Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Wanita itu adalah Ibu By Sori Siregar

Wanita itu adalah Ibu

Hezan sangat mencintai isterinya, Laura, sehingga ia merasa kehilangan yang sangat mendalam ketika Laura meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia bertekad untuk tidak menikah lagi dengan wanita mana pun. Ia juga bertekad untuk mengasuh anak perempuannya yang bernama Prapti dengan sebaik-baiknya. Seluruh cintanya tidak tersisa untuk mencintai wanita lain. Akibat kesepian dan dorongan nafsu biologisnya, Hezan semakin lama semakin tertekan. Ia menjadi gelisah, namun ia berusaha menyembunyikannya kegelisahan itu dari Prapti sekalipun anak semata wayangnya itu sebenarnya mengetahui penyebab kegelisahan ayahnya. Puncak rasa kesepiannya terjadi ketika Prapti menikah dengan Tonton. Ia merasa bahwa ia merasa sendirian dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kenyataan itu harus ia terima sebab Prapti yang sudah cukup umur harus menikah dan membagi cintanya kepada suaminya. Kegelisahan-kegelisahan batinnya selalu ia pendam. Jika ia merasa kesepian, ia selalu mencoba berdialog dengan Laura untuk menceritakan keadaan dirinya yang berada dalam kesulitan. Keinginan yang muncul dalam dirinya untuk menikah lagi segera ia tepiskan karena ia tidak ingin menghianati cintanya pada Laura. Ia pun menolak saran yang sama dari Prapti dengan alas an yang sama pula. Sebagai seorang laki-laki normal, tekad bulatnya untuk mempertahankan cinta murninya hanya berlaku di mulutnya saja. Ia kemudian sering menemani wanita murahan dan meulai berpetualang dengan para wanita tersebut. Namun, dihadapan anaknya, ia selalu bertingkah seperti seorang ayah yang saleh. Pertualangan itu berakhir dengan munculnya Nuning, seorang wanita setengah baya yang mempunya kemiripan dengan Laura. Hezan benar-benar jatuh cinta kepada wanita itu, demikian pula sebaliknya. Selain mempunyai kemiripan dengan isterinya, Nuning juga selalu menasehati dan memberikan saran-saran dengan lemah lembut kepada Hezan. Tak lama kemudian, keduanya pun menikah secara resmi. Nuning sekaligus menjadi ibunya Prapti. Prapti nampaknya memiliki pendapat yang sama dengan ayahnya mengenai kemiripan antara Nuning dan ibunya sehingga ia menerima kehadiran Nuning sebagai pengganti ibunya.
Detail Buku:
Judul         : Wanita itu adalah Ibu
Penulis      : Sori Siregar
Penerbit    :  Balai Pustaka
ISBN          : -
Tebal         : -
Download   : Google Drive

Turun ke Desa by N.St. Iskandar

Turun ke Desa

Sartini adalah karyawan R. Suleman di kantor adpokat dan prokol “Suleman & Bakri” yang kenamaan. Selama bekerja di tempat itu Sartini mulai menaruh hati pada Suleman. Sartini merasa Suleman itu seorang pimpinanyang baik. Dia tidak menuntut macam-macam dari karyawannya dan bersikap biasa saja kepada semua orang. Walaupun Suleman kadang-kadang agak dingin padanya. Namun, Sartini merasa nyaman jika berada disamping Suleman dan bekerja membantu pekerjaannya. Menurut Sartini bosnya itu berbedadengan Mr. Bakri yaitu sahabat dari Suleman. Mr. Bakri selalu memerintah karyawannya dengan seenak hati dan tidak bias menghormati orang lain. Suatu hari Sartini merasa kecil hati, saat mengetahui bahwa Suleman telah bertunangan dengan Zuraidah yaitu seorang pemain film. Dibanding dengan dirinya Zuraidah sangat jauh berbeda. Dilihat dari penampilan maupun materi, Zuraidah lebih unggul segala-galanya daripada Sartini. Namun, Sartini sudah cukup merasa bahagia hanya dengan bekerja membantu Suleman. Pagi hari Suleman terburu-buru untuk berangkat ke kantornya, dia mendengar kabar bahwa dia akanditangkap polisi, jika tidak bias membayar semua hutang-hutang kantornya. Setibanya di kantor ternyata berita itu benar. Suleman mendapatkan sebuah surat yang isinya dia harus membayar semua hutang-hutangnya. Seketika itu Suleman tertunduk lemas tak berdaya di kursinya. Sekarang dia telah bangkrut dan bahkan dia bias masuk penjara. Suleman mendatangi Bakri, sahabatnya itu dengan tujuan meminjam uang untuk menyelesaikan masalahnya itu. Namun, tak disangka-sangka oleh Suleman bahwa sahabatnya itu malah tidak mau membantu dan mengejeknya bahwa dia sekarang telah bangkrut dan tidak punya kekuasaan lagi. Mendengar jawaban sahabatnya itu Suleman menjadi lebih pusing dan frustasi. Sahabat yang dianggap baik dan bias membantunya malah menusuknya dari belakang. Berita bangkrutnya Suleman telah cepat sampai ke telinga Zuraidah, sang tunangannya itu. Sikap Zuraidah sungguh membuat Suleman sangat kaget. Zuraidah langsung memutuskan pertunangan tersebut dan tidak mau berhubungan lagi dengan Suleman. Suleman merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dia merasa semua orang yang selama ini dianggapnya baik, sekarang malah tidak ada yang mempedulikannya disaat dia membutuhkan bantuan mereka. Melihat kondisi Suleman seperti itu, Sartini tidak tega dan sungguh merasa kasihan. Dia sangat ingin menolong pujaan hatinya tersebut. Sartini mencoba membantu Suleman dengan menggadaikan rumah satu-satunya tanpa sepengetahuan ibunya. Sartini membuat iklan untuk menggadaikan rumahnya tersebut. Setelah beberapa hari, iklan tersebut ternyata ada yang berminat. Sartini merasa bahagia, karena sebentar lagi ia bias menolong bosnya dari masalahnya. Seseorang yang berminat dengan iklan Sartini tersebut meminta Sartini untuk datang ke rumahnya. Sartini pun menyanggupinya. Setelah sampai di rumah tersebut Sartini sungguh kaget, karena orang tersebut adalah Sayid Alwi bin Zahar yaitu seseorang yang membuat Suleman bangkrut. Sayid Alwi bin Zahar bersedia membeli rumah tersebut dengan satu syarat yang diajukan kepada Sartini. Demi untuk menolong Suleman, Sartini pun bersedia dengan perjanjian tersebut. Sayid Alwi bin Zahar meminta pada Sartini untuk mengikuti dan mematuhi segala perintahnya dan tidak boleh membangkangnya sedikitpun selama enam bulan.Sartini pun berhasil menolong Suleman tanpa sepengetahuannya, karena identitasnya disembunyikan sehingga Suleman tidak dipenjara. Setelah masalahnya selesai Suleman mulai mendekati Sartini, karena dia merasa hanya Sartinilah yang peduli dengannya saat dia menghadapai masalah yang sangat sulit. Suleman pun mulai tertarik pada Sartini dan dia mengungkapkannya pada Sartini. Sartini tidak bias menjawab apa-apa. Dia memberitahukan bahwa dia tidak bias bersama lagi dengan Suleman dalam waktu enam bulan terakhir ini, karena dia harus memenuhi perjanjiannya tersebut dengan induk semangnya yang baru. Namun, Sartini juga mengungkapkan bahwa dia juga tertarik pada Suleman. Di suatu tempat Suleman melihat Sartini bersama dengan Sayid Alwi bin Zahar. Suleman marah dan tidak menyangka bahwa Sartini bekerja pada musuh yang telah membuatnya bangkrut dan hampir dipenjara. Sartini pun tak kuasa untuk menjelaskan semuanya pada Suleman, karena dia harus menuruti Sayid Alwi bin Zahar. Sayid Alwi bin Zahar membawa Sartini ke kampung halamannya dan bermaksud akan diberikan pada neneknya. Sayid Alwi bin Zahar bermaksud merebut semua kekayaan nenek Sartini dengan menggunakan Sartini untuk ditukarkan. Sartini pun berbaikan dengan neneknya yang semula neneknya itu sangat membenci dirinya dan ibunya. Hal itu disebabkan ibunya kawin lari tanpa persetujuan neneknya. Di desa itulah Sartini bertemu lagi dengan Suleman yang ternyata Suleman mengabdikan dirinya di desa itu untuk memimpin sebuah pabrik. Suleman dipercaya bupati setempat untuk memimpin pabrik tersebut, karena Suleman dianggap mampu dan barasal dari Jakarta pula. Suleman dan Sartini akhirnya dapat bersatu di desa itu dan disetujui oleh ibu dan nenek Sartini. Mereka berdua menikah dan hidup bahagia.

