Tampilkan postingan dengan label Agatha Christie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agatha Christie. Tampilkan semua postingan

Download Novel Agatha Christie Bahasa Indonesia - Ebook PDF

AGATHA

Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau sering di sebut Agatha Christie adalah seorang penulis kisah misteri yang terkenal didunia dan seorang pengarang yang karyanya paling laku sepanjang masa. Agatha lahir di Torquay, Devon, inggris pada tanggal 15 September 1890 dan meninggal di Oxfordshire, Inggris.

Agatha menerbitkan lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang kebanyakan merupakan kisah detektif, buku-buku nya telah terjual lebih dari satu miliar eksemplar dalam bahasa inggris dan satu miliar lagi dalam 45 bahasa asing termasuk indonesia.

Oke, tak banyak deskripsi tentang Agatha. Di sini saya cuma bisa membagikan 17 novel saja, bukan pelit tapi memang segitu adanya hehe. Silahkan didownload link dibawah ini.

  1. Anjing Kematian
  2. Buku Catatan Josephine
  3. Empat Besar
  4. Gadis Ketiga
  5. Gajah Selalu Ingat
  6. Gerbang Nasib
  7. Malam Tanpa Akhir
  8. Mayat Misterius
  9. Mengail di Air Keruh
  10. Menuju Titik Nol
  11. Misteri di Styles
  12. Pembunuh Dibalik Kabut
  13. Pembunuhan di Lorong
  14. Pembunuhan di Orient Express
  15. Pena Beracun
  16. Perjanjian Dengan Maut
  17. Sepuluh Anak Negro
  18. Pembunuhan ABC


Silahkan didownload dan dibaca dan Terima Kasih telah berkunjung di blog sederhana ini, jika ada link yang rusak silahkan beritahu di kolom komentar :]

10 anak negro agatha christie
agatha christie buku
agatha christie empat besar pdf
agatha christie film dan acara tv
agatha christie musuh dalam selimut pdf
agatha christie pdf gratis
baca novel online gratis agatha christie
cerpen agatha christie
death on the nile
download agatha christie rumah di tepi kanal
download novel agatha christie 1
mawar tak berduri agatha christie pdf
novel agatha christie
novel agatha christie gramedia
novel agatha christie hercule poirot
novel agatha christie terbaik
novel agatha christie tirai
novel agatha christie yang difilmkan
ordeal by innocence
pdf agatha christie
pembunuh di balik kabut agatha christie
sinopsis novel agatha christie
tirai agatha christie pdf

Rumah Gema (The Hollow) By Agatha Christie

Rumah Gema (The Hollow) By Agatha Christie

Pada suatu pagi hari Jumat, jam 06.13, Lucy Angkatell membuka matanya yang biru dan besar lebar-lebar, menyambut satu lagi hari baru. Sebagaimana biasa, ia langsung sadar sepenuhnya, dan segera mulai memikirkan halhal yang diciptakan oleh pikirannya yang luar biasa aktif.  Ia merasa sangat memerlukan tukar pikiran dan percakapan, dan untuk itu dipilihnya saudara sepupunya yang masih muda, Midge Hardcastle. Gadis itu baru semalam tiba di The Hollow. Lady Angkatell cepat-cepat turun dari tempat tidur, mengenakan kimono, lalu pergi ke kamar Midge. Lady Angkatell memiliki jalan pikiran yang cepat dan membingungkan, dan sudah menjadi kebiasaannya untuk menciptakan percakapan-percakapan dalam pikirannya sendiri. Hal itu pun dilakukannya saat itu, dan daya khayalnya yang subur menciptakan jawaban- jawaban dari Midge. Percakapan dalam angan-angannya itu sedang berlangsung dengan hangat-hangatnya waktu Lady Angkatell membuka pintu kamar Midge. ”...Jadi, Sayang, kau terpaksa harus membenarkan bahwa pertemuan akhir pekan ini benar-benar akan menimbulkan kesulitan-kesulitan!” ”Eh? Apa?” gumam Midge sambil menguap. Ia terkejut karena dibangunkan dengan mendadak dari tidurnya yang nyenyak dan nyaman. Lady Angkatell langsung berjalan ke jendela, dan dengan gerakan cepat, membuka semua jendela dan kerai. Sinar fajar yang masih pucat di bulan September itu pun masuk ke kamar. ”Burung-burung itu!” katanya, sambil memandang ke luar dengan perasaan senang. ”Alangkah manisnya.” ”Apa?” ”Yah, pokoknya cuaca tidak akan menyulitkan. Agaknya  cuaca telah menyesuaikan diri dengan baik. Itu bagus. Sebab, kalau beberapa orang yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda-beda terkurung di dalam rumah, aku yakin kau sependapat denganku bahwa itu akan sepuluh kali lebih menyusahkan. Mungkin kita bisa mengadakan beberapa permainan, tapi mungkin hasilnya akan sama seperti tahun lalu. Rasanya aku tak dapat memaafkan diriku sendiri mengenai Gerda yang malang. Setelah peristiwa itu, kukatakan pada Henry bahwa aku memang kurang berpikir panjang. Tapi, yah, kita tentu harus mengundang dia juga, sebab tak mungkin kita bisa mengundang John tanpa mengundang Gerda. Itulah susahnya. Yang paling menyulitkan adalah karena dia begitu baik. Kadang-kadang rasanya aneh sekali, bahwa seseorang sebaik Gerda sama sekali tidak memiliki kecerdasan. Kalau memang itu yang disebut ‘kompensasi’, kurasa itu sama sekali tak adil.” ”Apa sih yang kaubicarakan, Lucy?” ”Tentang pertemuan akhir pekan yang akan dating ini, Sayang. Tentang orang-orang yang akan datang besok. Semalaman aku memikirkannya, dan aku amat terganggu. Jadi aku akan merasa amat lega kalau bisa membicarakannya denganmu, Midge. Kau selalu berpikiran sehat dan praktis.” ”Lucy,” kata Midge dengan ketus, ”tahukah kau jam berapa sekarang?” ”Tepatnya aku tak tahu, Sayang. Kau kan tahu aku tak pernah tahu waktu.” ”Sekarang baru jam enam lewat seperempat.” ”Benarkah itu, Sayang?” kata Lady Angkatell, sama sekali tanpa rasa risi. Midge memandanginya dengan kesal. Gila, benar-benar
tak masuk akal si Lucy ini! Aku benar-benar tak mengerti, bagaimana kami sampai bisa menyesuaikan diri dengannya, pikir Midge! Tapi, selagi berpikiran begitu, ia langsung tahu jawabannya. Lucy Angkatell tersenyum, dan melihat senyumnya, Midge merasakan daya tarik kuat yang memang dimiliki Lucy sejak dulu. Bahkan setelah berumur lebih dari enam puluh tahun pun, daya tarik itu tidak berkurang. Gara-gara daya tarik itulah orang-orang di seluruh dunia, orang-orang asing terkemuka, para ajudan, dan para pejabat pemerintah, rela mengalami hal-hal tak menyenangkan, yang mengesalkan hati, dan membingungkan. Perilakunya yang menyenangkan dan kekanakkanakan menghilangkan semua rasa tak senang dan menghapus semua kritik. Lucy hanya tinggal membuka mata birunya yang besar itu lebar-lebar, dan mengulurkan tangannya yang halus, lalu bergumam, ”Aduh!

