Tampilkan postingan dengan label Stephanie Zen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stephanie Zen. Tampilkan semua postingan

Badminton Freak by Stephanie Zen

Badminton Freak by Stephanie Zen

AKU melonjak-lonjak girang begitu bangun pagi ini. Hari ini, turnamen Thomas dan Uber Cup 2008 bakal dimulai! Yeeeesssss! For your information nih, Thomas-Uber Cup adalah kejuaraan beregu bulutangkis. Thomas  untuk cowok, Uber untuk cewek. Diselenggarakannya tiap dua tahun sekali, dan kebetulan tahun ini diadakan di Indonesia! Aku bener-bener excited menyambut turnamen tahun ini. Soalnya, gengsi Thomas-Uber itu selevel dengan Olimpiade. Of course, aku berniat bakal nonton langsung di Istora Senayan. Apa gunanya tinggal di Jakarta dan jadi badminton mania kalau aku melewatkan event kali ini? Jam satu siang, Papa mengantarku ke halte busway blok M. Aku memang berinisiatif untuk naik bus Transjakarta dari sini sampai halte Senayan. Soalnya, kasihan Papa kalau harus mengantarku sampai Istora. Rumahku kan di Bintaro, yang lumayan jauh dari Senayan. Bakal boros bensin banget, kan? Ingat global warming cuy, lebih baik menggunakan transportasi umum. Di halte busway Senayan aku turun, dan ternyata Wilson, Charles, serta Sharleen sudah stand by di sana. Kami memang janjian ketemu di sini, baru ke Istora bareng-bareng. Waktu kami sampai di Istora, ternyata suasananya nggak begitu rame. Mungkin karena masih babak pertama kali ya? Kami beli tiket di loker dan langsung masuk. Partai pertama (tunggal putri) antara Indonesia dan Jepang bakal dilangsungkan sebentar lagi, antara Maria Kristin Yulianti dan Eriko Hirose. Aku duduk di salah satu tribun, dan jumpalitan sendiri selama pertandingan. Aku memang agak norak kalau nonton bulutangkis, bisa jerit-jerit sendiri. Orang rumah suka rese kalau lihat aku nonton bulutangkis di TV, karena aku suka tegang dan histeris berlebihan. Kayak terlalu menghayati, gitu. Tapi sebodo amat, nggak pernah dengar namanya orang nge-fans, ya? Toh aku nggak pernah protes juga kalau Claudia, adik cewekku yang masih SMP itu, heboh nonton Nidji di TV. Dan aku juga nggak pernah ngomel kalau Lionel norak nonton Barney, padahal, please deh, itu kan cuma boneka dinosaurus! Jadi, mana yang lebih wajar: histeris karena nonton pertandingan olahraga, atau karena nonton Nidji dan Barney? Nah, balik lagi ke pertandingan live di hadapanku sekarang. Maria Kristin akhirnya harus menyerah melawan Jepang. Walaupun dia berhasil merebut game pertama, dia kalah di dua game selanjutnya. Aku lesu, tapi tetap optimis Indonesia bakal bisa merebut partai berikutnya. Hmm, kujelaskan sedikit lagi. Di babak penyisihan Uber Cup ini akan ada lima partai yang dipertandingkan