Detail Buku:
Judul         : Turun ke Desa
Penulis      : N.St. Iskandar
Penerbit    :  Balai Pustaka
ISBN          : -
Tebal         : 239 hlm

Download   : Google Drive

# About Love by Tere Liye

# About Love by Tere Liye

“ Jatuh cinta adalah salah satu anugerah terbaik. Cinta memberi kita kesempatan untuk memahami banyak hal. Cinta juga menjadikan kita lebih dewasa, lebih berani, dan bertanggung jawab. Cinta pula yang menjadikan manusia sebagai manusia.”

“Masing-masing dari kita memiliki kutipan favorit tentang cinta. Satu, sepuluh, atau bahkan seratus kutipan seperti yang ada dalam buku ini bisa menjadi pegangan kita dalam mencinta.”
“Jatuh cinta itu persis kau naik gunung, tiba-tiba terjerambab ke dalam jurang dalam, meluncurnya mudah, tapi susah payah merangkak naik kembali. Jatuh cinta itu persis seperti komputer atau HP kau tiba-tiba terkena virus, kena-nya gampang, tapi memperbaiki, servis datanya susah kali–bahkan tetap tidak bisa diperbaiki hingga kapan pun. Jatuh cinta itu sama dengan kau naik mobil cepat, kau gas kencang, jalan landai, tiba-tiba rem-nya blong. Mobil kau melaju tak terkira, susah payah menghentikannya. Bahkan harus menabrak sana-sini, kau patah hati.”

“ Siapa yang suka rendang? Well, makanan yang konon katanya terenak sedunia ini ternyata ada hubungannya dengan memilih pasangan lho. Kok bisa? Iya. Memilih pasangan itu bukan sekadar melihat fisik luarnya. Karena kalau hanya itu, bukankah kalian sendiri pernah mengalaminya? Mengambil potongan paling besar, ternyata itu bukan rendang, itu lengkuas yang tertutup bumbu lezat. Luarnya memang sama-sama menggoda, tapi ketika digigit rasanya berbeda.”
“Pilihlah pasangan yang kaya. Tapi bukan kaya hartanya, melainkan kaya waktunya, sehingga dia punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama kita termasuk saat dia sibuk sekalipun.
Karena hari ini, orang2 sebenarnya lebih banyak bercengkerama dengan pasangan nempel terusnya, yaitu gagdet macam HP, laptop, dan sebagainya.”

#AboutLove merupakan rangkuman kutipan cinta terfavorit dari Tere Liye.

Detail Buku:
Judul         : #AboutLove
Penulis      : Tere Liye.
Penerbit     : PT. Gramedi Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-1778-6
Tebal         : 128 hlm
Download      : Google Drive


Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Pesawat berbadan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London. Penerbangan ini nonstop menuju Singapura. Gadis dengan rambut dikucir dan seperangkat touchscreen di tangan, berisi corat-coret daftar pertanyaan, tersenyum gugup di kursi berlapis kulit asli di sebelahku. Aku sedang tidak berselera untuk tersenyum, cukup menyeringai, menatapnya datar. ”Silakan,” kataku. ”Maaf, wawancara ini sudah berkali-kali ditunda. Kami sudah berusaha menyesuaikan jadwal. Tapi begitulah, tidak mudah mengejar kesibukan Anda.” Dia sedikit percaya diri tampaknya. Senyumnya lebih baik. Aku mengangguk. Aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Janji pertama bertemu di Jakarta kemarin pagi batal karena aku sudah berangkat menghadiri konferensi. Editor senior majalah mingguan  tu spesial meneleponku, minta maaf, bilang wawancara ini  amat penting, waktunya mendesak, pembaca setia mereka ingin tahu bagaimana cara terbaik menyikapi turbulensi ekonomi dunia saat ini. Apa pun akan mereka lakukan untuk mendapatkan materi wawancara, termasuk menyusulku ke London. Baiklah, aku memberikan waktu satu jam selepas konferensi. Lagi-lagi wartawan mereka datang terlambat di gedung konferensi, dan aku sudah menumpang taksi bergegas menuju bandara. Editor itu kembali terburu-buru menelepon, bilang mereka  udah berusaha mengirimkan wartawan terbaik mengejarku ke Eropa, tetapi jadwalku terlalu padat untuk diikuti. Sambil tertawa, dia bergurau, ”Kau tahu, Thom. Bahkan jadwalmu lebih padat dibanding presiden.” Demi sopan santun aku ikut tertawa, lantas berkata pendek, ”Kita lakukan saja sekarang di atas langit atau lupakan sama sekali.” ”Seperti yang mungkin sudah disebutkan dalam e-mail, ini akan menjadi judul di halaman depan.” Gadis dengan blus putih dan rok hitam konservatif selutut itu masih melanjutkan dengan kalimat pembukanya. ”Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya, tapi karena saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan.ebih besar dibandingkan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali pesawat biasa. Dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.” Aku mengangguk, lebih asyik mengamati penampilan ”wartaIsi-wan terbaik” di sebelahku itu. Aku bergumam, semoga isi kepalanya secantik penampilannya. Gadis itu lebih cocok menjadi pembawa acara di layar televisi dibandingkan kuli tinta, bergenit ria dengan dandanan dan kalimat, padahal kosong. Apa tadi kualifikasinya? Lulusan terbaik sekolah bisnis? Ada ribuan orang yang memiliki predikat itu—aku bahkan punya dua. ”Sejak kapan kau menjadi wartawan?” Senyum riang gadis itu terlipat, meski ekspresi wajah terbaiknya tetap menggantung. ”Saya?” ”Ya, sejak kapan kau menjadi wartawan?” ”Dua tahun,” dia menjawab ragu-ragu. ”Berapa usiamu sekarang?” ”Usia? Eh, dua puluh lima.” ”Ada berapa wartawan di kantormu?” ”Eh?” ”Ya, anggap saja aku yang sedang mewawancaraimu.” Aku menatapnya tipis, mengabaikan pramugari yang penuh sopan santun berlalu-lalang menawarkan kaviar serta anggur terbaik. ”Hampir tiga puluh.” ”Menarik.” Aku menjentikkan telunjuk. ”Dari tiga puluh
wartawan di kantor review ekonomi mingguan yang mengklaim terbesar di Asia Tenggara, pemimpin redaksi kalian ternyata memutuskan mengirimkan juniornya yang berusia dua puluh lima dan baru bekerja dua tahun, melakukan wawancara yang katanya paling penting, topik paling aktual, yang judulnya akan diletakkan di halaman depan edisi breaking news. Amat menarik, bukan?” Wajah gadis itu memerah. Sepertinya aku berhasil meIsi-

Detail Buku:
Judul         : NEGERI PARA BEDEBAH
Penulis      :
Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8552 - 9
Tebal         :
440 hlm
Download      : Google Drive


