Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Who Rules the World? karya Noam Chomsky PDF

Who Rules the World? karya Noam Chomsky PDF

Detail Buku:

Judul: Who Rules the World?
Penulis: Noam Chomsky
Penerjemah: Eka Saputra
Penerbit: Bentang Pustaka, 2016
ISBN: 978-602-291-288-0
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 413 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 2,09Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Selama setengah abad terakhir, Noam Chomsky, telah banyak menggugat kekuatan gobal yang mengendalikan pilihan masyarakat serta meneliti berbagai kebijakan pemerintah, lembaga negara, dan media-media di Amerika Serikat. Who Rules the World? merupakan investigasi intelektual yang telak dari Chomsky tentang berbagai isu utama pada masa kini. Mulai dari sejarah kelam AS dan Kuba, kebangkitan Tiongkok, konflik di Irak, Afganistan, dan Israel, hingga sanksi terhadap Iran. Chomsky menguak bahwa seruan Amerika soal kebebasan sering bertentangan dengan tindakannya. Sebuah modus operandi kekuasaan imperial pada abad modern. Buku ini adalah bacaan penting untuk memahami bagaimana segala sesuatunya berlangsung. Dengan suara lantang dan pandangan yang cukup jernih.

***

“Buku Chomsky ibarat ... polemik yang dirancang untuk menggugah orang Amerika dari rasa puas diri. Amerika, dalam pandangannya, harus menahan diri, dan dia mengukuhkan pandangannya dengan menggebu .... Kita perlu memahaminya sebagai ajakan untuk mengakhiri kemunafikan Amerika, untuk memperkenalkan dimensi mendasar yang lebih konsisten dalam hubungan Amerika dengan dunia, dan, alih-alih menyombongkan kemurahan hati Amerika, untuk menelaah secara kritis bagaimana sebenarnya pemerintah AS menjalankan kekuasaannya yang masih tak tertandingi.”-The New York Review of Books

“Chomsky adalah fenomena dunia .... Mungkin dialah suara Amerika yang paling banyak didengar soal kebijakan luar negeri di dunia internasional.”-The New York Times Book Review

“Dengan logika yang menghunjam kuat, Chomsky meminta kita untuk menyimak baik-baik apa yang diutarakan para pemimpin kita—dan untuk memperhatikan apa yang mereka lesapkan …. Setuju dengan dia atau tidak, kita akan merugi jika tidak mendengarkannya.”-Business Week

“Bagaimana bisa kita menjadi sebuah imperium? Tulisan-tulisan Noam Chomsky—warga negara Amerika paling berbudi— memberikan jawaban terbaik untuk pertanyaan itu.”-The Boston Globe
   

“Bagi siapa pun yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang dunia tempat kita hidup ... ada satu jawaban sederhana: baca Noam Chomsky.”-New Statesman


Demokrasi Madinah Model Demokrasi Cara Rasulullah

Demokrasi Madinah Model Demokrasi Cara Rasulullah

Detail Buku:

Judul: Demokrasi Madinah Model Demokrasi Cara Rasulullah
Editor: Mohammad Shoelhi
Penerbit: Republika, 2003
ISBN: 979-3210-12-5
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 130 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 1,70Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Umat Islam boleh berbangga karena dunia pertama kali mengenal undang-undang dasar (konstitusi) tertulis dari Dunia Islam. Konstitusi tersebut dirancang oleh pe- negak Islam, Muhammad Rasulullah, dan dikenal luas sebagai Piagam Madinah. Semenjak itu hingga pada zaman modern sekarang, substansi Piagam Madinah telah menjadi spirit bagi pentingnya keberadaan konstitusi sebuah negara.

Keberadaan Piagam Madinah yang monumental itu telah diakui para ahli sejarah baik dari Barat maupun dari Timur. Sejarawan Montgomery Watt menamainya The Constitution of Medina, R.A. Nicholson menyebutnya Charter, Philip K. Hitti menyebutnya sebagai Agreement, Zainal Abidin Ahmad sebagai Piagam dan Majid Khaduri menamainya Treaty.