Detail Buku:
Judul         : THE HOLLOW (Rumah Gema)
Penulis      : Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978 – 979 – 22 – 8261 – 0
Tebal         : 368 hlm
Download      : Google Drive


Muslihat Dengan Cermin (They Do It With Mirrors)

Muslihat Dengan Cermin (They Do It With Mirrors)

Mrs. Van Rydock berjalan menjauhi cermin sedikit dan menarik napas.”yah, lumayan,” gumamnya. ”Bagaimana pendapatmu, Jane?” Miss Marple mengamati hasil kreasi Lanvanelli itu dengan kagum. ”Menurutku gaunmu indah sekali,” katanya. ”Gaunnya memang lumayan,” kata Mrs. Van Rydock, menarik napas panjang. ”Tanggalkan bajuku, stephanie,” perintahnya. seorang pembantu tua dengan rambut beruban dan mulut kecil yang terkatup rapat menanggalkan gaun itu dengan hati-hati dari lengan-lengan Mrs. Van Rydock yang terentang. Mrs. Van Rydock berdiri di depan cermin, masih mengenakan rok dalamnya yang terbuat dari satin berwarna jingga. sebuah korset melingkari tubuhnya yang indah. Kaki-kakinya yang masih bagus dibalut kaus kaki nilon halus. Wajahnya, yang dipulas kosmetik dan secara berkala dikencangkan dengan pijatanpijatan, nyaris tampak seperti wajah seorang gadis, kalau dilihat dari jarak tidak begitu jauh. Uban di rambutnya masih sedikit, bahkan rambutnya boleh dikatakan ditata sempurna. sungguh tak mngkin melihat rs. Van Rydock dan membayangkan bagaimana rupanya yang alami. semua yang dapat diperoleh dengan uang telah dilakukannya—diet ketat, pijatanpijatan, dan latihan senam yang teratur dan terus-menerus. Ruth Van Rydock memandang temannya. ”Menurutmu, apakah kebanyakan orang akan mengira kau dan aku sesungguhnya seumur, Jane?” Miss Marple menjawab dengan rasa setia kawan. ”Aku yakin mereka takkan mengira sama sekali,” katanya meyakinkan. ”Kukira kau tahu, aku kelihatan sebagaimana mestinya aku pada usiaku ini!” Miss Marple yang sudah beruban semua rambutnya, memiliki seraut wajah lembut kemerahan dan berkeriput, serta sepasang mata biru yang polos. Ia tampak seperti seorang wanita tua yang amat manis. Tak seorang pun akan menjuluki Mrs. Van Rydock seorang wanita tua. ”Kurasa kau benar, Jane,” kata Mrs. Van Rydock. Tiba-tiba ia meringis. ”Dan aku juga. Hanya saja dalam cara yang berbeda. Betapa hebatnya nenek tua itu memelihara kecantikannya. Orang-orang sering berkata begitu tentang diriku. Tapi mereka tahu bahwa sebenarnya aku sudah berumur! Dan, ya Tuhan, sebetulnya aku juga merasa begitu! Ia mengenyakkan diri di kursi yang dilapisi satin tampal. ”Baiklah, stephanie,” katanya. ”Kau boleh keluar.” stephanie mengumpulkan baju itu dan keluar. ”stephanie tua yang baik,” kata Ruth Van Rydock. ”Dia sudah bekerja untukku lebih dari tiga puluh tahun. satu-satunya wanita yang tahu bagaimana tampangku yang sebenarnya! Jane, aku ingin bercakap-cakap denganmu.” Miss Marple memajukan tubuhnya sedikit. Wajahnya menunjukkan kesan siap mendengarkan. Tampaknya ia tak pantas berada di kamar tidur hotel yang mewah dan mahal itu. Ia mengenakan baju hitam yang agak suram dan membawa tas belanja besar. setiap inci penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang lady. ”Aku cemas, Jane. Tentang Carrie Louise.” ”Carrie Louise?” Miss Marple mengulangi nama itu sambil merenung. Nama itu membawa ingatannya jauh ke masa lampau. sebuah pensionnat di Florence. Dirinya, seorang gadis Inggris berwajah kemerahan dari Cathedral Close. Kedua gadis Martin itu, gadis-gadis Amerika, sangat menarik bagi si gadis Inggris, karena gaya bicara mereka yang aneh dan penuh vitalitas serta tingkah laku mereka yang terbuka. Ruth yang jangkung, bersemangat, dan berada di puncak dunia, dan Carrie Louise yang mungil, cantik, dan pendiam. ”Kapan terakhir kau bertemu dengannya, Jane?” ”Oh! sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya. sekitar dua puluh lima tahun mungkin.

