Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemah. Tampilkan semua postingan

A Tale of Two Cities

Judul: A Tale of Two Cities
Pengarang: Charles Dickens
Penerbit: Qanita

Inggris abad 17, Lucie Manette tinggal bersama sang ayah, Dokter Manette, mantan korban kekejaman bangsawan Perancis. Kecantikan dan kebaikan hati Lucie merebut hati Charles Darnay, bangsawan pelarian Perancis. Bak gayung bersambut, Lucie pun tertarik pada Charles. Sydney Carton, yang membantu pelarian Charles sebenarnya juga mencintai Lucie. Namun Sydney memilih memendam perasaannya karena dia sadar, dirinya yang serampangan tak pantas bersanding dengan Lucie. 

Revolusi Perancis pecah dan Charles dipanggil pulang ke negaranya untuk menyelamatkan nyawa seorang teman. Tetapi, dia malah dijebloskan ke penjara, bahkan diancam hukuman mati gara-gara dosa masa lalu ayah dan pamannya. Demi Lucie, Dokter Manette melakukan segala upaya untuk membebaskan Charles dari Pisau Guillotine. Namun apakah pengaruh Dokter Manette saja cukup? Di saat-saat kritis, muncul pertolongan dari seseorang yang tak terduga. Pertolongan berlandaskan cinta.

Pohon Tanpa Akar

Judul : Pohon Tanpa Akar
Penulis : Syed Waliullah
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia 

Kemiskinan adalah gejala sosial yang sangat poten­sial untuk melahirkan berbagai bentuk keberingas­an sosial dan perilaku saling membunuh. Terlebih lagi jika dimatangkan oleh padatnya penduduk, ku­rang tersedianya lahan yang subur untuk menyuapi mulut mereka, serta bencana alam. Namun, di lain pihak, keadaan seperti itu juga sering mendorong manusia untuk melarikan diri ke bidang agama, "sampai taraf kecanduan atau fana­tik. Majid, tokoh utama novel ini, justru memanfa­atkan "kelemahan massa" ini untuk kepentingan pribadinya. Apalyang terjadi kemudian? Silahkan simak sendiri noyel yang amat memikat ini, yang ditulis oleh penulis Bangladesh terkemuka, Syed Waliullah. Pohon tanpa Akar, suatu cermin yang amat jelas memantulkan Wajah-wajah manusia yang dilanda penderitaan dan kesengsaraan.

Sumber resensi: http://bukuliat.blogspot.com/2016/02/pohon-tanpa-akar.html
=

Tears of Heaven; From Beirut To Jerusalem

Judul: Tears of Heaven; From Beirut To Jerusalem
Penulis: Ang Swee Chai
Penerbit: Mizan

kerja keras banget menyelesaikan buku ini karena saya paling susah baca buku kalau ada adegan pembunuhannya.

nggak takut darah tapi kalau ngebaca, pasti kebayang dan gak tau kenapa malah takut.

baca buku ini berkali2 mengernyitkan gigi karena ngilu. sedihnya dapet. tapi bayangan lokasi yang kanan-kirinya di bom menyisakan satu tempat aja yang selamat di tengah-tengahnya kurang dapet. rasanya nggak masuk akal T_T

bagian habis ada bom terus banyak korban yang masuk rumah sakit dengan keadaan kaki dan tangan yang buntung....ugh


saya kurang suka buku berjenis seperti ini. tapi cukup memberikan saya banyak pengetahuan, meski ini terjadi beberapa tahun yang lalu (Goodreads.com)
=

Great Expectation


Judul: Great Expectations
Penulis: Charles Dickens
Kategori: Novel klasik/Terjemah
Penerbit: Quanta

Seorang anak kecil bernama Philips (Pip) tinggal bersama kakaknya (Mrs Joe) dan kakak iparnya (Mr Joe). Ayah&ibunya telah meninggal dan dimakamkan di halaman gereja dekat rumahnya. Pip sering berdiam diri di dekat makam ayah ibunya, melarikan diri dari tekanan yang ia rasakan di rumah kakaknya sendiri. Kakaknya memang bukan orang yang mampu menggantikan posisi ibunya, justru sebaliknya, ia adalah orang yg cukup kejam kepada Pip. Berkebalikan dengan kakak iparnya yg meskipun kurang berpendidikan, namun sangat menyayangi Pip.

Suatu hari Pip duduk di dekat makam Ibunya. Tiba-tiba datanglah seorang pria kekar berbaju hitam yang di kedua tangannya terdapat borgol yang sudah putus. Ia seperti narapidana yang kabur dari penjara. Ia mengintrogasi Pip sehingga Pip ketakutan. Ia meminta pip datang besok dengan membawa makanan dan sebilah pisau untuknya, jika tidak, ia akan memakan livernya. Ia juga melarang Pip mengatakan perihal dirinya kepada siapapun. Sebagai seorang anak kecil, Pip tentu takut dengan ancamannya. Esok harinya, akhirnya ia mencuri persediaan makanan natal kakaknya untuk dibawakan kepada pria narapidana itu. Ketika menyerahkan ke pria kekar, ia bertemu pria sejenis lainnya di depan gereja namun dengan tangan terkunci borgol. Ternyata ada dua narapidana di sana.

Esok harinya, sekelompok polisi datang ke rumah Mr. Joe dan meminta bantuan sebuah pistol. Mereka kesulitan menangkap 2 orang narapidana yang kabur. Akhirnya Mr.Joe ikut membantu pencarian itu, beserta Pip. Sebenarnya Pip merasa takut, jika narapidana itu ditemukan, lalu melihatnya, apakah narapidana itu akan dendam padanya dan mengira bahwa ia yang telah menunjukkan keberadaan mereka? Namun setelah kedua narapidana itu ditemukan, Pip samasekali tidak terancam. Kedua narapidana itu kemudian dilarikan ke Australia, atas tindakan mereka yang  telah kabur dari penjara.

Sumber ulasan: http://sastrangablu.blogspot.com/2017/08/download-novel-great-expectations.html
=

Gone Girl

Judul Buku: Gone Girl ‘Yang Hilang’ 
Penulis: Gillian Flynn
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Semua orang menuduh Nick Dunne sebagai tersangka utama. Seorang suami kejam yang tega membunuh istrinya. Seorang pengangguran yang merampok uang istrinya demi membuka bar dengan saudara kembarnya. Seorang suami yang sama sekali tak sepadan untuk mendapatkan seorang istri yang sempurna.

Amy Elliott Dunne raib di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Menyisakan serangkaian jejak pergumulan di ruang duduk. Nick pulang dan memanggil polisi. Namun, mereka malah balik mencurigainya. Banyak kejanggalan yang muncul dari hasil penyelidikan. Tak ada laporan keributan dari para tetangga, jejak darah yang terciprat di beberapa kompartemen rumah, buku harian Amy yang ditemukan hangus di perapian.

Nick terduduk  gamam malam itu. Ia sungguh tak tahu apa yang tengah terjadi. Pagi tadi Amy masih baik-baik saja, membuatkan crepe di dapur, lantas ia menyapa Go, kembarannya, di The Bar. Tapi, sesuatu yang normal, agaknya menyimpan sejuta kebohongan. Mereka sama sekali tidak baik-baik saja. Nick terus memikirkan hadiah ulang tahun pernikahan mereka; apakah ia akan bertanya kepada Amy tentang surat perceraian itu? Tapi, sebaliknya, Amy masih memainkan tradisi mereka, satu, dua, tiga. Klu-klu itu tersimpan di pelosok rumah. Siap ditemukan Nick dan sesungguhnya apa yang dipikirkan Amy selama ini?