Piagam Madinah telah menjadi bukti bahwa sebuah tatanan negara atau tatanan hubungan antar-kelompok masyarakat dalam tingkatan apapun membutuhkan adanya sebuah perjanjian atau kesepakatan atau konstitusi yang harus dipatuhi bersama. Tanpa adanya konstitusi, kehidupan bernegara dan bermasyarakat tidak akan teratur. Dalam realitas empiris, seperti dialami oleh sejumlah negara, bahwa untuk mengatur kehidupan masyarakat yang plural selama ini diakui tidak mudah. Namun, menurut catatan sejarah, masyarakat Madinah yang plural dengan berbagai keyakinan dan tradisi yang heterogen itu dapat hidup aman, tertib, teratur dan sejahtera di bawah naungan Piagam Madinah. Lebih jauh lagi, piagam ini mengatur hak dan kewajiban serta sistem hubungan antara pemimpin dan yang dipim pin, antara negara dan rakyat, serta cara penyelesaian konflik­vertikal­dan­horisontal.     

Sayang, wacana tentang Piagam Madinah selama ini kurang banyak diminati, hal ini barangkali   disebabkan oleh terbatasnya data dan informasi tentang Piagam Madinah, selain pukasinya juga sangat terbatas. Oleh karena itu, buku ini diterbitkan sebagai upaya untuk memperbanyak informasi tentang Piagam Madinah agar khalayak luas dapat mengetahuinya. Memang dirasakan ada kebutuhan informasi semacam ini, terlebih ketika masyarakat sibuk kembali mempersoalkan keberadaan konstitusi kita.

Informasi yang disajikan dalam buku ini berasal dari artikel yang pernah diterbitkan oleh harian umum Republika. Penyajian informasi tersebut dalam bentuk buku dirasakan dapat memberikan manfaat lebih besar karena dengan secara demikian masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
   

Lenin. Stalin and Hitler The Age Of Social Catastrophe Penulis Robert Gellately

Lenin. Stalin and Hitler The Age Of Social Catastrophe Penulis Robert Gellately
Detail Buku:
Judul: Lenin. Stalin and Hitler: The Age Of Social Catastrophe
Penulis: Robert Gellately
Alih Bahasa: Rina Buntaran, Fairano Ilyas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011
ISBN: 978-979-22-6729-7
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 922 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 8,0Mb

Deskripsi:

“Sebuah penuturan yang sangat mengesankan tentang tragedi-tragedi yang menimpa dunia selama 50 tahun pertama abad ke-20. Kehebatan buku ini tak seperti karya-karya kebanyakan sejarawan lain yang memperlakukan Lenin sebagai idealis berniat baik adalah Robert Gellately menempatkan Lenin di sisi Stalin dan Hitler sebagai pendiri barbarisme modern.” -RICHARD PIPES, Baird Professor of History Emeritus, Harvard University

***

Nama-nama Lenin, Stalin, dan Hitler akan selamanya dikaitkan dengan arah tragis sejarah Eropa pada paruh pertama abad ke-20. Hanya beberapa minggu setelah Revolusi Rusia, Bolshevik menciptakan kekuatan polisi rahasia yang jauh lebih brutal dibanding yang pernah ada di bawah kekuasaan tsar. Nazi mengikuti dan tak lama setelah berkuasa mendirikan Gestapo yang ditakuti. Di bawah kedua rezim itu, jutaan orang dipenjarakan di kamp konsentrasi, tempat mereka disiksa dan diperbudak sampai mati. Nazi menciptakan kamp- kamp yang diperlengkapi untuk pembunuhan massal jutaan wanita, pria, dan anak berdasarkan kriteria rasial yang bersifat praduga.

Para diktator Soviet dan Nazi itu sendiri adalah produk perubahan struktural yang dipicu oleh Perang Dunia I. Sebelum 1914, mereka hanyalah orang biasa yang sama sekali tidak berpeluang memasuki kancah politik. Hanya dalam mimpilah mereka bisa membayangkan diri sebagai penguasa yang kuat dan pemimpin pergerakan massal. Namun, begitu “monster perang” dikobarkan pada tahun 1914, krisis sosial dan politik yang me-nerpa seluruh Eropa membuka peluang yang sama sekali baru bagi para radikal serta utopis.