Detail Buku:
Judul         :  They Do It With Mirrors
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 979 – 22 – 7232 – 1
Tebal         :
280 hlm
Download      : Google Drive


Pembunuhan di Mesopotamia (Murder In Mesopotamia)

Pembunuhan di Mesopotamia (Murder In Mesopotamia)

Seorang juru rawat sedang merampungkan suratnya di beranda Tigris Palace Hotel di Baghdad. Penanya meluncur di atas kertas surat.
...Nah, kurasa cukup sekian dulu kabar dari sini. Harus kuakui menyenangkan juga dapat melihat-lihat dunia seperti ini, walaupun lnggris tetap yang terbaik bagiku. Kau takkan dapat membayangkan kejorokan dan kesemrawutan kota Baghdad. Yang jelas, jangan membayangkan suasananya romantis bagaikan Kisah 1001 Malam! Pemandangan di tepi sungai memang cantik, tapi kotanya sendiri benar-benar kacau. Bahkan toko yang layak pun tidak ada. Mayor Kelsey mengajakku jalan-jalan ke pasar dan tak dapat disangkal tempat itu kuno dan menarik. Tapi bunyi berisik panci-panci tembaga yang diketuk-ketuk itu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Aku sendiri takkan mau menggunakan panci seperti itu, kecuali aku tahu benar bagaimana cara membersihkannya. Kita harus berhati-hati dengan karat tembaga beracun itu. Aku akan menulis dan mengabarimu lagi kalau ada kelanjutan mengenai pekerjaan yang pernah dibicarakan Dokter Reilly itu. Ia mengatakan pria Amerika itu saat ini sedang berada di Baghdad dan mungkin akan menemuiku sore ini. Itu semua demi istrinya yang menurut Dokter Reilly sering tenggelam dalam khayalan. Ia tidak memberi komentar lebih jauh, tapi sudah tentu kita dapat menebak sendiri apa yang biasanya dimaksudkan dengan ungkapan itu. (Mudah-mudahan saja bukan tukang mengigau.) Dokter Reilly memang tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya itu... Asalkan kau tahu maksudku saja. Doktor Leidner ini arkeolog dan ia melakukan penggalian di gurun pasir entah di mana, untuk sebuah museum Amerika. Baiklah, kuakhiri saja surat ini. Ceritamu tentang si Stubbins kecil benar-benar hebat! Apa saja yang dikatakan Ibu Asrama? Sekarang aku benar-benar akan menutup obrolan ini.
Salam manis,
AMY LEATHERAN

esudah memasukkan surat itu ke amplop, ia mengalamatkannya kepada suster Curshaw, Rumah sakit st. Christopher, London. Ketika ia menutup penanya, seorang pemuda pribumi menghampirinya. ”Ada seorang tuan ingin bertemu Anda. Namanya Doktor Leidner.” suster Leatheran menoleh. Ia melihat pria berperawakan sedang dengan bahu agak bungkuk, jenggot berwarna cokelat, dan sepasang mata yang lembut namun letih. sebaliknya Doktor Leidner melihat wanita berumur sekitar 35 tahun dengan penampilan tegak dan penuh keyakinan. Wajah juru rawat bermata biru dan agak menonjol itu tampak ramah dan dihiasi rambut cokelat
yang mengilat. Menurut pendapatnya, memang begitulah seharusnya penampilan seorang juru rawat yang menangani penderita saraf. Riang, tegap, cerdas, dan terus terang. suster Leatheran orang yang cocok, pikirnya. sAYA tidak ingin menganggap diri saya penulis ataupun
mengerti soal karangmengarang.saya melakukan ini sematamata karena Dokter Reillylah yang meminta. Bagaimanapun juga, orang takkan bisa menolak jika Dokter Reilly memintanya melakukan sesuatu. ”Tapi, Dokter,” saya berkata, ”saya bukan pengarang- sama sekali bukan.” ”Omong kosong!” sergahnya. ”Kerjakan persis seperti kalau Anda membuat catatan kasus pasien saja. Itu kalau Anda suka.” Benar juga. Kita memang dapat memandangnya dari sudut itu. Dokter Reilly melanjutkan ucapannya. Ia berkata sebuah laporan yang apa adanya tentang perkara Tell Yarimjah sangatlah dibutuhkan. ”Kalau orang dalam yang menuliskannya, hasilnya
tidak akan begitu meyakinkan. Orang akan mengatakan kisah itu berat sebelah.”