antar dua negara. Pertama, tunggal putri, lalu ganda putri, terus tunggal lagi, ganda lagi, dan terakhir tunggal lagi (untuk Thomas Cup sama, hanya saja yang main cowok). Yang berhasil merebut tiga partai duluan, dia yang menang. Tapi biasanya untuk penyisihan akan dimainkan sampai habis lima partai. Kalau sudah sistem gugur, seperti babak perempat final, semifinal, dan final, pertandingan diakhiri kalau ada tim yang sudah merebut tiga partai duluan, jadi kalau sudah ada yang kedudukannya 3-0 atau 3-1, ya partai berikutnya nggak usah dimainkan lagi, karena sudah jelas siapa yang melaju ke babak berikutnya, kan? sekarang partai kedua, ganda putri. Indonesia menurunkan Vita Marissa/Lilyana Natsir. Asal tahu aja, kedua orang ini sebenarnya bukan pemain ganda putri, tapi ganda campuran. Dan bukan ganda campuran ecek-ecek juga. Vita bersama Flandy Limpele ada di peringkat tiga dunia. Lilyana jangan ditanya, dia berhasil menduduki posisi puncak bersama Nova Widianto. Hanya saja, aku nggak tahu kenapa tiba-tiba dua pemain cewek ganda campuran ini dipasangkan jadi ganda putri. Kesannya kayak coba-coba banget, gitu. Tapi kalau aku nggak salah, mereka justru berhasil meraih juara di China Open tahun lalu! Weits, baru dipasangkan, tahu-tahu juara. Siapa yang nggak kagum? Sudah menjadi rahasia umum, prestasi pebulutangkis putri Indonesia sangat jeblok belakangan ini. Di Olimpiade 2004, kita bahkan nggak mengirimkan wakil di sektor putri sama sekali. Aku miris banget waktu melihatnya, karena seolah kita sudah nggak punya harapan lagi dari sektor putri sejak pensiunnya Susi Susanti dan hijrahnya Mia Audina ke Belanda. Tapi untunglah, tim Uber Indonesia bisa lolos ke putaran final kali ini. Kayaknya mereka memang nggak ditarget terlalu tinggi. Mungkin berhasil sampai perempat final pun sudah bagus. Ya iyalah, secara tahun 2006 kita bahkan nggak lolos kualifikasi! Jadi kali ini berhasil masuk penyisihan pun udah lumayan. Aku dan Sharleen bengong-bengong tegang sewaktu melihat Vita/Lilyana melawan Satoko Suetsuna/Miyuki Maeda. Buset, mereka memang layak banget menjuarai China Open tahun lalu. Permainan mereka keren banget, defense-nya bak tembok, dan smash-smash-nya, omaigaatttt... are they really women? Tenaga mereka kayak mesin giling! dan tiba-tiba aku seperti tersadar... Pak Richard waktu itu benar. Aku memang mengalahkan Sharleen, Wilson, dan Charles, tapi semua seranganku penuh emosi, gara-gara aku lagi kesal sama Albert. Sedangkan sejuta serangan yang dilancarkan Vita/Lilyana sangat terkontrol. Kelihatan sekali mereka pebulutangkis profesional, mainnya nggak pakai emosi, tapi pakai otak. Mendadak, aku jadi merasa bersalah banget, sudah membantah Pak Richard waktu itu.