=

The Last Don


The Last Don (Godfather Terakhir), adalah semua novel mafia yang ditulis oleh Mario Puzo. Meskipun dalam versi Indonesia digunakan istilah Godfather, jalan cerita dalam novel ini sama sekali tidak berhubungan dengan novel The Godfather.

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga besar Mafia yang terakhir — Keluarga Clericuzio. Setahun setelah melakukan aksi yang paling ganas dalam hidupnya, Don Domenico, sang pemimpin, memutuskan untuk mulai menarik diri dari dunia kejahatan, agar keturunannya dapat menjalani hidup sebagai orang baik-baik. Perlahan-lahan ia mengalihkan bisnis besarnya ke Hollywood dan Las Vegas, tempat uang bisa diperoleh secara sah.

Namun ada bibit-bibit kejahatan dalam sejarah keluarga itu, yang disebar oleh sang Don sendiri. Dan pada puncaknya, nafsu jahat ini menimbulkan pertentangan antara Cross De Lena, putra algojo Keluarga Clericuzio, dengan Dante Clericuzio, cucu kesayangan sang Don yang harus darah. Dan ternyata pembunuhan tetap merupakan keahlian utama klan Clericuzio.

[Sumber ulasan: Wikipedia indonesia]
=

Dunia Kafka

Dunia Kafka 
by Haruki Murakami,

Surreal. Itulah kata pertama yang terlintas di kepala saya ketika baru saja menyelesaikan buku ini. Tidak ada batasan yang jelas antara realita, khayalan dan dunia mimpi. Murakami seakan secara spontan menuliskan imajinasinya tanpa filtrasi. Mungkin analogi yang tepat untuk menggambarkan sensasi dalam membaca sebuah novel surrealis adalah seperti melihat lukisan Salvador Dali. Lukisan Dali bukanlah karya abstrak yang memiliki arti sangat personal yang menurut saya hampir mustahil memahami karya itu tanpa penjelasan dari penciptanya. Saya menganalogikan lukisan abstrak sebagai puisi dalam karya sastra dan saya pribadi bukanlah penggemar puisi. Terlalu abstrak buat saya. Lukisan Dali merupakan objek yang riil tetapi dengan imajinasi yang sangat liar sehingga menjadi sangat sulit untuk mengartikannya. Dunia Kafka adalah sebuah prosa dengan bahasa yang lugas dan sederhana tetapi sekaligus sangat sulit untuk mengartikannya secara utuh.

Cerita dibuat dalam dua alur yang terpisah yang kemudian saling bertaut di akhir cerita walaupun dua tokoh utama dalam dua alur cerita tersebut tidak pernah bertemu. Dalam pemahaman saya, cerita ini adalah tentang perjalanan pemenuhan takdir manusia yang telah digariskan sebelumnya, setragis apapun itu. Predestined. Bicara tentang takdir, Murakami bercerita di atas norma-norma baik dan buruk. Salahkah Oedipus ketika ia, dalam memenuhi takdirnya, membunuh ayahnya dan meniduri ibunya. Kaedah benar salah, baik buruk seakan tidak relevan dalam cerita ini.

Membaca novel ini, mau tidak mau, saya teringat dengan sebuah karya surrealis lainnya, Blind Owl karya seorang penulis Persia, Sadeqh Hedayat. Blind Owl menggambarkan kematian dengan sangat gelap. Saking kelamnya, karya ini sempat dilarang di negara asalnya, Iran, karena dianggap dapat menimbulkan kecenderungan bunuh diri kepada para pembacanya. Dunia Kafka tidaklah segelap Blind Owl. Tetapi keduanya sama-sama tragis. Dan sekali lagi, realita, khayalan dan mimpi menjadi sangat kabur, sampai-sampai saya akhirnya tidak perduli lagi apakah peristiwa yang dialami tokoh cerita itu riil, imajinasi atau hanya sekedar mimpi. Bukankah Wachowski bersaudara, dalam karya fiksi ilmiahnya yang terkenal The Matrix, telah berhasil menyentil kita bahwa mungkin saja yang kita anggap sebagai realita adalah hanyalah sebuah simulasi, sebuah mimpi buatan. Dan Freud menghabiskan waktu yang lama untuk membuktikan kaitan antara mimpi dan dunia nyata. Terakhir, baik Dunia Kafka maupun Blind Owl keduanya sama-sama menyisakan ruang yang luas untuk interpretasi para pembacanya.


NB: I'm really looking forward to read Murakami's other works.

[Sumber ulasan: Goodreads.com]

Little Women

Image result for little women buku

Judul: Little Women
Pengarang: Louisa May Alcott

Little Women adalah sebuah novel oleh pengarang Amerika Louisa May Alcott . Buku ini ditulis dan memiliki latar tempat di rumah keluarga Alcott, Orchard House di Concord, Massachusetts. 

Novel ini berkisah tentang kehidupan empat perempuan bersaudara— Meg, Jo, Beth, dan Amy March—dan secara garis besar ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil pengarang bersama ketiga saudara perempuannya. Volume pertama novel ini langsung laris dan mendapat pujian dari para kritikus sehingga diterbukan volume kedua berjudul Good Wives yang ternyata juga sukses. Novel ini kemudian diterbitkan dalam bentuk satu volume tunggal pada tahun 1880. Alcott melanjutkan Little Women dengan dua sekuel yang juga menampilkan March bersaudara, Little Men (1871) dan Jo's Boys (1886). Little Women telah diadaptasi sebagai sandiwara, musikal, opera, film, dan animasi.

Pada awalnya Louisa May Alcott diminta untuk menulis sebuah cerita anak perempuan untuk Thomas Niles, mitranya dalam perusahaan Boston Roberts Brothers. Alcott setuju, namun dalam buku hariannya, Alcott menulis "Aku bekerja keras pergi, meskipun aku tidak benar-benar menikmati hal semacam ini, aku tidak pernah menyukai gadis-gadis atau tahu banyak mengenai mereka, kecuali adik saya, namun sungguh aneh saat kita memainkan peran dan pengalaman dapat menghasilkan cerita yang menarik, meskipun aku ragu. itu". 

Pada 1880 buku Little Women itu diterbitkan dalam satu jilid. Cerita Little Women menarik bagi perempuan dari segala jenis dan usia, penuh nilai dan keyakinan, dan merupakan gambaran yang sangat nyata tentang kehidupan Amerika yang paling pada saat itu. Alasan mengapa buku ini disebut menarik terletak pada semua kepribadian dari karakter Mrs Margaret March yang merupakan seorang wanita yang kuat dan mandiri yang tidak pantang menyerah. Selain itu ia juga seorang ibu yang menanam nilai-nilai kuat pada anak perempuan, sehingga nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kuat pada keluarga March. Keinginan Margaret yang terbesar adalah agar anak-anaknyamempunyai hubungan yang baik dengan semua orang, sama seperti bagaimana ia berbagi dan menjalin hubungan dengan anak-anak perempuannya, yang memiliki beragam sifat. Hal inilah yang menjadi pesan dalam buku ini bahwa Ibu manapun di dunia ini pantas meniru apa yang sudah dilakukan Margaret March, dimana ia berusaha memahami seperti apa sifat dan bakat anak-anaknya, sehingga pemahaman ini berdampak positif saat ia menjalin komunikasi dan berteman dengan anak-anaknya, sehingga Margaret dapat mengagumi dan memiliki hati anaknya.Seperti anaknya Jo, yang cenderung bandel namun memiliki bakat menulis,lalu ada Beth, yang selalu merasa tidak sehat dan rapun, namun mempunyai sikap yang manis, serta menyukai tinggal di dalam rumah, kemudian Amy, yang mewakili anak dengan bakat dan keindahan serta memiliki sfiat manja khas anak bungsu, sedangkan, Meg mewakili sifat wanita yang ingin dicintai, ingin mendapatkan nilai yang lebih baik dari semua wanita, namun kurang yakin tentang penampilannya. 