Detail Buku:
Judul         :  Murder In Mesopotamia
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 979 – 22 – 6675 – 7
Tebal         :
336 hlm
Download      : Google Drive


Mereka Datang ke Baghdad (They Came To Baghdad)

Mereka Datang ke Baghdad (They Came To Baghdad)

Kapten Crosbie keluar dari bank dengan wajah ceria.Ia baru saja menguangkan selembar cek dan mendapatkan bahwa jumlah uang simpanannya masih sedikit lebih banyak dari yang disangkanya semula. Kapten Crosbie kerap merasa puas terhadap dirinya sendiri. Memang begitulah orangnya. Tubuhnya pendek gemuk, kulit mukanya kemerahan, kumisnya kaku seperti militer. Bila sedang berjalan sikapnya kelihatan pongah. Caranya memakai baju sembarangan dan kegemarannya adalah membaca novel-novel manis. Namanya cukup dikenal di kalangannya. Ia periang, baik hati, masih bujangan lagi. Tak ada yang luar biasa tentang dirinya. Di negeri Timur orangorang semacam Crosbie jumlahnya ribuan. Crosbie muncul di Bank Street jalan yang mendapat namanya karena banyaknya bank yang berlokasi di sana. Keadaan di dalam bank dingin, gelap, dan lembap. Riuhnya suara mesin tik melatarbelakangi suasana. Di luar, di sepanjang Bank Street, panas menyengat. Debu beterbangan. Hiruk pikuk jerit dan teriakan memekakkan telinga. Klakson mobil dan motor dibunyikan tanpa henti. Pekikan para pedagang terdengar riuh rendah, masing-masing berusaha menawarkan jualannya. Percakapan dan debat menggemuruh di sana-sini, bagai gerombolan musuh yang ingin saling membunuh. Dalam kenyataannya, mereka adalah sekelompok sahabat dan kerabat dekat. Laki-laki, remaja, dan anak-anak, tampak menjajakan segala macam barang. Dendeng manis, jeruk, pisang, handuk, sisir, pisau cukur, aneka benda yang ditata di atas talam, dijinjing dan ditawarkan ke sana kemari. Terdengar pula suara menjijikkan orang yang berdahak dan meludah sembarangan, ditingkah seruan sendu lakilaki kurus kering yang menggiring keledai dan kuda, terseok-seok di antara arus motor dan pejalan kaki, ”Balek! Balek!” Waktu menunjukkan pukul sebelas pagi di kota Bagdad. Kapten Crosbie menghentikan seorang anak yang berjalan bergegas-gegas membawa setumpuk koran di tangan. Ia membeli selembar lalu membelok di sudut Bank Street dan tiba di Rashid Street yang merupakan jalan protokol kota Bagdad, memanjang sekitar empat mil, sejajar dengan Sungai Tigris. Bawah lengan, kemudian meneruskan langkahnya sampai kira-kira seratus yard. Akhirnya ia berbelok ke sebuah lapangan yang luas. Tak berapa jauh dari sana ia mendorong sebuah pintu berpapan nama tembaga kuning, yang membuka ke sebuah kantor. Seorang karyawan muda, rapi dan berkebangsaan Irak meninggalkan mesin tiknya. Sambil tersenyum anak muda itu menyambutnya dengan ucapan selamat datang. ”Selamat pagi, Kapten Crosbie. Dapatkah saya
Membantu Anda?” ”Tuan Dakin ada di kamarnya? Baik! Kalau begitu saya langsung ke sana.” Ia melewati sebuah pintu, menaiki anak tangga yang curam dan kotor, lalu mengetuk pintu. Terdengar sahutan, ”Masuk!” Sebuah ruangan berlangit-langit tinggi dengan sedikit perabot. Ada kompor minyak dengan cerek air terjerang di atasnya, lalu sebuah kursi rendah berbantalempuk dengan meja kopi kecil di depannya, dan sebuah meja berukuran lebar yang sudah kusam warnanya. Lampunya menyala, menerangi ruangan yang agaknya tak pernah dijamah sinar matahari. Di belakang meja kusam itu, duduk seorang laki-laki yang sama kusamnya, wajahnya letih, seolah-olah tak mampu mengambil keputusan apa pun. Wajah itu menampilkan ekspresi tak peduli sama sekali tak mengacuhkan apa yang terjadi di dunia luar. Crosbie yang periang dan penuh percaya diri serta Dakin yang pemurung, kini saling memandang. Kapten Crosbie melihat sepintas berita utama surat kabar yang dibelinya itu, melipat dan mengepitnya di

Detail Buku:
Judul         : They Came To Baghdad
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9376 - 0
Tebal         :
384 hlm
Download      : Google Drive


Mengungkit Pembunuhan (Five Little Pigs)

Mengungkit Pembunuhan (Five Little Pigs)