Negeri 5 Menara (Negeri 5 Menara, #1) by Ahmad Fuadi

Negeri 5 Menara

Washington DC, Desember 2003, jam 16.00 Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik kerai tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari sore menggantung condong ke barat berbentuk piring putih susu. Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat
yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kubah raksasanya yang berundak-undak semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan kopiah haji. Di depan gedung ini, hamparan pohon american elm yang biasanya rimbun kini tinggal dahan-dahan tanpa daun yang dibalut serbuk es. Sudah 3 jam salju turun. Tanah bagai dilingkupi permadani putih. Jalan raya yang lebar-lebar mulai dipadati mobil karyawan yang beringsut-ingsut pulang. Berbaris seperti semut. Lampu rem yang hidup-mati-hidup-mati memantul merah di salju. Sirine polisi atau ambulans sekalisekali menggertak diselingi bunyi klakson. Udara hangat yang berbau agak hangus dan kering menderu- deru keluar dari alat pemanas di ujung ruangan. Mesin ini menggeram-geram karena bekerja maksimal. Walau begitu, badan setelan melayuku tetap menggigil melawan suhu yang anjlok sejak beberapa jam lalu. Televisi di ujung ruang kantor menayangkan Weather Channel yang mencatat suhu di luar minus 2 derajat celcius. Lebih dingin dari secawan es tebak di Pasar Ateh, Bukittinggi. Aku suka dan benci  engan musim dingin. Benci karena harus membebat diri dengan baju tebal yang berat. Yang  bih menyebalkan, kulit tropisku berubah kering dan gatal di sana-sini. Tapi aku selalu terpesona melihat bangunan, pohon, taman dan kota diselimuti salju putih berkilat-kilat. Rasanya tenteram, ajaib dan aneh. Mungkin karena sangat berbeda dengan alam kampungku di Danau Maninjau yang serba biru dan hijau. Setelah dipikir-pikir, aku siap gatal daripada melewatkan pesona winter time seperti hari ini. Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu
riuh dengan pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di ibukota Amerika Serikat, The Capitol and The Mall, tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan. Posisi kantorku hanya sepelemparan batu dari di The Capitol, beberapa belas menit naik mobil ke kantor George Bush di Gedung Putih, kantor Colin Powell di Department of State, markas FBI, dan Pentagon. Lokasi impian banyak wartawan. Walau dingin mencucuk tulang, hari ini aku lebih bersemangat dari biasa. Ini hari terakhirku masuk kantor sebelum terbang ke Eropa, untuk tugas dan sekaligus urusan pribadi. Tugas liputan ke London untuk wawancara dengan Tony Blair, perdana mentelima ri Inggris, dan misi pribadiku menghadiri undangan The World Inter-Faith Forum. Bukan sebagai peliput, tapi sebagai salah satu panelis. Sebagai wartawan asal Indonesia yang berkantor di AS, kenyang meliput isu muslim Amerika, termasuk serangan 11 September 2001. Kamera, digital recorder, dan tiket aku benamkan ke ransel National Geographic hijau pupus. Semua lengkap. Aku jangkau gantungan baju di dinding cubicle-ku. Jaket hitam selutut aku kenakan dan syal cashmer cokelat tua, aku bebatkan di leher. Oke, semua beres. Tanganku segera bergerak melipat layar Apple PowerBook- ku yang berwarna perak. Ping… bunyi halus dari messenger menghentikan tanganku. Layar berbahan titanium kembali aku kuakkan. Sebuah pesan pendek
muncul berkedip-kedip di ujung kanan monitor. Dari seorang bernama ”Batutah”. Tapi aku tidak kenal seorang ”Batutah” pun. maaf, ini alif dari pm?” Jariku cepat menekan tuts. ”betul, ini siapa, ya?” Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi. ”alif anggota pasukan Sahibul Menara?”Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Jariku menari ligat di keyboard. ”benar. ini siapa sih?!” balasku mulai tidak sabar. ”menara keempat, ingat gak?” Sekali lagi aku eja lambat-lambat... menara keempat....Tidak salah baca. Jantungku seperti ditabu cepat. Perutku terasa dingin.Sudah lama sekali. Aku bergegas menghentak-hentakkan jari:

Detail Buku:
Judul         : Negeri 5 Menara
Penulis      :
A. Fuadi
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-979-22-4861-6
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Orang-orang Proyek by Ahmad Tohari

Orang-orang Proyek by Ahmad Tohari

Pagi ini Sungai Cibawor kelihatan letih. Tiga hari yang lalu h jan deras di hulu membuat sungai ini banjir besar. Untung sudah jadi watak sungai pegunungan, banjir yang terjadi berlangsung cepat. Air yang semula jernih mulai mengeruh di pagi hari, meninggi dan segera menggelora se tengah jam kemudian. Cibawor seperti sedang digelontor dari hulu dengan bah besar yang pekat berlumpur serta membawa segala macam sampah, dari sandal karet, bekas botol plastik, batang pisang, sampai batang mahoni. Banjir kali ini memang besar. Setelah air surut hanya beberapa jam kemudian, banyak sampah tersangkut di ranting pepohonan. Pada tebing yang curam tampak rerumpuan dan pakis-pakisan tercerabut oleh derasnya air. Dinding cadas yang tergerus. Pada bantaran yang landai,banjir telah menutup hamparan lahan pertanian dengan lumpur, batu, dan pasir. Ada pohon cangkring roboh karena tanah miring tempatnya berpijak longsor. Akarnya mencuat keatas seperti tangan-tangan yang ingin menggapai sesuatu untuk bertahan. Tapi pohon mbulu itu masih kukuh di sana. Mungkin karena ia tumbuh di tanah cadas serta terlindung batubatu besar. Maka, meski banjir sempat menyentuh ujungujung rantingnya yang bergantung di atas air, pohon itu bergeming. Bahkan mbulu yang sudah sangat tua itu masih tetap memberi rasa aman bagi burung-burung emprit yang bersarang pada ujung-ujung ranting yang menggantung itu. Mereka ikut terayun-ayun bersama goyangan ranting ketika angin bertiup. Dan mereka tetap berkejaran, mencicit, tak peduli air di bawahnya belum sepenuhnya surut seperti sediakala. Ketenangan di bawah pohon mbulu itu seakan diberi bobot
lain oleh kedatangan seorang pemancing tua. Lelaki itu telah lama menjadikan kerindangan pohon mbulu di tepi Sungai Cibawor itu sebagai tempat yang paling disukai. Memancing di tempat itu adalah berkawan dengan keheningan, dengan semilir angin, dengan lambaian ranting-ranting yang mengayun di atas air atau cericit burung-burung emprit. Dan bila air sedang jernih, naungan pohon mbulu itu juga memberi kesempatan orang melihat bayangan langit serta kelebat burung layang-layang. Pada saat demikian, pemancing tua itu merasa dirinya benar-benar hadir dan ikut berdenyut dengan alam di sekitarnya. Tapi pagi ini lelaki tua itu tampak ragu. Dia tidak segera memasang pancingnya lalu duduk di batu seperti biasa. Dia tetap berdiri dan menatap ke permukaan air. Mengernyitkan  lis, lalu menurunkan kantong perkakas lusuh yang disandangnya. Duduk di atas batu pada tempat yang paling nyaman lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong lusuhnya. Bukan pancing melainkan seruling bambu. Sementara pancingnya tetap tinggal dalam kantong. ”Kukira air sudah kembali jernih, ternyata masih keruh,” gumam lelaki itu, mungkin kepada burung-burung emprit di atas kepalanya. ”Kalau air masih keruh seperti ini, percuma saja aku memasang pancing.” Lalu dengan jarinya yang tampak kering lelaki itu mengatur cincin serulingnya. Dengan menekan cincin yang terbuat
dari serpih bambu itu lebih dalam, dia ingin membuat suara serulingnya selirih mungkin. Dia memang selalu ingin meniup seruling hanya untuk didengar sendiri. Dia tidak bermaksud mengalunkannya untuk orang lain. Bahkan, kalau bisa telinga sendiri pun tak perlu mendengar
karena suara serulingnya ditujukan langsung untuk jiwa. Ketika ujung-ujung ranting yang menggantung itu mulai bergoyang oleh sentuhan angin, ketika burung-burung ke-cil itu mulai mencicit-cicit di seputar sarang mereka, dari bawah kerindangan pohon mbulu itu samar-samar mulai terdengar alunan seruling. Demikian samar sehingga ketika angin bertiup kencang, suara itu luluh oleh desah angina yang menerobos dedaunan. Pemancing tua itu dengan serulingnya sedang asyik berdendang sendiri. Alunan itu membawanya mengembara keruang jiwa dengan rasa yang amat mendalam. Dia merasa

