Tampilkan postingan dengan label Khalid Muhammad Khalid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalid Muhammad Khalid. Tampilkan semua postingan

UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan Hc

UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan

Kota Makkah melambaikan salam perpisahan kepada tamutamunya. Mereka berasal dari berbagai suku dan kabilah yang berbondong-bondong datang ke kota ini untuk menyaksikan Festival ‘Ukâzh2. Pada festival ini setiap suku dan kabilah mempertontonkan  kemampuan penyairnya masing-masing dalam bersyair. Demikian juga antusiasme suku Quraisy yang menunjukkan kebolehan para pemudanya yang hebat dalam bergulat. Namun, ada pula orang-orang yang terpesona pada kota agung ini sehingga enggan meninggalkannya dan memilih untuk menetap di sana. Dan, di antara mereka, ada seorang laki-laki tua yang berjalan dengan susah payah. Dia melangkahkan kakinya menuju Dârun Nadwah untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya dan berbincang bersama mereka tentang masa lalu, dari sore hingga berganti malam. Ketika berjalan, laki-laki tua itu berjumpa dengan seorang pemuda dari kalangan Arab badui. Pemuda tersebut tampak sedang menggembalakan kambing-kambing milik seorang pemuka suku Quraisy. Pemuda tersebut bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah tahu tentang sebuah berita besar, Saudaraku?” Laki-laki tua itu menjawab, “Berita apakah itu, Nak?” “Berita tentang si Kidal,” jawab sang pemuda. “Oh, si Kidal yang engkau maksud itu pemuda yang sering bergulat di ‘Ukâzh?” “Betul!” “Oh, ada apakah gerangan dengan dirinya?” tanya lakilaki tua itu. Sang pemuda menjawab, “Sesungguhnya dia telah memeluk Islam dan menjadi pengikut Muhammad.” Seketika laki-laki tua itu terkejut sekaligus terkagum- kagum. kemudian, dia berkata dengan pancaran wajah yang penuh makna, “Demi kebenaran, sesungguhnya dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Siapakah si Kidal yang kerap bergulat di Pasar ‘Ukâzh itu? Tiada lain dia adalah ‘Umar ibn Al-Khaththab r.a. Adapun kabar yang disampaikan oleh pemuda badui tadi datang bagaikan semburat fajar saat gulitanya pagi hari dan cahaya yang membuat siang terang benderang. Sejak itu, tak ada lagi sebutan si Pegulat Kidal bagi ‘Umar ibn Al-Khaththab ibn Nufail ibn ‘Abdul ‘Uzza dari Bani ‘Adi. Dia tak lagi meneruskan kegemarannya mencari lawan tanding yang kuat di Pasar ‘Ukâzh untuk bergulat dengan dirinya. Dia telah berubah menjadi ‘Umar Al-Faruq3, sosok yang menjadi pembeda dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan di seluruh Jazirah Arab hingga meluas ke seluruh penjuru bumi.Kelak, dia menjadi pemimpin dengan keadilan, keimanan, cinta kasih, dan petunjuk yang pengaruhnya meliputi penjuru bumi. Dia pun menjadi guru yang mengantarkan manusia pada kecerdasan sesungguhnya. Dia menjadi guru yang ketika itulah dunia tunduk di bawah kedua kakinya. Pada akhirnya, dia menjadi manusia yang diangkat derajat dan kehidupannya oleh Allah Swt. “Dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Bagaimana bisa seorang laki-laki Arab yang tua renta melontarkan ucapan seperti demikian? Bagaimana mungkin  dia bisa memperkirakan sesuatu di masa depan secara tepat dan cerdas? Sesungguhnya siapa pun yang sempat menyaksikan ‘Umar sejak muda, dia pasti mengungkapkan ucapan serupa. Dia akan sampai pada keleluasaan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi dengan dirinya di masa depan sebagaimana yang dilakukan laki-laki tua tadi tanpa sedikit pun diliputi rasa ragu. ‘Umar adalah sosok laki-laki perkasa. Posturnya kekar dan besar, kulitnya kemerah-merahan, telapak kaki dan tangannya kuat, dan bahunya lebar. Dia cekatan dan bertubuh tinggi. Bila berjalan dengan orang-orang dari kaumnya, ia menjadi sosok yang paling terlihat karena tubuhnya yang tinggi. Dia sangat identik dengan sifat, “Jika berkata, pasti didengar. Jika berjalan, pasti cepat. Dan jika memukul, pasti merobohkan.” ‘Umar adalah sosok yang dalam hidupnya tak pernah merasa takut kepada manusia mana pun. Hatinya keras, tak pernah dihantui dengan perasaan gentar atau panik. ‘Umar mewarisi sifat ayahnya. Sosok yang tangguh, pemberani, dan tak kenal kata menyerah. Ketegasannya tak mengenal ragu. Tekadnya kuat, tak pernah setengah- setengah. Begitulah


