik setelah sepuluh tahun terakhir selalu tersingkir di babak penyisihan  Lagi-lagi, itu semua karena Ali Sebulan lalu, aku masih ingat sekali saat Ali bilang dia berhasil bergabung dengan tim basket. ”Tidak mungkin!” Aku mendesis tidak percaya. Kecuali kalau Ali disuruh jadi tukang pel lapangan, atau mencuci seragam tim, itu baru masuk akal. Aku tertawa jahat dalam hati. ”Betulan lho, Ra.” Ali mengangkat bahu, tidak peduli. Dia santai melanjutkan menyendok kuah bakso. Kami bertiga sedang makan di kantin yang baru selesai direnovasi sejak kejadian tiang listrik roboh setahun lalu. Saat bel istirahat pertama berbunyi, Seli langsung mengajak ke kantin. Dia bilang dia lupa sarapan. ”Selamat, Ali.” Seli ikut bahagia mendengar kabar itu. ”Dia cuma berbohong, Seli,” sergahku. Mudah sekali Seli percaya. ”Siapa yang berbohong?” Ali sedikit tersinggung. ”Memangnya sejak kapan kamu bisa main basket?” Mataku menyipit. ”Aku bisa main basket, Ra...” Ali tidak terima.

Detail Buku:
Judul         : Matahari
Penulis      :
Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978- 602 - 03 - 3211 - 6
Tebal         :
400 hlm
Download      : Google Drive


Ebook Novel Komet oleh Tere Liye


Sinopsis:
Setelah “musuh besar” kami lolos, dunia paralel dalam situasi genting. Hanya soal waktu, pertempuran besar akan terjadi. Bagaimana jika ribuan petarung yang bisa menghilang, mengeluarkan petir, termasuk teknologi maju lainnya muncul di permukaan Bumi? Tidak ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi. Situasi menjadi lebih rumit lagi saat Ali, pada detik terakhir, melompat ke portal menuju Klan Komet. Kami bertiga tersesat di klan asing untuk mencari pusaka paling hebat di dunia paralel.

Buku ini berkisah tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini juga berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian, dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Cerita bermula saat mereka telah kembali dari klan bintang dan membebaskan Si Tanpa Mahkota yang selama ini terpenjara di ruang bawah tanah klan bintang karena ternyata salah satu pasak yang dihancurkan oleh mereka adalah segel menuju penjara tersebut. Singkat cerita, Si Tanpa Mahkota muncul di kota Illinois, klan Matahari untuk merebut kuncup pertama bunga matahari dan mengetahui lokasi senjata paling ampuh dunia paralel yang tersimpan di klan komet. Berhasil dan Si Tanpa Mahkota menuju klan komet dan tentunya Raib, Seli dan Ali mengikutinya

Di Klan komet, terbagi menjadi 7 pulau yang mengikuti nama hari dan diuji dengan berbagai macam ujian kehidupan. Pulau Senin, dimana mereka bertemu Paman Kay yang menjadi seorang nelayan dengan ujian kejujuran yang diaplikasikan dengan tidak mencuri buah dan perbekalan di perahu tempat mereka berlabuh.  Pulau Selasa, bertemu lagi dengan Kakek Kay yang menjadi seorang pemilik restoran dan pemimpin dari pulau tersebut dan ujian kepedulian dimana mereka harus mencari boneka singa laut milik Cindanita yang telah dicuri oleh para bintang laut dan mengharuskan mereka menghadapi Bintang Laut Raksasa.

Pulau Rabu, bertemu lagi dengan Petani Kay dan ujian kecerdasan dimana mereka harus bertarung melawan beberapa burung berperawakan hitam dan bersatu menjadi satu burung dengan empat kepala dan sayap.  Di Pulau Kamis, mereka bertemu Dorokdok-dok, seorang perompak yang juga berperawakan seperti Kay-di Pulau sebelumnya dan diberikan pilihan yang sulit saat harus menyembuhkan sang perompak yang sakit ketergantungan terhadap senjata canggih yang selama ini mereka gunakan untuk membajak perahu di lautan lepas.

Pulau Jum'at, mereka bertemu dengan pemimpin otoritas kepulauan Jum'at, Kay juga dan menghadapi pertempuran antara perompak Dorokdog-Dok dan Kay, pemimpin dari otoritas kepulauan. Dan di akhir pulau yaitu pulau Sabtu, mereka bertemu Pemilik Kunci Lautan, Kay yang juga ternyata bersama sang istri, Bibi Nay yang menjadi kunci dari lokasi pulau berbuah aneh, tempat pusaka sakti di dunia paralel. Ujian terakhir yang menjadi puncak ujian mereka adalah mereka harus membunuh Kay dan Nay untuk mendapatkan kunci tersebut.

"Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah perbuatan baik." (hlm. 87)
.
Masih ingat bagaimana si Tanpa Mahkota lolos dari penjara abadinya dan mencari Komet? Nah, di buku kelimanya ini Raib, Seli dan Ali berusaha mendahului misi si Tanpa Mahkota. Bersama perwakilan tiga Klan (Bulan, Matahari dan Bintang), mereka berkumpul di Stadion tempat penutupan Festival Bunga Matahari. Hal ini dikarenakan ada isu bahwa si Tanpa Mahkota akan menggunakan bunga matahari yg pertama kali mekar itu untuk membuka jalan menuju pulau yg menjadi pembuka pintu portal ke Klan Komet. Apakah si Tanpa Mahkota berhasil menemukan Klan Komet?

Karya Tere Liye lainnya DISINI

Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020385938
Format: .pdf
Filesize: 2MB


DOWNLOADALTERNATIF LINK


download novel ceros dan batozar pdf
kapan novel komet rilis
download novel tere liye bintang pdf
kisah sang penandai
download novel sunset dan rosie pdf
novel tere liye rindu
download novel ceros dan batozar pdf
download novel tere liye bintang pdf
kisah sang penandai
spin off serial bintang pdf
download novel sunset dan rosie pdf
tentang kamu
novel ceros dan batozar download
spin off bintang tere liye
tentang kamu
tere liye sang penandai pdf
novel tere liye bumi pdf
novel terbaru bulan juni 2018
download novel pdf boy candra
rindu pdf download
berjuta rasanya
novel rindu tere liye
tentang kamu
download novel sunset dan rosie pdf
download novel ceros dan batozar pdf
rindu tere liye pdf free download
download novel matahari tere liye pdf
harga novel komet
spin off serial matahari
tere liye sang penandai pdf
spin off serial bintang selena
download novel ceros dan batozar pdf
novel bor o bdur
download novel sunset dan rosie pdf
tere liye sang penandai pdf
jagat ebook pdf
ceros dan batozar pdf
harga novel ceros dan batozar
beli novel komet
berita tere liye
serial bumi tere liye
spin off bintang
download novel matahari tere liye pdf
spin off serial bintang pdf
spin off bintang tere liye
novel tere liye lengkap pdf
download novel bintang pdf
novel ceros dan batozar download pdf


Ebook Novel Komet oleh Tere Liye


Sinopsis:
Setelah “musuh besar” kami lolos, dunia paralel dalam situasi genting. Hanya soal waktu, pertempuran besar akan terjadi. Bagaimana jika ribuan petarung yang bisa menghilang, mengeluarkan petir, termasuk teknologi maju lainnya muncul di permukaan Bumi? Tidak ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi. Situasi menjadi lebih rumit lagi saat Ali, pada detik terakhir, melompat ke portal menuju Klan Komet. Kami bertiga tersesat di klan asing untuk mencari pusaka paling hebat di dunia paralel.

Buku ini berkisah tentang petualangan tiga sahabat. Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini juga berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian, dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Cerita bermula saat mereka telah kembali dari klan bintang dan membebaskan Si Tanpa Mahkota yang selama ini terpenjara di ruang bawah tanah klan bintang karena ternyata salah satu pasak yang dihancurkan oleh mereka adalah segel menuju penjara tersebut. Singkat cerita, Si Tanpa Mahkota muncul di kota Illinois, klan Matahari untuk merebut kuncup pertama bunga matahari dan mengetahui lokasi senjata paling ampuh dunia paralel yang tersimpan di klan komet. Berhasil dan Si Tanpa Mahkota menuju klan komet dan tentunya Raib, Seli dan Ali mengikutinya

Di Klan komet, terbagi menjadi 7 pulau yang mengikuti nama hari dan diuji dengan berbagai macam ujian kehidupan. Pulau Senin, dimana mereka bertemu Paman Kay yang menjadi seorang nelayan dengan ujian kejujuran yang diaplikasikan dengan tidak mencuri buah dan perbekalan di perahu tempat mereka berlabuh.  Pulau Selasa, bertemu lagi dengan Kakek Kay yang menjadi seorang pemilik restoran dan pemimpin dari pulau tersebut dan ujian kepedulian dimana mereka harus mencari boneka singa laut milik Cindanita yang telah dicuri oleh para bintang laut dan mengharuskan mereka menghadapi Bintang Laut Raksasa.

