Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Selasa pagi Februari 2013, kulangkahkan kakiku tergesa memasuki pelataran Kantor Pelayanan Kesehatan Pelabu h an Kota Cirebon. Harus segera kutuntaskan urusanku di sana karena siang harinya jadwal cuci darah menungguku di RS Gunung Jati Cirebon. Di dalam ruangan 7 × 5 meter itu, tampak duduk dua orang berseragam di belakang meja panjang. Di kursi tunggu ada beberapa orang yang sedang menunggu antrean untuk dilayani petugas. Aku langsung menuju meja panjang, mendaftarkan diriku untuk membuat Kartu Kuning yang berisi bukti bahwa aku sudah disuntik vaksin meningitis, salah satu syarat yang harus kupenuhi sebelum berangkat umrah sebulan kemudian. Selesai mendaftar, aku diminta mengisi biodata, menyerahkan foto kopi paspor dan pasfoto ke petugas. Kemudian, aku diminta menunggu beberapa saat hingga namaku dipanggil seorang ibu berseragam dan berjilbab putih.“Ibu Lien Auliya, sekarang tes urine dulu, ya. Silakan, kamar mandinya di sebelah sana,” ujar si ibu sambil menyerahkan botol kecil kepadaku. Aku terdiam, ada yang berkecamuk hebat di pikiranku. “Ibu, maaf, tes urine ini untuk tes kehamilan, ya? Saya belum menikah, Bu,” tanyaku terbata. “Iya. Walau belum menikah, ini prosedur, Bu. Silakan, Bu,” jawabnya datar. “Tapi ....tapi, saya sudah tidak bisa pipis, Bu.” Kalimatku kembali terbata-bata. “Oh, ya? Kalau gitu, Ibu minum dulu yang banyak. Nanti pasti pengen pipis. Saya tungguin, Bu.” “Ibu, saya pasien gagal ginjal, pasien cuci darah. Udah lebih dari tujuh tahun ini saya gak pernah pipis, Bu. Jadi, dipaksain minum banyak juga, nggak akan keluar.” Hhhh, akhirnya kusampaikan juga kalimat pamungkasku, berharap ia akan mengerti. “Hah?” Si ibu melongo sambil menatapku. “Jadi, gimana, Bu?” Aku berusaha menetralkan keadaan. “Ada surat keterangan?” tanyanya. “Maksudnya, hasil lab, Bu?” “Bukan, surat keterangan dari dokter bahwa Ibu tidak pipis.” “Hah? Emang ada, Bu, surat keterangan kayak gitu?” “Enggak ada sih. Tapi, intinya gini, ya, Bu. Saya tidak bisa me lanjutkan pelayanan suntik meningitis kalau belum ada surat itu. Ini prosedur, Bu. Saya tidak mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa di kemudian hari. Silakan Ibu buat dulu. Nanti, kembali lagi dengan surat keterangan, ya, Bu.” “Mungkin, Jumat saya baru ke sini lagi, ya, Bu. Siang ini saya jadwal cuci darah di RS Gunung Jati. Rumah saya jauh, Bu, di Ku ningan.” Si ibu mengangguk seiring saya berlalu meninggalkannya dengan air mata menggenang. Ya Allah, suntik vaksin doing kok ribet amat, ya. Sesampainya di RS Gunung Jati, kusampaikan masalahku kepada dokter dan perawat ruang HD (hemodialisis). Mereka tertawa mendengar ceritaku. Seumur-umur, tidak pernah ada yang namanya Surat Keterangan Tidak Pipis. Setelah aku memohon, akhirnya dibuatlah surat keterangan format baru yang menyatakan bahwa aku pasien cuci darah dan sudah tidak pipis, ditanda-tangani oleh dr. Dzulkifli, dokter Ruang HD. Nanti kita lihat, ya, apakah surat ini nanti akan dibakukan menjadi surat resmi nasional. Kalau iya, banggalah aku jadi sampel kasusnya, Tiga hari kemudian, aku kembali menyambangi Kantor KPP Pelabuhan, kali ini dengan surat sakti di tanganku. Sesampainya di sana, aku disambut ramah oleh ibu berjilbab yang kemarin menemuiku. Ia menerima suratku, melihatnya sekilas, dan lang sung mempersilakan aku ke ruang suntik. Di sana, ia pun menyapaku begitu hangat. Kami bicara banyak, bercerita layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Dan, kisah Surat Keterangan Tidak Pipis pun jadi perantara aku menemukan teman ba ru di tempat yang baru. Inilah salah satu kisah dari sekian banyak suka-dukaku hidup tanpa pipis. Sukanya banyak, tak perlu ke kamar mandi tengah malam, tak perlu antre di WC umum, tak perlu bolak-ba lik ke kamar mandi saat di pesawat, tak perlu khawatir saat naik bus jarak jauh, dan tentu saja peluang batal wudhu lebih se dikit. Tapi, dukanya tentu tak kalah seru. Suka bingung sendiri saat menjelaskan kepada orang yang baru tahu, seperti si ibu