Setiap sudut Eropa terjangkiti bencana yang menyelimuti be- nua itu selama tiga dasawarsa berikutnya. Ada dua perang dunia, Revolusi Rusia dan perang saudara, penggulingan kekuasaan oleh pengikut Fasis di Italia, naiknya Nazi ke tampuk kekuasaan, dan Holocaust (pembantaian orang Yahudi oleh Nazi). Selain itu, ada berbagai pemberontakan dan kudeta. Energi gelap yang dipancarkan oleh kebencian, ketakutan, dan ambisi memicu pembunuhan besar-besaran. Jauh lebih banyak kaum militer, dan lebih banyak lagi orang sipil, yang dibantai dibandingkan dalam periode sejarah lain. Buku ini berfokus pada dua kekuatan utama saat itu, Uni Soviet dan Jerman Nazi, tapi menganalisis bencana itu secara global agar bisa mengupas ciri ideologis dan politisnya yang berskala besar. Dari perspektif itu kita bisa melihat bahwa semua tragedi yang dialami Eropa itu sama sekali bukan peristiwa yang saling terpisah. Semua saling terkait dan merupakan bagian dari persaingan sengit antara Komunis dan Nazi dalam perebutan dominasi dunia.

Lenin, Stalin, dan Hitler menuturkan malapetaka sosial dan politik kolosal yang menimpa Eropa antara tahun 1914 dan 1945. Dalam sebuah periode yang nyaris terus bergolak, masyarakat mengalami transformasi oleh dua perang dunia, Revolusi Rusia, Holocaust (pembantaian orang Yahudi oleh Nazi), dan kebangkitan serta kehancuran Third Reich (negara fasis Jerman di bawah pemerintahan Nazi).

Menurut  Robert Gellately, semua tragedi itu sangat saling berkaitan dengan tiga tokoh utama di periode itu—Lenin, Stalin, dan Hitler. Pemerintahan diktator mereka dikupas dari sisi sosial dan sejarah, dan kesamaan serta perbedaan ketiganya dicatat dengan cermat. Buku ini menelusuri eskalasi konflik antara Komunisme dan Naziisme, khususnya peranan kebencian Hitler pada apa yang disebutnya “Bolshevisme Yahudi”.

Lenin, Stalin, dan Hitler  menunjukkan betapa persaingan sengit antara Stalin dan Hitler akhirnya memicu perang pemusnahan dan genosida. Gaung pergolakan raksasa itu masih dirasakan di mana-mana sampai saat ini.

Baca selengkapnya »

Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto Penulis Haji Salim Said PDF

Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto Penulis Haji Salim Said PDF

Detail Buku:

Judul: Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto
Penulis: Haji Salim Said
Penerbit: Mizan, 2015
ISBN: 9789794339053
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 201 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,02Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) 1965 adalah peristiwa besar yang mengubah sejarah Indonesia. Meski telah lewat setengah abad, Gestapu masih mengubah diselimuti kabut misteri dan pertanyaan. Buku ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan literatur sejenis, karena penulisnya menyaksikan langsung situasi di seputar Gestapu. Selain itu, sebagai akademisi, dia mengasai alat analisis dan kesempatan mempelajari dokumen dan literatur langka.

Dalam buku ini,penulis menjawab bermacam kontroversi secara berimbang serta berusaha menjawab pertanyaan terpenting: Siapa dalang sebenarnya dari Gestapu: Sukarno, Soeharto, atau Aidit?


***

"Bung Salim, menuliskan kesaksiannya tentang peristiwa sejarah yang super misterius ini, dengan gaya yang amat menarik dan memukau tentang 3 tokoh sentral di sekitar Peristiwa G-30-S, Kesan saya dari membaca buku ini: Lebih baik menyalahkan seorang Aidit daripada PKI sebagai keseluruhan partai" - Asahan Alham Aidit (Seorang eksil Indonesia yang menetap di Amsterdam)

"Meski setengah abad telah lewat, misteri siapa yang membunuh enam jendral Angkatan Darat pada 1 oktober 1965 belum terungkap seluruhnya. Buku ini menawarkan analisis paling meyakinkan yang pernah saya baca. Berkat pengalaman pribadi selaku wartawan pada masa itu serta ilmuwan politik yang mengikuti dari dekat peran politik militer selama puluhan tahun, penulis menjelaskan dengan jitu dan cermat peran yang kemungkinan besar dimainkan para aktor penting, terutama Sukarno, Aidit, Syam, Latif, Soeharto" - R. William Liddle (Profesor Emeritus Ilmu Politik, Ohio State University