Buku ini penuh dengan nilai-nilai dan kepercayaan pada masanya. Keluarga March, yang dulunya adalah keluarga kaya, dan mempunyai hubungan kekerabatan dengan kasta masyarakat "lebih tinggi", harus rela dan dengan terpaksa untuk kadang-kadang berkomunikasi dengan orang lain yang memandang rendah pada mereka, hanya karena mereka saat ini jatuh miskin. Buku yang berlatar belakang masa perang sipil, dimana banyak terjadi ketegangan antara kulit hitam dan kulit putih. Beberapa nilai yang diajarkan Mrs. Margaret March kepada anak-anaknya mengenai pentingnya berusaha dan jangan pernah menyerah untuk mencapai cita-cita, jangan untuk menjadi sesorang yang penting karena memiliki harta atau materi, namun menjadi penting karena memiliki kekuatan mental, dan terlepas dari apa yang dunia berikan kepada mereka, kedudukan mereka sama dengan laki-laki dan karena itu mereka mempunyai hak yang sama.

Little Women bercerita tentang kehidupan keluarga di sebuah kota yang tenang Massachusetts, selama masa perang sipil di Concord, Massachusetts.Terdiri dari 4 saudara, yaitu Meg, Jo, Beth, dan Amy March yang dibesarkan dalam kemiskinan sopan oleh Marmee, ibu mencintai mereka. Ayah mereka bekerja sebagai pengkhotbah Perang Saudara yang akhirnya tewas dalam perang. Gadis-gadis keluarga March menghibur diri mereka dengan memainkan dan memproduksi surat kabar mingguan. Mereka berteman Theodore Lawrence, cucu dari orang tua kaya. Beberapa tahun berlalu , Jo berusaha untuk menjadi seorang penulis, mandiri terkenal. Dia bersikeras untuk mengirimkan karyanya ke penerbit, dan akhirnya naskahnya diterima. Jo mencoba untuk membuat cerita fiksi namun segera menyadari bahwa cerita terbaik dari semua adalah dia menulis tentang hidupnya sendiri. Meg menikah dengan seorang guru bernama John Brooke, sedangkan Beth yang manis terkena “Scarlet Fever” dan meninggal karena jantung lemah. Laurie sebenarnya jatuh cinta terlebih dahulu dengan Jo, namun Jo menolak pinangannya, sehingga Laurie melarikan diri dengan kakeknya ke Eropa. Akhirnya, saudari Jo yaitu Amy –lah yang bertunangan dengan Laurie saat mereka bertemu di Paris. Jo, versi dari penulis sendiri, bersumpah untuk tidak pernah menikah. Dia ingin menjadi jurnalis, tapi dia frustrasi dengan peran dan nilai-nilai Kristen yang ketat. Dia pergi ke New York dan terus menulis. Akhirnya Jo menikah Profesor Bhaer, seorang sarjana yang lebih tua dari Jerman, meskipun ia telah putus asa tulisannya. Bersama-sama mereka mendirikan sekolah untuk anak laki-laki.

[Wikipedia]

DOWNLOAD EBOOK DI SINI

Princess Masako


Judul: PRINCESS MASAKO
Penulis: Ben Hills
Penerjemah : Rita Setyowati
Editor: Aisyah
Penerbit: Alvabet

“Tidak penting apakah masyarakat Jepang suka atau benci buku ini. Persoalannya, sudahkah mereka memiliki hak untuk membacanya dan menentukan penilaian mereka sendiri.”

—Ben Hills, Today Magazine

Inilah impian kebanyakan kaum Hawa: menikahi seorang pangeran tampan, pindah ke istana megah, dan hidup bahagia selamanya. Tetapi, bukan seperti itu yang terjadi pada Masako Owada, seorang perempuan sangat modern yang bertubrukan dengan sebuah sistem kuno.

Menelisik diam-diam dunia keluarga Kekaisaran Jepang yang misterius, buku ini menguraikan tekanan yang dilakukan Pengurus Rumah Tangga Istana Kekaisaran Jepang terhadap Putri Masako karena tak bisa menghasilkan keturunan lelaki guna menjaga dinasti kekaisaran tertua di dunia dari kepunahan. Karya ini juga mengungkapkan dampak lahirnya anak lelaki dari rahim Putri Kiko, saudara ipar Putri Masako, pada kehidupan Masako yang sudah penuh masalah dan pada harapan yang mungkin dia bangun bagi putrinya, Aiko kecil, untuk menjadi kaisar perempuan Jepang.

* * * * *

“Jika Anda tertarik pada cerita tentang ritual abad pertengahan, keanehan budaya yang asing dan eksotik, tragedi keterpurukan perempuan modern oleh sistem keluarga diktator dan patriarki kuno, inilah tulisan yang sangat bagus hasil riset yang teliti.”—Sydney Morning Herald

”Ketika Masako Owada menikahi Pangeran Naruhito pada 1993, masyarakat Jepang berharap dia akan mengarungi hidup baru di lingkaran keluarga kerajaan Jepang. … Tetapi kini, impian itu hanyalah puing-puing kehancuran belaka.”—Kevin Mcgue, Metropolis

“Ben Hills, melalui buku ini, telah menyulut debat sengit di Jepang dan Australia, terutama di antara jajaran pejabat diplomatik kedua negara.”—David Chew, Today Magazine

“Kisah yang brilian, tetapi menyedihkan, tentang seorang perempuan yang mulanya menikmati kariernya sebagai diplomat.”—Chaika (Australia), www.amazon.com

“Saya tak bisa berhenti membacanya. Kusarankan Anda membaca buku ini.”—J. Minakata (Mexico), www.amazon.com

* * * * *

Ben Hills, seorang pemuka jurnalis investigatif asal Australia, adalah pemenang Walkley Award (Pulitzer Australia) dan Graham Perkin Award for Australian Journalist 2007. Dia pernah bekerja sebagai koresponden Jepang untuk The Sydney Morning Herald dan The Age selama 1992–1995. Selain di negeri para Samurai, jangkauan liputannya juga meluas ke kawasan China, Siberia, serta Korea Selatan dan Korea Utara. Karyanya yang lain, yakni Japan: Behind the Lines dan Blue Murder.

[Sumber review: Alvabet

DOWNLOAD EBOOK
DISINI

Paper Towns [Kota Kertas]

Judul: Kota Kertas
Judul asli: Paper Towns
Pengarang: John Green
Penerjemah: Angelic Zai Zai
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gramedia Penerbit Utama
Diterbitkan pertama kali: 2014
Jumlah halaman: 360hlm
==

Saat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam––berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan––cowok itu mengikutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit, dan sampai sekarang selalu beraksi sendirian. Sedangkan Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dicintainya dari jauh tersebut. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi.

Gadis yang sejak dulu merupakan teka-teki itu sekarang jadi misteri. Namun, ada beberapa petunjuk. Semuanya untuk Q. Dan cowok itu pun sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis tersebut.

Jadi…

Novel ini merupakan novel tunggal John Green yang pertama-kali kubaca. Sebenarnya, aku sudah tahu novel ini sejak lama namun tidak memiliki niat untuk membacanya (atau membelinya) sampai akhirnya, film adaptasi dari buku ini tayang. Jadi, aku baru membacanya setelah menonton filmnya.