Detail Buku:
Judul         : Perempuan Cahaya
Penulis      :
Lien Auliya Rachmach,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :978-602-1637-56-2
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Surat kepada Kanjeng Nabi by Emha Ainun Nadjib

Surat kepada Kanjeng Nabi by Emha Ainun Nadjib

Tak Pernah Mati Muhammad senantiasa hadir kembali. Muhammad senantiasa lahir dan lahir kembali: memunculkan “diri”-nya dalam setiap konteks pemikiran, manifestasi peradaban dan kebudayaan, serta dalam setiap produk dan ungkapan kemajuan. Muhammad tidak pernah mati, kecuali darah daging dan tulang belulangnya telah manunggal dengan tanah. Badan Muhammad telah  ber-tauhid dengan hakikatnya, yakni tanah itu. Muhammad yang hidup sekarang bukan lagi jasmani itu, karena telah ditransformasikan ke dalam wujud-wujud yang lebih lembut dan hakiki. Setiap transformasi selalu berlangsung dengan pengurangan, penambahan, perubahan, dan pergeseran. Darah daging Muhammad tidak terbawa sampai kepada kita sekarang, apalagi ke Negeri Allah yang hakiki kelak. Muhammad yang abadi, yang mengabadi, atau yang menjadi keabadian, dan hari-hari ini melintasi kehidupan kita terbuat dari segala yang dilakukannya semasa jasmaninya hidup. Wajah Muhammad kini terdiri dari seluruh nilai perilakunya dulu. Cahaya wajah itu terbuat dari sujud-sujud sembahyangnya. Badannya terbikin dari amal bajik selama terlibat menghancurkan kebudayaan Jahiliyah. Kaki dan tangannya dirakit dari pahala dan jasa sosial yang kelak menolongnya memperoleh tempat paling khusus di Surga Jannatunna‘im. Demikian juga kita kelak. Daging kita akan rapuh, kulit mengeriput, rambut memutih, dan seluruh badan kita akan musnah menjadi debu material yang hina. “Badan” dan identitas kita selanjutnya dibentuk oleh sistem assembling dari pilihan-pilihan kelakuan kita, dari kepribadian dan sikap sosial kita, dari barang-barang yang kita amalkan atau
kita korup, dari segala sesuatu yang kita Islamkan atau kita curi. Teologi Islam telah memandu kita bagaimana memilih assembling diri masa depan yang terbaik dan termulia. Filosofi Islam membimbing kita untuk merancang jenis kemakhlukan macam apa kita akan menjadi kelak. Dan kosmologi Islam memberi pilihan kepada kita, apakah kita akan merekayasa diri menjadi benda setingkat debu, menjadi energi yang gentayangan jadi hantu dan klenik, atau menjadi api dan kayu bakar penyiksa diri sendiri, atau alhamdulillah kita lulus menempuh transformasi dari materi ke energi ke cahaya. Jika kita menjadi cahaya—karena bersih dari tindak korupsi ekonomi, penindasan politik, kecurangan sosial, penyelewengan hokum serta maksiat kebudayaan—maka insya Allah itulah yang bernama tauhid. Menyatu dengan Allah: Allâh nûrussamâwâti walardh. Allah itu cahaya langit dan bumi. Bukan Allah mencahayai atau menyinari langit dan bumi. Kita bergabung menjadi Muhammad autentik, Muhammad hakiki: Nur Muhammad. Cahaya yang terpuji. Asalusul inisiatif penciptaan oleh Allah. Cahaya cikal-bakal yang pada abad ke-13 dimanifestasikan melalui seorang laki-laki yang progresif menentang arus, menjajakan tauhid di tengah-tengah berhala, yang bersedia menggenggam pedang untuk mempertahankan diri dan menegakkan nilai, dan yang bersedia tidur beralaskan daun kurma. Yang kalau kelaparan, dia merasa pekewuh untuk meminta sehingga mengganjal perutnya dengan batu, dan yang punya bargaining power untuk berkuasa, tetapi memilih hidup melarat. Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya
satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah. Akan tetapi, tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah. Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain. Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, tetapi pada saat itu nanti wajah kami


Detail Buku:
Judul         : Surat Kepada Kanjeng Nabi
Penulis      : Emha Ainun Nadjib,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-979-433-888-9
Tebal         : -
Download      : Google Drive


UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan Hc

UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan

Kota Makkah melambaikan salam perpisahan kepada tamutamunya. Mereka berasal dari berbagai suku dan kabilah yang berbondong-bondong datang ke kota ini untuk menyaksikan Festival ‘Ukâzh2. Pada festival ini setiap suku dan kabilah mempertontonkan  kemampuan penyairnya masing-masing dalam bersyair. Demikian juga antusiasme suku Quraisy yang menunjukkan kebolehan para pemudanya yang hebat dalam bergulat. Namun, ada pula orang-orang yang terpesona pada kota agung ini sehingga enggan meninggalkannya dan memilih untuk menetap di sana. Dan, di antara mereka, ada seorang laki-laki tua yang berjalan dengan susah payah. Dia melangkahkan kakinya menuju Dârun Nadwah untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya dan berbincang bersama mereka tentang masa lalu, dari sore hingga berganti malam. Ketika berjalan, laki-laki tua itu berjumpa dengan seorang pemuda dari kalangan Arab badui. Pemuda tersebut tampak sedang menggembalakan kambing-kambing milik seorang pemuka suku Quraisy. Pemuda tersebut bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah tahu tentang sebuah berita besar, Saudaraku?” Laki-laki tua itu menjawab, “Berita apakah itu, Nak?” “Berita tentang si Kidal,” jawab sang pemuda. “Oh, si Kidal yang engkau maksud itu pemuda yang sering bergulat di ‘Ukâzh?” “Betul!” “Oh, ada apakah gerangan dengan dirinya?” tanya lakilaki tua itu. Sang pemuda menjawab, “Sesungguhnya dia telah memeluk Islam dan menjadi pengikut Muhammad.” Seketika laki-laki tua itu terkejut sekaligus terkagum- kagum. kemudian, dia berkata dengan pancaran wajah yang penuh makna, “Demi kebenaran, sesungguhnya dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Siapakah si Kidal yang kerap bergulat di Pasar ‘Ukâzh itu? Tiada lain dia adalah ‘Umar ibn Al-Khaththab r.a. Adapun kabar yang disampaikan oleh pemuda badui tadi datang bagaikan semburat fajar saat gulitanya pagi hari dan cahaya yang membuat siang terang benderang. Sejak itu, tak ada lagi sebutan si Pegulat Kidal bagi ‘Umar ibn Al-Khaththab ibn Nufail ibn ‘Abdul ‘Uzza dari Bani ‘Adi. Dia tak lagi meneruskan kegemarannya mencari lawan tanding yang kuat di Pasar ‘Ukâzh untuk bergulat dengan dirinya. Dia telah berubah menjadi ‘Umar Al-Faruq3, sosok yang menjadi pembeda dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan di seluruh Jazirah Arab hingga meluas ke seluruh penjuru bumi.Kelak, dia menjadi pemimpin dengan keadilan, keimanan, cinta kasih, dan petunjuk yang pengaruhnya meliputi penjuru bumi. Dia pun menjadi guru yang mengantarkan manusia pada kecerdasan sesungguhnya. Dia menjadi guru yang ketika itulah dunia tunduk di bawah kedua kakinya. Pada akhirnya, dia menjadi manusia yang diangkat derajat dan kehidupannya oleh Allah Swt. “Dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Bagaimana bisa seorang laki-laki Arab yang tua renta melontarkan ucapan seperti demikian? Bagaimana mungkin  dia bisa memperkirakan sesuatu di masa depan secara tepat dan cerdas? Sesungguhnya siapa pun yang sempat menyaksikan ‘Umar sejak muda, dia pasti mengungkapkan ucapan serupa. Dia akan sampai pada keleluasaan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi dengan dirinya di masa depan sebagaimana yang dilakukan laki-laki tua tadi tanpa sedikit pun diliputi rasa ragu. ‘Umar adalah sosok laki-laki perkasa. Posturnya kekar dan besar, kulitnya kemerah-merahan, telapak kaki dan tangannya kuat, dan bahunya lebar. Dia cekatan dan bertubuh tinggi. Bila berjalan dengan orang-orang dari kaumnya, ia menjadi sosok yang paling terlihat karena tubuhnya yang tinggi. Dia sangat identik dengan sifat, “Jika berkata, pasti didengar. Jika berjalan, pasti cepat. Dan jika memukul, pasti merobohkan.” ‘Umar adalah sosok yang dalam hidupnya tak pernah merasa takut kepada manusia mana pun. Hatinya keras, tak pernah dihantui dengan perasaan gentar atau panik. ‘Umar mewarisi sifat ayahnya. Sosok yang tangguh, pemberani, dan tak kenal kata menyerah. Ketegasannya tak mengenal ragu. Tekadnya kuat, tak pernah setengah- setengah. Begitulah