Detail Buku:
Judul         : Orang-Orang Proyek
Penulis      :
Ahmad Tohari
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 602 - 03 - 2059 - 5
Tebal         :
256 hlm
Download      : Google Drive


Cowok Rasa Apel by Noel Solitude

Cowok Rasa Apel by Noel Solitude

Namaku Dimas. Aku akan berumur tepat tujuhbelas tahun di sebuah tanggal di bulan September nanti. Aku kelas satu SMA, dan sebentar lagi mau naik ke kelas dua. Aku tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah, kota yang cukup ramai tapi juga nyaman! Solo, kota yang punya slogan: The Spirit Of Java! Dalam banyak hal aku nggak jauh beda dengan anak cowok lainnya yang seumuran. Aku punya enam hari buat berangkat ke sekolah tiap pagi, dan pulang di sore hari. Selain teman sekolah, seingatku aku nggak punya teman bergaul lainnya. Itupun aku jarang bergaul dengan mereka di luar sekolah.Ya, aku tergolong anak rumahan yang lebih banyak tinggal di rumah sehabis pulang sekolah. Aktivitasku di luar rumah selain sekolah, paling-paling cuma sekedar refreshing yang biasanya kunikmati sendiri. Entah itu jalan-jalan, lihat-lihat kota ataupun nonton film.Jadi, aku bukan anak gaul? Ah, predikat seperti itu sih nggak penting buatku! Di rumah, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Sebutanku buat kedua orang tuaku memang nggak ada kesan Jawa-nya sama sekali. Aku nggak memanggil mereka Bapak ataupun Ibu seperti lazimnya keluarga Jawa, tapi memanggil dengan sebutan Papa dan Mama! Karena, yahhh... mungkin kebiasaan dari kecil aja. Papa orang Jawa, asli dari Solo. Sedangkan Mama dulu tinggal di Jakarta, tapi aslinya campuran Sunda dan Manado. Mama lebih terbiasa pakai bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa ataupun Sunda, Papa akhirnya juga begitu. Tapi bukan berarti kami nggak bisa bahasa Jawa ya! Cuma soal kebiasaan aja. Hehehe. Keseharian Papa, dia sibuk kerja di kantor dari pagi hingga sore bahkan kadang sampai malam. Kalau bisa pulang lebih awal, biasanya juga pilih tinggal di rumah aja. Sedangkan Mama kerja di perusahaan asuransi, entah apa istilahnya, pokoknya sering berada di luar mencari nasabah. Buat membantu mengurusi pekerjaan sehari-hari di rumah, kami punya pembantu, Mbok Marni. Sudah setengah tua, tapi justru itulah, dia bukan tipe pembantu yang banyak tingkah. Sederhana, sabar, nggak norak, dan syukurlah dia juga nggak suka caper ke tetangga. Tipe pembantu rumah tangga yang baik lah...! Lalu aku? Tetap dengan aktivitasku sendiri, berangkat ke sekolah tiap pagi lalu pulang ke rumah sore hari. Sesekali bantu bersih-bersih rumah, menyirami tanaman, menyapu halaman, atau keluar dengan motor sekedar refrehsing. Begitulah, aku rasa nggak ada schedule yang istimewa dalam keseharianku.Apakah hidupku membosankan? Hmmm, aku memang punya orang tua yang cukup sibuk. Tapi aku bisa memaklumi kesibukan mereka. Lagipula aku bukan anak cowok yang cuma bisa bengong sepanjang hari di rumah sepulang sekolah. Sebenarnya, aku punya satu hal spesifik yang selalu bisa kukerjakan, sendirian... di kamar! Aktivitas dengan sebuah...LAPTOP! Baiklah, laptopku memang bukan seri termahal di merk-nya. Tapi dia bisa berfungsi optimal, buatku itu udah cukup. Malah berkat Papa yang mau berbaik hati memasang saluran internet di kamarku, itu lebih dari cukup! Dengan begitu laptopku ibarat teman yang selalu siap kapan aja, selama nggak lowbatt! Dia bisa jadi apapun yang kubutuhkan! Ehhmm, dia memang nggak bisa jadi hamburger kalau aku lapar, tapi dia bisa jadi bioskop kalau aku lagi pingin nonton film. Dia bisa jadi music player yang asyik kalau aku lagi pingin dengar musik. Dia bisa jadi studio foto kalau aku lagi pingin narsis, mengedit foto sendiri dibikin lebih cakep, tapi pastinya bukan gaya sok imut seperti anak-anak alay! Hahaha. Dengan fasilitas internet aku bisa bermain-main di situs-situs yang menyenangkan, dari jejaring sosial, forum maya, situs pendidikan sampai situs entertainment! Ya, aku memang anak rumahan, tapi bukan berarti aku nggak tahu apa-apa soal realita di luar rumah! Kehidupan yang sebenarnya, bahkan yang ada di luar sana yang nggak bisa kutemui secara langsung, aku bisa mengintipnya lewat sebuah jendela bernama internet. Aku nggak

Detail Buku:
Judul         : COWOK RASA APEL
Penulis      :
Noel Solitude
Penerbit     : Spica Solitudia
ISBN         :-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Konflik Bersejarah: Waffen SS - Pasukan Elit Pengawal Hitler