Detail Buku:
Judul         : Badminton Freak!
Penulis      : Stephanie Zen
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive



Dylan, I Love You! by Stephanie Zen

Dylan, I Love You! by Stephanie Zen

 “JADI, lagunya apa nih? Harus yang berhubungan sama persahabatan lho!” Jerry, ketua kelasku, mengoceh di depan whiteboard. Sebelah tangannya menggenggam spidol yang tutupnya terbuka, mengeluarkan bau tinta yang tajam. “Lagunya itu aja, yang judulnya Graduation, Friends Forever itu!” Sisca berteriak dari bangku depan. Jerry mengedikkan bahunya, lalu menoleh meminta persetujuan wali kelas kami, Bu Emmy. Beliau mengangguk, jadi Jerry menuliskan Graduation, Friends Forever besar-besar di papan tulis. Oh ya, namaku Alice, lengkapnya Alice Henrietta Hawkins. Sebelah alismu pasti terangkat gara-gara membaca namaku, ya? Yup, aku memang bule. Setengah bule, tepatnya, dan itu salah satu alasan kenapa aku sebal banget nget nget sama hidupku! Bokapku orang Australia, kalau nyokap blasteran Jawa-Cina. Sayangnya, ingredients yang bagus itu ternyata nggak membuat aku jadi cantik kayak Nadine Chandrawinata atau Julie Estelle. Aku pesek, pendek, dan jerawatan. Ditambah lagi, rambutku warnanya kusam kayak baju yang sudah bulukan. Pokoknya, penampilanku bisa digambarkan dengan satu kata: menyedihkan. Aku sekarang duduk di kelas satu di SMA Harapan, salah satu SMA di Jakarta. Aku bukan anak populer, tapi juga bukan nerd yang doyannya mojok di perpus tiap jam istirahat. Yah... pokoknya aku termasuk golongan netral deh, satu hal yang membuatku nggak pernah jadi istimewa di antara ratusan murid lainnya di sekolah ini. “Hoi, ngelamun mulu!” Grace, teman sebangkuku, menyikuku keras. “Lo kasih saran dong mau nyanyi lagu apa?” Ah, ya. Sekarang ini kelasku lagi mengadakan rapat kelas untuk memutuskan kami bakal menyanyikan lagu apa di pesta kelulusan anak-anak senior. Aturannya, setiap angkatan harus menyumbang satu penampilan, dan kelasku terpilih mewakili kelas satu untuk ngeband. Tapi, sampai sekarang kami belum tahu mau membawakan lagu apa, padahal acara kelulusan itu tinggal tiga minggu lagi! “Emangnya lagu apa aja sih yang udah diusulkan?” Aku mendongak menatap whiteboard. Jerry sudah menuliskan beberapa judul lagu hasil usul anak-anak sekelas di sana.

