Tampilkan postingan dengan label Esti Kinasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esti Kinasih. Tampilkan semua postingan

Novel Jingga Dalam Senja Karya Esti Kinasih

Jingga Dalam Senja Karya Esti Kinasih

Sinopsis:
TARI meluruskan diri dengan barisan di depannya, lalu berdiri dengan tertib. Diperiksanya rok dan baju seragam,  kaus kaki, sepatu, juga semua aksesori yang dipakainya. Jam tangan, anting-anting, gelang, cincin, dan ikat rambut yang semua bernuansa oranye. Setelah yakin penampilannya rapi, cewek itu tersenyum puas. Ini upacaranya yang kedua sebagai anak SMA. Upacara kedua dalam balutan seragam putih abu-abu. Jadi ia masih patuh dan tertib, juga masih bersemangat meskipun matahari kelihatannya bakalan terik. Jam tujuh tepat bel berbunyi, tanda upacara akan dimulai. Jam tujuh tepat! Ari melompat turun dari bus yang ditumpanginya. Sam bil merutuki motornya yang sudah dua hari masuk bengkel dan taksi kosong yang tidak juga lewat meskipun dia sudah berdiri lebih dari setengah jam di pinggir jalan, cowok itu berjalan dengan langkah cepat menuju gedung sekolah, meskipun dia tahu sudah terlambat. Upacara sudah dimulai. Tapi masih ada waktu kira-kira lima menit sebelum Bu
Sam—guru yang doyan banget patroli ke barisan belakang setiap kelas, yang kalau sudah ngomel bisa bikin kuping budek—sampai di kelas yang akan ditujunya. Nggak tahu kelas sepuluh berapa, yang pasti kelas itu berada tepat di depan jeruji pagar sekolah yang bisa dicopot. Sebenarnya Ari bisa saja menyelinap ke barisan kelasnya sendiri, meskipun kelas-kelas dua belas berbaris tepat di depan barisan para guru. Soalnya, datang terlambat sudah sering dilakukannya baik disengaja ataupun tidak. Tapi pagi ini dia sedang malas mendengarkan ceramah Bu Sam, guru yang paling terobsesi pada tata tertib, kepatuhan, dan keteraturan. Apalagi di sekolah itu juga ada guru model Bu Ida, yang nggak kawin-kawin juga padahal umurnya—menurut rumor yang beredar—sebentar lagi mau lima puluh. Makanya tu guru sering ngomong bahwa murid-muridnya sudah dianggapnya kayak anak sendiri. Yang artinya, Bu Ida akan ngomel, yang menurut dia, selayaknya ibu kandung mereka di rumah. Yang terakhir ini yang bikin anak-anak SMA Airlangga, sebisa mungkin di luar jam pelajaran biologi, mending nggak berurusan dengan Bu Ida. Soalnya dia kalau ngomel lebih cerewet, lebih heboh, dan lebih lama daripada ibu mereka di rumah. Malah banyak yang bilang suara Bu Ida juga lebih nyaring. Menjelang mendekati pagar sekolah, Ari berjalan dengan punggung sedikit membungkuk dan berusaha tidak menimbulkan suara, langsung ke tempat yang dituju. Dengan cermat dipandanginya besi-besi jeruji pagar di depannya dan dengan cepat dia menemukan yang dicari. Suara gemeresik semak membuat siswi-siswi yang berada di barisan belakang menoleh. Mereka tercengang mendapati seorang cowok sedang menarik salah satu jeruji pagar dengan paksa, kemudian menyelinap masuk halaman. ”Liat apa!?” tanya Ari galak. Cewek-cewek itu tersentak dan seketika memalingkan kembali muka mereka ke depan. Ari menahan senyum. Setelah mengembalikan jeruji itu ke tempatnya, ia menyembunyikan tasnya di dalam kerimbunan asoka yang tumbuh di sepanjang tepi halaman. Kemudian dengan cepat cowok itu menyelinap ke tengah barisan, berusaha mencapai bagian depan tanpa kentara. Kebijaksanaan sekolah, cowok-cowok harus berbaris di bagian depan. Cewek-cewek di belakang. Alasannya, cowok tukang bikin ribut. Alasan yang kontan bikin semua siswa cowok protes keras. Cewek juga sama. Coba aja denger kalo mereka lagi ngegosip sambil cekikikan. Berisiknya malah lebih parah daripada cowok. ”Mundur dong!” bisik Ari ke cewek terdepan. Tari, cewek berambut panjang dan penuh nuansa oranye itu, menoleh kaget dan langsung mundur selangkah. Nada otoritas dalam suara Ari membuatnya patuh tanpa sadar. Cewek-cewek yang berbaris di belakangnya terpaksa mengikuti. Ari segera mengisi tempat kosong itu. ”Thanks.” Sesaat Ari menoleh ke belakang dan tersenyum. Tari membalasnya dengan ragu. Kayaknya pagi ini matahari sedang bersemangat melaksanakan tugasnya. Upacara baru berjalan kira-kira dua puJingga

Detail Buku:­­
Judul         : Jingga Dalam Senja
Penulis      : Esti Kinasih
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 5431 - 0
Tebal         : 312 hlm
Download      : Google Drive