HERCULE POIROT memandang dengan tertarik dan kagum wanita muda yang diantar masuk ke ruangannya. Tak ada yang istimewa dalam surat yang telah ditulisnya. Surat itu hanya berisi permintaan untuk bertemu, tanpa menyinggung masalah di balik permintaan itu. Surat yang ringkas dan formal. Hanya kemantapan tulisan tanganlah yang menunjukkan bahwa Carla Lemarchant adalah seorang wanita muda. Dan sekarang ia muncul dalam sosok yang nyata seorang gadis yang jangkung, ramping, dan berusia sekitar dua puluhan. Ia termasuk tipe wanita muda yang tak cukup dipandang hanya sekali. Busananya baik. Ia mengenakan mantel dan gaun berpotongan baik yang mahal serta baju hangat yang mewah dari kulit binatang berbulu. Kepalanya sesuai sekali dengan pundaknya, dahinya persegi, potongan hidungnya menunjukkan bahwa ia orang yang perasa dan dagunya tegak. Tampaknya ia seorang yang periang dan bersemangat. Semangat hidupnya inilah yang tampil lebih menonjol dari dirinya ketimbang kecantikannya. Sebelum kedatangan gadis itu, Hercule Poirot merasa tua sekarang ia merasa menjadi muda kembali energik tegar! Ketika maju menyambutnya, ia sadar bahwa dengan matanya yang kelabu tua gadis itu mengamatinya dengan saksama. Dan itu dilakukannya tanpa sembunyisembunyi. Ia duduk dan menerima rokok yang ditawarkan kepadanya. Setelah rokok itu disulut ia duduk menikmatinya selama semenit, atau dua menit, sambil terus mengamati Poirot dengan saksama, dan dengan pandangan menyelidik. Dengan lembut Poirot berkata, ”Ya, akhirnya Anda harus mengambil keputusan, bukankah begitu?” Ia terkejut. ”Maaf?” Suaranya agak berdesah kedengaran ramah dan menarik. ”Bukankah Anda sedang berpikir mengenai apakah saya hanya seorang tukang obat kaki lima, atau orang yang Anda butuhkan?” Gadis itu tersenyum. Katanya, ”Hmm, ya kira-kira memang demikian. Perlu Anda ketahui, M. Poirot, Anda Anda sama sekali tidak sesuai dengan bayangan saya tentang Anda.” ”Dan saya tua, bukan? Lebih dari yang Anda bayangkan?” ”Ya, itu juga.” Ia ragu-ragu sejenak. ”Saya terus terang saja. Saya ingin saya harus mendapatkan yang terbaik.” ”Percayalah,” ujar Hercule Poirot. ”Saya sungguh yang terbaik!” Carla berkata, ”Anda tidak merendah... Namun demikian, saya cenderung berpegang pada kata-kata Anda.” Poirot berkata dengan tenang, ”Orang, seperti Anda ketahui, tidak melulu mengandalkan ototnya. Saya tidak perlu mencatat dan mengukur bekas tapak kaki, memungut puntung-puntung rokok atau mengamati bilah-bilah rumput yang tertekuk. Saya cukup duduk di kursi saya dan berpikir. Inilah” ia menepuk kepalanya yang berbentuk telur ” ini yang bekerja!” ”Saya tahu,” sahut Carla Lemarchant. ”Itulah sebabnya saya datang kepada Anda. Perlu saya menghendaki Anda, mengerjakan suatu hal yang fantastik!” ”Itu,” sahut Hercule Poirot, ”tentu menarik sekali!” Dengan pandangannya ia menyemangati gadis itu. Carla Lemarchant menghela napas dalam-dalam. ”Nama saya,” katanya, ”bukan Carla, melainkan Caroline. Sama dengan nama ibu saya.” Ia berhenti sejenak. ”Dan walaupun saya selalu menggunakan nama Lemarchant nama keluarga saya yang sesungguhnya adalah Crale.” Dahi Poirot untuk sesaat berkerut. Ia menggumam, ”Crale agaknya saya masih ingat...” Gadis itu berkata, ”Ayah saya seorang pelukis pelukis yang cukup dikenal. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa ia pelukis besar. Saya kira itu benar.” Hercule Poirot berkata, ”Amyas Crale?” ”Ya.” Gadis itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, ”Dan ibu saya, Caroline Crale, dahulu diadili dengan dakwaan telah membunuh Ayah!” ”Aha,” seru Hercule Poirot. ”Saya ingat sekarang tapi hanya samar-samar. Saya sedang di luar negeri waktu itu. Sudah lama sekali.” ”Enam belas tahun,” tegas gadis itu. Wajahnya putih sekali sekarang dan kedua matanya berapi-api. Ia berkata, ”Ia diadili dan dihukum... Ia tidak digantung karena ada beberapa hal yang meringankannya sebab itu, hukuman yang dijatuhkan adalah penahanan seumur hidup. Tetapi ia meninggal hanya setahun setelah diadili. Anda tahu, bukan? Dan peristiwa itu dianggap telah berlalu selesai berakhir...” Poirot berkata dengan lirih, ”Lalu?” Gadis yang bernama Carla Lemarchant itu mengatupkan kedua tangannya. Ia berkata dengan perlahan dan tertahan-tahan, namun dengan tekanan-tekanan yang aneh.

Detail Buku:
Judul         : Five Little Pigs
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 979 – 22 – 8365 – 5
Tebal         :
376 hlm
Download      : Google Drive


The Body In The Library (Mayat Dalam Perpustakaan)

The Body In The Library (Mayat Dalam Perpustakaan)