Novel ini mengisahkan tentang Quentin Jacobsen, anak SMA akhir yang biasa-biasa saja dan bertetangga dengan gadis bernama Margo Roth Spiegelman yang—menurutnya dan menurutku—luar biasa. Saat mereka masih kecil dan menggemaskan, mereka dapat dikatakan sangat dekat. Hingga suatu hari saat mereka berumur sembilan, mereka berdua yang sedang bersepeda santai menemukan mayat seorang pria di dekat danau. Quentin, yang waras dan penakut dan agak paranoid, sudah bersiap kabur. Tapi kemudian dia memikirkan Margo, jadi dia mengurungkan niatnya. Setelah berhasil membujuk Margo untuk pergi, Quentin berusaha sebaik mungkin untuk melupakan kejadian itu, dia tidak mau terlibat dalam masalah itu. Margo sebaliknya, dia menyelidiki kasus itu sampai akhirnya ia mendapat jawaban tentang kematian pria itu.

“Kurasa mungkin aku tahu sebabnya,” katanya akhirnya.

“Apa?”

“Mungkin semua senar dalam dirinya putus.”

Tadinya, aku agak berharap kalau novel ini jadi horor-thriller gitu :c. Tapi, seperti biasa, realita enggak pernah sesuai dengan harapan. Lagipula menurutku, John Green enggak cocok dengan novel bergenre horor/thriller (( ampun )).

Nah, jadi, ketika SMA, Quentin dan Margo enggak sedekat seperti saat mereka kecil. Margo berubah jadi Margo Roth Spiegelman yang populer, cewek beken, disukai banyak orang dan pengelana. Margo punya pacar yang cakep dan populer, teman-teman populer, dan cerita-cerita petualangannya yang populer. Sementara Quentin hanyalah anak SMA biasa, yang normal dan hampir-hampir jadi golongan tertindas. Q—nama panggilan Quentin—punya teman yang biasa-biasa saja yaitu Radar dan Ben.

Q yang sudah bertahun-tahun diabaikan Margo, terkejut saat suatu malam Margo tiba-tiba saja muncul di jendela kamarnya, dan mengajak Q untuk melakukan ‘petualangan tengah malam’ ala Margo. Walau sempat ragu pada awalnya—Q memang paranoid parah—dia akhirnya mau juga. Tapi setelah itu, Margo hilang—atau kira-kira, menurut Q begitu.

Yah, menurut aku sih, Paper Towns ini ceritanya rada gimana-gitu. Agak bertele-tele. Terus Q-nya juga egois banget. Dia cuma mikirin dirinya sendiri dan maksa teman-temannya buat ikut. Jadinya, aku baca buku ini sambil ngedumel mulu. Padahal, Q sendiri yang bilang kalau Margo mungkin aja enggak mau ditemuin, tapi dia keukeuh buat nyari Margo. Kalau enggak ada si konyol Ben, mungkin aku sudah stop baca di pertengahan.

Endingnya juga enggak memuaskan. Q menemukan Margo (yang seperti perkiraan Q, memang enggak mau ditemukan) lalu mereka bertengkar dan diakhiri dengan ciuman. Maksudku kayak, APAAN DAH. Makanya, aku lebih suka ending di film, dimana setelah menemukan Margo, Q balik ke teman-temannya dan ikut prom (yang dia benci banget). Sementara di buku, mereka prom dulu baru nyari Margo.

Aku sudah pernah bilang kalau tokoh utama di buku-buku John Green semuanya egois, dan itu benar (yah, setidaknya menurutku). Makanya, aku sebal banget sama Q (maaf ya). Tapi, aku cukup menikmati kisah ini, kok. Karna, seperti biasa, yang ditonjolkan John Green bukanlah kisah asmara si tokoh utama, melainkan persahabatannya. Dan persahabatan Q, Radar dan Ben sukses bikin aku terharu dan lumayan baper. Dan ya, Paper Towns mengajarkan bahwa: di dunia ini enggak ada yang sempurna dan enggak ada kenyataan yang sesuai dengan harapan atau khayalan kita. Itu yang aku rasa merupakan poin utama Paper Towns. Jadi, aku akan memberi tiga tengkorak untuk Paper Towns.

skl3

Kutipan-kutipan

–“Menurut pendapatku, semua orang mendapat satu keajaiban” – Q.

–“Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri” – Q.

–“Aku tidak percaya prom” – Q.

–“Besok tidak libur begitu juga sehari setelahnya, dan memikirkan itu lama-lama membuat seorang cewek jadi sinting” – Margo. (( yah, aku menulisnya lantaran ini adalah malam sekolah ))

–“Masalahnya mereka bahkan tak benar-benar pedulil mereka hanya merasa seolah kelakuanku membuat mereka tampak buruk” – Margo.

–“Menurutku konyol orang hanya mau berada di dekat seseorang karna mereka cantik. Mirip dengan memilih sereal sarapan berdasarkan warna bukan rasanya” – Margo.

–“Kuberi tips ya: kau imut kalau sedang percaya diri. Dan tidak terlalu imut ketika sebaliknya” – Margo.

–“Yang indah dari semua ini adalah: dari sini kau tidak bisa melihat karat atau cat yang retak-retak atau apalah, tapi kau tahu tempat apa itu sebenarnya. Kau mengetahui betapa palsunya semua itu. Tempat itu bahkan tak cukup keras untuk tampak terbuat dari plastik. Itu kota kertas” – Margo.

–“Kau tahu apa masalahmu, Quentin? Kau selalu mengharapkan orang lain tidak menjadi diri mereka sendiri” – Radar.

–“Margo bukan keajaiban. Dia bukan petualangan. Dia bukan sosok yang luar biasa dan berharga. Dia hanya seorang gadis” – Q.

-nafadyas-

Sumber: https://readingordying.wordpress.com/2015/10/27/review-paper-towns-kota-kertas-john-green/

DOWNLOAD EBOOK DI SINI

Therapy

Judul: Therapy 
Penulis: Sebastian Fitzek
Penerbit: Ufuk Press [Edisi Indonesia]
Tahun Terbit: Februari 2010
=

Therapy adalah sebuah novel bergenre cerita seru psikologis karya seorang penulis dan wartawan Jerman, Sebastian Fitzek yang diterjemah ke bahasa Indonesia. Novel ini pertama kali dipublikasi dengan judul aslinya Die Therapie pada 1 Juni 2006 di München. Di Indonesia, novel Therapy diterbitkan Ufuk Press pada bulan Februari 2010.

Di Jerman, novel ini disebut-sebut lebih dahsyat dibanding karya-karya Dan Brown. Alur cerita dalam novel ini sulit ditebak tentang kenyataan yang sebenarnya, bahkan tergantung dari sudat pandang si pembacanya. Sebuah novel yang mampu memancing kepribadian dan kejiwaan dari setiap pembacanya yang dilatarbelakangi pengalaman hidup dari masa lalu.

Seorang pembunuh melacak kejahatannya sendiri melalui mimpi, halusinasi, bahkan melalui tokoh yang muncul dari imajinasinya sendiri. Perlahan-lahan sang pembunuh menyadari bahwa dirinya yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap anak perempuan tunggalnya.

Novel ini adalah buku psikoanalisis yang tidak hanya bertabur istilah psikiatri atau terapi kejiwaan lainnya. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini berperan sebagai psikolog atau psikiater, termasuk Victor Larenz sang tokoh utama yang tega menyiksa dan membunuh anaknya. Sementara beberapa tokoh lain, juga berlatarbelakang praktisi medis, seperti Dr. Roth yang menjadi konsultan kejiwaan Victor Larenz.

Motif pembunuhan itu sama sekali bukan kriminal biasa. Sang Ayah yang tega melenyapkan Josy (anaknya yang berusia belasan tahun), karena faktor posesif atas kecintaan yang berlebihan. Ia tak bisa menerima kenyataan, bahwa anaknya beranjak dewasa (misalnya melalui fase menstruasi). Selaku seorang yang terlibat dalam dunia medis, ia memberikan anaknya itu obat-obatan khusus yang berfungsi sebagai racun. Dalam dunia medis, formula meracuni seperti itu disebut FII (fabricated induce illness) yang bermakna tindakan yang sengaja membuat orang yang diberikan obat menjadi sakit terus-menerus, agar tercipta kondisi ketergantungan.