Konflik Bersejarah: Waffen SS - Pasukan Elit Pengawal Hitler

Pada paruh pertama bulan November 1925, supir Adolf Hitler, Julius Schreck, menyewa delapan orang pria bertubuh kekar untuk bertugas sebagai pengawal sang Führer. Mereka baru saja dibebaskan dari penjara yang sama di mana Hitler ditahan setelah kegagalan upaya kaum Nazi untuk menggulingkan pemerintah Negara bagian Bavaria delapan belas bulan sebelumnya. Para ukang pukul tambahan disewa empat minggu berikutnya. Dinamakan sebagai ’Stosstrup Adolf Hitler’, mereka ini  merupakan para pendiri Schutzstaffel, korps pengawal Partai Nazi yang lebih dikenal dengan singkatan SS. Dalam waktu singkat, mereka kemudian menjadi organisasi te ror yang sangat ditakuti maupun sebagai salah satu kekuatan politik, militer, dan ekonomi yang amat besar dalam sejarah Reich Ketiga. Pada saat Heinrich Himmler, seorang prajurit yang gagal dan bekas peternak ayam berwajah lembut, menjadi pemimpinnya pada tahun 1929, organisasi itu baru beranggotakan 280 orang. Pada akhir tahun yang sama, kekuatannya meningkat mencapai 1.000 orang. Pada bulan Desember 1930, SS telah memiliki 2.700 orang anggota; setahun berikutnya, keanggotaannya melonjak hingga 15.000 orang. Ketika Hitler menjadi kanselir Jerman pada tanggal 30 Januari 1933, SS telah memiliki 52.000 orang anggota. Jumlah itu terus bertambah sehingga ketika Perang Dunia II berakhir, sekitar satu juta orang telah bertugas di dalam berbagai jawatan SS. Jawatannya yang paling terkenal dan ditakuti adalah Gestapo (Geheimestaatspolizei, atau polisi rahasia negara), yang bertanggung jawab untuk menindas perlawanan terhadap rezim Nazi. Organisasi SS juga memiliki sebuah dinas keamanan yang dikenal sebagai SD (Sicherheitsdienst, atau dinas rahasia), yang bertugas mengumpulkan data intelijeni dalam maupun di luar negeri. Pihak SS juga memegang kendali atas berbagai jawatan kepolisian di seluruh Jerman dan wilayah pendudukannya. Sekitar 40.000 penjaga SS mengoperasikan kamp-kamp kerja paksa, konsentrasi, dan pemusnahan Nazi. Berbagai jawatan lainnya melakukan penelitian genealogi untuk meningkatkan kualitas rasial bangsa Jerman; mengeluarkan izin pernikahan bagi para anggota SS; mengelola berbagai rumah persalinan secara gratis demi menghasilkan suatu ras pemimpin; memiliki dan mengelola ratusan industri, mulai dari penggalian batu hingga pabrik porselen dan pembuatan roti; menerbitkan surat kabar serta mengelola serangkaian pengadilannya sendiri. Namun dinas SS yang paling dikasihi oleh Himmler—”seakan-akan anaknya sendiri,” demikian kenang seorang rekannya— adalah apa yang kemudian dikenal sebagai Waffen-SS (SS Bersenjata). Asal-usul Waffen-SS dapat ditarik pada peristiwa tanggal 30 Januari 1933, ketika Adolf Hitler diangkat sumpahnya sebagai kanselir Jerman dan menempati kediaman di Kekanseliran Reich. Hitler menemukan dirinya dilindungi oleh suatu detasemen Reichsheer (Angkatan Darat), dan sejumlah polisi. Dia merasa tidak aman setelah mengetahui keselamatan pribadinya hanya bergantung dari pasukan keamanan negara, sehingga pada tanggal 17 Maret Hitler memerintahkan Joseph ’Sepp’ Dietrich untuk membentuk SS ’Stabswache’ (Pengawal Markas Besar SS), Berlin, yang terdiri atas 120 orang anggota pilihan dari satuan pengawal pribadi Hitler di München. Unit-unit Reichsheer akhirnya ditarik dan tugas pengamanan bagi Hitler dialihkan kepada pihak SS. asal-mula ’Stabswache’ sendiri terletak pada keinginan Hitler untuk membentuk sebuah kelompok kecil yang memiliki kesetiaan tanpa syarat, dapat diandalkan secara politik dengan kekuatan fisik yang prima, bersumpah untuk melindunginya dengan nyawa mereka sendiri apabila diperlukan. Ketika dibentuk pada bulan Maret 1923, ’Stabswache’ hanya beranggotakan dua orang saja, tetapi dua tahun berikutnya kelompok tersebut direorganisasi dan pada tahun 1925 dibentuk sebagai SS. Setelah pengangkatan Himmler sebagai Reichführer SS pada tanggal 16 Januari 1929, Hitler memerintahkan agar SS dijadikan sebagai sebuah ”pasukan elite partai” yang lebih kecil dan terpercaya daripada Sturmabteilung (SA, atau Pasukan Tempur) yang memiliki kekuatan lebih besar tetapi kurang  terpercaya. Pada saat Hitler menjadi kanselir, SS memiliki 52.000 orang anggota dibandingkan dengan 300.000

Detail Buku:
Judul         : Konflik Bersejarah – Waffen SS
Penulis      :
Nino Oktorino
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :978-602-02-1741-3
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Peluk Ia Untukku by Tatiek S.

Peluk Ia Untukku by Tatiek S.

Kenangan melemparku ke masa lalu. Aku menghela napas panjang. Ah… tempat ini selalu berhasil membuat dadaku seakan-akan dipenuhi oleh sesuatu dan sukses memaksa mataku memanas. Ya… aku tak bisa membohongi perasaanku. Gundukan tanah yang ada di hadapanku dan berada di antara pepohonan ang sesekali seolah membisikkan kata-kata rahasia ini selalu membuat pikiranku melayang-layang ke satu masa itu. Satu masa di mana kekasih jiwaku masih ada di sampingku. Tak sadar, air mataku meluncur begitu saja, dan bukannya berhenti, semakin lama malah semakin deras. Dadaku pun semakin sesak. Aku sesenggukan. Entah sudah berapa helai tisu yang kupakai untuk menghapus air mataku, tapi tak juga berhasil  menghapus kilasan-kilasan kisah tentang dirinya. Bayangan demi bayangan bermain-main di kelopak mataku. Hingga detik ini, aku tak sanggup membuat bayangan tentang dirinya lenyap. Masih teringat dengan jelas sosok itu, sosok yang sering kali membuat aku tak mampu membantah apa pun yang ia inginkan dariku. Masih  teringat jelas juga suaranya ketika memanggil namaku. Bahkan meskipun Sang Kuasa telah memeluknya, saat aku memejamkan
mataku sambil mengingat sosoknya, aku masih bisa mendengar suara itu sayup-sayup menyapaku dan menemaniku. Benar, aku hampir berani bersumpah kalau betul suara itu adalah suaranya. Suara penuh wibawa yang membuat aku jatuh cinta. Aku yakin saat itu dia memang sedang memanggil aku. Ah… kalau sudah seperti ini, siapa yang ingin kenangan itu pergi jika hanya itu satu-satunya yang mampu membuatku bertahan hingga saat ini? Sebelumnya, aku selalu mendengar bahwa kehilangan belahan hati adalah hal yang paling menyakitkan di dunia. Tapi, tak pernah sedikit pun terbayangkan olehku bahwa rasanya akan seperti ini. Rasa yang kurasakan saat ini bagiku tak layak jika dinamakan sakit. Bagiku, rasa ini hanya punya arti remuk atau dengan kata lain hancur berantakan hingga aku tak sanggup lagi merasakannya. Ibarat kematian itu sendiri, kehilangan orang tercinta untuk selamalamanya bagiku sama seperti mati begitu saja. Seolah nyawaku  untuk berkontemplasi dan berdialog dengan hati nuraniku, membuatku seakan dapat mendengar suaraku sendiri. Sunyi yang mampu menenggelamkanku dalam sejuta kenangan yang meluncur perlahan menuruni bukit-bukit nun jauh di sana, mencari-cari dan menggapai sesuatu yang entah harus kunamakan apa.
Desau angin bahkan tak lagi mampu kurasakan gemerisiknya di sekujur tubuh. Memejamkan mata di hadapan pusara teramat sederhana, aku tenggelam kian dalam dan semakin dalam. Tak kuhiraukan senja yang belum usai jingganya, bahkan tak kupedulikan seseorang yang menemaniku acap kali datang ke makam ini. “Ibu, hari sudah gelap. Ayo, kita pulang.” Dina, putri keduaku, menyentuh bahuku pelan, memecahkan sunyi, membuyarkan keheninganku. Aku menelengkan kepala, menoleh kepadanya. “Pulang ke mana, Nak? Di sini rumahku, di sini tempatku yang seharusnya, di samping bapakmu.” Aku menghela napas dalam-dalam. Rinduku belum lagi usai, dan aku tahu pasti bahwa tak akan pernah usai. Dina hanya bisa sunyi. Dari tatapan matanya, aku tahu Dina sangat mengerti akan hal itu. Beberapa tahun belakangan ini, memang Dina-lah yang selalu menemaniku jika aku ingin berziarah ke makam almarhum bapaknya, suamiku. Entah kenapa aku merasa nyaman saja jika ditemani anak keduaku ini. Dina seakan paham betul bahwa aku benar-benar tak ingin diganggu oleh apa pun dan siapa pun saat berkunjung ke pemakaman keluarga yang perjalanannya memakan waktu sekitar dua setengah jam dari rumahku di pusat kota. Mataku tanpa sadar memperhatikan dirinya yang sepertinya juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Putriku yang satu itu, kata orang-orang di sekitarku, sangat mirip bapaknya. Dan, aku pun sepakat dengan mereka. Ia keras seperti bapaknya, tapi apa terlepas perlahan dari tubuh dan melayang pergi, tanpa aku punya kuasa untuk menariknya kembali. Aku harus mengakui bahwa diriku memang hancur, meski entah hancur seperti apa yang mampu mewakili kehancuranku sepeninggal Mas Soerono, lelaki yang telah mendampingiku selama puluhan tahun. Lelaki yang pada bahunya kusandarkan kepercayaan penuh atas hidupku selepas dipersunting olehnya. Tak akan pernah ada rasa sakit yang sebanding dengan sakit yang satu ini, kini kuyakini hal itu sepenuh hati. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, kuseka air mata yang masih menggenangi mataku. Pemakaman ini masih sesunyi dahulu, ketika aku pertama kali datang untuk mengantarkan kekasih hatiku ke peristirahatan terakhirnya. Sunyi yang mengundangku