1. Graduation, Friends Forever Vitamin C
2. Untuk Sahabat Audy feat. Nindy
3. Pengyou gak tau penyanyinya siapa
4. Sahabat Peterpan
.
“Hmm... apa ya? Gue bilang sih udah bagus tuh pilihan lagunya. Jadi nyanyi berapa lagu?”  tanyaku ke Grace. “Katanya sih mau dua aja, tapi gue nggak sreg tuh sama pilihan lagunya.” Grace merengut, bersedekap. “Emangnya lo mau ngusulin lagu apa?” “Hehe... nggak tau.” Dia nyengir, memamerkan gigi-giginya yang dipasangi behel. Aku menopang daguku dengan tampang nggak berminat. Gila, anak-anak kelasku memang hobi banget bikin segala sesuatu dengan persiapan minim, selalu dibuat menjelang detik terakhir Kayaknya nggak bakal ada satu pun alumnus kelas ini yang jadi pemilik EO suatu saat nanti. Kalaupun ada, pasti EO itu bakal kacau-balau. “Alice,” tiba-tiba Bu Emmy memanggilku, “kamu ada ide?” Ups. Aku menatap whiteboard dengan mata membesar, berharap satu judul lagu bakal muncul di kepalaku. Aku ogah banget kelihatan culun di depan seisi kelasku. “Mmm...,” aku menggumam, “saya...” Dan tiba-tiba saja, lagu itu melintas di kepalaku! Lagu yang kudengar di radio dalam perjalanan ke sekolah tadi pagi! “Bagaimana kalau lagunya Skillful?” Alis Bu Emmy terangkat, dan aku maklum banget melihatnya. Mungkin beliau nggak tahu bahwa Skillful itu nama band. “Skillful?” Jerry menatapku bingung. “Yang judulnya apa?” “Eh...” Otakku berusaha keras mengingat judul lagu itu. “Tetap Sahabatku?” “Yang kayak apa sih lagunya?” Kali ini Sisca menoleh dari bangkunya dan menatapku juga. “Oh, yang ini nih,” aku mulai menyanyikan sepotong refreinnya, “kau masih tetap sahabatku... biar kita terpisah waktu... tapi ku kan s‟lalu mengenangmu... mengingat dan menjagamu...” Senyap. Aku langsung mencelos. Gawat, kenapa tadi aku pakai nyanyi segala? Omigod, pasti aku tadi kelihatan tolol banget! Sekarang tatapan anak-anak sekelasku menghunjam seolah aku ini hewan yang hamper punah. Sebentar lagi pasti bakal terjadi hal yang membuatku menyesal dilahirkan. “Bageeeesssss...! Lo aja yang jadi vokalisnya, Lice!” seru Oscar, cowok jangkung yang sudah terpilih sebagai gitaris band kelas kami, menirukan gaya bicara Indy Barends. Nah lho, benar, kan, aku sudah tau kalau sesuatu yang buruk pasti bakal terjadi. Dan kenapa juga aku lupa band kelas ini belum punya vokalis? Nggak ada satu pun yang dengan rela mengajukan dirinya jadi vokalis, orang yang bakal jadi pusat perhatian puluhan anak kelas tiga dan guru-guru sekolah ini di pesta kelulusan nanti. “Wah, ternyata suara lo boleh juga, Lice,” Grace mengedip-ngedipkan matanya menggodaku.  Maksud lo, suara gue nggak jelek?” tanyaku takut-takut. “Ya enggak lah! Suara lo tuh bagus! Unik, lagi!” “Iya, Bu Emmy, Alice aja yang jadi vokalisnya!” dukung Oscar. “Iya, iya, gue juga setuju,” tambah Sisca. Aku nyengir bego, dan cengiran itu semakin kelihatan tolol waktu Bu Emmy mengumumkan, “Oke, jadi Alice yang akan jadi vokalis band kita di pesta kelulusan nanti. Sekarang, sudah ada lima pilihan lagu, kita voting saja, ya?”