Praktik tersebut berhasil, sang anak sakit berkepanjangan dengan gejala yang aneh. Berbagai dokter spesialis telah didatangkan, lebih dari 22 orang, tapi tidak ada yang berhasil melakukan diagnosa yang akurat. Memang disengaja, si pasien kecil yang menderita tersebut tidak didatangkan kepada dokter ahli alergi. Dalam imajinasi sang ayah, si anak telah dibawa ke seorang dokter ahli alergi, yaitu Dr. Grooke. Tentu saja ini adalah dusta sebagai alibi untuk menceritakan bahwa sang anak hilang ketika berada di tempat praktik dokter ahli alergi.

Penyelaman hanya dapat pembaca lakukan tahap demi tahap sambil menelusuri aksi para tokoh yang tersirat dalam cerita. Jika tidak demikian, pembaca akan tersesat dan keliru mendefiniskan tokoh dan perannya. Salah satu contoh, seorang tokoh bernama Anna Glass yang digambarkan sebagai perempuan cantik penderita skizofrenia hadir sebagai pemberi petunjuk tentang tragedi hilangnya Josy (seorang anak kecil yang sakit dan diberitakan telah meninggal dunia). Anna Glass memberi rincian informasi secara terperinci. Mulai dari lokasi, barang-barang milik Josy, hingga penderitaan, dan imajinasi dalam pikiran Josy. Keterangan Anna Glass inilah yang dijadikan modal penyelidikan oleh Victor Larenz untuk mengetahui keberadaan dan sebab-sebab kematian anaknya.

Tidak pernah disangka-sangka ternyata Anna Glass adalah personifikasi dari khayalan Victor Larenz. Sebab dalam dunia nyata, Anna Glass tak pernah ada. Anna Glass dalam teori psikonalisis adalah alter ego dari kepribadian Victor yang meniru aspek-aspek kejiwaan orang tertentu. Anna Glass adalah salinan dari kepribadian Victor yang terganggu.

Novel yang penuh ketegangan yang mencekam, misalnya karakter Anna Glass terkesan psikopat, karena begitu misterius dan mengancam. Sering mengungkapkan fakta-fakta yang mengejutkan, seperti ketika detektif yang ikut melacak kasus ini menemukan fakta-fakta yang berbeda dengan berbagai keterangan yang dianggapnya suatu hal yang nyata.

Sesuatu yang paling kontroversial justru di penghujung novel, ternyata Josy sama sekali tidak tewas. Ia memang pernah sakit dan menghilang, tetapi sama sekali tidak terbunuh. Anak tersebut justru diselamatkan ibunya, namun sang ibu bukanlah seorang penolong sebenarnya mealinkan sosok yang kesadisannya terselubung. Isabel, nama perempuan yang menikah dengan Victor (dan memiliki anak, yaitu Josy) adalah tokoh kunci dari seluruh rangkaian misteri ini. Isabel sengaja memanfaatkan suaminya yang depresi, serta merekayasa tentang hilang dan tewasnya Josy. Dengan begitu, ia memperoleh keuntungan luar biasa. Ia pergi ke Argentina, berfoya-foya, dan menguasai semua harta kekayaan suami dan anaknya.

Pada bagian akhir novel dijelaskan bahwa Victor benar-benar seorang pengidap skizofrenia yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri (self therapy). Ia dibimbing oleh konsultan kejiwaannya, yaitu Dr. Roth yang berhasil merangkai berbagai alur cerita untuk menemukan kebenaran tentang dirinya yang menyiksa anaknya, tetapi ia tidak membunuhnya. Di balik alur cerita ini, tercipta kejanggalan dari beberapa alur yang terjalin sebelumnya.

Sebuah cerita yang memang memancing pembacanya untuk berpikir dari sudut pandang kebenaran yang sebenarnya tanpa menilai dari sudut ketidaknetralan dalam berpikir. Semua kejadian atau kasus rumit yang terjadi dalam kehidupan orang-orang yang luar biasa memang memperumit kehidupan diri mereka dan mempengaruhi kehidupan orang lainnya.

Sumber: Wikipedia

DOWNLOAD EBOOKNYA DI SINI

Therapy

Judul: Therapy 
Penulis: Sebastian Fitzek
Penerbit: Ufuk Press [Edisi Indonesia]
Tahun Terbit: Februari 2010
=

Therapy adalah sebuah novel bergenre cerita seru psikologis karya seorang penulis dan wartawan Jerman, Sebastian Fitzek yang diterjemah ke bahasa Indonesia. Novel ini pertama kali dipublikasi dengan judul aslinya Die Therapie pada 1 Juni 2006 di München. Di Indonesia, novel Therapy diterbitkan Ufuk Press pada bulan Februari 2010.

Di Jerman, novel ini disebut-sebut lebih dahsyat dibanding karya-karya Dan Brown. Alur cerita dalam novel ini sulit ditebak tentang kenyataan yang sebenarnya, bahkan tergantung dari sudat pandang si pembacanya. Sebuah novel yang mampu memancing kepribadian dan kejiwaan dari setiap pembacanya yang dilatarbelakangi pengalaman hidup dari masa lalu.

Seorang pembunuh melacak kejahatannya sendiri melalui mimpi, halusinasi, bahkan melalui tokoh yang muncul dari imajinasinya sendiri. Perlahan-lahan sang pembunuh menyadari bahwa dirinya yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap anak perempuan tunggalnya.

Novel ini adalah buku psikoanalisis yang tidak hanya bertabur istilah psikiatri atau terapi kejiwaan lainnya. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini berperan sebagai psikolog atau psikiater, termasuk Victor Larenz sang tokoh utama yang tega menyiksa dan membunuh anaknya. Sementara beberapa tokoh lain, juga berlatarbelakang praktisi medis, seperti Dr. Roth yang menjadi konsultan kejiwaan Victor Larenz.

Motif pembunuhan itu sama sekali bukan kriminal biasa. Sang Ayah yang tega melenyapkan Josy (anaknya yang berusia belasan tahun), karena faktor posesif atas kecintaan yang berlebihan. Ia tak bisa menerima kenyataan, bahwa anaknya beranjak dewasa (misalnya melalui fase menstruasi). Selaku seorang yang terlibat dalam dunia medis, ia memberikan anaknya itu obat-obatan khusus yang berfungsi sebagai racun. Dalam dunia medis, formula meracuni seperti itu disebut FII (fabricated induce illness) yang bermakna tindakan yang sengaja membuat orang yang diberikan obat menjadi sakit terus-menerus, agar tercipta kondisi ketergantungan.

Praktik tersebut berhasil, sang anak sakit berkepanjangan dengan gejala yang aneh. Berbagai dokter spesialis telah didatangkan, lebih dari 22 orang, tapi tidak ada yang berhasil melakukan diagnosa yang akurat. Memang disengaja, si pasien kecil yang menderita tersebut tidak didatangkan kepada dokter ahli alergi. Dalam imajinasi sang ayah, si anak telah dibawa ke seorang dokter ahli alergi, yaitu Dr. Grooke. Tentu saja ini adalah dusta sebagai alibi untuk menceritakan bahwa sang anak hilang ketika berada di tempat praktik dokter ahli alergi.

