Tampilkan postingan dengan label Nino Oktorino. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nino Oktorino. Tampilkan semua postingan

Konflik Bersejarah: Waffen SS - Pasukan Elit Pengawal Hitler

Konflik Bersejarah: Waffen SS - Pasukan Elit Pengawal Hitler

Pada paruh pertama bulan November 1925, supir Adolf Hitler, Julius Schreck, menyewa delapan orang pria bertubuh kekar untuk bertugas sebagai pengawal sang Führer. Mereka baru saja dibebaskan dari penjara yang sama di mana Hitler ditahan setelah kegagalan upaya kaum Nazi untuk menggulingkan pemerintah Negara bagian Bavaria delapan belas bulan sebelumnya. Para ukang pukul tambahan disewa empat minggu berikutnya. Dinamakan sebagai ’Stosstrup Adolf Hitler’, mereka ini  merupakan para pendiri Schutzstaffel, korps pengawal Partai Nazi yang lebih dikenal dengan singkatan SS. Dalam waktu singkat, mereka kemudian menjadi organisasi te ror yang sangat ditakuti maupun sebagai salah satu kekuatan politik, militer, dan ekonomi yang amat besar dalam sejarah Reich Ketiga. Pada saat Heinrich Himmler, seorang prajurit yang gagal dan bekas peternak ayam berwajah lembut, menjadi pemimpinnya pada tahun 1929, organisasi itu baru beranggotakan 280 orang. Pada akhir tahun yang sama, kekuatannya meningkat mencapai 1.000 orang. Pada bulan Desember 1930, SS telah memiliki 2.700 orang anggota; setahun berikutnya, keanggotaannya melonjak hingga 15.000 orang. Ketika Hitler menjadi kanselir Jerman pada tanggal 30 Januari 1933, SS telah memiliki 52.000 orang anggota. Jumlah itu terus bertambah sehingga ketika Perang Dunia II berakhir, sekitar satu juta orang telah bertugas di dalam berbagai jawatan SS. Jawatannya yang paling terkenal dan ditakuti adalah Gestapo (Geheimestaatspolizei, atau polisi rahasia negara), yang bertanggung jawab untuk menindas perlawanan terhadap rezim Nazi. Organisasi SS juga memiliki sebuah dinas keamanan yang dikenal sebagai SD (Sicherheitsdienst, atau dinas rahasia), yang bertugas mengumpulkan data intelijeni dalam maupun di luar negeri. Pihak SS juga memegang kendali atas berbagai jawatan kepolisian di seluruh Jerman dan wilayah pendudukannya. Sekitar 40.000 penjaga SS mengoperasikan kamp-kamp kerja paksa, konsentrasi, dan pemusnahan Nazi. Berbagai jawatan lainnya melakukan penelitian genealogi untuk meningkatkan kualitas rasial bangsa Jerman; mengeluarkan izin pernikahan bagi para anggota SS; mengelola berbagai rumah persalinan secara gratis demi menghasilkan suatu ras pemimpin; memiliki dan mengelola ratusan industri, mulai dari penggalian batu hingga pabrik porselen dan pembuatan roti; menerbitkan surat kabar serta mengelola serangkaian pengadilannya sendiri. Namun dinas SS yang paling dikasihi oleh Himmler—”seakan-akan anaknya sendiri,” demikian kenang seorang rekannya— adalah apa yang kemudian dikenal sebagai Waffen-SS (SS Bersenjata). Asal-usul Waffen-SS dapat ditarik pada peristiwa tanggal 30 Januari 1933, ketika Adolf Hitler diangkat sumpahnya sebagai kanselir Jerman dan menempati kediaman di Kekanseliran Reich. Hitler menemukan dirinya dilindungi oleh suatu detasemen Reichsheer (Angkatan Darat), dan sejumlah polisi. Dia merasa tidak aman setelah mengetahui keselamatan pribadinya hanya bergantung dari pasukan keamanan negara, sehingga pada tanggal 17 Maret Hitler memerintahkan Joseph ’Sepp’ Dietrich untuk membentuk SS ’Stabswache’ (Pengawal Markas Besar SS), Berlin, yang terdiri atas 120 orang anggota pilihan dari satuan pengawal pribadi Hitler di München. Unit-unit Reichsheer akhirnya ditarik dan tugas pengamanan bagi Hitler dialihkan kepada pihak SS. asal-mula ’Stabswache’ sendiri terletak pada keinginan Hitler untuk membentuk sebuah kelompok kecil yang memiliki kesetiaan tanpa syarat, dapat diandalkan secara politik dengan kekuatan fisik yang prima, bersumpah untuk melindunginya dengan nyawa mereka sendiri apabila diperlukan. Ketika dibentuk pada bulan Maret 1923, ’Stabswache’ hanya beranggotakan dua orang saja, tetapi dua tahun berikutnya kelompok tersebut direorganisasi dan pada tahun 1925 dibentuk sebagai SS. Setelah pengangkatan Himmler sebagai Reichführer SS pada tanggal 16 Januari 1929, Hitler memerintahkan agar SS dijadikan sebagai sebuah ”pasukan elite partai” yang lebih kecil dan terpercaya daripada Sturmabteilung (SA, atau Pasukan Tempur) yang memiliki kekuatan lebih besar tetapi kurang  terpercaya. Pada saat Hitler menjadi kanselir, SS memiliki 52.000 orang anggota dibandingkan dengan 300.000

Detail Buku:
Judul         : Konflik Bersejarah – Waffen SS
Penulis      :
Nino Oktorino
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :978-602-02-1741-3
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Nazi di Indonesia: Sebuah Sejarah yang Terlupakan by Nino Oktorino

