Tampilkan postingan dengan label Lexie Xu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lexie Xu. Tampilkan semua postingan

Pengurus MOS Harus Mati

Novel Pengurus MOS Harus Mati

Sinopsis;
BAGIKU, masa-masa paling indah di SMA adalah masa-masa MOS. Yah, aku tahu, banyak yang bilang masa-masa MOS adalah neraka masa ABG. Tapi sori-sori saja, itu sama sekali tidak berlaku untukku. Lihat saja MOS tahun lalu, hasilnya betul-betul gemilang. Pada hari pertama, aku muncul sebagai anak baru yang berdiri malu-malu di pojok ruangan saat semua orang saling bertegur sapa dan ketawa-ketiwi dengan sok akrab. Namun saat MOS selesai, aku sudah naik pangkat jadi cewek paling popular dan paling diincar di seluruh sekolah. Hingga saat ini, reputasi itu belum pernah tergoyahkan! Oke, sebenarnya reputasi itu pernah sekali nyaris hancur lantaran seorang cowok brengsek yang mengajakku pacaran bukan karena dia naksir padaku, melainkan gara-gara taruhan iseng yang dilakukannya dengan teman-temannya. Brengsek banget nggak sih? Tapi sudahlah, kejadian itu sudah lama berlalu sudah setengah tahun lebih, kalau tidak salah dan kini cowok brengsek itu sudah menjadi salah satu teman dekatku pula. Bukan berarti aku melupakan sakit hatiku ini. Asal tahu saja, Hanny Pelangi tidak gampang melupakan, tahu? Yang jelas, saat ini aku sedang menikmati masa-masa SMA penuh gelora, dengan aku sendiri yang menjadi tokoh utamanya. Dan saat ini, sepertinya peranku di SMA Persada Internasional bakalan lebih menonjol lagi. Liburan panjang belum lagi berakhir, tapi aku sudah mendapat panggilan dari sekolah untuk mengikuti rapat panitia MOS. Ini berarti aku bakalan jadi pengurus MOS! Tadinya aku tidak tega juga mengucapkan selamat tinggal pada Jenny. Habis, sohibku itu seharusnya sedang be-rendezvous dengan orangtuanya yang lebih sering tinggal di Singapura akibat pekerjaan mereka. Namun seperti biasa, orangtua Jenny adalah tipe orangtua yang gila kerja. Akibatnya, Jenny lebih sering sendirian atau lebih
tepatnya lagi, berduaan denganku—ketimbang menghabiskan waktu dengan orangtuanya. Bagiku, itu hal yang bagus karena aku benci dikekang orangtua, namun Jenny sangat kecewa karena dia sudah kangen sekali pada orangtuanya. Yeah, jangan bandingkan aku dengan Jenny. Jenny itu anak baik, sedangkan aku anak murtad ”Jadi pengurus MOS?” Jenny yang kuper banget dan tidak mengerti daya tarik kekuasaan cuma mengerutkan alis waktu kuceritakan padanya soal aku diundang jadi pengurus MOS. aktu itu kami sedang asyik jalan-jalan di Nge Ann City di Orchard Park. ”Bukannya itu berarti elo harus nyiksa anak-anak baru? Itu kan nggak sesuai kepribadian elo, Han.” Jenny memang bodoh. Dikiranya aku punya kepribadian manis dan baik hati seperti dia. Padahal sebenarnya aku paling hobi menindas kaum lemah tak berdaya. ”Udahlah, lebih baik lo temenin gue di sini,” katanya lagi dengan muka memelas yang membuatku sulit menolak permintaannya ”Nggak lucu kan, setelah Tony pergi, elo pergi juga?” Betul, Jenny memang malang. Setelah dicuekin orangtuanya dia ditinggal oleh pacarnya yang brengsek. Kusebut Tony brengsek, bukan karena dia mencampakkan Jenny atau semacamnya. Sebaliknya, aku belum pernah melihat cowok ABG yang begitu tergila-gila pada pacarnya seperti Tony tergila-gila pada Jenny. Masalahnya Tony itulah si brengsek yang kuceritakan tadi,cowok yang berani-beraninya merusak reputasiku dengan taruhan keparat itu. Berhubung dia jadi pacar Jenny, sahabatku sehidupsemati, mau tak mau aku harus berteman dengannya juga. Dan

Detail Buku:­­
Judul         : PENGURUS MOS HARUS MATI
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1294 – 1
Tebal         : 504 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #6: Sang Pengkhianat