Penyelaman hanya dapat pembaca lakukan tahap demi tahap sambil menelusuri aksi para tokoh yang tersirat dalam cerita. Jika tidak demikian, pembaca akan tersesat dan keliru mendefiniskan tokoh dan perannya. Salah satu contoh, seorang tokoh bernama Anna Glass yang digambarkan sebagai perempuan cantik penderita skizofrenia hadir sebagai pemberi petunjuk tentang tragedi hilangnya Josy (seorang anak kecil yang sakit dan diberitakan telah meninggal dunia). Anna Glass memberi rincian informasi secara terperinci. Mulai dari lokasi, barang-barang milik Josy, hingga penderitaan, dan imajinasi dalam pikiran Josy. Keterangan Anna Glass inilah yang dijadikan modal penyelidikan oleh Victor Larenz untuk mengetahui keberadaan dan sebab-sebab kematian anaknya.

Tidak pernah disangka-sangka ternyata Anna Glass adalah personifikasi dari khayalan Victor Larenz. Sebab dalam dunia nyata, Anna Glass tak pernah ada. Anna Glass dalam teori psikonalisis adalah alter ego dari kepribadian Victor yang meniru aspek-aspek kejiwaan orang tertentu. Anna Glass adalah salinan dari kepribadian Victor yang terganggu.

Novel yang penuh ketegangan yang mencekam, misalnya karakter Anna Glass terkesan psikopat, karena begitu misterius dan mengancam. Sering mengungkapkan fakta-fakta yang mengejutkan, seperti ketika detektif yang ikut melacak kasus ini menemukan fakta-fakta yang berbeda dengan berbagai keterangan yang dianggapnya suatu hal yang nyata.

Sesuatu yang paling kontroversial justru di penghujung novel, ternyata Josy sama sekali tidak tewas. Ia memang pernah sakit dan menghilang, tetapi sama sekali tidak terbunuh. Anak tersebut justru diselamatkan ibunya, namun sang ibu bukanlah seorang penolong sebenarnya mealinkan sosok yang kesadisannya terselubung. Isabel, nama perempuan yang menikah dengan Victor (dan memiliki anak, yaitu Josy) adalah tokoh kunci dari seluruh rangkaian misteri ini. Isabel sengaja memanfaatkan suaminya yang depresi, serta merekayasa tentang hilang dan tewasnya Josy. Dengan begitu, ia memperoleh keuntungan luar biasa. Ia pergi ke Argentina, berfoya-foya, dan menguasai semua harta kekayaan suami dan anaknya.

Pada bagian akhir novel dijelaskan bahwa Victor benar-benar seorang pengidap skizofrenia yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri (self therapy). Ia dibimbing oleh konsultan kejiwaannya, yaitu Dr. Roth yang berhasil merangkai berbagai alur cerita untuk menemukan kebenaran tentang dirinya yang menyiksa anaknya, tetapi ia tidak membunuhnya. Di balik alur cerita ini, tercipta kejanggalan dari beberapa alur yang terjalin sebelumnya.

Sebuah cerita yang memang memancing pembacanya untuk berpikir dari sudut pandang kebenaran yang sebenarnya tanpa menilai dari sudut ketidaknetralan dalam berpikir. Semua kejadian atau kasus rumit yang terjadi dalam kehidupan orang-orang yang luar biasa memang memperumit kehidupan diri mereka dan mempengaruhi kehidupan orang lainnya.

Sumber: Wikipedia

DOWNLOAD EBOOKNYA DI SINI

The White Masai

Judul Buku: The White Masai
Peresensi:
Penulis: Corrine Hofmann
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Alvabet
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 477 Halaman
=
Inilah kekutan cinta. Ia tak perduli jarak ribuan kilo yang harus dilalui tetap ditempuh. Ia mampu merubah situasi pilu menjelma menjadi sebuah lagu merdu atau buku. Ia membuat manusia bak terpengaruh candu, apapun yang terjadi ngotot agar mendapatkan yang diinginkan.

Sehingga tidak mengherankan jika para pujangga bersabda bahwa cinta membuat manusia buta. Cinta memang bisa membuat airmata terurai atau dunia menjadi indah, tapi tak jarang pula mencipta sejarah menjadi banjir darah bila dipahami dengan cara yang salah.

Itulah kesan yang didapatkan sekaligus perasaan apresiatif atas buku The White Masai. Kisah karya Corrine Hofmann, penulis kelahiran Swiss ini menceritakan pengalamannya ketika melancong ke benua Afrika tepatnya Kenya, sebuah negara yang ternyata ditakdirkan menjadi bagian dalam hidupnya. Tak disangka ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lketinga, seorang lelaki pedalaman prajurit suku Masai.

Ketika perempuan lain yang sebaya dengannya di Eropa berburu pria-pria berdompet tebal berwajah tampan dan berkulit putih, ia lebih memilih memperjuangkan dan mempertahankan cintanya tersebut. Keterbatasan bahasa, keterasingan budaya dan perbedaan pendidikan dihadapinya dengan tegar. Ia bahkan rela menghuni Manyatta, sebuah gubuk kecil tempat Lketinga dan suku Masai bertempat tinggal di belantara semak.

Entah kekuatan apa yang merasukinya hingga ia mampu meninggalkan kekasih Eropa-nya, usahanya di Swiss yang tengah menanjak bahkan seluruh propertinya dilelang, keluarga dan teman-temannya yang sejenis, sebangsa dan setanah air. Ia sendiri tidak tahu jawabannya, bahkan untuk dirinya sendiri. Ia tidak tahu keajaiban misterius apa yang ada pada lelaki Masai itu hingga mampu menjungkirbalikan tatanan hidupnya juga cara berpikirnya, seluruh dunianya seolah terpusat pada sosok tinggi hitam itu. 

Bukan hanya jomplangnya peradaban yang harus dihadapi Corrine untuk merengkuh kebahagiaan cinta. Ia juga berhadapan dengan sistem birokrasi Kenya yang berbelit. Berulangkali masalah ini menjadi kendala yang hanya bisa diatasi dengan suapan, khas negara miskin dan berkembang, seperti di Indonesia barangkali. Bukan karena peraturannya yang rumit tetapi aparatnya yang sengaja mencari uang dengan menjual kebingungan masyarakat, apalagi Corrine berkulit putih yang identik tajir.

Berkat kegigihannya, Corrine akhirnya berhasil bersanding dengan pria idamannya. Namun lagi-lagi perbedaan kultur membuatnya shock. Betapa tidak, mimpi untuk selalu bersama dengan Lketinga termasuk dalam hal makan layaknya dalam sebuah rumah tangga sirna. Hal ini disebabkan dalam tradisi Masai, istri tinggal bersama anak-anak, sementara suami berkumpul dengan pria lain yang berstatus sama, prajurit, setidaknya dengan salah satu yang harus menemaninya makan. Tidak ada prajurit Masai yang makan apa pun yang telah disentuh atau bahkan dipandangi perempuan. Mereka tidak diizinkan makan di depan perempuan, termasuk isterinya, kecuali hanya minum teh.

Deraan cobaan seakan tak pernah habis menghampiri bahkan menghantam nyaris membuat karam rumah tangga Corrine justru ketika kehidupannya di Barsaloi, perkampungan tempat Corrine tinggal, menunjukkan tanda-tanda perbaikan baik secara finansial maupun dengan kelahiran Napirai, anak semata wayang buah cinta mereka. Penyebabnya adalah sikap Lketinga yang sering menunjukkan ketidakpercayaan terhadap Corrine, bahkan tanpa sebab yang jelas ia sering marah-marah yang belakangan baru diketahui disebabkan suatu hal.

Membaca The White Masai ibarat membaca perpaduan antara kisah cinta romantis yang tragis, kisah petualangan yang begitu memikat, sekaligus hasil pengamatan seorang antropolog sosial yang sangat cermat dan menjiwai. Buku ini merupakan cerita wajib baca bagi para penggemar kisah petualangan, travel writing, dan kisah percintaan. Selain itu, penulisnya seolah hendak mengajarkan kepada kita tentang cinta seorang wanita, yang tak bersyarat dan mengenal warna (ras).