Detail Buku:
Judul         : Peluk Ia Untukku
Penulis      :
Tatiek S.
Penerbit     : Gramedia Widiasarana Indonesia
ISBN         :-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Panca Azimat Revolusi Jilid I

Panca Azimat Revolusi Jilid I

Sebagai Aria Bima-putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan, maka INDONESIA-MUDA inilah melihat tjahaja hari pertama-tama dalam zaman jang rakjat-rakjat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnja. Tak senang dengan nasib-ekonominja, tak senang dengan nasib-politiknja, tak senang dengan segala nasib jang lain-lainnja. Zaman “senang dengan apa adanja”, sudahlah lalu. Zaman baru: zaman muda, sudahlah datang sebagai fadjar
jang terang tjuatja. Zaman teori kaum kuno, jang mengatakan, bahwa “siapa jang ada di bawah, harus terima-senang, jang ia anggap tjukup-harga duduk dalam perbendaharaan riwajat, jang barang kemas-kemasnja berguna untuk memelihara siapa jang lagi berdiri dalam hidup”, kini sudahlah tak mendapat penganggapan lagi oleh rakjat-rakjat Asia itu. Pun makin lama makin tipislah kepertjajaan rakjat-rakjat itu, bahwa rakjatrakjat jang mempertuankannja itu, adalah sebagai “voogd” jang kelak kemudian hari akan “ontvoogden” mereka; makin lama makin tipislah kepertjajaannja, ahwa rakjat-rakjat jang mempertuankannja itu ada sebagai “saudara-tua”, jang dengan kemauan sendiri akan melepaskan mereka, bilamana mereka sudah “dewasa”, “akil-balig”, atau “masak”. Sebab tipisnja kepertjajaan itu adalah bersendi pengetahuan, bersendi kejakinan, bahwa jang menjebabkan kolonisasi itu bukanlah keinginan
pada kemasjhuran, bukan keinginan melihat dunia-asing, bukan keinginan merdeka, dan bukan
pula oleh karena negeri rakjat jang mendjalankan kolonisasi itu ada terlampau sesak oleh banjaknja penduduk, sebagai ang telah diadjarkan oleh Gustav Klemm akan tetapi asalnja kolonisasi jalah [ialah—peny.] teristimewa soal rezeki. “Jang pertama-tama menjebabkan kolonisasi jalah hamper selamanja kekurangan bekal-hidup dalam tanah-airnja sendiri”, begitulah Dietrich Schafer berkata. Kekurangan rezeki, tulah jang mendjadi sebab rakjat-rakjat Eropah mentjari rezeki di negeri lain! Itulah pula jang mendjadi sebab rakjatrakjat itu mendjadjah negeri-negeri, di mana mereka bisa mendapat rezeki itu. Itulah pula jang membikin “ontvoogding”- nja negeri- negeri djadjahan oleh negeri-negeri jang mendjadjahnja itu, sebagai suatu barang jang sukar dipertjajainja. Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinja, djika pelepasan bakul itu mendatangkan matinja! .Begitulah, bertahun-tahun, berwindu-windu, rakjat-rakjat Eropah itu mempertuankan negeri-negeri Asia. Berwinduberwindu rezeki-rezeki Asia masuk ke negerinja. Teristimewa Eropah-Baratlah jang bukan main tambah kekajaannja. Begitulah tragiknja riwajat-riwajat negeri-negeri djadjahan! Dan keinsjafan akan tragik inilah jang menjadarkan  rakjat-rakjat djadjahan itu; sebab, walaupun lahirnja sudah alah [kalah—peny.] dan takluk, maka Spirit of Asia masihlah kekal. Roch Asia masih hidup sebagai api jang tiada padamnja! Keinsjafan akan tragik inilah pula jang sekarang mendjadi njawa pergerakan rakjat di Indonesia-kita, jang walaupun dalam maksudnja sama, ada mempunjai tiga sifat: NASIONALISTIS, ISLAMISTIS dan MARXISTIS-lah adanja. Mempeladjari, mentjahari hubungan antara ketiga sifat itu, membuktikan, bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri djadjahan ak guna berseteruan satu sama lain, membuktikan pula, bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerdja bersamasama mendjadi satu gelombang jang maha-besar dan mahakuat, satu ombak taufan jang tak dapat ditahan terdjangannja, itulah kewadjiban jang kita semua harus memikulnja. Akan hasil atau tidaknja kita mendjalankan kewadjiban jang seberat dan semulia itu, bukanlah kita jang menentukan. Akan tetapi, kita tidak boleh putus-putus berdaja-upaja, tidak boleh habis-habis ichtiar mendjalankan kewadjiban ikut mempersatukan gelombang-gelombang tahadi itu! Sebab kita jakin, bahwa persatuanlah jang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnja impian kita: Indonesia-Merdeka! Entah bagaimana tertjapainja persatuan itu; entah pula bagaimana rupanja persatuan itu; akan tetapi tetaplah, bahwa kapal jang membawa kita ke Indonesia-Merdeka itu, jalah Kapal-Persatuan adanja! Mahatma, djurumudi jang akan membuat dan mengemudikan Kapal-Persatuan itu kini barangkali belum ada, akan tetapi jakinlah kita pula, bahwa kelak kemudian hari mustilah datang saatnja, jang Sang-Mahatma itu berdiri di tengah kita!. Itulah sebabnja kita dengan besar hati mempeladjari dan ikut meratakan djalan jang menudju persatuan itu. Itulah maksudnja tulisan jang pendek ini.  Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme! Inilah azas-azas jang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan rakjat di seluruh Asia. Inilah faham-faham jang mendjadi

Detail Buku:
Judul         : Panca Azimat Revolusi Jilid I
Penulis      :
Iwan Siswo
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-979-91-0617-9
Tebal         :
510 hlm
Download      : Google Drive