"Dalam kaitan memperingati 50 tahun kegagalan Gestapu, saya mengusulkan agar Prof, Dr Salim Said memperdalam, memperluas, dan memperinci satu bagian dari bukunya yang terdahulu. Buku ini adalah hasilnya. Salim Said adalah salah satu saksi sejarah yang perlu menuliskan apa yang dialaminya. Rasa ingin tahunya kuat, ketajaman analisisnya, posisinya dan sudut pandang yang tepat, menjamin buku ini layak dibaca." - Salahuddin Wahid ( Pengasuh Pesantren Tebuireng)
Baca selengkapnya »

Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto Penulis Haji Salim Said PDF

Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto Penulis Haji Salim Said PDF

Detail Buku:

Judul: Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto
Penulis: Haji Salim Said
Penerbit: Mizan, 2015
ISBN: 9789794339053
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 201 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,02Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) 1965 adalah peristiwa besar yang mengubah sejarah Indonesia. Meski telah lewat setengah abad, Gestapu masih mengubah diselimuti kabut misteri dan pertanyaan. Buku ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan literatur sejenis, karena penulisnya menyaksikan langsung situasi di seputar Gestapu. Selain itu, sebagai akademisi, dia mengasai alat analisis dan kesempatan mempelajari dokumen dan literatur langka.

Dalam buku ini,penulis menjawab bermacam kontroversi secara berimbang serta berusaha menjawab pertanyaan terpenting: Siapa dalang sebenarnya dari Gestapu: Sukarno, Soeharto, atau Aidit?


***

"Bung Salim, menuliskan kesaksiannya tentang peristiwa sejarah yang super misterius ini, dengan gaya yang amat menarik dan memukau tentang 3 tokoh sentral di sekitar Peristiwa G-30-S, Kesan saya dari membaca buku ini: Lebih baik menyalahkan seorang Aidit daripada PKI sebagai keseluruhan partai" - Asahan Alham Aidit (Seorang eksil Indonesia yang menetap di Amsterdam)

"Meski setengah abad telah lewat, misteri siapa yang membunuh enam jendral Angkatan Darat pada 1 oktober 1965 belum terungkap seluruhnya. Buku ini menawarkan analisis paling meyakinkan yang pernah saya baca. Berkat pengalaman pribadi selaku wartawan pada masa itu serta ilmuwan politik yang mengikuti dari dekat peran politik militer selama puluhan tahun, penulis menjelaskan dengan jitu dan cermat peran yang kemungkinan besar dimainkan para aktor penting, terutama Sukarno, Aidit, Syam, Latif, Soeharto" - R. William Liddle (Profesor Emeritus Ilmu Politik, Ohio State University

"Dalam kaitan memperingati 50 tahun kegagalan Gestapu, saya mengusulkan agar Prof, Dr Salim Said memperdalam, memperluas, dan memperinci satu bagian dari bukunya yang terdahulu. Buku ini adalah hasilnya. Salim Said adalah salah satu saksi sejarah yang perlu menuliskan apa yang dialaminya. Rasa ingin tahunya kuat, ketajaman analisisnya, posisinya dan sudut pandang yang tepat, menjamin buku ini layak dibaca." - Salahuddin Wahid ( Pengasuh Pesantren Tebuireng)
Baca selengkapnya »

Garut Kota Illuminati Penulis Ahmad Yanuana Samantho PDF

Garut Kota Illuminati Penulis Ahmad Yanuana Samantho PDF

Detail Buku:

Judul: Garut Kota Illuminati
Penerbit: Ufuk Publishing, 2013
ISBN: 978 602 7689 47 3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 492 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 7,81Mb

Deskripsi:

ADA APA DENGAN GARUT? Bukankah kota itu terkenal dengan cetakan para ulama dan santrinya? Bukankah kota di tataran pasundan itu justru memiliki salah satu Masjid tertua di Nusantara? Lalu bagaimana bisa menjadi sarang Illuminati? Sejauh manakah keterlibatannya dalam konspirasi yang belum menemui akhir ini? Lalu ada apa dengan Gunung Sadahurip? Apakah benar bangunan raksasa itu bukanlah gunung, melainkan piramid? Untuk apa ada piramida di kota itu?