Detail Buku:
Judul         : ‘UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-15-8
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Saat pertama kali terbitnya fajar risalah, ada beberapa orang yang dikenal sebagai kaum terhormat karena kemuliaannya. Orang-orang inilah yang kemudian ditakdirkan menjadi generasi pertama dalam rangkaian luhur yang membawa “kalimat agama” kepada dunia. Mereka membawa cahaya Allah dan petunjuk-Nya bagi seluruh makhluk yang tersesat, tanpa awal, akhir, maupun keterputusan. Ketika takdir berlaku untuk memilih, ia telah membuat akal manusia terpana dalam menentukan pilihannya Pada kesempatan ini, kita akan menyaksikan seorang yang terhormat di tengah keluarga, bangsawan, dan kaumnya dipilih untuk menduduki posisi yang luhur. Namun, dalam waktu bersamaan, dia duduk di samping kaum fakir dan hamba sahaya yang diperjualbelikan. Mereka yang hidup dalam keadaan terbatas dan kekurangan serta akrab dengan rantai dan belenggu. Kita akan menyaksikan seorang yang kaya raya—dengan gelimang harta benda di tangannya—duduk bersama kaum fakir miskin yang hidup dalam kesengsaraan. Seperti seseorang yang kuat, penuh keberanian, dan mampu mengalahkan para pegulat  di Pasar ‘Ukâzh, dia ditakdirkan untuk hidup mendampingi dan melayani kaum lemah tak berdaya yang kedua kakinya bergetar karena tertiup angin. Dengan demikian, ‘Utsman adalah manusia cerdas—kecerdasan dan kemampuannya memancar dari dalam dirinya—yang tetap setia mendampingi rak yat jelata. Semua kenyataan ini—tanpa ikatan tertentu—telah menunjuk kepada suatu kaum yang besar dan memilih para kesa tria aga ma baru yang dikehendaki Allah Swt. kepada Muhammad Saw. untuk menyampaikan panji-panji kebesaran-Nya. Kaum yang memiliki keberagaman sifat dan perbedaan karakter dan de ra jat ini akan menunjukkan keindahan Islam dan mukjizat-Nya yang agung. Selain itu, Islam telah menjadikan para tokoh pem besar yang berpengaruh dari kaum Quraisy, seperti Abu Bakar, ‘Utsman, dan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, sebagai sosok-sosok penolong dan saudara bagi manusia lainnya, seperti Shuhaib, Bilal, dan ‘Ammar. Islam pun menciptakan persatuan dari latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan, semua perbedaan itu diikat dalam satu ikatan persaudaraan. Saksikanlah, takdir akan menunjukkan ketika para kesatria itu terpilih, sesungguhnya me reka berasal dari latar yang berbeda-beda. Bukankah mereka di tak dirkan bertemu dan bersatu dengan ke khasan masing-masing yang sangat banyak, mulai dari sifat yang unik, ke du dukan, dan kemampuan mereka? Tentu saja, ada titik yang mempertemukan mereka. Semen - tara, untuk menemukan titik tersebut bukanlah hal yang sulit. Al-Quran yang agung telah memberikan kabar kepada kita bahwasanya, Allah lebih mengetahui di mana Dia menem pat kan tugas kerasulan-Nya (QS Al-An‘âm [6]: 124). Benar, sesungguhnya Allah Swt. mengetahui bagaimana Dia akan me milihkan para pembela dan pembantu setia bagi Rasulullah Saw. Siapa pun rasulnya tentu dipilih oleh Allah Swt. Sosok yang dipilih adalah pribadi yang kehidupannya berada di atas segala kebenaran, kebaikan, dan keutamaan yang tak dimiliki manusia lain. Sebab itu, dengan karunia dari Tuhannya, seorang rasul haruslah memiliki kelebihan khusus berupa keutamaan jiwa dan kesungguhan hati, sehingga mampu menunaikan tugasnya: menyampaikan risalah. Ditegaskan pula, siapa pun yang menjadi rasul tak akan bisa bekerja sendirian. Dia memerlukan orang-orang beriman yang turut membantunya dalam menjalankan amanah agung tersebut. Selain itu, orang-orang ini harus memiliki kualitas yang tingkatannya mampu menunaikan peran mulia yang akan dipikul pundak mereka. Mereka bisa berasal dari pemuka agama, pemimpin kaum, orang-orang kaya, rakyat jelata, atau hamba sahaya. Ketika menunjuk para kesatria yang terpilih, sesungguhnya takdir pun telah memasukkan pandangannya hingga relung yang paling tersembunyi dari setiap kepribadian mereka. Meskipun, secara kasatmata, ada pola hidup mereka yang sangat akrab dengan kemewahan, penyimpangan, bahkan pembangkangan. Anak panah takdir telah melesat hebat terhadap pribadipribadi yang terpilih karena kesucian, keistiqamahan, dan ketulusan mereka. Takdir mengukuhkan kesatria yang gagah berani tersebut untuk memikul tugas. Dengan cara seperti inilah, takdir menunjukkan bagaimana terpilihnya orang-orang yang akan sanggup mengemban misi suci untuk membela Islam pada masa awal kemunculannya, ketika sang fajar masih diselimuti gelap gulita. Salah seorang yang terpilih adalah ‘Utsman. Dia laki-laki dari kaum ningrat atau bangsawan, pemuka kaum Quraisy, dan kalangan pembesar bangsa Arab. Dia ditakdirkan untuk menduduki tempatnya dengan segera di antara orang yang pertama
masuk barisan pemeluk agama dan petunjuk yang benar. Saat itu, dia sama sekali tak ragu menerima amanah agung tersebut.