Perang Irak by Bagus Dharmawan

Perang Irak by Bagus Dharnawan pdf

Letnan Dua Fred Pokorney spontan mengucapkan itu kepada sahabatnya, Letnan Satu James Ben Reid. Kedua perwira muda itu terkejut. Mereka baru saja menyimak radio batalion yang memberi kabar perubahan strategi secara mendadak. Rencana mem-bypass Kota Nasiriyah harus dibuang jauh. Sebagai gantinya, mereka harus menerobos masuk ke dalam kota untuk menguasai dua jembatan penting. Pokorney adalah perwira observer depan artileri. Reid adalah komandan peleton senjata di Kompi C, Batalion 1-Resimen 2. Keduanya tergabung dalam Satgas Tarawa Korps Marinir Amerika yang bertugas mengamankan jembatan-jembatan penting di Irak selatan untuk memberi ruang manuver bagi tentara Marinir yang menuju Baghdad. Sebagai catatan: peleton senjata dapat disebut sebagai otot utama kompi infanteri Marinir dan biasanya dipimpin oleh seorang perwira letnan satu dan sersan senjata, karena besarnya jumlah personel dan bervariasinya persenjataan dalam peleton ini. Satu peleton senjata terdiri atas seksi mortir 60 mm mencakup 10 personel dan tiga mortir 60 mm; seksi serbu dengan 13 personel dan enam senjata panggul peluncur roket multiguna; dan seksi senapan mesin medium dengan 22 personel dan enam senapan mesin M240 kaliber 7,62 mm.
Observer artileri depan merupakan salah satu penentu keberhasilan kompi infanteri. Dalam serbuan, ia maju bersama infanteri. Jika serbuan terhenti, observer ini akan mengarahkan tembakan artileri ke titik perlawanan terkuat musuh sehingga infanteri dapat melanjutkan serbuan. Dalam bertahan, observer dapat mengarahkan tembakan yang menghancurkan musuh atau melindungi tentara kawan. Dia juga harus dapat mengarahkan tembakan artileri ke posisi infanteri musuh. Karena itu, observer depan artileri menjadi mitra dekat infanteri. Kembali ke Pokorney dan Reid. Sambil menyimak komunikasi radio batalion, Reid mengumpulkan informasi posisi musuh, membentangkan peta, serta menandai posisi tentara Irak dan tentara kawan dengan titik merah dan biru. Informasi dari radio batalion itu membuatnya yakin bahwa Marinir yang berada di ujung tombak telah berhasil memukul target. Reid sangat bersemangat. Sebelumnya ia sempat berbicara dengan sejumlah bintara serta tamtama, dan terkejut karena banyak di antara mereka yang tidak memegang peta daerah operasi. Reid lega karena tampaknya ia dan Pokorney lebih siap menghadapi pertempuran.Nasiriyah  yang Strategis Nasiriyah adalah kota penting dan strategis karena sangat memengaruhi gerakan tentara AD dan Marinir dalam menginvasi Irak. Kota ini dilalui oleh jalur rel kereta api, jalan raya besar, dan dua aliran sungai besar. Di dua aliran sungai itu terdapat dua jembatan, yakni jembatan Sungai Eufrat dan jembatan Kanal Saddam. edua jembatan itu menghubungkan jalan raya yang melewati kawasan padat penduduk di Nasiriyah. Karenanya, ada risiko bahwa dalam menguasai kedua jembatan itu akan terjadi pertempuran perkotaan yang sengit. Komando MEF (Marine Expeditionary Force) I—komando tertinggi Marinir yang membawahi Divisi Marinir ke-1 dan Brigade Ekspedisioner Marinir 2/Satgas Tarawa dalam invasi ke Irak—menyebut jalur bahaya tersebut sebagai “Ambush Alley”. Dengan menguasai kedua jembatan penting itu dan mengamankan jalur jalan raya yang menghubungkannya, tentara Divisi Marinir ke-1 dapat melintasi Highway 8 menuju bagian timur Nasiriyah melewati Ambush Alley dan dua jembatan, kemudian menyeberangi Kanal Saddam dan berbelok ke barat menuju Highway 7 yang mengarah ke Kut. Dengan demikian, Divisi Marinir ke-1 dapat menjaga momentum dan kekuatannya dalam pertempuran besar di Baghdad. Target Jembatan Pada 22 Maret petang, Brigadir Jenderal Richard F. Natonski dari Korps Marinir AS menyusun markas komandonya di dekat pangkalan udara Jalibah, sekitar 19 kilometer dari Nasiriyah. Langkah pembukaan Korps Marinir berjalan lancar sesuai rencana. Sebagai Komandan Brigade Ekspedisioner Marinir 2/Satgas Tarawa dari Camp Lejeune, North Carolina, Natonski harus mempersiapkan tahap selanjutnya, yaitu serangan Marinir. Natonski punya dua tugas. Pertama, secepat mungkin bergerak ke utara dan mengambil alih kendali jembatan di Highway 1 yang berada di luar Kota Nasiriyah. Jembatan itu sudah dikuasai oleh tentara AD pada hari pertama perang. Sesudah AD menyerahkan jembatan kepada Marinir, Mayor Jenderal James N. Mattis, Panglima Divisi Marinir ke-1, akan memakai jembatan itu

Detail Buku:
Judul         : Perang Irak
Penulis      :
Bagus Dharmawan
Penerbit     : PT Bhuana Ilmu Populer
ISBN         :978-602-249-257-3
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Selasa pagi Februari 2013, kulangkahkan kakiku tergesa memasuki pelataran Kantor Pelayanan Kesehatan Pelabu h an Kota Cirebon. Harus segera kutuntaskan urusanku di sana karena siang harinya jadwal cuci darah menungguku di RS Gunung Jati Cirebon. Di dalam ruangan 7 × 5 meter itu, tampak duduk dua orang berseragam di belakang meja panjang. Di kursi tunggu ada beberapa orang yang sedang menunggu antrean untuk dilayani petugas. Aku langsung menuju meja panjang, mendaftarkan diriku untuk membuat Kartu Kuning yang berisi bukti bahwa aku sudah disuntik vaksin meningitis, salah satu syarat yang harus kupenuhi sebelum berangkat umrah sebulan kemudian. Selesai mendaftar, aku diminta mengisi biodata, menyerahkan foto kopi paspor dan pasfoto ke petugas. Kemudian, aku diminta menunggu beberapa saat hingga namaku dipanggil seorang ibu berseragam dan berjilbab putih.“Ibu Lien Auliya, sekarang tes urine dulu, ya. Silakan, kamar mandinya di sebelah sana,” ujar si ibu sambil menyerahkan botol kecil kepadaku. Aku terdiam, ada yang berkecamuk hebat di pikiranku. “Ibu, maaf, tes urine ini untuk tes kehamilan, ya? Saya belum menikah, Bu,” tanyaku terbata. “Iya. Walau belum menikah, ini prosedur, Bu. Silakan, Bu,” jawabnya datar. “Tapi ....tapi, saya sudah tidak bisa pipis, Bu.” Kalimatku kembali terbata-bata. “Oh, ya? Kalau gitu, Ibu minum dulu yang banyak. Nanti pasti pengen pipis. Saya tungguin, Bu.” “Ibu, saya pasien gagal ginjal, pasien cuci darah. Udah lebih dari tujuh tahun ini saya gak pernah pipis, Bu. Jadi, dipaksain minum banyak juga, nggak akan keluar.” Hhhh, akhirnya kusampaikan juga kalimat pamungkasku, berharap ia akan mengerti. “Hah?” Si ibu melongo sambil menatapku. “Jadi, gimana, Bu?” Aku berusaha menetralkan keadaan. “Ada surat keterangan?” tanyanya. “Maksudnya, hasil lab, Bu?” “Bukan, surat keterangan dari dokter bahwa Ibu tidak pipis.” “Hah? Emang ada, Bu, surat keterangan kayak gitu?” “Enggak ada sih. Tapi, intinya gini, ya, Bu. Saya tidak bisa me lanjutkan pelayanan suntik meningitis kalau belum ada surat itu. Ini prosedur, Bu. Saya tidak mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa di kemudian hari. Silakan Ibu buat dulu. Nanti, kembali lagi dengan surat keterangan, ya, Bu.” “Mungkin, Jumat saya baru ke sini lagi, ya, Bu. Siang ini saya jadwal cuci darah di RS Gunung Jati. Rumah saya jauh, Bu, di Ku ningan.” Si ibu mengangguk seiring saya berlalu meninggalkannya dengan air mata menggenang. Ya Allah, suntik vaksin doing kok ribet amat, ya. Sesampainya di RS Gunung Jati, kusampaikan masalahku kepada dokter dan perawat ruang HD (hemodialisis). Mereka tertawa mendengar ceritaku. Seumur-umur, tidak pernah ada yang namanya Surat Keterangan Tidak Pipis. Setelah aku memohon, akhirnya dibuatlah surat keterangan format baru yang menyatakan bahwa aku pasien cuci darah dan sudah tidak pipis, ditanda-tangani oleh dr. Dzulkifli, dokter Ruang HD. Nanti kita lihat, ya, apakah surat ini nanti akan dibakukan menjadi surat resmi nasional. Kalau iya, banggalah aku jadi sampel kasusnya, Tiga hari kemudian, aku kembali menyambangi Kantor KPP Pelabuhan, kali ini dengan surat sakti di tanganku. Sesampainya di sana, aku disambut ramah oleh ibu berjilbab yang kemarin menemuiku. Ia menerima suratku, melihatnya sekilas, dan lang sung mempersilakan aku ke ruang suntik. Di sana, ia pun menyapaku begitu hangat. Kami bicara banyak, bercerita layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Dan, kisah Surat Keterangan Tidak Pipis pun jadi perantara aku menemukan teman ba ru di tempat yang baru. Inilah salah satu kisah dari sekian banyak suka-dukaku hidup tanpa pipis. Sukanya banyak, tak perlu ke kamar mandi tengah malam, tak perlu antre di WC umum, tak perlu bolak-ba lik ke kamar mandi saat di pesawat, tak perlu khawatir saat naik bus jarak jauh, dan tentu saja peluang batal wudhu lebih se dikit. Tapi, dukanya tentu tak kalah seru. Suka bingung sendiri saat menjelaskan kepada orang yang baru tahu, seperti si ibu