"Ditemukannya wujud piramida, punden berundak, candi purba dan sebagainya yang berserakan di banyak pelosok Nusantara, selama ini disikapi rasa bangga dan kagum. Namun dengan terbitnya buku ini, mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa itu adalah mahakarya Para Penantang Tuhan". -Viddy ad-Daery, Seorang Atlantean, Budayawan, dan Pengurus Besar Yayasan Kertagama.

Melalui buku ini, penulis coba mengungkap segala keterlibatan Illuminati di bagian timur belahan bumi ini. Gerakan yang sebenarnya berawal dari ajaran kebijaksanaan kuno perennial--terkait dengan ajaran Nabi Idris atau Hermes Trimegistus, dan lainnya--banyak meninggalkan jejak Budaya Universal di Nusantara. Buku ini berusaha melacak jejak tersebut, dan merupakan penelitian pendahuluan, untuk mengungkap dan memahami benang merah sejarah luhur Peradaban Nusantara, dalam konteks historis global tersebut, problema dan kontestasinya hingga Indonesia kontemporer.



Sejarah ISIS dan Illuminati Penulis Ahmad Yanuana Samantho

Sejarah ISIS dan Illuminati Penulis Ahmad Yanuana Samantho

Detail Buku:

Judul: Sejarah ISIS dan Illuminati
Penulis: Ahmad Yanuana Samantho
Penerbit: Ufuk Publishing, 2014
ISBN: 978 602 7689 80 0
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 374 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 12,0Mb

Deskripsi:

Banyak orang beranggapan bahwa konflik di wilayah Timur Tengah selama ini semata-mata terjadi akibat ulah dan tipikal bangsa Arab. Hingga saat ini masih banyak pengamat yang secara tidak tuntas menemukan akar permasalahan sebenarnya. Konflik pun akhirnya menunjuk kepada tarik ulur beberapa negara yang memainkan peranan penting di sana, sebut saja Arab Saudi, Israel, Kuwait, Iran, Irak dan Suriah. Itulah mengapa konflik tidak pernah usai dan semakin hari semakin mengkhawatirkan. Mulai perang Irak-Iran awal 80an, Perang Teluk awal 90an, Gerakan Taliban, Al Qaeda, invansi AS ke Irak hingga Arab Spring, dan kini begitu mencengangkannya fenomena ISIS/ISIL. Wilayah itu pun menjadi tanpa pernah ada kata damai. Bergejolak setiap saat dan meminta jutaan nyawa sebagai tumbalnya.

Serangkaian bukti otentik dan tulisan para jurnaalis secara investigatif menemukan segala sesuatunya berawal dari Zionis. Zionis sendiri memiliki bentuk gerakan tersembunyi seperti Iluminati, gerakan humanisme seperti Fremasonry, dan gerakan elit politik yang disebut sebagai Secret Society. Uniknya, pengungkapan mengenai gerakan tersembuyi ini justru kali pertama dilakukan oleh orang-orang Barat sendiri demi melindungi gerejanya dari Zionis. Karena Zionis tidak hanya mengadu-domba orang Islam dan bangsa Arab, tetapi siapapun manusia selain Yahudi yang terpilih akan menjadi objek konspirasi.

Fenomena ISIS dengan cita-cita Daulah Islamiyah-nya pun diyakini sebagai sebuah alat yang dimainkan zionis terutama untuk memporakporandakan bangunan dan kesatuan umat Islam. Mungkin banyak orang berpikir sesungguhnya gerakan radikal dan intelorasi semacam ISIS ini hanyalah fenomena yang muncul begitu saja tanpa memiliki ikatan terselubung dengan tatanan dunia baru (New World Order) dan praktik penyembahan setan (Iluminati). Sayangnya hal itu mudah terbantahkan, bahkan mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Irak and Syria (ISIS) merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga negara. Dikutip dari Global Research - sebuah organisasi riset media independen di Kanada - Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS, dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah negara khalifah baru yang disebut dengan ISIS. Snowden mengungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstremis di seluruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama ‘sarang lebah’.

Dokumen NSA yang dirilis Snowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan menciptakan slogan Islam. Berdasarkan dokumen tersebut, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah menciptakan musuh di perbatasan.