Novel Jingga Dalam Elegi By: Esti Kinasih

Jingga Dalam Elegi By: Esti Kinasih

Sinopsis:
Ari, atau lengkapnya Matahari Senja, adalah biang onar di SMA Airlangga. Penyandang sederet predikat buruk dan pelanggar sederet peraturan. Dia menyimpan satu rahasia, karena tak seorang pun dia biarkan mengetahui tempat tinggalnya. Tari, atau lengkapnya Jingga Matahari, seorang siswi angkatan baru, membuat seisi SMA Airlangga tercengang. Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek dan membuatnya jadi incaran karena statusnya yang terus jomblo, tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Semua menduga karena persamaan nama. Ari terus mendekati Tari. Namun, nama buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengannya. Cewek itu mati-matian menjauhkan diri. Angga, atau lengkapnya Anggada, cowok pentolan SMA Brawijaya, musuh bebuyutan SMA Airlangga sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu tak sengaja cewek itu terjebak dalam tawuran dan Ari ber- usaha keras menyelamatkan Tari. Angga menduga Tari adalah pacar Ari. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad harus bisa merebut Tari. Memanfaatkan peluang yang ada, cowok itu kemudian maju sebagai pelindung Tari. Ari berhasil mematahkan usaha Angga, karena keberadaan Anggita sepupu Angga yang ternyata bersekolah di SMA Airlangga terbongkar. 
Demi keselamatan sepupunya itu, Angga terpaksa mundur. Akibatnya, Tari kini sendirian. Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di sebuah mal, tanpa sengaja Tari bertemu Ari. Tapi ternyata cowok itu sama sekali bukan Ari, melainkan Ata. Saudara kembar Ari! Tari jelas syok. Tapi yang membuatnya lebih syok lagi, nama lengkap Ata adalah Matahari Jingga! Rahasia terbesar Ari, mungkin juga yang terkelam, akhirnya terkuak. Tari merasa semua pertanyaannya selama ini akhirnya terjawab. Kenapa Ari tercatat sebagai siswa yang paling bermasalah. Kenapa cowok itu dengan gigih terus berusaha mendekatinya. Dan kenapa sejak awal dirinya bisa merasakan, Ari sebenarnya baik. Sementara yang sesungguhnya terjadi lebih rumit daripada itu. Sebuah rahasia Ari yang lain telah menempatkan Tari sebagai korban, tanpa sedikit pun Ata terlibat di dalamnya. INI bukan lagi sekadar teror. Ini teror yang sudah bisa dikategorikan mengarah ke pembunuhan. Tidak dalam bentuk tindak kekerasan secara langsung, tapi dalam bentuk serangan jantung. Ari tidak mau menunggu lama. Dua mata sembap pagi itu melekat kuat di dalam kepala dan terus menyiksanya. Karenanya, selama sepasang bibir itu belum menjelaskan penyebabnya, dirinya tidak akan pernah bisa tenang. Dan Ari sudah terkenal tidak akan berkompromi terhadap siapa pun yang membuat dirinya tidak tenang. Hari ini, dua hari setelah menerima SMS ancaman dari Ari, Tari terdiam di ruang kelasnya yang langsung kosong begitu bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu. Dia belum mendapatkan petunjuk apa pun kecuali rasa cemas dan sederet tanda tanya tanpa jawaban. Tiba-tiba ponselnya di saku kemeja bergetar. Tari terlonjak. Dikeluarkannya benda itu. SMS masuk, dari Fio. Tar, bruan. Soto lo kburu dingin nih. SMS kak ari smntra gak ush dipkrin dulu deh. Tari langsung ingat, tadi dia meminta Fio memesankan semangkuk soto ayam dan berjanji akan segera menyusul. 
Tari berdiri dan bergegas ke luar kelas. Tapi belum sampai dua meter ditinggalkannya pintu kelas, langkah-langkah cepatnya sontak terhenti. Oji melompat dari tepi koridor, tempat cowok itu berdiri dengan punggung menyandar di dinding, entah sejak kapan, lalu berdiri tepat di tengah-tengah koridor. Setelah beberapa detik menatap kaki tangan Ari itu dengan keterkejutan, Tari balik badan. Tapi kali ini lebih parah. Kakinya bahkan belum sempat melangkah, untuk kedua kalinya tubuhnya menegang. Tak jauh di depannya, Ridho berdiri menjulang. Tari menelan ludah. Dia melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh tembok pagar pembatas koridor. ”Kakak berdua kenapa sih?” tanya Tari, berusaha tetap terlihat tenang. Tak satu pun dari kedua cowok yang saat ini sedang memblokir jalannya menjawab. Keduanya menjalankan aksi mereka tanpa bicara. Oji menghalangi jalan dengan sikap berlebihan. Kedua tangannya terentang lebar-lebar. Nyaris menyentuh lebar koridor dari ujung ke ujung. Seolah-olah Tari adalah buronan berbahaya yang paling dicari dan selama ini punya catatan sebagai tukang kabur. Sedangkan Ridho, meskipun terlihat santai, hanya memblokir dengan tubuhnya, kedua tangannya bahkan terlipat di depan dada. Tari tahu dengan pasti, separuh lebih jarak

Detail Buku:­­
Judul         : Jingga Dalam Elegi
Penulis      : Esti Kinasih
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 6647 - 4
Tebal         : 392 hlm
Download      : Google Drive