Novel Omen #6: Sang Pengkhianat

BANGUNAN kosong itu sudah tidak pernah digunakan lagi, namun tidak dirobohkan juga Konon, bangunan bekas ruangan musik itu dihantui oleh siswa teladan sekolah ini yang tewas di dalam bangunan itu. Konon, siswa malang itu ditikam berkalikali oleh sahabatnya sendiri yang cemburu berat, tidak hanya terhadap prestasi siswa teladan tersebut, melainkan juga karena cewek yang disukainya jatuh cinta pada si siswa teladan. Konon, rasa cemburu yang berlebihan membekas dalam ruangan itu hingga puluhan tahun, menebarkan kebencian di sekolah, dan menyebabkan sekolah itu dikutuk untuk selamanya. Kecemburuan berlebihan yang sama juga menyebabkan masalah besar di sekolah belakangan ini. Kecemburuan  berlebihan yang diakibatkan olehku bertahun-tahun lalu, dan kini aku jugalah yang harus menyelesaikannya. Karena itulah aku mengumpulkan sekutu-sekutuku di sini malam ini. Kupandangi bangunan itu dan bergidik. Asal tahu saja, ke sini, bulu kudukku selalu merinding. Dulu, sewaktu masih bersekolah di sini, aku senang mengorek-ngorek sejarah sekolah. Saat itulah kuketahui hantu siswa teladan itu memiliki nama yang sama denganku. Jonathan. Bahkan nama panggilan kami pun sama, yaitu Nate. Mungkin karena itu, setiap kali ke sini, perasaanku
jadi tidak enak. Seolah-olah ada seseorang atau sesuatu  yang menyambut kedatanganku di sini. ”Nate, Nate. Permainan lo bagus banget sih! Ayo, mainin lagi dong!” ”Nate, udah denger belum? Lo ranking satu lagi!” ”Nate, kenapa lo nggak jadian sama Erlin? Masa garagara si Bejo naksir dia? Lo juga tau, dia kan kagak suka sama si Bejo!” Aku menyentakkan kepala, melupakan kenangankenangan masa lalu yang tidak ingin kuingat lagi. Semua itu sudah masa lalu, sesuatu yang tak bakalan bisa diulang dan diperbaiki lagi. Aku lebih tertarik memikirkan masa depan. Itu sebabnya di dalam otakku hanya ada rencana, rencana, dan rencana ”Nate?” Aku berpaling dan menatap wajah sobat lamaku sejak belasan tahun lalu. ”Halo, Erlin.” Erlin tersenyum dan berdiri di sebelahku seraya memandangi bangunan kosong itu. ”Masih juga takut masuk ke sana?” Aku memandanginya dengan kejengkelan yang tak kusembunyikan. ”Sejak kapan aku pernah takut?” ”Ah ya.” Nada suara Erlin terdengar mengejek salah satu hak istimewanya sebagai sahabatku. Kalau orang lain yang bersikap kurang ajar begini, sudah pasti akan  aku tidak mudah ketakutan. Namun, setiap kali dating kupreteli mukanya. ”Jonathan Guntur yang terkenal. sejak kecil sudah jadi pahlawan sekolah, dan setelah dewasa pun masih terus menjaga sekolah ini. Kadang aku nggak ngerti, Nate, kamu itu memang baik hati atau keponya nggak kira-kira.” ”Jawabannya jelas dong,” sahutku dengan nada pongah. ”Aku memang kepo nggak kira-kira.” Erlin tertawa, tawa lepas yang menandakan dia tidak suka berpura-pura feminin, tawa lepas yang sejak dulu sangat kusukai dan membuatku terus-menerus membuat lelucon konyol di depannya. Tebersit rasa sakit menghunjam hatiku saat mendengar tawa itu. Kenapa dulu aku begitu tolol? Kenapa aku membuat keputusan-keputusan
yang salah, mendorong kami berdua berjalan ke arah yang berbeda? Kini aku harus menanggung akibatnya. Seumur hidup, aku tidak akan pernah bisa mengucapkan kata-kata yang sejak dulu ingin kukatakan padanya. Dan hingga kami mati nanti, dia tidak akan pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. ”Sejak dulu kamu memang nggak tau malu. Mungkin kamu manusia paling muka badak yang pernah kutemui.” ”Sepertinya itu bukan kekurangan,” ucapku. Erlin mengangkat alis dengan gaya yang menyiratkan ketidaksetujuannya
pada ucapanku, jadi aku pun menjelaskan. ”Kalau itu memang kekurangan, kenapa kamu masih saja tahan berteman denganku selama ini?” ”Oh, itu sih karena,” Erlin mencondongkan wajah ke telingaku dan berbisik lembut, membuat jantungku berdebar- debar tak keruan seperti anak-anak abege (astaga, padahal anak-anakku pun sudah abege!), ”aku juga dikutuk, sama seperti almamater kita ini.”

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #6: Sang Pengkhianat
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-0900-2
Tebal         : 472 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #5: Kutukan Hantu Opera

Novel Omen #5: Kutukan Hantu Opera

CEWEK paling jutek. Kata-kata itu bergema di hatiku saat menyaksikan cewek itu dari kejauhan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, dengan tatapan mata tajam dan dagu terangkat tinggi. Beberapa cewek berbisik-bisik sambil memandanginya, jelas-jelas sedang bergosip tentang dirinya. Satu lirikan dari si cewek jutek cukup untuk membungkam cewek-cewek malang itu dan membuat mereka kabur terbirit-birit. Amat sangat menarik. Sejak kapan aku tidak bisa melepaskan mataku darinya? Sekarang aku bagaikan seorang stalker, penguntit yang terus-menerus membayanginya setiap hari. Menyaksikan ketegaran yang disuguhkannya pada dunia. Menyaksikannya melepas topeng itu, menampakkan seorang remaja biasa yang takut menghadapi begitu banyak orang yang menertawakannya diam-diam di balik punggungnya. Menyaksikannya menanggung beban keluarga, sementara yang bersangkutan sama sekali tidak menyadarinya. Menyaksikan sisi manusianya yang letih dan lemah, sementara orang-orang lain mengiranya tak terkalahkan. Dan merasa dia luar biasa cantik karenanya. Poster drama itu bagai menyindirku. Poster drama terbaru yang akan dipentaskan oleh Klub Drama. Phantom of the Opera. Ya ampun! Kenapa Kepala Sekolah bisa menyetujui pementasan itu? Sudah belasan tahun sejak drama itu terakhir dipentaskan. Katanya drama itu dikutuk. Kutukan Hantu Opera. Jika drama itu dipentaskan, ada orang-orang yang mati. Bukannya aku tidak mendapatkan keuntungan dari pementasan ini. Jika semuanya berjalan dengan baik, pementasan drama Phantom of the Opera akan menjadi saat yang paling baik untuk melaksanakan semua rencanaku. Rencana kami. Kutukan Hantu Opera akan menjadi jalan keluar bagi semuanya. Namun, aku tidak menduga perkembangannya akan jadi begini. Poster-poster itu bagaikan menertawakanku. Aku bagaikan Phantom yang terus membayang-bayangi Christine, Phantom yang jatuh cinta dengan kecantikan Christine, namun semua perasaan ini tak mungkin bisa diucapkan. Karena aku yang sesungguhnya buruk luar biasa, dan dia akan membenciku saat mengetahui siapakah aku yang sebenarnya. Bolehkah aku mencintainya? Meski pada akhirnya aku akan menyakitinya? LAGI-LAGI, saat aku lewat, aku merasa ada yang bisikbisik. Mungkin ini hanya rasa ge-er-ku saja atau istilah yang sedang beken saat ini: over-thinking. Bisa jadi mereka memang berbisik-bisik, tapi mereka membisikkan
hal-hal baik tentang diriku. Atau barangkali mereka berbisik-bisik tentang teman-teman mereka, dan kebetulan mata mereka mengarah padaku karena… yah, yang namanya Putri Badai kan memang mencolok. Bukannya aku sombong, tapi sejak dulu, setiap kali aku memasuki sebuah
ruangan, semua mata langsung mengarah padaku. Aku sudah terbiasa dengan semua perlakuan itu dan tidak menganggap hal itu sesuatu yang membebani atau membanggakan lagi. Atau lebih tepatnya, dulu aku terbiasa dengan kondisi seperti itu. Sekarang, rasanya risi banget. Apalagi semenjak tragedi mengerikan itu terjadi padaku. Oke, mungkin istilahku terlalu lebay. Begitu banyak orang di dunia ini yang menghadapi tragedi-tragedi yang begitu tragis dan mengerikan, membuat kejadian yang menimpaku sama sekali tidak pantas disebut tragedi. Tapi… ya Tuhan, setiap kali teringat, aku masih saja trauma. Cowok yang menjadi pacarku selama dua tahun ternyata berselingkuh dengan temanku sendiri. Lebih celakanya lagi, teman-teman satu gengku juga mendukung hubungan mereka dan membantu merahasiakannya dariku. Seolah-olah aku memang pantas dikhianati seperti itu. Seolah-olah kesalahankulah yang membuat pacarku ilfil dan berpaling dariku. Seolah-olah aku bukan teman yang patut dibela. Padahal sebelumnya semuanya begitu indah atau begitulah yang kukira. Pacarku adalah salah satu cowok paling populer di sekolah, ganteng dan tajir, dengan kemampuan lumayan. Kami semua tergabung dalam The Judges, organisasi rahasia yang sudah turun-temurun mengendalikan sekolah kami. Waktu itu aku bisa melihat masa depanku terbentuk indah dan sempurna. Aku tidak pernah menduga, semua itu hanyalah ilusi  belaka. Kini, ke mana pun aku pergi, rasanya orang-orang di sekelilingku selalu berbisik-bisik mengenai masa laluku yang memalukan itu. ”Ih, si Putri, masih aja bertingkah sombong begitu, padahal udah dicampakin pacarnya!” ”Nggak malu ya, masih berani tampil di depan umum! Kalo gue sih udah pindah sekolah, kali!” ”Yah, elo kan bukan Putri Badai! Kalo Putri Badai, bukannya dia yang pindah sekolah, tapi dia yang usir semua musuhnya dari sekolah kita!”