Baca selengkapnya »

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto Penulis Haji Salim Said

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto Penulis Haji Salim Said

Detail Buku:

Judul: Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto
Penulis: Haji Salim Said
Penerbit: Mizan, 2016
ISBN: 978-979-433-952-7
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 390 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 5,49Mb

Deskripsi:

Buku ini mencatat kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana cara Soeharto menguasai tentara. Jenderal Ahmad Kemal Idris, Jenderal H.R. Dharsono, Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, Jenderal Sumitro, Jenderal Ali Murtopo, Jenderal Benny Moerdani, dan banyak lagi lainnya, adalah tokoh-tokoh yang pada suatu titik dalam perjalanan karier militer mereka dipersepsikan Soeharto sebagai potensi yang mengancam kekuasaan sang Presiden. Dan karena itu sesegera mungkin disingkirkan dari pendopo kekuasaan.

Para jenderal secara perlahan-lahan akhirnya memang sadar terhadap taktik dan strategi Soeharto membangun, memperkokoh, dan melanggengkan kekuasaannya. Namun, Soeharto sudah menguasai posisi sebagai Presiden dan pemimpin tertinggi yang secara perlahan tetapi ketat mengontrol tentara. Para jenderal terlambat menyadari agenda Soeharto yang berbeda dari rencana para petinggi militer tersebut. Ketika para jenderal mulai menyadari kenyataan sebenarnya setelah bertahun-tahun berada dalam kesadaran palsu (false consciousness), Soeharto sudah telanjur makin kuat dan kecanggihan politiknya sudah bukan tandingan bagi para jenderalnya.

Kumpulan tulisan dalam buku ini membahas secara saksama sebisa mungkin interaksi dan ketegangan selama hampir 30 tahun antara Soeharto dan para jenderalnya. Penting diperhatikan, semua ketegangan itu berakhir dengan kemenangan Soeharto.
Baca selengkapnya »

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto Penulis Haji Salim Said

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto Penulis Haji Salim Said

Detail Buku:

Judul: Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto
Penulis: Haji Salim Said
Penerbit: Mizan, 2016
ISBN: 978-979-433-952-7
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 390 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 5,49Mb

Deskripsi:

Buku ini mencatat kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana cara Soeharto menguasai tentara. Jenderal Ahmad Kemal Idris, Jenderal H.R. Dharsono, Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, Jenderal Sumitro, Jenderal Ali Murtopo, Jenderal Benny Moerdani, dan banyak lagi lainnya, adalah tokoh-tokoh yang pada suatu titik dalam perjalanan karier militer mereka dipersepsikan Soeharto sebagai potensi yang mengancam kekuasaan sang Presiden. Dan karena itu sesegera mungkin disingkirkan dari pendopo kekuasaan.

Para jenderal secara perlahan-lahan akhirnya memang sadar terhadap taktik dan strategi Soeharto membangun, memperkokoh, dan melanggengkan kekuasaannya. Namun, Soeharto sudah menguasai posisi sebagai Presiden dan pemimpin tertinggi yang secara perlahan tetapi ketat mengontrol tentara. Para jenderal terlambat menyadari agenda Soeharto yang berbeda dari rencana para petinggi militer tersebut. Ketika para jenderal mulai menyadari kenyataan sebenarnya setelah bertahun-tahun berada dalam kesadaran palsu (false consciousness), Soeharto sudah telanjur makin kuat dan kecanggihan politiknya sudah bukan tandingan bagi para jenderalnya.

Kumpulan tulisan dalam buku ini membahas secara saksama sebisa mungkin interaksi dan ketegangan selama hampir 30 tahun antara Soeharto dan para jenderalnya. Penting diperhatikan, semua ketegangan itu berakhir dengan kemenangan Soeharto.
Baca selengkapnya »

Mengapa Partai Islam Kalah Penulis Gusdur, Nurcholish Madjid, dkk

Mengapa Partai Islam Kalah Penulis Gusdur, Nurcholis Madjid, dkk

Detail Buku:

Judul: Mengapa Partai Islam Kalah
Penulis: Gusdur, Nurcholis Madjid, Yusril Ihza Mahendra, dkk
Penerbit: Alvabet, 2002
ISBN: 979-3064-01-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 398 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 4,09Mb

Deskripsi:

Kekalahan partai-partai Islam benar-benar telak. Dari 17 parpol islam yang lolos seleksi pemilu 1999, hanya PPP yang meraih suara signifikan. Perolehan PBB jauh di bawah dugaan. Partai Keadilan hanya mendapat 7 kursi DPR, dan bakal terlikuidasi untuk pemilu 2004.