Detail Buku:
Judul         :UTSMAN IBN ‘AFFAN Khalifah Penjunjung Al-Quran
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-14-1
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Sekaca Cempaka : Nailiya Nikmah

Sekaca Cempaka : Nailiya Nikmah

“Apakah benar dalam bunga-bunga kaca yang Ibu buat terdapat guna-guna?” Pertanyaan yang diucapkan dengan nada mengancam itu keluar dari mulut seorang laki-laki tak dikenal. Laki-laki berkemeja merah hati lengan panjang dengan satu kancing paling atas dibiarkan terbuka, bercelana panjang hitam, bersepatu hitam mengilap. Lengan baju kanannya tergulung sampai siku sementara gulungan lengan baju kirinya terlepas. Di saku kemejanya menyembul ujung dasi warna senada. Tatanan rambut pendeknya tidak jelas seperti tidak disisir. Wajahnya sedikit berminyak. Matanya sembab dan memerah. Tangan kirinya menggenggam kunci mobil Perempuan di ambang pintu menahan tangan kanannya agar tidak terayun keras ke wajah lelaki di hadapannya. Ia baru saja bergegas membukakan pintu setelah mendengar ketukan yang bertubi-tubi tanpa jeda. Ia belum sempat mengucapkan kata “siapa” pada tamunya dan menanyakan ada keperluan apa, sebagaimana basa-basi seorang tuan rumah pada tamunya. Ia belum pula menyilakannya masuk tapi tamu itu telah terlebih dahulu menikam perasaannya. Tamu lelaki itu bahkan lupa mengucapkan salam. “Katakan apa maumu sebenarnya?” Kali ini ia lebih berani meninggikan suara. Bagaimanapun yang berada di hadapannya sekarang adalah seorang lelaki bukan perempuan seperti yang datang dua hari sebelumnya. Lagi pula, kejadian dua hari yang lalu membuat ia memiliki pengalaman. Tangan kirinya sekarang memegangi daun pintu.Aku hanya ingin tahu, apakah benar bungabunga yang Ibu karang menyimpan guna-guna?” “Apakah teman perempuanmu kemarin belum memberitahumu? Atau penjelasannya kurang meyakinkan di telingamu, sehingga kamu harus datang ke sini untuk menanyakannya kembali?” “Teman perempuan? Siapa? Siapa namanya?” Lelaki itu terperanjat. Ia tak menyangka perempuan berbibir tebal dan bertubuh gempal yang sedang ditatapnya mengeluarkan kalimat tersebut. Tidak terlintas sama sekali di pikirannya kalau ada orang lain yang berkepentingan sama dengannya. “Jadi kau tak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Siapa pun namanya, apa urusanku?” Nada suaranya meninggi. “Aku tidak punya urusan dengan orangorang tidak sopan seperti kalian!” Matanya melotot. Ia mengerahkan seluruh keberanian. Ia tidak ingin harga dirinya diinjak-injak seperti dua hari yang lalu. Ia pikir perempuan yang datang dua hari yang lalu itulah yang mengutus lelaki di hadapannya. “Aku benar-benar tidak mengerti. Siapa orang lain yang datang ke sini sebelum aku?” “Aku lebih tidak mengerti mengapa kalian repot-repot ke rumahku hanya untuk menuduhkan fitnah murahan kepadaku,” perempuan itu menutup pintu. “Jangan, jangan ditutup dulu.” Sang tamu menahan pintu dengan tangannya. “Pergilah!” “Aku tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban darimu,” “Jawaban apalagi? Aku sudah mengatakannya kepada temanmu!” “Percayalah, aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak tahu siapa yang kaumaksud dengan temanku.” “Mengapa aku harus percaya padamu?” “Tolonglah aku,” suara itu kini terdengar memelas. “Aku memerlukan bantuanmu. Maaf jika tadi aku agak kasar. Aku … aku.” Perempuan itu tidak menduga keadaannya akan berbalik. Perlahan, ia membuka pintu kembali. “Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang kuminta kaupercaya padaku. Tidak ada apa-apa dalam bungaku termasuk guna-guna yang kautuduhkan. Jelas? Atau perlu aku ulang sekali lagi?” Tamu itu menunduk. Wajahnya terlihat putus asa. “Apalagi? Pergilah sebelum anak-anakku atau tetangga berdatangan. Aku tidak mau terjadi keributan.” “Ya, aku akan pergi. Terima kasih. Sekali lagi maafkan aku.” Lelaki itu membalikkan badannya. Tak dihiraukannya panas matahari yang sedang berada tepat di atas kepalanya. Langkahnya gontai menuju mobil biru gelap yang diparkir di depan pagar. Perempuan itu menutup pintu. Hatinya rusuh. Ia ke kamarnya, membuka pintu lemari pakaian, mengambil selembar kertas berlipat empat di sela lipatan bajunya yang paling bawah. Ia mencoba menghubung-hubungkan pesan yang tertulis di kertas tersebut dengan kedatangan tamu-tamunya. Kini ia mulai memahami makna pesan itu. Dikibaskibaskannya ujung selendang hijau tua ke arah lehernya yang bersimbah keringat. Ia pun kembali membaca sebuah pesan.