Detail Buku:
Judul         : Dylan I love You
Penulis      : Stephanie Zen
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Thalita by Stephanie Zen

Thalita by Stephanie Zen

THALITA menanggalkan pakaiannya dan berjalan ke bawah shower. Tangannya meraba keran shower, dan membukanya hingga maksimal. “Adooooowwwwww!!!” jerit Thalita sekuat tenaga begitu air shower mengguyur tubuhnya. Dingin kayak es! Ini pasti diimpor dari Kutub Utara! gerutunya dalam hati. “Tha? Kamu kenapa?” Thalita mendengar suara mamanya di balik pintu, tapi dia nggak sanggup menjawab karena masih menggigil kedinginan. “Oh iyaa… Mama lupa bilang water heater-nya lagi rusak, jadi terpaksa pagi ini kamu mandi air dingin ya! Lumayan, biar seger, kan?” Walaupun dibatasi pintu, Thalita bisa membayangkan seulas senyum yang mengembang di bibir mamanya. “Huh! Seger apanya? Bikin aku jadi es lilin sih iya!” Thalita mengomel panjang-pendek. Tangannya cepat-cepat menutup keran shower yang masih memuntahkan air dingin. Ia lalu meraih handuk, dan dengan cepat membungkus tubuhnya. Pilihan untuk meneruskan mandi jelas sama dengan cari mati. Tapi bayangan bahwa ia harus nggak mandi di hari pertamanya jadi murid SMA membuat Thalita bergidik. Gimana kalau ia nanti bau kecut, dan teman-teman barunya bakal terus mengingatnya sebagai “Miss Bau Badan” sepanjang sisa masa SMA mereka? Tak usah deh ya! Thalita lalu menguatkan nyali untuk berada kembali di bawah air shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa juga dengan suhu air dari shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa dengan suhu air dari shower. Thalita bahkan berani memutuskan untuk keramas. Sambil membusakan sampo di rambutnya, Thalita merenung. Ini hari pertamanya jadi murid SMA, tapi ia sama sekali tak bersemangat. Ia malas, dan itu nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa ia harus bangun pagi lagi setelah sebulan lebih bisa molor sampai siang  karena sedang liburan. Ia teringat kejadian tiga minggu lalu Andra baru saja mematikan mesin motornya di depan rumah Thalita, saat terdengar suara menggelegar mengagetkan mereka berdua. “Thalita! Masuk!” Papa muncul di pagar dengan berkacak pinggang, ia menatap Thalita geram. Dan tatapannya pada Andra… Thalita sampai mengkeret melihatnya! Mungkin kalau Papa punya kemampuan seperti Sylar di serial Heroes, yaitu bisa menggerakkan benda dengan hanya menatapnya, Andra pasti bukan hanya sudah melayang-layang di udara sekarang, tapi pasti juga sudah dilemparkan ke seberang jalan sana! “Pa…,” Thalita berusaha membujuk papanya. Hari sudah malam, dan ia nggak ingin para tetangga berhamburan keluar dari rumah masing-masing karena mendengar ada ribut-ribut. “Papa bilang masuk ke dalam rumah! Sekarang!” kali ini Papa mendesis berbahaya. Thalita nggak berkutik, mau nggak mau ia menuruti perintah Papa. Saat ia baru mencapai pintu depan, ia mendengar Papa menghardik Andra. “Kamu! Saya sudah peringatkan kamu, jangan dekati anak saya lagi! Pergi kamu!” Tidak terdengar suara Andra membantah, hanya terdengar deru motornya yang menjauh pergi. Thalita merasa hatinya perih. Papa berjalan mendekati Thalita, dan setengah menyeret tangan anak gadisnya itu untuk masuk ke rumah. “Duduk!” perintah Papa saat mereka sampai di ruang tamu. Thalita menurut, ia duduk di salah satu sofa di ruang tamu itu, dan menghela napas dalam-dalam. “Papa nggak tahu harus bilang apa lagi supaya kamu menuruti kata-kata Papa.”
Thalita diam. “Anak itu berbahaya, Tha! Kenapa kamu masih mau dekat-dekat dia?” “Namanya Andra, Pa,” kata Thalita pahit. “Andra kek, Andro kek, Andri kek, Papa nggak peduli! Papa cuma mau kamu nggak dekat-dekat dia lagi! Kamu kan tahu, dia itu pengguna narkoba!” Thalita sudah mendengar kalimat itu berkali-kali keluar dari mulut Papa, tapi setiap kali mendengarnya tetap saja ia merasa pedih. Ya, Andra memang pemakai narkoba, Thalita tahu itu. Sudah hampir setahun Andra terjerumus dalam dunia narkotika, dan itu hanya beberapa bulan setelah mereka mulai pacaran. Tapi, biarpun berita tentang Andra pemakai narkoba entah bagaimana caranya berhasil mencapai telinga Papa, dan berakibat keluarnya larangan bagi Thalita untuk pacaran dengan cowok itu, Thalita jalan terus sama Andra. Ada banyak sifat dan sikap cowok itu yang membuatnya jatuh hati. Andra perhatian, pengertian, romantis… kekurangannya hanya satu, ia tak bisa menjauhkan dirinya dari narkoba. Dan Thalita tahu, Andra jadi seperti itu karena dia tak bisa menerima kenyataan ortunya telah bercerai. Narkoba hanya pelariannya. Thalita bukannya nggak pernah berusaha melepaskan Andra dari dunia hitam itu. Dia sudah berusaha sebisanya, dengan berbagai cara. Mulai dari membujuk Andra baik-baik, memohon