Pulau Rabu, bertemu lagi dengan Petani Kay dan ujian kecerdasan dimana mereka harus bertarung melawan beberapa burung berperawakan hitam dan bersatu menjadi satu burung dengan empat kepala dan sayap.  Di Pulau Kamis, mereka bertemu Dorokdok-dok, seorang perompak yang juga berperawakan seperti Kay-di Pulau sebelumnya dan diberikan pilihan yang sulit saat harus menyembuhkan sang perompak yang sakit ketergantungan terhadap senjata canggih yang selama ini mereka gunakan untuk membajak perahu di lautan lepas.

Pulau Jum'at, mereka bertemu dengan pemimpin otoritas kepulauan Jum'at, Kay juga dan menghadapi pertempuran antara perompak Dorokdog-Dok dan Kay, pemimpin dari otoritas kepulauan. Dan di akhir pulau yaitu pulau Sabtu, mereka bertemu Pemilik Kunci Lautan, Kay yang juga ternyata bersama sang istri, Bibi Nay yang menjadi kunci dari lokasi pulau berbuah aneh, tempat pusaka sakti di dunia paralel. Ujian terakhir yang menjadi puncak ujian mereka adalah mereka harus membunuh Kay dan Nay untuk mendapatkan kunci tersebut.

"Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah perbuatan baik." (hlm. 87)
.
Masih ingat bagaimana si Tanpa Mahkota lolos dari penjara abadinya dan mencari Komet? Nah, di buku kelimanya ini Raib, Seli dan Ali berusaha mendahului misi si Tanpa Mahkota. Bersama perwakilan tiga Klan (Bulan, Matahari dan Bintang), mereka berkumpul di Stadion tempat penutupan Festival Bunga Matahari. Hal ini dikarenakan ada isu bahwa si Tanpa Mahkota akan menggunakan bunga matahari yg pertama kali mekar itu untuk membuka jalan menuju pulau yg menjadi pembuka pintu portal ke Klan Komet. Apakah si Tanpa Mahkota berhasil menemukan Klan Komet?

Karya Tere Liye lainnya DISINI

Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020385938
Format: .pdf
Filesize: 2MB

Daun yang jatuh tak Pernah Membenci Angin

Daun yang jatuh tak Pernah Membenci Angin

Sinopsis :
Pukul 20.00: Saat Semuanya Berawal Malam ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai menenteramkan. Tidak deras benar. Hanya gerimis. Itu pun jarang-jarang, tetapi cukup untuk membuat indah kerlip lampu. Aku menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku. Membekukan seluruh perasaan. Mengkristalkan semua keinginan. Malam ini, semua cerita harus usai. Dari lantai dua toko buku paling besar di kota ini, kalian bias melihat dengan leluasa pemandangan jalan besar yang ramai persis di depannya, juga jalan paling besar di kota ini. Jalan itu dibelah pembatas setinggi satu jengkal. Ada lampu putih bundar setiap beberapa meter di pembatas jalan itu, serta pot semen dengan rumpun bunga, meskipun terlihat tak cukup rimbun. Lampu putih bundar itulah yang terlihat indah. Berbaur dengan ratusan siluet cahaya lampu mobil. Dinding tembok toko buku ini diganti seluruhnya menjadikaca-kaca tebal. Berdiri tepekur di sini, kalian bak masuk dalam sebuah akuarium. Bebas memandang, bebas dipandang. Arsitektur gaya avant-garde. Kaca, bukan beton, menjadi pilihan terbaik pembatas ruangan. Di seberang jalan berjejer rapi gerai fotokopian yang besar dan modern. Lampu neon puluhan watt, meja panjang untuk menerima fotokopian, dan karyawan-karyawan berseragam terlihat jelas dari atas sini. Beberapa orang berpenampilan sebagaimana layaknya mahasiswa, terlihat menunggu di kursi putar tinggi. Mungkin menunggu fotokopian untuk bahan ujian besok lusa. Mungkin pula menunggu hujan reda. Ada sebuah motor merapat. Dua penumpangnya turun sambil melepas jas hujan. Sepasang. Yang wanita berkerudung putih. Yang lelaki merengkuh bahunya. Mereka masuk ke salah satu gerai fotokopian. Tak mungkin mereka akan memfotokopi ”undangan pernikahan” di gerai itu, tetapi cukup sudah untuk mengerti betapa mesranya mereka. Aku menghela napas panjang. Beberapa angkot biru seperti biasa berhenti di bibir jalan semaunya. Menurunkan penumpang semaunya. Membuat lebih panjang lagi kemacetan malam ini. Sopir angkot itu sedikit pun tak peduli, meski klakson mobil di belakangnya menyalak buas. Penumpang juga semaunya mengembangkan payung sebelum kaki melangkah turun dari mobil. Membuat penumpang lain yang terkena terpaan payung mengomel. Namun, ada yang diuntungkan oleh kejadian itu. Beberapa remaja tanggung yang bergerombol di seberang jalan yang hendak menyeberang. Angkot yang berhenti semaunya itu membantu mereka. Bergeraklah iringan ketawa-ketiwi itu. Malam Minggu. Mereka punya banyak alasan untuk keluar rumah. Warung-warung tenda makanan memadati jalan sepanjang mata memandang. Dipenuhi anak muda yang datang dua-tiga. Cuaca dingin dan rinai hujan membuat kepulan asap dari kuali nasi goreng, tungku bakar sate, panci soto, dandang ayam sayur, dan puluhan jenis masakan lainnya amat mengundang selera. Sayang, malam ini aku sama sekali tidak lapar! Dari lantai dua ini, kalian juga bisa melihat pekerja konstruksi bakal town square dua ratus meter di sisi kiri gerai fotokopian tadi. Lampu besar bekerlap-kerlip dari belalai peralatan yang menarik-turunkan besi-besi, batu bata, dan bahan bangunan lainnya. Para pekerja yang memakai helm tak peduli dengan hujan. Mereka sedang mengejar target peresmian enam bulan lagi. Bersaing dengan dua pusat perbelanjaan lainnya yang serempak dibangun.