Detail Buku:
Judul         : ‘UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-15-8
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Saat pertama kali terbitnya fajar risalah, ada beberapa orang yang dikenal sebagai kaum terhormat karena kemuliaannya. Orang-orang inilah yang kemudian ditakdirkan menjadi generasi pertama dalam rangkaian luhur yang membawa “kalimat agama” kepada dunia. Mereka membawa cahaya Allah dan petunjuk-Nya bagi seluruh makhluk yang tersesat, tanpa awal, akhir, maupun keterputusan. Ketika takdir berlaku untuk memilih, ia telah membuat akal manusia terpana dalam menentukan pilihannya Pada kesempatan ini, kita akan menyaksikan seorang yang terhormat di tengah keluarga, bangsawan, dan kaumnya dipilih untuk menduduki posisi yang luhur. Namun, dalam waktu bersamaan, dia duduk di samping kaum fakir dan hamba sahaya yang diperjualbelikan. Mereka yang hidup dalam keadaan terbatas dan kekurangan serta akrab dengan rantai dan belenggu. Kita akan menyaksikan seorang yang kaya raya—dengan gelimang harta benda di tangannya—duduk bersama kaum fakir miskin yang hidup dalam kesengsaraan. Seperti seseorang yang kuat, penuh keberanian, dan mampu mengalahkan para pegulat  di Pasar ‘Ukâzh, dia ditakdirkan untuk hidup mendampingi dan melayani kaum lemah tak berdaya yang kedua kakinya bergetar karena tertiup angin. Dengan demikian, ‘Utsman adalah manusia cerdas—kecerdasan dan kemampuannya memancar dari dalam dirinya—yang tetap setia mendampingi rak yat jelata. Semua kenyataan ini—tanpa ikatan tertentu—telah menunjuk kepada suatu kaum yang besar dan memilih para kesa tria aga ma baru yang dikehendaki Allah Swt. kepada Muhammad Saw. untuk menyampaikan panji-panji kebesaran-Nya. Kaum yang memiliki keberagaman sifat dan perbedaan karakter dan de ra jat ini akan menunjukkan keindahan Islam dan mukjizat-Nya yang agung. Selain itu, Islam telah menjadikan para tokoh pem besar yang berpengaruh dari kaum Quraisy, seperti Abu Bakar, ‘Utsman, dan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, sebagai sosok-sosok penolong dan saudara bagi manusia lainnya, seperti Shuhaib, Bilal, dan ‘Ammar. Islam pun menciptakan persatuan dari latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan, semua perbedaan itu diikat dalam satu ikatan persaudaraan. Saksikanlah, takdir akan menunjukkan ketika para kesatria itu terpilih, sesungguhnya me reka berasal dari latar yang berbeda-beda. Bukankah mereka di tak dirkan bertemu dan bersatu dengan ke khasan masing-masing yang sangat banyak, mulai dari sifat yang unik, ke du dukan, dan kemampuan mereka? Tentu saja, ada titik yang mempertemukan mereka. Semen - tara, untuk menemukan titik tersebut bukanlah hal yang sulit. Al-Quran yang agung telah memberikan kabar kepada kita bahwasanya, Allah lebih mengetahui di mana Dia menem pat kan tugas kerasulan-Nya (QS Al-An‘âm [6]: 124). Benar, sesungguhnya Allah Swt. mengetahui bagaimana Dia akan me milihkan para pembela dan pembantu setia bagi Rasulullah Saw. Siapa pun rasulnya tentu dipilih oleh Allah Swt. Sosok yang dipilih adalah pribadi yang kehidupannya berada di atas segala kebenaran, kebaikan, dan keutamaan yang tak dimiliki manusia lain. Sebab itu, dengan karunia dari Tuhannya, seorang rasul haruslah memiliki kelebihan khusus berupa keutamaan jiwa dan kesungguhan hati, sehingga mampu menunaikan tugasnya: menyampaikan risalah. Ditegaskan pula, siapa pun yang menjadi rasul tak akan bisa bekerja sendirian. Dia memerlukan orang-orang beriman yang turut membantunya dalam menjalankan amanah agung tersebut. Selain itu, orang-orang ini harus memiliki kualitas yang tingkatannya mampu menunaikan peran mulia yang akan dipikul pundak mereka. Mereka bisa berasal dari pemuka agama, pemimpin kaum, orang-orang kaya, rakyat jelata, atau hamba sahaya. Ketika menunjuk para kesatria yang terpilih, sesungguhnya takdir pun telah memasukkan pandangannya hingga relung yang paling tersembunyi dari setiap kepribadian mereka. Meskipun, secara kasatmata, ada pola hidup mereka yang sangat akrab dengan kemewahan, penyimpangan, bahkan pembangkangan. Anak panah takdir telah melesat hebat terhadap pribadipribadi yang terpilih karena kesucian, keistiqamahan, dan ketulusan mereka. Takdir mengukuhkan kesatria yang gagah berani tersebut untuk memikul tugas. Dengan cara seperti inilah, takdir menunjukkan bagaimana terpilihnya orang-orang yang akan sanggup mengemban misi suci untuk membela Islam pada masa awal kemunculannya, ketika sang fajar masih diselimuti gelap gulita. Salah seorang yang terpilih adalah ‘Utsman. Dia laki-laki dari kaum ningrat atau bangsawan, pemuka kaum Quraisy, dan kalangan pembesar bangsa Arab. Dia ditakdirkan untuk menduduki tempatnya dengan segera di antara orang yang pertama
masuk barisan pemeluk agama dan petunjuk yang benar. Saat itu, dia sama sekali tak ragu menerima amanah agung tersebut.

Detail Buku:
Judul         :UTSMAN IBN ‘AFFAN Khalifah Penjunjung Al-Quran
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-14-1
Tebal         : -
Download      : Google Drive