Sinopsis :
Mrs. Bantry sedang bermimpi. Tanaman kacang polongnya baru saja memenangkan hadiah pertama dalam pameran tanaman. Pak Pendeta, yang mengenakan jubah dinasnya, kini sedang menyerahkan hadiah-hadiah di gereja. Bu Pendeta melewatinya, hanya mengenakan pakaian renang. Tetapi karena kejadian ini hanya sekadar mimpi, busana Bu Pendeta ini tidak menimbulkan kegemparan di antara anggota gereja sebagaimana yang pasti akan terjadi dalam kehidupan yang sesungguhnya Mrs. Bantry benar-benar sedang menikmati mimpinya. Ia memang mempunyai kebiasaan terbuai oleh alam mimpinya di pagi hari, sampai teh paginya dihidangkan, dan pada saat itu buyarlah alam mimpinya Antara sadar dan tidak, samar-samar Mrs. Bantry mendengar bunyi-bunyi kesibukan pagi hari dalam rumah tangganya. Bunyi cincin-cincin tirai yang beradu ketika tirai di dekat anak tangga itu disibakkan oleh pembantu rumah tangganya, bunyi sapu dan sekop yang sedang dipergunakan pembantunya yang kedua di lorong luar, dan di kejauhan terdengar pula bunyi selot pintu depan yang berat dibuka Permulaan suatu hari yang baru lagi. Sementara itu Mrs. Bantry masih ingin dibuai sedikit lebih lama lagi oleh impiannya tentang pameran tanaman itu karena mimpinya ini semakin terasa seperti benarbenar terjadi. Di lantai bawah terdengar bunyi daun-daun jendela yang besar di kamar tamu sedang dibuka. Mrs. Bantry mendengarnya, namun juga seperti tidak mendengarnya. Kurang-lebih setengah jam lagi, bunyi-bunyi kegiatan rumah tangganya ini masih akan berlangsung, bunyi orang-orang yang bekerja dengan hati-hati, pelan-pelan supaya tidak mengganggu. Bagi Mrs. Bantry bunyi-bunyi ini sudah tidak mengganggunya lagi, karena toh sudah begitu dikenalnya. Bunyi- bunyi ini semakin jelas dengan mendekatnya suara langkah kaki orang yang berjalan dengan tergesa-gesa di lorong, suara gemeresik gaun katun, suara lembut cangkir dan piring yang beradu di atas nampan ketika nampan itu diletakkan di meja di luar pintu kamarnya, lalu bunyi ketukan lembut di pintu dan masuknya Mary untuk membukakan tirai kamar tidurnya. Dalam tidurnya, Mrs. Bantry mengernyitkan dahinya. Sesuatu telah membuat penetrasi ke dalam alam mimpinya sesuatu yang mengganggu, sesuatu yang tidak pada tempatnya. Langkah-langkah kaki sepanjang lorong, langkah-langkah kaki yang terlalu tergesagesa dan masih terlalu pagi. Secara tidak sadar telinga nya menantikan bunyi porselen beradu, tetapi suara dentingan porselen yang dinantikan tidak timbul Sekarang ketukan di pintunya telah terdengar. Secara otomatis, dari alam mimpinya, Mrs. Bantry berkata, ”Masuk.” Pintu terbukanah, sekarang tibalah waktunya bunyi cincin-cincin tirai beradu sementara tirai itu disibakkan. Tetapi bunyi cincin-cincin tirai ini tidak dating Dari tempat yang jauh samar-samar terdengar suara Mary terengah-engah, histeris. ”Aduh, Nyonya, aduh, Nyonya, ada mayat dalam perpustakaan.” Dengan suatu ledakan tangis yang histeris, Mary berlari keluar dari kamar itu. Mrs. Bantry terduduk di atas tempat tidurnya. Entah mimpinya yang tiba-tiba berubah aneh, atau atau Mary benar-benar telah menerjang masuk ke kamar itu dan mengatakan (luar biasa! begitu tidak masuk akalnya!) bahwa ada mayat dalam perpustakaan. ”Tidak mungkin,” kata Mrs. Bantry kepada dirinya sendiri. ”Aku tentunya memimpikan semuanya.” Tetapi walaupun dia berkata demikian, dia semakin yakin bahwa dia tidak memimpikannya. Bahwa Mary, pembantunya yang tenang dan cekatan, benar-benar telah mengucapkan kata-kata ajaib itu Mrs. Bantry mengingat-ingat kembali sejenak, kemudian disikutnya suaminya yang masih tidur.

Detail Buku:
Judul         : The Body In The Library (Mayat Dalam Perpustakaan)
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8285 - 6
Tebal         :
288 hlm
Download      : Google Drive


Problem At Pollensa Bay And Other Stories(Masalah Di Teluk Pollensa)

Problem At Pollensa Bay And Other Stories(Masalah Di Teluk Pollensa)

Sinopsis :
KAPAL uap yang berlayar dari Barcelona ke Majorca menurunkan Mr. Parker Pyne di Palma, pagipagi sebelum fajar menyingsing, dan pria itu langsung menghadapi masalah yang tak terbayangkan olehnya. Semua hotel penuh! Yang paling baik yang bisa diperolehnya hanyalah sebuah kamar sempit dan pengap, dengan jendela membuka ke halaman belakang  di sebuah hotel di kawasan pusat kota yang padat. Mr. Parker Pyne tidak siap untuk menginap di tempat seperti itu. Pemilik hotel itu tidak peduli pada rasa kecewa tamunya  ”Apa mau Anda?” tanyanya tak peduli. Palma sekarang menjadi tujuan wisata yang populer! Suasana dan iklim yang berbeda membuat tempat itu disukai wisatawan mancanegara. Setiap orang orang Inggris, orang Amerika—mereka da tang ke Majorca di musim dingin. Seluruh tempat itu penuh orang. Tak diragukan lagi, pria Inggris itu pasti takkan memperoleh penginapan yang layak, kecuali mungkin di Formentor yang mahalnya luar biasa dan karenanya dihindari oleh para wisatawan
asing. Mr. Parker Pyne mengambil kopi dan sepotong rol kue isi daging cincang lalu berjalan keluar untuk memandangi katedral. Sayang, dia sedang tidak bisa menikmati keindahan arsitektur bangunan itu Kemudian dia mengobrol dengan seorang sopir taksi yang ramah, dalam bahasa Prancis yang sesekali dibumbui katakata Spanyol. Mereka mendiskusikan keuntungan dan kemungkinan menginap di Soller, Alcudia, Pollensa, dan Formentor—di sana terdapat hotelhotel yang bagus tetapi sangat mahal Mr. Parker Pyne tergoda untuk bertanya, seberapa mahal tarif hotel hotel itu. Mereka menarik sewa, kata si sopir taksi, yang sangat mahal hingga sepertinya tidak masuk akal dan konyol jika kita membayarnya. Bukankah orang
tahu bahwa orangorang Inggris memilih berlibur ke sini karena hargaharga di sini murah dan masuk akal? Mr. Parker Pyne berkata bahwa itu memang benar, tetapi tolong katakana berapa harga kamar di Formentor? Mahal sekali! Ya tetapi BERAPA TEPATNYA HARGANYA? Akhirnya, sopir itu mau juga menjawab dengan menyebutkan sederet angka Karena baru saja menginap di hotelhotel di Jerusalem dan Mesir, angkaangka itu tidak membuat Mr. Parker Pyne merasa ngeri. Ongkos taksi disepakati, koperkoper Mr. Parker Pyne dimasukkan seenaknya ke dalam taksi, lalu mereka pun berangkat menyusuri pinggiran pulau itu Di tengah perjalanan, mereka berhenti sesekali di hotelhotel kecil yang lebih murah, meskipun tujuan akhir mereka tetap Formentor. Tetapi mereka tak pernah sampai ke tujuan akhir itu, sebab setelah melewati jalanjalan sempit di Pollensa dan menyusuri jalan yang melengkung sepanjang pantai, mereka tiba di depan Hotel Pino d’Oro sebuah hotel kecil yang tegak berdiri di tepi laut Dalam kabut di pagi yang indah itu, pemandangan disekitar Pino d’Oro bagaikan sebuah lukisan Jepang yang sangat halus dan samar. Seketika itu juga Mr. Parker Pyne tahu bahwa hotel ini, dan hanya hotel ini, yang benar benar sesuai dengan keinginannya. Dia menyuruh taksi berhenti, lalu membelok melewati gerbang. Dia berharap akan menemukan tempat menginap yang nyaman. Suamiistri tua pemilik hotel itu tidak mengerti bahasa Inggris maupun bahasa Prancis. Tetapi akhirnya persoalan bisa dibereskan dengan memuaskan Mr. Parker Pyne diberi kamar yang menghadap ke laut, koperkoper diturunkan, sopir taksi memuji penumpangnya karena berhasil menghindari ”hotelProblem