Apa yang sedang terjadi di negeri Muslim terbesar di dunia ini? Mengapa Islam kurang kuat sebagai azas formal? Mengapa mayoritas Muslim justeru mendukung partai-partai Nasionalis- Kristen dan sekular? Benarkah umat Islam makin kurang percaya bahwa aspirasi mereka akan diakomodasi partai-partai islam; dan makin yakin aspirasi itu akan lebih terakomodasi oleh partai-partai non-Islam?

Mungkin hasil pemilu ini sinyal yang jelas bahwa mayoritas Muslim sudah tak lagi menganggap penting simbol-simbol Islam dalam politik, dan lebih peduli pada substansi.

***

Berpikir tanpa azas Islam dalam periuangan, bukanlah sesuatu yangditentang oleh Islam” -Abdurrahman Wahid

“Sebagai agama, Islam tidak akan kalah.... Orang Islam lebih efektif menjadi oposisi sambil belajar untuk menjadi berkuasa....” -Nurcholish Madjid

“Kalau Habibie dan Megawati dicoba dulu... itu seperti mengurus warteg di pinggir jalan.” -Amien Rais

“...Mereka kalah terhadap keinginan mereka sendiri, bukan kekalahan yang objektif... munculnya 20 partai politik Islam itu... kelebihan karena bermimpi....” -Mitsuo Nakamura

“...Baik partai-partai Islam maupun PDI-P yang mengidap penyakit 'Mitos Jumlah Terbesar' perlu memikirkan betul langkah-langkahnya.... Berpikirlah jauh ke depan menuju Indonesia Baru.” -Kuntowijoyo
Baca selengkapnya »

Mengapa Partai Islam Kalah Penulis Gusdur, Nurcholish Madjid, dkk

Mengapa Partai Islam Kalah Penulis Gusdur, Nurcholis Madjid, dkk

Detail Buku:

Judul: Mengapa Partai Islam Kalah
Penulis: Gusdur, Nurcholis Madjid, Yusril Ihza Mahendra, dkk
Penerbit: Alvabet, 2002
ISBN: 979-3064-01-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 398 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 4,09Mb

Deskripsi:

Kekalahan partai-partai Islam benar-benar telak. Dari 17 parpol islam yang lolos seleksi pemilu 1999, hanya PPP yang meraih suara signifikan. Perolehan PBB jauh di bawah dugaan. Partai Keadilan hanya mendapat 7 kursi DPR, dan bakal terlikuidasi untuk pemilu 2004.

Apa yang sedang terjadi di negeri Muslim terbesar di dunia ini? Mengapa Islam kurang kuat sebagai azas formal? Mengapa mayoritas Muslim justeru mendukung partai-partai Nasionalis- Kristen dan sekular? Benarkah umat Islam makin kurang percaya bahwa aspirasi mereka akan diakomodasi partai-partai islam; dan makin yakin aspirasi itu akan lebih terakomodasi oleh partai-partai non-Islam?

Mungkin hasil pemilu ini sinyal yang jelas bahwa mayoritas Muslim sudah tak lagi menganggap penting simbol-simbol Islam dalam politik, dan lebih peduli pada substansi.

***

Berpikir tanpa azas Islam dalam periuangan, bukanlah sesuatu yangditentang oleh Islam” -Abdurrahman Wahid

“Sebagai agama, Islam tidak akan kalah.... Orang Islam lebih efektif menjadi oposisi sambil belajar untuk menjadi berkuasa....” -Nurcholish Madjid

“Kalau Habibie dan Megawati dicoba dulu... itu seperti mengurus warteg di pinggir jalan.” -Amien Rais

“...Mereka kalah terhadap keinginan mereka sendiri, bukan kekalahan yang objektif... munculnya 20 partai politik Islam itu... kelebihan karena bermimpi....” -Mitsuo Nakamura

“...Baik partai-partai Islam maupun PDI-P yang mengidap penyakit 'Mitos Jumlah Terbesar' perlu memikirkan betul langkah-langkahnya.... Berpikirlah jauh ke depan menuju Indonesia Baru.” -Kuntowijoyo
Baca selengkapnya »