Detail Buku:
Judul         : Thalita
Penulis      : Stephanie Zen
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Dear Dylan by Stephanie Zen

Novel Dera Dylan By : Stephanie Zen

Sinopsis :
”GRRRRRR... ke mana sih dia?!” Aku mengentak-entakkan kaki dengan kesal sambil berjalan mondar-mandir di depan Sushi Tei. Penerima tamu Sushi Tei yang berdiri di dekatku kayaknya sebentar lagi bakal membunuhku dengan tatapannya kalau aku nggak cepat-cepat pergi dari sini. Dari tadi dia memelototiku terus! Dengan napas setengah tertahan, aku melirik jam yang terpampang di layar HP-ku. Pukul 19.30. Dua jam aku menunggu, dua jam!!! Dan dia selalu nggak bisa ditelepon kalau ngaret begini! Benar-benar kebiasaan jelek yang baru kutahu setelah kami jadian. Ganteng-ganteng ternyata suka ngaret, suka sok nggak mengangkat HP-nya pula kalau ditelepon, huh! Aku mencoba menarik napas dalam-dalam. Oke, there’s always sunny side in everything, Alice. Mungkin dia terpaksa mengulang adegan di video klipnya sampai beberapa kali karena model untuk video klip itu begitu idiotnya hingga tak tahu bagaimana cara memeluk yang benar, dan take peluk-memeluk itu harus diulang Take peluk-memeluk? Harus diulang? ”Grrrrrr...!” Aku mengertakkan gigi-gigiku sekali lagi. Me- nunggu dua jam sambil mondar-mandir kayak setrika begini sudah cukup membuatku kesal, seharusnya aku nggak perlu membayangkan cowokku, yang vokalis band terkenal itu, terpaksa mengulang adegan peluk-memeluk dengan model video klipnya yang idiot! Atau malah model itu begitu PINTARnya, sampai dia bias berpura-pura bodoh dalam adegan peluk-memeluk, dan dengan
begitu bisa mengulang adegan itu berkali-kali??? Awas nanti kalau dia DATANG!
”Sayang!” Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membalikkan tubuh. Dan dengan radar yang sudah terlatih, aku bisa merasakan orang-orang di sekitarku sudah membeku di tempat mereka masing-masing. ”Dylan...,” geramku jengkel melihat dia cengengesan, tapi amat sangaaaattt ganteng dalam long-sleeve putih dan celana jins abu-abunya. Kebekuan di sekitarku makin terasa menusuk. Aku bias merasakan tatapan mata banyak orang menghunjam pada kami. Yeah, pacarku ini seleb. Sangat sulit jalan bareng dia tanpa dilihatin begitu banyak orang. Tapi yah... sekarang aku sudah mulai terbiasa. ”Ah, kamu pasti udah lapar ya, sampai memanggilku Dylan begitu?” tanyanya, masih sambil cengar-cengir. Memangnya aku masih bisa memanggilnya ”Say” setelah aku terpaksa ngetem di sini menunggu dia, heh? ”Aku nungguin kamu DUA JAM, tau! Dua jam!” ”Iya, iya, Say... Maaf yaa... Tadi syuting video klipnya kacau berat sih! Nggak tau deh model dari agensi mana yang dipilih Bang Budy, dia bego banget sampai adegannya harus diulang melulu...” Serasa ada yang menabuh genderang perang di dadaku mendengar omongan Dylan barusan. Berarti memang benar model video klip Skillful pura-pura bodoh supaya dia bias mengulang...”Kalian retake adegan pelukan terus, ya?” tanyaku akhirnya,nggak tahan kalau harus bertanya-tanya tanpa henti dalam hati. Dylan kelihatan bingung. ”Adegan pelukan? Kok adegan pel...” ”Bukan? Terus apa? Adegan ciuman? Kalian retake adegan itu terus, ha?!” ”Eh, Say, kayaknya kamu harus...” ”Apa? Aku harus apa? Harus sabar? Kuulangi ya, aku DUA JAM menunggumu di sini, dan yang kamu lakukan malah retake adegan ciuman sama model bego dari agensi tolol???” Aku, entah dapat energi dari mana, menyerocos tanpa henti. Sebodo amat kalau dilihatin orang!  ylan menatapku lurus-lurus selama beberapa detik, lalu meledak tertawa. Orang-orang yang tadinya memandangi kami karena Dylan seleb, sekarang, aku yakin, memelototi kami, karena Dylan yang seleb sedang bertengkar dengan ceweknya yang setengah bule dan overhisteris. ”Say, dari mana kamu dapat pikiran aku retake adegan pelukan dan ciuman sama si...” ”Terus apa, ha?” Dylan tersenyum. ”Mau jawaban jujur?” ”Coba saja bohong,” kataku marah, ”dan aku akan bilang ke Tante Ana kamu bikin aku kesal!”

Detail Buku:
Judul         : DEAR DYLAN
Penulis      : Stephanie Zen
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 602 - 03 - 0476 - 2
Tebal         : 328 hlm
Download      : Google Drive


Novel Badminton Addict PDF karya Stephanie Zen

Novel Badminton Addict PDF karya Stephanie Zen

Detail Buku:

Judul: Badminton Addict
Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016
ISBN: 978-602-03-2811-9
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 275 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 2,75Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Hai, gue Claudia.

Lo pasti kenal kakak gue, Fraya. Dan pasti lebih kenal lagi dengan calon kakak ipar gue, Edgar Satria, peraih medali emas bulutangkis ganda putra Olimpiade London 2012.

Mereka pada mau liburan ke Singapura, dalam rangka menonton SEA Games sekaligus menengok gue. Mana gue tahu gara-gara kedatangan mereka itu gue jadi kenalan dengan Maximillian Gabriel, bad boy yang disebut-sebut sebagai penerus takhta ganda putra Edgar?

Mendingan juga gue jalan sama Kak Jonathan, engineer keren yang memang sudah lama pedekate ke gue.

Tapi yah… harus gue akui Kak Jonathan agak membosankan. Sementara Max, oh well… dia sudah berhasil membuat gue panas-dingin, bukan cuma di lapangan, tapi juga di luar lapangan…