Detail Buku:
Judul         : Problem At Pollensa Bay And Other Stories(Masalah Di Teluk Pollensa)
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 979 – 22 – 7231 – 4
Tebal         :
296 hlm
Download      : Google Drive


Endless Night (Malam Tanpa Akhir) By : Agatha christie

Endless Night (Malam Tanpa Akhir)

Sinopsis:
Akhirku adalah permulaanku Aku sering mendengar kutipan itu. Kedengarannya bagus tapi apa sebenarnya artinya? Apakah memang ada tempat tertentu di mana orang bisa menunjuk dan berkata, ”Semuanya bermula pada hari itu, pada jam sekian, di tempat tertentu dengan kejadian tertentu?” Mungkinkah ceritaku dimulai ketika aku melihat papan yang tergantung di dinding George and Dragon, yang mengumumkan pelelangan properti mahal The Towers, lengkap dengan penjelasan tentang luas tanah, panjang dan lebarnya, serta foto megah The Towers yang kelihatannya diambil semasa jayajayanya properti itu, sekitar delapan puluh atau seratus tahun yang lalu? Waktu itu aku cuma sedang berjalan-jalan santai di sepanjang jalan utama Kingston Bishop, sebuah pat yang tidak ada arti pentingnya sama sekali. Aku sekadar menghabiskan waktu saja. Aku memperhatikan papan pengumuman lelang itu. Mengapa? Takdir yang memberikan pertanda buruk? Atau justru memberikan pertanda keuntungan besar? Terserah Anda pilih yang mana. Atau mungkin juga semua ini bermula saat aku bertemu Santonix, ketika aku mengobrol bersamanya; kalau kupejamkan mataku, bisa kubayangkan pipinya yang kemerah-merahan, matanya yang terlalu cemerlang, dan gerakan-gerakan tangannya yang kuat namun luwes, yang lihai menggambar sketsa dan membuat rencana denah rumah-rumah. Atau sebuah rumah, tepatnya, sebuah rumah yang cantik, yang pasti sangat menyenangkan untuk dimiliki. Keinginanku untuk memiliki rumah rumah yang bagus dan cantik, rumah yang tak pernah kubayangkan bisa kumiliki tiba-tiba merebak ke permukaan. Itulah angan-angan menyenangkan yang menjadi topik obrolan kami, rumah yang rencananya akan dibangun Santonix untukku kalau saja umurnya panjang Sebuah rumah yang dalam mimpiku akan kutinggali bersama gadis yang kucintai, rumah tempat kami akan hidup bersama dan ”bahagia selama-lamanya”, seperti dalam dongeng anak-anak yang konyol. Semuanya angan-angan belaka, mimpi di siang bolong, tapi menimbulkan kerinduan di hatiku—kerinduan akan sesuatu yang rasanya takkan bisa kumiliki  Atau kalau ini sebuah kisah cinta—dan memang ini tidak dimulai dengan saat aku pertama kali melihat Ellie yang sedang berdiri di antara pepohonan cemara tinggi di Gipsy’s Acre? Gipsy’s Acre. Ya, mungkin lebih baik aku memulainya dari sana, pada saat aku beralih dari papan pengumuman lelang itu dengan agak menggigil, karena segumpal awan hitam telah menutupi matahari. Isengiseng aku bertanya pada seorang penduduk setempat, yang saat itu sedang sibuk memotong pagar tanamannya dengan serampangan. ”Bagaimana rupa rumah ini, The Towers?” Masih kuingat jelas wajah aneh pak tua itu, sementara ia melirik ke arahku dan berkata, ”Bukan itu namanya di sini. Nama apa itu?” Ia mendengus tak setuju. ”Sudah bertahun-tahun tidak ada orang tinggal di sana dan menyebutnya The Towers.” Ia mendengus lagi. Aku bertanya padanya, apa namanya sekarang, dan sekali lagi matanya beralih dari diriku di wajah tuanya yang penuh keriput. Ia berbicara tanpa menatapku langsung, cara khas orang pedesaan. Mata mereka biasanya tertuju pada sesuatu di balik bahu kita, atau ke suatu tikungan, seolah-olah mereka melihat sesuatu yang tidak kita lihat; dan ia berkata, ”Di sini orang-orang menyebutnya Gipsy’s Acre.” ”Mengapa begitu?” tanyaku. ”Ada ceritanya. Aku tidak tahu persis. Ada yang bilang begini, ada yang bilang begitu.” Kemudian ia melanjutkan, ”Pokoknya, itu tempat terjadinya kecelakaan-kecelakaan.”