Nazi di Indonesia

pada dini hari tanggal 10 Mei 1940, Hitler mengirimkan pa sukannya untuk menyerang Negeri Belanda yang netral guna mengepung Prancis. Ratu Wilhelmina serta kabinet Per dana Menteri Dirk Jan de Geer mengungsi ke London, dan pa da tanggal 15 Mei 1940, tentara Belanda terpaksa menyerah setelah Luftwaff e menghancurleburkan kota Rotterdam. Ja tuh nya Ne geri Belanda ini menimbulkan goncangan dan tanda ta nya besar mengenai nasib wilayah jajahannya, terutama Hin dia Ti mur Belanda yang memiliki sumber kekayaan alam yang be sar itu. Di Hindia Belanda, berita mengenai penyerbuan dan pendudukan Negeri Belanda mengundang berbagai macam reaksi di kalangan penduduk negeri itu. Pada hari penyerbuan, Gubernur Jenderal Jhr. Mr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Statchouwer mengumumkan keadaan darurat bagi Hindia Be landa. Pembalasan Belanda Salah satu tindakan pertama yang diambil pemerintah kolonial berkaitan dengan hal itu adalah melakukan tindakan balasan terhadap orang-orang Jerman yang tinggal di Hindia Belanda. Konsulat jenderal Jer man di Batavia diduduki oleh polisi. Demikian pula dengan gedung Asosiasi Jerman dan ber bagai gedung perkantoran Jer man lainnya di seluruh Hindia Belanda. Kapal-kapal Jerman yang sedang berlabuh di Sabang, Emma haven (Teluk Bayur), Batavia, Makassar, dan Manado, segera diciduk oleh pasukan keamanan Belanda. Di Tanjung Priok, seorang ahli mesin Jerman berusaha melepaskan diri dari penga walnya agar dapat turun ke kamar mesin sambil ber teriak, ”Saya harus turun ke sana!” Namun tindakannya dihentikan oleh seorang anggota Angkatan Laut yang tegap, yang mendorong orang Jerman itu kembali seraya berkata, ”Anda boleh turun ke sana tetapi hanya sebagai mayat!” Dengan keke cualian kapal Sophie Rickmers yang mengangkut bahan peledak dan berhasil lolos dari pelabuhan Sabang, seluruh kapal Jer man yang berjumlah 21 buah itu berhasil disita, sementara 900 orang pelautnya ditawan. Di seluruh Hindia Belanda, di bawah kata sandi ”Berlin”, polisi menangkapi dan menahan orang-orang Jerman yang hi d up terpencar-pencar. Beberapa di antara mereka memang me rupakan pengikut Nazi, tetapi kebanyakan merupakan orang-orang biasa yang tidak mengerti politik atau, bahkan, me rupakan penentang rezim Hitler. Namun pemerintah colonial Belanda tidak membuat kekecualian, tidak juga terhadap pembantu rumah tangga istana yang berkebangsaan Jerman. Orang-orang Jerman itu diperintahkan untuk mengisi kopor dengan pakaian dan keperluan kecil lainnya dan dikirim keber bagai kamp konsentrasi. Perasaan anti-Jerman setelah penyerbuan Nazi ke Belanda sendiri boleh dikatakan berbalik 180 derajat dari hubungan mesra an tara orang Jerman dan Belanda sebelumnya. Sebelum perang, kun jungan kapal-kapal perang Jerman ke pelabuhanpelabuhan di Hindia Belanda selalu dijadikan alasan untuk berpesta. Di Surabaya, kehidupan masyarakat elite Belanda sering berpu sat di Deutsche Verein (Gedung Pertemoean Djerman) di Gen teng Kali yang megah dan mewah. Di Batavia, selain kon sulat Jerman, rumah kediaman seorang tokoh Jerman Nazi, vor Althausen-Brandenburg, di Jalan Raden Saleh yang penuh barang-barang antik Jerman, menjadi pusat kebudayaan dari pesta-pesta elite Belanda. Hal ini sendiri bukanlah sesuatu yang aneh. Sebelum Perang Dunia II, orang-orang Jerman merupakan anggota elite Indische Burgerij. Jerman dan Negeri Belanda sendiri memi liki hubungan erat, yang antara lain terhubung dengan eratnya hu bungan antara keluarga Kerajaan Belanda dan para bangsawan Jerman. Bahkan seorang Jerman, Herzog von Saksen, pernah menjadi kepala staf angkatan perang Hindia Belanda, KNIL. Setelah Perang Dunia I, ipar Ratu Wilhelmina, Herzog von Mocklenburg, merencanakan proyek kolonisasi orang Jer man ke Hindia Belanda, tetapi gagal. Namun, setelah penyerbuan Hitler segala sesuatu yang berbau Jerman menjadi sasaran kebencian yang luar biasa sengitnya. Mengutip surat kabar Preanger Bode, harian Mercantile Advetiser Australia pada tanggal 17 Mei 1940 melaporkan se kitar 400 pemuda Belanda yang mengamuk dan merusak Kantor Kontak Jerman Nazi di Jalan Naripan Bandung. Para pemuda Belanda tersebut marah karena negeri leluhurnya diduduki Jerman Nazi. Dalam perburuan terhadap orangorang Jerman sendi ri, ba nyak terjadi kesa lahan menyedihkan

Detail Buku:
Judul         : Nazi di Indonesia – Sebuah Sejarah yang Terlupakan
Penulis      :
Nino Oktorino
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :978-602-02-6053-2
Tebal         :
-
Download      : Google Drive