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #5: Kutukan Hantu Opera
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 602 - 03 - 0558 - 5
Tebal         : 376 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #4: Malam Karnaval Berdarah

Novel Omen #4: Malam Karnaval Berdarah

SUASANA malam itu begitu mengerikan. Aku mendapati diriku berada di tengah-tengah komidi
putar. Kedua tanganku terikat, demikian juga kakiku. Lantai komidi putar berputar perlahan, sementara lagu It’s a Small World After All berkumandang dari speaker yang sudah mulai pecah. Sebagian besar lampu komidi putar sudah tidak menyala lagi, membuat suasana terlihat temaram. Terdengar suara tawa yang tiada henti dari patung badut bermuka rusak, menambah keangkeran malam itu. Di depanku, aku menghadapi Daniel yang mengacungkan pisau ke arahku. Wajah cowok itu sama sekali tidak menampakkan ekspresi. Matanya yang sipit dan biasanya dipenuhi tawa kini menatapku dengan tajam. Bibirnya yang biasanya menyunggingkan senyum kini terkatup rapat. Sementara itu, gerak tubuhnya jelas-jelas dipenuhi rasa tegang. Otot-otot bahunya tampak jelas, demikian juga urat di pelipis kirinya. Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat yang membuatnya tampak begitu keren sekaligus menakutkan. Satu hal yang aku tahu pasti: apa pun yang nantinya akan dilakukan Daniel padaku, aku tidak akan pernah bisa membencinya. Suara iblis mengalun di antara kami. Lembut, namun licik dan penuh tipu muslihat. ”Sudah waktunya menyingkirkan dia, Daniel. Garagara dia, kita semua menderita di bawah kediktatoran The Judges. Dia harus dilenyapkan. Kalau tidak, kamu yang paling rugi. Seandainya dia mati, kamu yang akan mengambil kedudukannya. Kamu akan menjadi orang paling berkuasa di seluruh sekolah. Kamu akan mengalahkan orang yang selama ini selalu berada di atasmu, Erika Guruh. Kamu tidak perlu diperbudak lagi oleh The Judges, dan kamu takkan dicap pengkhianat lagi oleh temantemanmu.
Bukan itu saja. Kalau dia mati, kamu juga bisa bersama cewek yang sudah lama kamu inginkan. Cewek yang selama ini menghindarimu karena pertemanan antara dia dan Rima. Bunuh dia, Daniel, dan Valeria Guntur akan jadi milikmu….” Aku bisa merasakan keputusan yang mendadak dibuat dalam hati Daniel. Pupil matanya mengecil saat dia mengangkat pisau. Hatiku mencelus saat mendengar dia berbisik perlahan, ”Maaf, Rima.” Aku memejamkan mata.
Dan hal terakhir yang kulihat sebelum menutup mata adalah Daniel yang menerjang ke arahku.”PERHATIAN untuk para pengurus OSIS, harap segera mengikuti rapat di ruang OSIS. Sekali lagi, perhatian untuk para pengurus OSIS, harap segera mengikuti rapat di ruang OSIS.” Yes! Inilah hal yang paling kusukai dari menjadi pengurus OSIS kesempatan untuk bolos pelajaran sekolah terang-terangan di hadapan guru dan teman-teman lain. Kututup buku teks ekonomi yang tebal dan bercover jelek dengan puas, lalu kulempar dengan penuh gaya, tepat ke dalam laci meja yang sempit. ”Pergi dulu, Yang…,” ucapku pada teman sebangkuku yang memelototiku dengan sorot mata iri. ”Sana pergi ke neraka!” jawab Welly, si teman sebangku bertampang jelek sekaligus sahabat dekatku yang mendadak jadi musuh besar saat melihatku menggunakan hak istimewa sebagai anggota golongan elite. Aku hanya tertawa pongah. Berhubung tepi mejaku menempel pada tembok, aku harus berjalan melewatinya. ”Brengsek, gue disodorin pantat lagi!” ”Jangan banyak komplen,” ucapku sambil sengaja nungging. ”Attitude kayak gini yang harus dihindari kalo kepingin ikutan jadi pengurus OSIS. Ya nggak, Mir?” Sobat dekatku yang memiliki tinggi dan lebar tubuh di atas rata-rata, Amir, yang kebetulan duduk di meja di samping kami, berlagak tidak melihat maupun mendengarku sementara tangannya terus merogoh lacinya untuk mengambil kacang. Yah, jadi menurutnya, kacang lebih menarik daripada aku? Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku tidak membuang-buang waktu memberikan nasihat berharga kepada orang-orang yang jelas-jelas tidak mau belajar dari kesuksesan orang lain. Aku melenggang keluar kelas dengan gembira seraya melambaikan ciuman mesra pada Bu Tarmini yang tampak geli melihat ulahku. Bukannya aku sok, tapi hamper semua guru cewek suka banget padaku, termasuk yang tegas dan galak dengan ukuran badan supermini (tidak heran Bu Tarmini sering dipanggil si Cabe Rawit). Padahal semua orang tahu, guru-guru cuma suka pada muridmurid  intar, sementara nilai-nilaiku bahkan lebih jelek lagi dibandingkan muka si Welly). Tapi mana mungkin ada yang tidak menyukaiku? Dari segi tampang saja, aku oke banget. Rambutku yang tadinya agak gondrong kini dipotong pendek dan rapi model shaggy yang sekarang lagi beken dong dengan sedikit semburat warna pirang. Tubuhku tinggi besar, kuat, dan ideal tidak seperti Welly yang mirip tiang listrik berjalan atau Amir yang mirip Kolonel Sanders zaman masih ABG. Mataku yang sipit, hidungku yang besar mancung, dan senyumku yang cemerlang (gosipnya, semua itu mengingatkan orang-orang pada Rain,