Detail Buku:
Judul         : Endless Night (Malam Tanpa Akhir)
Penulis      :
Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8262 - 7
Tebal         :
304 hlm
Download      : Google Drive


Murder On The Links( Lapangan Golf Maut) by Agatha Christie

Novel Murder On The Links( Lapangan Golf Maut)

Ada lelucon terkenal mengenai seorang pengarang muda. Dia bertekad untuk membuat awal ceritanya menarik dan lain dari yang lain, dalam usahanya untuk menarik perhatian para editor yang paling cerewet. Untuk itu dia telah menulis di awal ceritanya itu, kalimat berikut: ”’Sialan!’ kata wanita bangsawan itu.” Anehnya, kisahku ini diawali dengan cara yang sama. Bedanya, wanita yang mengucapkan kata itu bukan wanita bangsawan! Hari itu adalah suatu hari di awal bulan Juni. Aku baru saja menyelesaikan suatu urusan di Paris, dan sedang berada dalam kereta api pagi dalam perjalananku ke London, tempat aku masih tinggal sekamar dengan sahabat lamaku, seorang mantan detektif Belgia, Hercule Poirot. Kereta api ekspres Calais boleh dikatakan kosong dalam gerbongku bahkan hanya ada seorang penumpang lain. Aku berangkat dari hotel agak tergesa-gesa, dan ketika aku sibuk memeriksa apakah semua barangku sudah terkumpul, kereta api pun berangkat. selama kesibukanku itu aku hampir-hampir tak melihat teman segerbongku, tetapi kini aku benar-benar menyadari kehadirannya. sambil melompat dari tempat duduknya, diturunkannya jendela lalu diulurkannya kepalanya ke luar. sebentar kemudian ditariknya kembali kepalanya sambil berseru dengan keras, ”sialan!” Aku ini orang kolot. Aku berpendirian bahwa seorang wanita harus bersikap kewanitaan. Aku tak sabaran melihat gadis modern yang gila-gilaan, yang berdansa dari pagi sampai malam, merokok tanpa berhenti, dan menggunakan bahasa yang membuat seorang wanita nelayan tersipu-sipu! Maka aku mengangkat mukaku dengan agak mengerutkan dahiku. Terpandang olehku seraut wajah cantik yang menantang tanpa malu. Dia memakai topi kecil yang molek berwarna merah. seuntai rambut ikal berwarna hitam menutupi kedua telinganya. Menurut perkiraaanku, umurnya baru tujuh belas tahun lebih sedikit. Tanpa malu-malu dia membalas pandanganku, lalu meringis. ”Wah, kita telah membuat Bapak yang baik hati itu terkejut!” katanya pada seseorang yang sebenarnya tak ada. ”Maafkan bahasa saya yang buruk! sangat
tak pantas bagi seorang wanita terhormat, saya tahu itu, tapi saya punya alasan untuk itu! saya telah kehilangan satu-satunya saudara perempuan saya.” ”Begitukah?” kataku dengan sopan. ”Malang benar Anda.” ”Beliau tak suka!” kata wanita itu. ”Beliau benarbenar tak suka padaku dan pada saudara perempuanku. sungguh tak adil untuk tidak menyukai kakakku itu, karena beliau belum melihatnya!” Aku membuka mulutku, tetapi dia sudah mendahuluiku. ”Tak usah berkata apa-apa! Tak seorang pun suka pada saya! Biarlah saya menelan kekecewaan ini! saya memang tak beres!” Dia menyembunyikan dirinya di balik surat kabar komik berbahasa Prancis yang besar. sebentar kemudian kulihat matanya mengintip padaku dari tepi atas surat kabar itu. Aku tak dapat menahan senyumku. Dia langsung melemparkan surat kabar itu, lalu tertawa ceria. ”saya sudah menduga bahwa Anda tidaklah segoblok yang saya sangka semula,” katanya. Tawanya menulari diriku, dan mau tak mau aku ikut-ikutan, meskipun aku tak senang mendengar kata ”goblok” tadi. Gadis itu benar-benar tipe gadis yang paling tak kusukai, tapi tak ada alasan mengapa aku lalu harus bersikap tak wajar. Aku mau mengalah. Apalagi dia benar-benar cantik. ”Nah! sekarang kita bersahabat?” kata gadis nakal itu. ”Katakan bahwa Anda kasihan pada kakakku tadi ”Aku kasihan!” ”Begitu sebaiknya!” ”Aku belum selesai. Aku ingin menambahkan bahwa meskipun aku kasihan padanya, aku sama sekali

Detail Buku:­­
Judul         : Murder On The Links
Penulis      : Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 6676 - 4
Tebal         : 340 hlm
Download      : Google Drive