 Detail Buku:
Judul         : Sekaca Cempaka
Penulis      : Nailiya Nikmah JKF
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :
978-602-02-4396-2
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Pudarnya Pesona Cleopatra by Habiburrahman El-Shirazy

Pudarnya Pesona Cleopatra by Habiburrahman El-Shirazy

INI nikmat ataukah azab? “harus dengan dia, tak ada pilihan lain!”tegas ibu. Beliau memaksaku untuk menikah dengan gadis itu. gadis yang sama sekali tak kukenal. Sedihya, aku tiada berdaya sama sekali untuk melawanya. Aku tak punya kekuatan apa-apa untuk memberontaknya. Sebab setelah ayah tiada, bagiku ibu adalah segalanya. Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada didalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal itu. kok bisa-bisanya ibunya berbuat begitu. Pikiran orang dulu terkadang memang aneh. “Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Mankuyudan Solo dulu,” kata ibu. “ kami pernah berjanji,jika dikaruniai anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu Anakku,ibu yang telah hadir jauh sebelum kau lahir!” ucap beliau dengan nada mengiba. “dan percayalah pada ibu, Anakku. Ibu selalu memilihkan yang terbaik untukmu. Ibu tahu persis garis keturunan Raihana. Ibu tahu persis kesalehan kedua orang tuanya,” tambahanya untuk menyakinkan diriku “Mbak Raihana itu orangnya baik kok, kak. Dia ramah halus budi, sarjana pendidikan, penyabar, berjilbab dan hafal Al-Quran lagi. Pokoknya cocok deh buat kakak,” komentar adikku,si Aida tentang calon istriku. “Orangnya cantik nggak?”selidikku. “Lumayan, delapan koma limalah,” jawab adikku enteng. “Tapi lebih tua dari kakak ya?” tanyaku mencari kepastian. “Ala Cuma dua tahun kak, lagian sekarang’ kan lagi nge-trend lho, laki-laki menikah dengan wanita yang lebih tua. Nggak masalah itu kak. Apalagi Mbak Raihana itu baby face, selalu tampak lebih muda enam tahun dari aslinya. Orang-orang banyak yang mengira dia itu baru sweet seventeenth lho kak. Bener nih, serius!” propaganda adikku berapi-api. Adikku satu-satunya ini memang pendukung setia ibu. Duh pusing aku, pusing!  Dalam pergaulatan jiwa yang sulit berhari-hari,akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kau temui inginmu
Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kau temui legamu
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku ada kecemasan-kecemasan yang mengintai. Kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan aku tidak tahu alasanya, yang jelas, sebenarnya aku sudah punya criteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai itu. saat khitbah sekalis kutatap wajah Raihana, dan benar kata si Aida, ia memang baby face dan lumayan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuimpikan tak kutemukan sama sekali. Adikku, ibuku, sanak saudaraku semuanya mengakui Raihana cantik. Bahkan tante Lia, pemilik salon kosmetik terkemuka di Bandung yang seleranya terkenal tinggi dalam masalah kecantikan mengacungkan jempol tatkala menatap foto Raihana. “ cantiknya benar-benar alami. Bisa jadi iklan sabun Lux lho, asli!” komentarnya tanya ragu. Tapi seleraku lain. Entah mengapa. Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut citra gadis-gadis Mesir Titisan Cleopatra yang tinggi semampai? Yang berwajah putih jelita dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan. Dalam balutan jilbab sutra putih wajah gadis Mesir itu bersinar-sinar, seperti permata Zabarjad yang bersih, indah berkilau tertempa sinar purnama. Sejuk dan mempesona.