Buku setebal empat ratus tujuh puluh tujuh halaman ini telah mendapat apresiasi luas dari pembaca. Terbukti buku ini telah terjual sebanyak empat juta ekspemplar lebih. Hal ini juga menempatkan Hofmann sebagai salah satu penulis papan atas dunia mengingat buku-buku berikutnya seperti Zuruck aus Afrika (kembali dari Afrika), yang terbit di Jerman juga menjadi bestseller Internasional, demikian pula dengan buku Wiedersehen in Barsaloi (Reuni di Barsaloi).

Kuat dugaan bahwa cerita yang dibangun dalam buku ini merupakan berdasarkan kisah nyata yang dialami penulisnya secara langsung. Mengingat di dalamnya terdapat beberapa foto yang membuktikan eksistensi karakter-karakter yang terdapat di dalam buku ini, terlebih nama yang digunakan identik dengan nama asli si penulis “Corinne”, dan hal ini diperkuat pula oleh catatan biografi penulisnya.

Alur cerita yang mengalir dan gaya bahasa yang sederhana membuat buku ini enak dibaca, sehingga emosi yang dialami tokoh di dalamnya dapat nyambung dengan pembaca. Membaca buku ini tidak akan membuat kita berkerut kening, namun meresapi dengan penuh pengalaman si penulis mengingat penuturan yang digunakan menggunakan kata “aku”. Hingga tidak heran suatu saat kita ikut trenyuh terharu dengan kisah hidupnya, di saat lain tersenyum seolah ikut menyaksikan peristiwa-peristiwa mengundang tawa yang disaksikan si penutur.

Sumber: http://sukabacasastra.blogspot.com/2011/02/white-masai-cinta-tak-mengenal-warna.html

DOWNLOAD EBOOK DI SINI

Death in Babylon Love in Istanbul

Judul: Death in Babylon Love in Istanbul
Penulis: İskender Pala
Penerbit: Bentang
=
Buku ini banyak mengupas tentang sejarah keemasan Turki, budaya dan juga karya sastra Turki. Buku ini juga mengupas ajaran sufi tentang cinta dan kehidupan. Betapa cinta kepada yang Kuasa dapat ditemukan lewat kehidupan yang kita jalani, bagaimana interaksi kita dengan ciptaan-Nya, dan pengabungan cita rasa dan penalaran dalam batin kita sebagai seorang individu.

Bagian yang saya suka adalah pemaknaan dari judul buku ini, kita mungkin menemukan kematian jika kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan (death in Babylon). Tetapi kita malah menemukan cinta (kehidupan yang bermakna) di dalam perjalanan hidup kita sendiri, khususnya dalam hal ini tempat dimana kita dibesarkan (love in Istambul).
Sumber review: Goodreads

DOWNLOAD EBOOKNYA DI SINI

Death in Babylon Love in Istanbul

Judul: Death in Babylon Love in Istanbul
Penulis: İskender Pala
Penerbit: Bentang
=
Buku ini banyak mengupas tentang sejarah keemasan Turki, budaya dan juga karya sastra Turki. Buku ini juga mengupas ajaran sufi tentang cinta dan kehidupan. Betapa cinta kepada yang Kuasa dapat ditemukan lewat kehidupan yang kita jalani, bagaimana interaksi kita dengan ciptaan-Nya, dan pengabungan cita rasa dan penalaran dalam batin kita sebagai seorang individu.

Bagian yang saya suka adalah pemaknaan dari judul buku ini, kita mungkin menemukan kematian jika kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan (death in Babylon). Tetapi kita malah menemukan cinta (kehidupan yang bermakna) di dalam perjalanan hidup kita sendiri, khususnya dalam hal ini tempat dimana kita dibesarkan (love in Istambul).
Sumber review: Goodreads

DOWNLOAD EBOOKNYA DI SINI

Looking for Alaska

Judul: Looking for Alaska (Mencari Alaska)
Penulis: John Green
Penerjemah: Sekar Wulandari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 288
=

Miles Halter mungkin salah satu siswa SMA di Florida yang biasa-biasa saja: ‘lurus’, tak banyak tingkah, dan sayangnya, tak punya banyak teman, bahkan hanya untuk menghadiri pesta perpisahan dengannya. Berbekal tekad yang terpancar dari kata-kata terakhir Francois Rabelais, ia ingin mencari sesuatu yang disebut sebagai Kemungkinan Besar. Culiver Creek, sebuah sekolah persiapan yang terletak di Alabama, agaknya mampu memenuhi keinginannya.

Hidup di lingkungan baru tentu saja tidak mudah. Perbedaan cuaca, beban pelajaran yang harus dipikul, dan yang terpenting: teman-teman baru (apakah mereka menyenangkan atau tidak). Sekamar dengan Kolonel yang sedikit temperamen, mengenal Takumi, si pemuda Jepang yang jago nge-rap, bertemu Lara, gadis Rumania yang punya aksen khas, dan berbincang dengan Alaska, perempuan yang penuh kejutan, telah memutarbalikkan kehidupan Miles (oh, julukannya Pudge) 180 derajat. Alaska, dengan keunikannya, ide gilanya yang tak habis-habis, serta rupa fisiknya memikat Miles hingga dalam taraf yang nyaris memabukkan.

Namun, ketika Alaska pergi meninggalkan teka-teki, semuanya berubah. Sebagai orang yang paling dekat dengan Alaska, Miles dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk mencari gadis itu beserta jawaban untuk misteri yang ditinggalkannya.


*****

Beberapa waktu yang lalu, saya berada dalam mood yang berbeda: penasaran dengan karya-karya John Green. Saat saya menemukan buku ini tadi siang, saya tidak tahan untuk membawanya pulang.

Dan, oh, apa yang harus saya katakan? Saya menyukai buku ini. Karakter Miles pada awal-awal cerita mengingatkan saya dengan diri sendiri yang tidak ingin melawan peraturan dalam bentuk apa pun. Kehidupan siswa sekolah asrama yang dihadirkan juga terasa sangat relevan dengan pengalaman saya setahun berasrama. Mungkin karena itulah saya sangat menikmati halaman demi halaman cerita di novel ini: karena ceritanya begitu dekat dengan apa yang pernah saya rasakan sebelumnya.

Teman-teman Miles (atau Pudge) yang ajaib memberikan warna dalam karakter sang tokoh utama yang awalnya terkesan datar-sedikit membosankan, hingga perlahan Miles pun berbaur dalam kegilaan mereka. Penyumbang saham terbesar untuk kegilaan itu siapa lagi:kalau bukan Alaska?

Berbicara tentang Alaska yang riang tetapi sedikit misterius membuat saya bertanya-tanya: apakah orang yang periang di luar selalu menyembunyikan pertanyaan dan rahasia besar di dalam hati mereka serta menyimpannya sendirian? Entahlah, saya ingin membuktikannya kapan-kapan.

Yang menarik saya adalah John Green, dalam buku ini, tidak hanya menawarkan kisah kehidupan remaja penuh euforia dan hal-hal sinting, melainkan juga perenungan akan makna kehidupan. Perenungan ini dihadirkan melalui sesi pelajaran Agama di Culiver Creek dan disisipkan melalui perbincangan para tokoh. Beberapa jawaban mengenai kekhawatiran manusia akan kehidupan dipaparkan secara singkat di sini (melalui perspektif para tokoh yang berbeda). Pastikan Anda memiliki prinsip yang kuat terlebih dahulu sebelum membaca dan meresapinya bila tidak ingin terombang-ambing (karena pada akhirnya, pembacalah yang akan memutuskan jawaban yang ingin mereka gunakan untuk diri mereka sendiri). Apa pertanyaan terpenting yang harus dijawab? Apa kalimat terakhir yang akan saya ucapkan kelak sebelum meninggal? Membaca novel ini mengingatkan saya akan dua pertanyaan tersebut – yang hampir saja luput dari perhatian saya selama ini.