Detail Buku:
Judul         : DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
Penulis      : Tere-Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 5780 - 9
Tebal         : 264 hlm
Download      : Google Drive


About friends oleh Tere Liye Pdf



About friends oleh Tere Liye Pdf 

Selamat siang sobat pembaca, kali ini saya akan membahas tentang Novel About friends oleh Tere Liye Pdf pasti udah pada tau kan kalian, di karenakan ada salah satu member grup ebookindonesiafree yang ingin merequest novel ini. oleh karena itu saya mempostingnya. Hari ini adalah hari minggu ya sobat, kalian biasanya kalau hari minggu gini pergi kemana? jalan2 sama keluarga? sama pacar? ehehehe. kalau saya sendiri di rumah aja sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah yang numpuk nih. oke mending kita langsung saja baca cuplikan novelnya sebagai berikut.

Berikut isi cuplikan dalam novel ini :


Ketika kita memiliki teman,
bukan berarti kita pasti akan
selalu bersamanya.
Ada masa-masa kita harus pindah,
mengambil
kesempatan, melanjutkan
sekolah,
pekerjaan. Tetapi juga bukan
berarti kalau sudah berpisah, selesai
begitu saja. Itulah gunanya persahabatan
sejati. Teman lama selalu menjadi teman,
atau malah lebih spesial saat bertemu
kembali, menjalin kontak kembali.
Hei, handphone, laptop, dan komputer
lebih mengasyikkan kalau punya yang
baru, tapi teman, semakin lama malah
semakin mengasyikkan. Selalu begitu.
24

Memaafkan adalah proses yang
menyakitkan, namun tetap
harus dilalui agar langkah kita
menjadi jauh lebih ringan.
Ketahuilah, memaafkan orang lain
sebenarnya
jauh lebih mudah
dibandingkan memaafkan diri sendiri.
25

Percayalah, hal yang paling
menyakitkan di dunia bukan saat
kita sedang sedih, tapi saat tak ada
satu pun teman untuk berbagi.
Saat kita sedang bahagia, tapi justru
tak ada satu pun teman untuk berbagi
kebahagiaan tersebut.
Tetapi ada yang lebih celaka lagi, yaitu
ketika kita justru senang ketika melihat
teman susah, dan sebaliknya merasa
susah ketika melihat teman senang.
26

Sahabat yang baik bagai
tutup kaleng sarden.
Rapat menjaga aib dan rahasia
kawan karibnya. Kedap udara.




Judul                : About friends oleh Tere Liye Pdf
Karya            : Tere liye

Terima kasih anda telah mengunjungi website kami dan telah "Download kumpulan Ebooks Free" jangan lupa untuk terus mengunjungi website kami akan terus melakukan update Ebooks terbaru.