Detail Buku:
Judul         : Pudarnya Pesona Cleopatra
Penulis      : Habib
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
 -
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Semoga kau terbakar di dalam rumah ini!” Perempuan itu menggelimpang. Pipi menempel di tanah, rambutnya awut-awutan ke segala arah. Kain di sekujur tubuh diseraki lumpur kering. Lambungnya berhari-hari tak berisi, sekalipun oleh gandum basi. Tenggorokan kering, jauh dari air. Matanya redup hampir memejam, bibirnya gemetaran, “Semoga engkau pernah terbakar di dalam rumah ini!” Sedikit meninggi suaranya, “Semoga kau terbakar terang di dalam rumah ini!”
“Diam kau, Perempuan!” Kaki-kaki mengentak-entak tanah. Suara laki-laki kalap, suami perempuan itu, “Diamlah atau Ahuramazda akan menyiksamu!” “Semoga engkau berkembang dalam rumah ini.” Suara perempuan itu kian melantang. Pecah, tetapi terdengar mengguncangkan. “Dalam waktu yang lama sampai datangnya pemulihan dunia!” “Makanlah dan berhentilah menistakan ayat-ayat Zardusht!” Lelaki itu hanya berteriak-teriak. Tepat setelah dia melemparkan panci berisi buah-buahan kedaluwarsa ke depan wajah istrinya, dia hendak buru-buru meninggalkannya begitu saja. Membiarkan perempuan itu menggeletak di lantai gudang, sedangkan dia kembali pada kesehariannya. Istri sang lelaki sedang tidak suci. Darah menstruasi itu kotor, tidak suci. Tidak boleh ada makanan, apalagi minuman.Hanya ketika napas perempuan itu merapat pada kematian, boleh dia menelan beberapa teguk air dan sedikit makanan. Bagi sang suami, mendekatinya pun berdosa. Jangan coba-coba. Itu bertentangan dengan ajaran agama. Seorang wanita akan mandi di Danau Kasava. Dia akan melahirkan nabi yang dijanjikan, Astvat-ereta.” “Apa kau ingin direbus di neraka, hai, Perempuan?” sang suami berusaha menghentikan teriakan istrinya yang semakin meruncing. Kumis yang melintangi daerah di antara bibir dan hidungnya bergerak-gerak, mengikuti kegelisahan pemiliknya. “Nabi itu akan melindungi iman Zarathustra, menumpas iblis, meruntuhkan berhala, membersihkan pengikut Zardusht dari kesalahan mereka.” Sang lelaki terdiam. Inginnya menghunjami istrinya dengan tamparan, tendangan, dan lebih banyak lagi caci maki. Namun, dia berhenti. Kakinya, mulutnya, berhenti. Tak bersuara apa-apa lagi. Astvat-ereta! Siapa Astvat-ereta? Danau Zhaling, kaki Gunung Anyemaqen, Tibet. Menghijau padang rumput yang menghadirkan kesegaran hanya dengan menatapnya. Sepagi itu, kawanan yak mengikuti naluri mamah biak mereka yang sedang bagus, mengunyah tetumbuhan persis di pinggir danau. Angin menjelajah, membunyikan lonceng-lonceng kecil di tenda yang tegak oleh
tambang-tambang kencang dengan pasak-pasak kokoh meng hunjam tanah. Di permukaan danau, angin itu meninggalkan jejak-jejak yang menggelombang. Riak bening pada cermin cair.
“Sudah kau urus bongkahan pupuk hewan itu?” Perempuan berwajah keras itu melapisi tubuhnya dengan pakaian rangkap. Baju lengan panjang tanpa kerah, berkancing di samping dan celana bertabur hiasan, dengan “pipa” mengerut mendekati mata kaki. Dia melangkah sigap dengan dua tong kayu berisi air membebani dua lengannya. Leher, pergelangan tangan, dan pinggangnya dipenuhi perhiasan bebatuan: giok, akik, emas, dan perak. “Beres, Bu.” Perempuan lain yang lebih muda mengangguk sembari mengangkat dua alisnya dengan ekspresi jenaka. Dia jauh lebih muda disbanding perempuan pertama. Usianya di pertengahan belasan tahun. Dia mengenakan jubah bergaris warna-warni, menjuntai sampai ke pangkal kaki. Sabuk brokat lebar menahan perut. Kain seperti celemek menutupi dadanya. “Malam nanti awal musim dingin. Kalau engkau ceroboh mengolah pupuk hewan itu, kita bisa kedinginan.” “Percayakan kepadaku,” jawab si gadis. Langkahnya ceria menjajari pergerakan kaki-kaki ibunya yang sedikit maskulin. Tugas membereskan bongkahan pupuk hewan menjadi vital, terutama ketika udara semakin dingin, belakangan. Pupuk hewan itu untuk api penghangat, penerangan, sekaligus untuk bahan bakar tungku. Asalnya dari kotoran yak yang digumpalkan:
diremas-remas, ditepuk-tepuk, sebelum dijemur sampai kering berkerak. “Kalau begitu, bantu aku membuat mentega. Tadi aku sudah memerah susu cukup sampai makan malam. “He-eh.” Si ibu masuk ke tenda diikuti anak gadisnya. Dia lalu meletakkan dua tong berisi air di tengah tenda. Persis di samping