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #4: Malam Karnaval Berdarah
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 602 - 03 - 0189 - 1
Tebal         : 400 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #2 : Tujuh Lukisan Horor By: Lexie Xu

Novel Omen #2 : Tujuh Lukisan Horor By: Lexie Xu

ENTAH kenapa aku mau datang ke sekolah malam-malam begini. Atau sebenarnya aku tahu, hanya saja aku tak mau mengakuinya. Aku harus datang supaya masalah itu tidak tersebar. Tidak, aku tidak ingin masalah itu sampai tersebar dan kedengaran semua orang terutama orangtuaku. Mereka sudah menaruh harapan begitu besar padaku, dan selama ini aku sudah menjaganya dengan prestasi yang kuraih dengan susah payah. Skandal mengerikan seperti ini
sudah pasti akan memukul perasaan mereka. Kenapa bisa ada yang tahu masalah ini? Kenapa bisa ada yang tahu selain mereka-mereka yang terlibat? Aku tahu, tak ada satu pun di antara kami yang akan menceritakannya pada orang lain. Kami semua telah membuat kesalahan yang teramat besar, dan sebagian dosanya lebih besar daripada yang lain. Tapi kami semua berada
dalam posisi yang sama. Kami sama-sama takut masalah ini tersebar, dan tak ada satu pun di antara kami yang sudi membocorkannya pada orang lain. Kecuali cewek itu. Tapi masa dia...? ”Halo?” tanyaku, dan suaraku langsung bergema di ruangan kosong itu. ”Ada orang di sini?” Tadinya aku sengaja tak menyebutkan nama, tak ingin ada pihak-pihak tak berkepentingan yang mengetahui urusanku. Siapa tahu ada penjaga sekolah yang lewat atau barangkali guru BP kami yang raksasa itu, Pak Rufus, sedang bertengkar dengan ibunya yang pemarah dan memutuskan untuk menginap di sekolah. Siapa tahu. Tapi pertanyaanku tidak mendapatkan jawaban sama sekali, dan aku mulai takut. Bukan hanya karena suasananya mengerikan. Masalahnya, kalau ditanya, sulit bagiku untuk menjaga kerahasiaan masalah ini, apalagi kalau
sampai ada mulut bocor di antara kami. Seandainya saja ada orang yang mau menemaniku datang ke sini malam ini. Sialnya, semua orang yang terlibat tidak bisa kuhubungi. Kebetulankah? Atau ada sesuatu yang telah menimpa mereka? Oke, aku mulai berharap Pak Rufus dan Pak Jono, si penjaga sekolah bermuka tikus, mendadak muncul lalu menangkapku. Setidaknya, aku jadi punya alasan untuk pulang. ”Halo?” panggilku sekali lagi dengan suara gemetar. Sial, aku kan cowok. Masa suaraku seperti pengecut begini? Aku mengumpulkan semua nyaliku dan membentak, ”Halo!!!” Tetap saja tak ada jawaban. ”Ini nggak lucu!” ucapku dengan nada semarah mungkin. ”Kalo lo cuma mau ngerjain gue, sori, gue nggak ada waktu buat ngeladenin elo. Mendingan gue pulang sekarang juga!” Aku sudah berjalan ke pintu saat lukisan itu menarik perhatianku. Lukisan yang dibuat dalam rangka pameran lukisan yang diadakan sekolah kami. Aku tahu, lukisan itu milik Rima. Rima si anak kelas sepuluh yang kurus
dan jelek dengan rambut panjang mengerikan, cewek lemah yang biasanya jadi bahan tertawaan kami, anakanak populer. Tapi entah kenapa Rima dinobatkan sebagai pelukis paling berbakat di sekolah kami. Padahal lukisannya tak bagus-bagus amat kok. Agak seram, sebenarnya. seperti lukisan ini. Ada sebuah sosok yang mirip manusia, mungkin laki-laki, menyeret dirinya keluar dari sebuah pintu, sementara sosok lain yang mirip monster sedang mengayunkan parang besar di belakangnya. Darah berceceran di lantai, yang tentunya berasal
dari kaki si sosok laki-laki yang sudah buntung. Lukisan itu dibuat dengan sapuan cat minyak yang lebih mirip corat-coret orang sinting ketimbang lukisan orang berbakat. Tunggu dulu. Kenapa sosok yang mirip laki-laki ini berambut pirang? Kuangkat tanganku untuk menyisir rambutku yang dipotong shaggy dan dicat warna pirang. Jantungku makin berdegup keras saat melihat jam tangan bertali krem di pergelangan tangan sosok itu, yang tampak mirip dengan jam tangan yang kini melilit di pergelanganku. Tadi pagi  waktu aku melihat lukisan ini, rasanya belum ada detaildetail kecil ini. Masa sih...? Aku mendengar bunyi di belakangku dan langsung
berbalik.Napasku tercekat melihat salah satu patung berIsi-