Detail Buku:
Judul         : Perempuan Cahaya
Penulis      :
Lien Auliya Rachmach,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :978-602-1637-56-2
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Pernikahan yang Agung by V. Lestari

Pernikahan yang Agung by V. Lestari

Dua minggu menjelang pernikahan Arif Karnel dengan Mirna Sasongko. Keduanya tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan acara. Gedung pertemuan dan katering, pakaian pengantin, kartu undangan, dan seribu satu urusan lain yang kalau diperinci satu per satu bisa tak kepalang banyaknya. Hal itu membuat mereka tak habis pikir kenapa urusan perkawinan tak bisa dibuat sesederhana  mungkin. Bukankah yang penting itu tujuannya, bukan proses? Tetapi pertanyaan itu disuarakan antara mereka berdua saja sebagai pelampiasan kekesalan terhadap kecerewetan orangtua mereka. Masih ada yang kurang, harus begini dan begitu, ini salah dan itu salah. Kalau Mirna mencoba protes, Nani Sasongko, ibunya, punya alasan yang sangat bagus untuk meredam protes tersebut. ”Kamu anak tunggal, begitu pula Arif. Jadi kami hanya sekali ini menikahkan anak. Tak ada kedua kali. Karena itu biarkan kami yang mengatur. Kamu ikut saja!” Pendapat serupa juga diutarakan oleh orangtua Arif, Andre dan Dana Karnel. Pendek kata, orangtua keduanya selalu sepakat dalam pendirian dan keputusan sehingga kekompakan mereka sulit ditentang. ”Jangan mengeluh capek, karena kamilah yang paling capek. Kalian tinggal menurut. Tahu beres!” begitu kata Dana, ibu Arif. Dalam keadaan seperti itu, tentu saja orangtua tak mau tahu atau mengerti bahwa menurut pun bisa sangat melelahkan. membuat kenyamanan dan ketenangan berkurang. Untunglah, kedua muda-mudi itu bisa saling menghibur. Tak lama lagi, hiruk-pikuk ini akan selesai dan terlewatkan. Yang penting masa depan, sesudah pesta pernikahan. Tak ada kebahagiaan yang bisa dicapai oleh perkawinan sehari saja, betapapun meriah dan gemerlapnya pesta. Jadi biarlah orangtua ikut menikmati pernikahan anakanak mereka. Ah, andai saja mereka bukan anak tunggal. Tapi apa gunanya mengeluh seperti itu? Tak ada gading yang tak retak. mereka sudah terlalu beruntung hingga sangatlah picik bila menangisi hal-hal semacam itu. Sesungguhnya, mereka memang sangat beruntung. Kehidupan yang mereka jalani sampai saat itu teramat mulus. Seakan-akan mereka tengah berkendara menempuh jalanan licin, tanpa hambatan dan rintangan, tanpa belokan tajam atau tanjakan dan turunan berbahaya. Hanya lurus, terus-menerus, sambil menikmati pemandangan indah di kanan-kiri. Sungguh kenikmatan hidup yang pasti tak dialami kebanyakan orang. Sampai-sampai sulit membedakan, mana yang lebih membahagiakan; hari ini atau kemarin. Bayangkan. Orangtua Arif dan Mirna sudah bersahabat sebelum keduanya lahir. Pokoknya sudah lama, demikian kata mereka kalau ditanya kapan persisnya persahabatan itu dimulai. Ketika anak mereka masing-masing laki-laki dan perempuan, mereka sepakat untuk melakukan perjodohan. Kendati demikian, mereka sadar sekarang bukanlah zamannya menjodoh-jodohkan anak apalagi dengan cara memaksa. Mereka hanya dapat berharap seraya berusaha dengan mendekatkan dan mengakrabkan anak-anak mereka tanpa terlihat terlalu mencolok. Semua itu lebih mudah dilakukan karena mereka bertetangga. Mereka tinggal bersebelahan di kawasan permukiman baru yang rindang dan asri di Jakarta Selatan. Itu pun bukan suatu kebetulan. Mereka memang sengaja memilih rumah sedekat mungkin. Bukankah keakraban dapat terwujud jika selalu berdekatan? Ternyata usaha tersebut tidak sia-sia. Kedua orangtua itu berhasil, sukses dengan gemilang. Arif dan Mirna bukan saja tumbuh bersama, tapi mereka juga saling jatuh cinta. Tak ada  istilah jatuh cinta pada pandangan pertama di antara keduanya, cinta mereka tumbuh melalui proses kedekatan. Mereka saling mengenal dengan begitu baik, hingga orang lain yang sempat muncul dalam kehidupan mereka seakan menyimpan rahasia mengerikan yang sulit diketahui dan sulit pula dipahami. Baru kemudian, setelah kedua muda-mudi itu memproklamasikan hubungan cinta mereka kepada orangtua, mereka diberitahu perihal upaya dan keinginan menjodohkan itu. Orangtua Arif dan  irna tak kepalang girangnya. Bahkan Kris Sasongko, ayah Mirna, sampai menari-nari di depan putrinya. Sementara Nani, istrinya, lebih pandai mengendalikan emosi. Dia hanya memeluk dan mencium Mirna lalu mengucapkan selamat. Kegembiraan mereka yang berlebihan itu mengharukan tapi juga membuat Mirna cemas. ”Bagaimana kalau kami tidak saling tertarik dan memilih orang lain?” tanyanya. ”Oh, tentu tidak apa-apa, Mir. Kau tahu sendiri kami tidak pernah terang-terangan memperlihatkan keinginan itu,” ucap Nani tenang. Mirna mengakui kebenaran kata-kata ibunya. Sampai saat itu ia tak pernah menyangka sedikit pun bahwa orangtuanya punya keinginan demikian. Jika menilik upaya dan kegembiraan yang mereka perlihatkan, sepertinya keinginan itu lebih pantas disebut sebagai ambisi. Atau obsesi? Alangkah

Detail Buku:
Judul         : Pernikahan Yang Agung
Penulis      : V. Lestari
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1511 – 9
Tebal         :
424 hlm
Download      : Google Drive