Saya harus acung jempol untuk penerjemah dan editor yang melaksanakan tugas dengan baik. Novel ini memikat dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami, tetapi tidak kehilangan khas novel terjemahannya. Terutama untuk bagian rap Takumi yang penuh rima dan eksentrik (saya yakin, tidak mudah untuk menerjemahkan deretan kalimat berima dalam bahasa Inggris menjadi lirik yang sama bagusnya dalam bahasa Indonesia). Hanya saja, kata ‘tapi’ yang berkali-kali muncul di dalam novel ini mengusik pikiran saya karena setahu saya, bentuk baku dari kata itu adalah ‘tetapi’.

Terakhir, ini masalah prinsip. Karena pergaulan para tokoh di novel ini sangat bebas, saya harus melewatkan beberapa kalimat agar tidak terlalu membayangkannya secara gamblang. Bagi Anda yang berbagi prinsip yang sama dengan saya, mungkin Anda akan melakukan hal yang serupa. Untuk calon pembaca yang berusia di bawah 17 tahun, saya tidak menyarankan kalian untuk membaca buku ini sendirian tanpa bimbingan orangtua.

Oh, satu lagi, bila Anda akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini, pastikan untuk tidak melewatkan bagian terakhir dari Bab Sesudah (272-278, lebih sempitnya lagi: 275-278) tanpa menikmati kalimat demi kalimatnya dengan perlahan. Bagi saya pribadi, novel ini ditutup dengan sangat baik.

*****

“Aku pergi untuk mencari Kemungkinan Besar.” (Francois Rabelais)

Sumber: https://littleparadox.wordpress.com/2016/09/03/review-looking-for-alaska-mencari-alaska/

DOWNLOAD EBOOK DI SINI

Looking for Alaska

Judul: Looking for Alaska (Mencari Alaska)
Penulis: John Green
Penerjemah: Sekar Wulandari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 288
=

Miles Halter mungkin salah satu siswa SMA di Florida yang biasa-biasa saja: ‘lurus’, tak banyak tingkah, dan sayangnya, tak punya banyak teman, bahkan hanya untuk menghadiri pesta perpisahan dengannya. Berbekal tekad yang terpancar dari kata-kata terakhir Francois Rabelais, ia ingin mencari sesuatu yang disebut sebagai Kemungkinan Besar. Culiver Creek, sebuah sekolah persiapan yang terletak di Alabama, agaknya mampu memenuhi keinginannya.

Hidup di lingkungan baru tentu saja tidak mudah. Perbedaan cuaca, beban pelajaran yang harus dipikul, dan yang terpenting: teman-teman baru (apakah mereka menyenangkan atau tidak). Sekamar dengan Kolonel yang sedikit temperamen, mengenal Takumi, si pemuda Jepang yang jago nge-rap, bertemu Lara, gadis Rumania yang punya aksen khas, dan berbincang dengan Alaska, perempuan yang penuh kejutan, telah memutarbalikkan kehidupan Miles (oh, julukannya Pudge) 180 derajat. Alaska, dengan keunikannya, ide gilanya yang tak habis-habis, serta rupa fisiknya memikat Miles hingga dalam taraf yang nyaris memabukkan.

Namun, ketika Alaska pergi meninggalkan teka-teki, semuanya berubah. Sebagai orang yang paling dekat dengan Alaska, Miles dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk mencari gadis itu beserta jawaban untuk misteri yang ditinggalkannya.


*****

Beberapa waktu yang lalu, saya berada dalam mood yang berbeda: penasaran dengan karya-karya John Green. Saat saya menemukan buku ini tadi siang, saya tidak tahan untuk membawanya pulang.

Dan, oh, apa yang harus saya katakan? Saya menyukai buku ini. Karakter Miles pada awal-awal cerita mengingatkan saya dengan diri sendiri yang tidak ingin melawan peraturan dalam bentuk apa pun. Kehidupan siswa sekolah asrama yang dihadirkan juga terasa sangat relevan dengan pengalaman saya setahun berasrama. Mungkin karena itulah saya sangat menikmati halaman demi halaman cerita di novel ini: karena ceritanya begitu dekat dengan apa yang pernah saya rasakan sebelumnya.

Teman-teman Miles (atau Pudge) yang ajaib memberikan warna dalam karakter sang tokoh utama yang awalnya terkesan datar-sedikit membosankan, hingga perlahan Miles pun berbaur dalam kegilaan mereka. Penyumbang saham terbesar untuk kegilaan itu siapa lagi:kalau bukan Alaska?

Berbicara tentang Alaska yang riang tetapi sedikit misterius membuat saya bertanya-tanya: apakah orang yang periang di luar selalu menyembunyikan pertanyaan dan rahasia besar di dalam hati mereka serta menyimpannya sendirian? Entahlah, saya ingin membuktikannya kapan-kapan.

Yang menarik saya adalah John Green, dalam buku ini, tidak hanya menawarkan kisah kehidupan remaja penuh euforia dan hal-hal sinting, melainkan juga perenungan akan makna kehidupan. Perenungan ini dihadirkan melalui sesi pelajaran Agama di Culiver Creek dan disisipkan melalui perbincangan para tokoh. Beberapa jawaban mengenai kekhawatiran manusia akan kehidupan dipaparkan secara singkat di sini (melalui perspektif para tokoh yang berbeda). Pastikan Anda memiliki prinsip yang kuat terlebih dahulu sebelum membaca dan meresapinya bila tidak ingin terombang-ambing (karena pada akhirnya, pembacalah yang akan memutuskan jawaban yang ingin mereka gunakan untuk diri mereka sendiri). Apa pertanyaan terpenting yang harus dijawab? Apa kalimat terakhir yang akan saya ucapkan kelak sebelum meninggal? Membaca novel ini mengingatkan saya akan dua pertanyaan tersebut – yang hampir saja luput dari perhatian saya selama ini.

Saya harus acung jempol untuk penerjemah dan editor yang melaksanakan tugas dengan baik. Novel ini memikat dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami, tetapi tidak kehilangan khas novel terjemahannya. Terutama untuk bagian rap Takumi yang penuh rima dan eksentrik (saya yakin, tidak mudah untuk menerjemahkan deretan kalimat berima dalam bahasa Inggris menjadi lirik yang sama bagusnya dalam bahasa Indonesia). Hanya saja, kata ‘tapi’ yang berkali-kali muncul di dalam novel ini mengusik pikiran saya karena setahu saya, bentuk baku dari kata itu adalah ‘tetapi’.

Terakhir, ini masalah prinsip. Karena pergaulan para tokoh di novel ini sangat bebas, saya harus melewatkan beberapa kalimat agar tidak terlalu membayangkannya secara gamblang. Bagi Anda yang berbagi prinsip yang sama dengan saya, mungkin Anda akan melakukan hal yang serupa. Untuk calon pembaca yang berusia di bawah 17 tahun, saya tidak menyarankan kalian untuk membaca buku ini sendirian tanpa bimbingan orangtua.

Oh, satu lagi, bila Anda akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini, pastikan untuk tidak melewatkan bagian terakhir dari Bab Sesudah (272-278, lebih sempitnya lagi: 275-278) tanpa menikmati kalimat demi kalimatnya dengan perlahan. Bagi saya pribadi, novel ini ditutup dengan sangat baik.

*****

“Aku pergi untuk mencari Kemungkinan Besar.” (Francois Rabelais)

Sumber: https://littleparadox.wordpress.com/2016/09/03/review-looking-for-alaska-mencari-alaska/

DOWNLOAD EBOOK DI SINI