Detail Buku:­­
Judul         : Tujuh Lukisan Horor
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9664 - 8
Tebal         : 424 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges

Novel Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges

MEREKA semua mengenakan pakaian serbahitam, menyatu  dalam kegelapan ruangan tempat mereka mengadakan upacara. Lilin-lilin hitam menyala di sekeliling mereka, memberikan penerangan sekaligus aura gelap di ruangan itu, sementara bau dupa yang mistis melayanglayang di udara. Hakim Tertinggi keluar dari barisan, dan naik kepanggung di depan mereka semua, tempat diletakkan sebuah altar tua yang telah diwariskan selama dua belas generasi berturut-turut. ”Kita,” teriaknya lantang seraya menghadap para anggota dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, ”adalah para pemimpin yang dipilih oleh para pendahulu kita, untuk menjaga kedamaian dan menegakkan keadilan di sekolah kita yang tercinta ini.” Semua anggota menyetujui sambil ikut mengangkat tangan mereka dengan penuh semangat. ”Kita adalah murid-murid istimewa!” teriak Hakim Tertinggi lagi. ”Kita diberi hak khusus melakukan apa saja untuk melenyapkan murid yang mengganggu ketenangan sekolah kita, dengan segala cara!” Sekali lagi para anggota menyetujui sambil menonjoknonjok udara dengan ganas. ”Sebab kita adalah The Judges, para hakim Sekolah Harapan Nusantara! Aut vincere aut mori! Menguasai atau mati!” Kalimat aut vincere aut mori memenuhi udara dengan dengungan kelam dan menyeramkan. Setiap kata seolaholah merasuki hati setiap anggota, memenuhi mereka dengan keangkuhan dan kekejaman. Tanpa membalikkan badan, sang Hakim Tertinggi mengibaskan tangannya. Tirai di belakang altar terbuka, menampakkan sepuluh foto yang diambil secara diamdiam. Dengungan itu pun langsung berhenti seketika. ”Kalian semua sudah tahu target-target kita. Semuanya nak-anak terbaik SMA Harapan Nusantara. Jadi kita tidak boleh ceroboh dalam menangani mereka. Gunakan otak kalian dan kerahkan kemampuan terbaik kalian untuk menghadapi mereka. Tetapi, ada anak-anak tertentu
yang harus kalian perhatikan secara khusus.” Mendadak saja dari balik lengan jubah, si Hakim Tertinggi mengeluarkan sebilah pisau. Dalam sekejap, dia berbalik dan melemparkan pisau itu ke antara foto-foto yang terpampang, tepat mengenai foto seorang cewek berambut pendek jabrik, lalu kembali menghadap para anggota yang menatapnya dengan takzim. ”Erika Guruh. Murid genius sekolah kita saat ini dan mungkin murid paling genius yang pernah dimiliki sekolah kita. Memiliki daya ingat fotografis, nilai sempurna, dan kemampuan fisik yang sulit ditandingi oleh cowok sekalipun. Kelemahannya adalah, dia tidak punya  memampuan mematuhi otoritas. Dia bisa menjadi sekutu yang kuat dan bisa diandalkan, namun juga bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya.” Sekali lagi dia mengeluarkan pisau dan dengan gaya mendadak yang sama, dia melemparkannya ke foto kedua, foto seorang cewek berkacamata yang tampak lemah. ”Valeria Guntur. Peraih juara umum kedua. Meski bukan genius, nilai-nilainya hanya sedikit di bawah Erika Guruh. Ini menandakan dia seorang pekerja keras yang luar biasa. Meski kelihatannya lemah, dia pandai dalam bidang olahraga. Selain itu, dia juga anggota berbakat Klub Drama. Yang membuatnya patut diperhitungkan adalah kenyataan bahwa dia putri tunggal keluarga Guntur. ”Dan terakhir...” Tanpa membuang-buang waktu si Hakim Tertinggi melemparkan pisaunya ke foto cewek di ujung bawah, ke wajah yang hampir semuanya ditutupi
rambut panjang yang mengerikan. ”Rima Hujan. Ketua Klub Kesenian, pelukis genius, sekaligus peramal sekolah kita. Dialah yang paling berbahaya, sebab dia sanggup mengetahui semua rahasia, trik, dan jati diri kita. Tapi jangan khawatir, aku tahu cara mengatasi kemampuannya. Kalau dia melakukan hal-hal mencurigakan, laporkan padaku, dan aku akan mengurus sisanya. Aut vincere aut mori!” Dan dengungan menyeramkan itu pun kembali memenuhi ruangan. Menandai permainan berdarah yang akan segera dimulai.

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9822 - 2
Tebal         : 312 hlm
Download      : Google Drive