Detail Buku:
Judul         :  MUHAMMAD: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis      :
Tasaro GK
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :978-602-291-050-3
Tebal         :
650 hlm
Download      : Google Drive


Novel Harta Pusaka Cinta By : Desni Intan Suri

Novel Harta Pusaka Cinta By : Desni Intan Suri

Sinopsis :

Jakarta selepas Subuh. Bandara Soeta penerbangan dalam negeri pagi ini tidak begitu penuh. Seorang gadis menjulurkan kepala ke bagian dalam ruang berkaca. Di sampingnya, seorang wanita setengah baya sedang sibuk menekan-nekan gadget dengan jari-jemarinya yang berkuku runcing dan berkuteks merah saga “Call Mami kalo udah nyampe, ya, Chin,” kata wanita setengah baya itu tanpa mengalihkan perhatian dari gadget di tangannya “Rebes, Mi. Don’t worry, deh. Aku pasti akan melaksanakan tugasku sebaik-baiknya,” jawab gadis belia itu, masih tetap asyik melongok sana sini. “Bener, lho, ya. Semua tingkah big city dalam dirimu harus dimusnahkan dulu ya, Chin. Mami betul-betul ngandalin kamu. Begitu kamu nyampe di tempat nenekmu, jadilah gadis manis yang penurut. Ingat! Mami cuma punya waktu lima bulan untuk lepas dari kekacauan ini. Kamu harus bantu Mami!” “Siap, Mi! Laksanakan! Asalkan Mami nggak lupa dengan bagianku!” “Uh! Dasar cewek matre kamu!” “Siapa dulu yang ngajarin?” “Hihihi… iya, ya. Emak dan anak sama matrenya, ya. Tapi kalo nggak matre, gimana kita bisa nikmatin hidup ini? Ya, nggak? Hmmm... pasti… pasti! Kamu akan dapat bagian. Yang jelas, kalau semua sudah ada di tangan, pembagian akan dilakukan seadil-adilnya....” “Siiip! Daaag Mami....” Dengan langkah lebar si gadis belia berjalan menuju boarding room. 
Wanita separuh baya berdandan gemerlap itu terus menatap si gadis belia tanpa berkedip sampai tubuh tinggi semampai itu lenyap dari pandangannya. Matanya menyorotkan kekhawatiran melihat cara gadis semampai itu berjalan. Tubuh gadis itu terbalut blus katun yang berwarna senada dengan rok klok sebatas betis. Serasi dengan kulitnya yang putih kemilau. Tapi langkahnya tidak sesuai dengan gaun feminin yang ia kenakan. Seharusnya ia berjalan dengan langkah kecil dan lenggok yang anggun, apalagi kakinya dihiasi sepasang sepatu high heel yang seharusnya bisa membantu langkahnya lebih berirama. “Dasar anak susah diatur!” gerutu perempuan separuh baya itu sambil menuju tempat parkir mobil. Pikirannya terpusat pada hasil yang akan diterimanya nanti. Dalam hati ia sangat berharap semua yang ia rencanakan dapat berjalan lancar. Namun, hatinya juga dirundung cemas bila mengingat hubungan yang sudah terputus sekian tahun dengan amaknya. Harapannya kini ia gantungkan kepada anak gadis semata wayangnya. Mungkin Chintiya yang akan mengubah semuanya. Hatinya sempat ragu. Mampukah Chintiya mengembalikan hubungannya dengan Amak yang terputus begitu saja selama berpuluh tahun? Ah! Itu tidak penting. Tujuannya mengirim Chintiya ke sana bukan untuk itu. Sebelum menghidupkan mesin mobil, ia mengambil sehelai kertas putih yang terselip di dalam hand bag-nya. Surat itu sudah lecek tidak beramplop. Amplopnya sudah ia berikan pada anak gadisnya itu tadi malam. Di belakang amplop tertera alamat yang harus dituju Chintiya, putrinya itu, sesampai  

Assalamualaikum wr. wb.
Ananda Friska Aisyaharni....
Amak bahagia membaca suratmu. Ini suratmu yang kedua pada Amak setelah abakmu meninggalkan kita semua. Dulu setelah kau mengabari keberadaanmu di luar negeri, Amak anggap selanjutnya kau akan selalu menyurati kami. Ternyata tidak. Bahkan ketika abakmu meninggal dan kau kusurati, kau tak kunjung menjenguk kubur abakmu. Kau hanya membalas suratku dan meminta maaf belum bisa pulang. Sulit rasanya

Detail Buku:­­
Judul         : Harta Pusaka Cinta
Penulis      : Desni Intan Suri
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :978-602-02-4859-2
Tebal         :
Download      : Google Drive