Novel Omen #1Karya Lexie Xu

Novel Omen #1Karya Lexie Xu

APAKAH kalian percaya dengan yang namanya pertanda? Bukannya aku percaya takhayul, tapi aku sangat memercayai pertanda. Seumur hidup, aku selalu berhasil menghindari berbagai masalah berkat pertanda-pertanda di sekelilingku. Namun, malam ini, aku memercayai pertanda yang salah, dan tahu-tahu saja hidupku yang indah dan sempurna berakhir. Martinus-lah yang membujukku untuk datang ke pestanya. Marty sebenarnya punya reputasi jelek lantaran sombong banget dan punya hobi menindas orang, bukan tipe cowok yang biasa kuajak bergaul. Tapi bagiku Marty cukup menyenangkan. Dia lumayan ganteng, kaya, dan selalu bersikap baik padaku. Pokoknya, tak ada alasan bagiku untuk memusuhinya. Meski begitu, aku tidak bisa begitu saja menerima undangannya. Hidupku dipenuhi banyak aturan yang berhasil membuatku menjadi salah satu cewek popular di sekolah, dan salah satunya karena bersikap jual mahal saat diajak pergi oleh cowok. Aku tahu, undangan ke pesta bukan berarti dia mengajakku kencan, tapi aku akan tetap memasang sikap jual mahal. Hanya untuk membuatnya semakin ngebet. ”Orangtua gue nggak ngasih gue keluar malem-malem begini, Mar.” ”Halah, orangtua kuno,” cemoohnya. ”Orangtua gue nggak pernah ngelarang gue tuh. Ayolah, Za. Kalo lo nggak dateng, pestanya nggak akan seru.” Melihatku masih ragu-ragu, dia menambahkan dengan licik, ”Gue juga ngundang Ferly lho.”Kak Ferly! Jantungku serasa berhenti sedetak saat mendengar nama kakak kelas superganteng yang sudah lama kutaksir itu. Lebih tepatnya lagi, sejak aku masuk SMA. Dan aku tidak bertepuk sebelah tangan, karena Kak Ferly jelas-jelas menunjukkan perasaan sukanya padaku. Dia selalu mengajakku ngobrol di sekolah, meneleponku di rumah, menungguiku sampai pulang ekskul singkatnya, semua hal yang dilakukan oleh cowok-cowok yang sedang pedekate. Dan semua itu tak luput dari pengamatan semua orang, membuat kami langsung dijuluki sebagai pasangan paling populer di seluruh SMA Harapan Nusantara. Namun sayangnya, cowok itu cowok terlarang untukku, dan aku cewek terlarang untuknya setidaknya untuk saat ini. Ini semua gara-gara Erika, kakakku atau lebih tepatnya lagi, kakak kembarku, yang hanya lebih tua lima menit daripada aku yang selalu membuat onar di manamana Meski secara fisik kami kembar identik, kepribadian kami berdua sangat bertolak belakang, bagaikan langit dan bumi, api dan air, surga dan neraka. pesta bukan berarti dia mengajakku kencan, tapi aku akan tetap memasang sikap jual mahal. Hanya untuk membuatnya semakin ngebet. ”Orangtua gue nggak ngasih gue keluar malem-malem begini, Mar.” ”Halah, orangtua kuno,” cemoohnya. ”Orangtua gue nggak pernah ngelarang gue tuh. Ayolah, Za. Kalo lo nggak dateng, pestanya nggak akan seru.” Melihatku masih ragu-ragu, dia menambahkan dengan licik, ”Gue juga ngundang Ferly lho.” Kak Ferly! Jantungku serasa berhenti sedetak saat mendengar nama kakak kelas superganteng yang sudah lama kutaksir itu. Lebih tepatnya lagi, sejak aku masuk SMA. Dan aku tidak bertepuk sebelah tangan, karena Kak Ferly jelas-jelas menunjukkan perasaan sukanya padaku. Dia selalu mengajakku ngobrol di sekolah, meneleponku di rumah, menungguiku sampai pulang ekskul singkatnya, semua hal yang dilakukan oleh cowok-cowok yang sedang pedekate. Dan semua itu tak luput dari pengamatan semua orang, membuat kami langsung dijuluki sebagai pasangan paling populer di seluruh SMA Harapan Nusantara. Namun sayangnya, cowok itu cowok terlarang untukku, dan aku cewek terlarang untuknya setidaknya untuk saat ini. Ini semua gara-gara Erika, kakakku atau lebih tepatnya lagi, kakak kembarku, yang hanya lebih tua lima menit daripada aku yang selalu membuat onar di manamana. Meski secara fisik kami kembar identik, kepribadian kami berdua sangat bertolak belakang, bagaikan langit dan bumi, api dan air, surga dan neraka.

Detail Buku:­­
Judul         : Omen
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8795 - 0
Tebal         : 312 hlm
Download      : Google Drive


Teror - Buku Terakhir John Series Lexie Xu

Teror - Buku Terakhir John Series Lexie Xu

BANYAK orang mengira dia sudah mati, tapi tidak demikian halnya bagiku. Ya, aku memang melihatnya terapung-apung di kolam itu, pucat dan bengkak, dan sama sekali tidak mirip anak perempuan yang pernah kukenal. Aku juga hadir dalam pemakamannya, melihatnya berbaring dengan sopan di dalam peti mati, peti yang kemudian ditutup dengan rapat dan dikuburkan empat meter di bawah permukaan tanah. Aku melihat banyak orang menangisinya mata-mata penuh air mata kesedihan yang kemudian berubah marah saat menatapku. Mata-mata yang mengatakan satu hal yang sama: kau sudah membunuhnya! Tapi itu kecelakaan! begitulah pembelaan diriku selama ini. Aku tidak mendorongnya, dia sendiri yang jatuh ke kolam. Aku bahkan berusaha menolongnya, hanya saja dia terlalu panik untuk menerima pertolonganku. Aku berusaha melupakan rasa puas yang sempat memenuhi hatiku, saat melihatnya berhenti berusaha untuk hidup. Tapi pokoknya, itu bukan salahku. Lalu ibuku bunuh diri, meninggalkan catatan bahwa dia tidak sanggup hidup bersama anak yang sudah membunuh anak perempuannya. Apakah ini berarti aku bukan anakmu juga, Mama? Pikiran ini menyakitiku, siang dan malam, baik saat aku terbangun maupun di dalam mimpiku. Aku menyadari bahwa aku mulai  terpisah dari dunia ini. Semua orang mengucilkanku. Ayahku bahkan membawaku tinggal di rumah terpencil di luar kota, tempat kami tidak perlu menghadapi pandangan menuduh para tetangga, teman, dan keluarga. Namun ayahku juga sangat sering meninggalkanku sendiri. Katanya dia harus pergi ke luar kota atau luar negeri untuk bekerja. Hah, alasan! Dan pada saat aku sendirian, dia pun muncul lagi. Tak ada yang berubah pada dirinya. Tak ada bekas-bekas kematian yang terlihat pada dirinya. Dia tampak sama seperti dulu cantik, menggemaskan, dan membuatku muak setengah mati. Tapi aku tahu yang lebih baik: dia sudah mati. Yang kuhadapi ini hanyalah hantunya. Lalu kenapa ada jejak-jejak kehidupannya di sekitarku? Susu yang hanya dihabiskan separuh. Boneka Barbie di dalam kamarku. Rasa pedas di tanganku saat aku menamparnya. Ini hanya berarti satu hal: dia masih hidup! Aku tidak tahu bagaimana penjelasannya. Mungkin dia hanya berpura-pura mati saat dikuburkan. Mungkin ayahku berusaha menyembunyikannya dariku. Mungkin juga seluruh dunia berkonspirasi untuk menipuku. Semua orang mengira aku goblok. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa aku sudah mengetahui tipu daya mereka.Tak heran aku jadi marah sekali. Kulampiaskan emosiku dengan bersikap kejam padanya. Aku memukulinya habis-habisan, sampai tubuhnya berdarah-darah dan tenagaku terkuras habis, sampai aku tidak sanggup bangun selama dua hari. Aku mengosongkan kulkas dan membiarkan dia kelaparan, namun belakangan kusadari dia tidak butuh banyak makan, dan keterbatasan makanan di rumah malah hanya menyusahkan diriku sendiri. Aku bahkan mendorongnya ke tengah jalan supaya ditabrak mobil, tapi entah bagaimana, akulah yang terjatuh dan akulah yang nyaris ditabrak mobil. Lambat laun, aku tersadar. Apa yang sudah kulakukan? Seharusnya aku membalas dendam pada dunia yang sudah menghakimiku dengan kejam, bukannya mengurusi si cecunguk kecil tak berharga ini. Jadi aku pun belajar menerima kehadirannya, tidak mengacuhkannya, menganggapnya hanyalah salah satu benda mati yang tidak perlu kupusingkan. Sesekali, kalau aku sedang kesal, kugunakan dia untuk melampiaskan kemarahanku. Yah, biarpun tak berharga, dia punya kegunaan juga. Aku tidak pernah bertanya-tanya kenapa semakin hari aku semakin bertambah tinggi dan besar, sementara dia tetap anak kecil yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Saat lulus SMP, aku memutuskan sudah waktunya aku mulai unjuk gigi. Aku terlalu pandai, terlalu tampan, dan terlalu hebat untuk dikucilkan di rumah luar kota yang tidak ada apa-apanya. Ayahku tidak pernah ada di rumah. Jadi sebenarnya aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah kembali ke rumah

Detail Buku:­­
Judul         : Teror - Buku Terakhir John Series Lexie Xu
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1296 – 5
Tebal         : 272 hlm
Download      : Google Drive


Permainan Maut Johan Series Buku 3

Permainan Maut Johan Series Buku 3

SEHARUSNYA aku menyadari ketidakwajaran malam ini. Meski sedang musim kemarau, hujan turun dengan deras. Sesekali terdengar bunyi petir menggelegar, keras dan dekat, membuatku
mengira-ngira pohon manakah yang akan tumbang malam ini. Seekor kucing hitam melompat dari atap, berhenti di depan endela kamarku untuk berteduh dan membersihkan wajahnya. Lalu, bagaikan menyadari ada yang mengawasinya, kucing itu menoleh padaku dan menatapku dengan matanya yang kehijauan menyala dalam kegelapan. Lalu dia mengeong perlahan, seolaholah memberiku peringatan. Hati-hati. Malam ini akan ada kejadian yang tidak diinginkan.
Bulu kudukku merinding, membuatku buru-buru mematikan AC. Meski begitu, kamarku tetap terasa sangat dingin. Terlalu dingin. Gila, ini benar-benar aneh. Biasanya aku hobi hidup bagaikan penguin, bersantai di dalam kamar bersuhu endah dengan kaus kutang dan celana pendek sambil menggerogoti es batu, tapi malam ini hawanya terasa begitu menusuk hingga ke
dalam tulang. Perasaan tak enak mulai merayapi hatiku. Mungkin karena cuaca ini, mungkin karena kucing yang bisa berbahasa pikiran tadi, tapi mungkin juga cuma karena kebelet pipis lantaran cuaca dingin. Bukan sesuatu yang aneh-aneh banget, kan? Di koridor, jam dinding berdentang dua belas kali. Jadi sekarang sudah tengah malam. Hmm, benar-benar waktu yang tepat untuk adegan I Scream When I Know What You Did Last Halloween. Sayang, adegan semacam itu tidak terlalu memberi efek untukku. Bukannya aku sok hebat, tapi aku tidak takut ataupun percaya pada yang namanya setan, hantu, roh gentayangan, arwah penasaran. Arghh! Ada yang terbang-terbang dan mencakari kepalaku! Oh. Hanya kupu-kupu yang nyasar ke dalam rumah. Oke, aku tahu, aku sudah bereaksi ekstrem banget. Tapi itu bukan gara-gara mendadak aku jadi pengecut lho. Semua ini gara-gara e-mail yang kuterima dua minggu lalu. E-mail yang aneh banget.  Halo, Tony, gimana kabarmu? Baik-baik saja, kan? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu menulis e-mail untukku.  Bahkan, kalau aku nggak salah, kamu tidak membalas tiga e-mail terakhirku. Yah, aku mengerti, kamu memang bukan tipe cowok yang hobi membalas e-mail. Tapi aku  benar-benar ingin tahu keadaanmu saat ini. Bagaimana dengan Markus? Kalian tetap bersahabat, kan? Apa kamu akan tetap meneruskan kegiatanmu di klub judo di tahun terakhir SMA ini? Aku sendiri baik-baik saja. Tahun ini tahun terakhirku di SMA, sekaligus tahun terakhirku untuk mendapatkan pendidikan akademis. Aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke bangku kuliah, melainkan membantu keluargaku mengelola penginapan yang akan kami buka nanti. Ah ya, aku belum cerita. Keluarga kami akan membuka penginapan. Kami berhasil menemukan sebuah rumah besar yang menarik namun murah meriah, serta bisa diubah menjadi penginapan sederhana tanpa perlu banyak renovasi. Memang tempatnya agak terpencil, tapi pemandangannya indah luar biasa. Bahkan penduduk lokal pun akan tertarik mengunjungi kami. Terlebih lagi, kami sudah menemukan seorang juru masak yang sangat ahli. Tapi mungkin perasaanku saja. Sejak membeli rumah ini, sepertinya kami terus-menerus dirundung kesialan. Pertama-tama, ayahku ditabrak motor sampai tulang kakinya retak. Lalu ibuku ditodong saat hendak berangkat ke pasar. Meski sudah menyerahkan dompetnya, ibuku tetap mendapat dua tusukan di perut. Untunglah beliau berhasil diselamatkan tepat pada waktunya. Kakak laki-lakiku mengikuti asuransi dan harus menjalani medical check-up, lalu mengetahui bahwa dia ternyata menderita kanker darah stadium 4. Kini dia dirawat di Jakarta. Semua ini terjadi

Detail Buku:­­
Judul         :  Permainan Maut Johan Series Buku 3
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1295 – 8
Tebal         : 280 hlm
Download      : Google Drive


Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu

Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu

Semua orang mengenalku sebagai Jenny dari ”Hanny dan Jenny”. Di seluruh angkatan baru SMA Persada Internasional, ada tiga siswi bernama Jenny. Gara-gara keteledoran petugas administrasi sekolah, ketiganya dimasukkan ke kelas yang sama di kelas X-3. Hal ini menyebabkan berbagai kekacauan yang, pada akhirnya, memaksa semua orang mulai dari guru-guru paling serius hingga ibu kantin yang hobi bergosip memberikan julukan bagi para Jenny. Jenny pertama adalah Jenny Limantara, Jenny yang judes banget dan hobi menyalahkan tompelnya yang rada berbulu untuk semua masalahnya. Padahal, tompel itu oke-oke saja seandainya tidak terlalu sering dihina-hina oleh pemiliknya sendiri. Akibat kelakuan negatifnya sendiri, semua pun memanggil Jenny Limantara dengan panggilan ”Jenny Tompel”, tak peduli berapa keras upayanya meminta, memaksa, dan memohon-mohon orang untuk memanggilnya dengan panggilan ”J-Li” yang, tentu saja, dimaksudkan agar mirip dengan nama panggilan idolanya, Jennifer Lopez. Yang kedua adalah Jenny Handoyo, Jenny yang merusak imagenya sendiri pada hari pertama sekolah dengan dilindas bajaj. Cuma ujung sepatunya, sebenarnya. Jenny Handoyo adalah ratu drama supercengeng. Dia meraung-raung sembari digiring ke ruang UKS. Di sana dia diperiksa dan tidak ditemukan luka secuil pun bentol bekas gigitan nyamuk pun tidak ada. Sejak hari itu, dia dikenal sebagai ”Jenny Bajaj”. Kau akan mengira kejadian itu membuatnya sedikit lebih kalem, tapi Jenny Bajaj sama sekali tidak kenal kata kapok. Selalu ada saja keluhan dan tangisan yang dikeluarkannya, membuat guru kesehatan, guru olahraga, dan teman-teman sekelasnya termasuk aku diam-diam punya niat terpendam untuk mencekiknya setiap kali melihatnya muncul dengan air mata bergulir di pipi. Dan, bukannya aku jahat, tapi kalau melihat muka Jenny Bajaj yang bulat, cembung, dan kemerahan, bahkan orang yang tidak pernah melihat bajaj seumur hidup pun bisa langsung membayangkan kendaraan imut tersebut. Jenny ketiga adalah aku. Sebenarnya, setelah mendengar julukan superkeji yang diberikan pada Jenny-Jenny lain, aku sempat ketakutan setengah mati. Soalnya, nama lengkapku adalah Jenny Angkasa. Apa kalian bisa menebak, julukan apa yang akan mereka berikan padaku? Yep, ”Jenny Jenazah”. Seharusnya sih ”Jenny
Jenasa”, tapi itu kan tidak ada artinya. Pasti semua orang lebih suka ”Jenny Jenazah” karena itu lebih menghibur mereka dan menghina diriku. Gawat banget, kan? Untungnya, Hanny-lah yang menyelamatkanku. Di hari pertama sekolah, nasib mempertemukan kami sebagai teman sebangku, dan sejak hari itu kami tak terpisahkan lagi. Karena itu, aku pun dikenal sebagai Jenny dari ”Hanny dan Jenny” meski di seluruh sekolahku hanya ada satu Hanny. Harus diakui, Hanny memang unik banget. Sesuai namanya, dia mengingatkan semua orang pada madu (yah, tahu lah, biasanya orang-orang mengira nama Hanny ditulis dengan ejaan Honey). Rambutnya selalu dipotong pendek, namun sangat sesuai untuknya. Kulitnya tidak terlalu putih berbeda denganku yang pucat banget, nyaris seperti vampir karena aku jarang keluar rumah tapi sehat dan berkilauan. Senyumnya sangat manis, melelehkan hati setiap cowok yang melihatnya. Warna kesukaannya pun warna madu bukan cokelat, bukan kuning, tapi warna madu dan itu terlihat dari tas, kotak pensil, bolpoin, bahkan pakaian dalamnya (yang terakhir ini kuketahui saat berada di ruang ganti cewek, bukan karena aku punya kelainan suka ngintip-ngintip pakaian dalam teman sendiri lho!). Dengan segala kelebihan itu, Hanny langsung jadi cewek kelas sepuluh paling beken tahun ini. Dalam bulan pertama sekolah, dia sudah ditembak lebih dari dua lusin cowok dari kelas-kelas yang lebih atas, memacari delapan di antaranya, dan mencampakkan semuanya dan akulah saksi mata satu-satunya. Hanny, dengan segala kemurahan hatinya, selalu melibatkanku dalam semua petualangan cintanya. Saat dia pergi berkencan, dia selalu mengajakku sama seperti pacarnya yang juga mengajak teman-temannya. Biasanya kami makan siang bareng, dilanjutkan dengan nonton di bioskop. Di dalam bioskop, sementara dia berasyik-masyuk dengan pacarnya di barisan belakang paling ujung, aku duduk dengan canggung bersama teman-teman pacar Hanny yang sepertinya menganggapku tidak ada. Tentu saja, untuk apa mereka memedulikanku? Aku jelek, pendiam, dan canggung jenis cewek yang mereka hindari di

Detail Buku:­­
Judul         : Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1293 – 4
Tebal         : 240 hlm
Download      : Google Drive