Tampilkan postingan dengan label V. Lestari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label V. Lestari. Tampilkan semua postingan

Pernikahan yang Agung by V. Lestari

Pernikahan yang Agung by V. Lestari

Dua minggu menjelang pernikahan Arif Karnel dengan Mirna Sasongko. Keduanya tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan acara. Gedung pertemuan dan katering, pakaian pengantin, kartu undangan, dan seribu satu urusan lain yang kalau diperinci satu per satu bisa tak kepalang banyaknya. Hal itu membuat mereka tak habis pikir kenapa urusan perkawinan tak bisa dibuat sesederhana  mungkin. Bukankah yang penting itu tujuannya, bukan proses? Tetapi pertanyaan itu disuarakan antara mereka berdua saja sebagai pelampiasan kekesalan terhadap kecerewetan orangtua mereka. Masih ada yang kurang, harus begini dan begitu, ini salah dan itu salah. Kalau Mirna mencoba protes, Nani Sasongko, ibunya, punya alasan yang sangat bagus untuk meredam protes tersebut. ”Kamu anak tunggal, begitu pula Arif. Jadi kami hanya sekali ini menikahkan anak. Tak ada kedua kali. Karena itu biarkan kami yang mengatur. Kamu ikut saja!” Pendapat serupa juga diutarakan oleh orangtua Arif, Andre dan Dana Karnel. Pendek kata, orangtua keduanya selalu sepakat dalam pendirian dan keputusan sehingga kekompakan mereka sulit ditentang. ”Jangan mengeluh capek, karena kamilah yang paling capek. Kalian tinggal menurut. Tahu beres!” begitu kata Dana, ibu Arif. Dalam keadaan seperti itu, tentu saja orangtua tak mau tahu atau mengerti bahwa menurut pun bisa sangat melelahkan. membuat kenyamanan dan ketenangan berkurang. Untunglah, kedua muda-mudi itu bisa saling menghibur. Tak lama lagi, hiruk-pikuk ini akan selesai dan terlewatkan. Yang penting masa depan, sesudah pesta pernikahan. Tak ada kebahagiaan yang bisa dicapai oleh perkawinan sehari saja, betapapun meriah dan gemerlapnya pesta. Jadi biarlah orangtua ikut menikmati pernikahan anakanak mereka. Ah, andai saja mereka bukan anak tunggal. Tapi apa gunanya mengeluh seperti itu? Tak ada gading yang tak retak. mereka sudah terlalu beruntung hingga sangatlah picik bila menangisi hal-hal semacam itu. Sesungguhnya, mereka memang sangat beruntung. Kehidupan yang mereka jalani sampai saat itu teramat mulus. Seakan-akan mereka tengah berkendara menempuh jalanan licin, tanpa hambatan dan rintangan, tanpa belokan tajam atau tanjakan dan turunan berbahaya. Hanya lurus, terus-menerus, sambil menikmati pemandangan indah di kanan-kiri. Sungguh kenikmatan hidup yang pasti tak dialami kebanyakan orang. Sampai-sampai sulit membedakan, mana yang lebih membahagiakan; hari ini atau kemarin. Bayangkan. Orangtua Arif dan Mirna sudah bersahabat sebelum keduanya lahir. Pokoknya sudah lama, demikian kata mereka kalau ditanya kapan persisnya persahabatan itu dimulai. Ketika anak mereka masing-masing laki-laki dan perempuan, mereka sepakat untuk melakukan perjodohan. Kendati demikian, mereka sadar sekarang bukanlah zamannya menjodoh-jodohkan anak apalagi dengan cara memaksa. Mereka hanya dapat berharap seraya berusaha dengan mendekatkan dan mengakrabkan anak-anak mereka tanpa terlihat terlalu mencolok. Semua itu lebih mudah dilakukan karena mereka bertetangga. Mereka tinggal bersebelahan di kawasan permukiman baru yang rindang dan asri di Jakarta Selatan. Itu pun bukan suatu kebetulan. Mereka memang sengaja memilih rumah sedekat mungkin. Bukankah keakraban dapat terwujud jika selalu berdekatan? Ternyata usaha tersebut tidak sia-sia. Kedua orangtua itu berhasil, sukses dengan gemilang. Arif dan Mirna bukan saja tumbuh bersama, tapi mereka juga saling jatuh cinta. Tak ada  istilah jatuh cinta pada pandangan pertama di antara keduanya, cinta mereka tumbuh melalui proses kedekatan. Mereka saling mengenal dengan begitu baik, hingga orang lain yang sempat muncul dalam kehidupan mereka seakan menyimpan rahasia mengerikan yang sulit diketahui dan sulit pula dipahami. Baru kemudian, setelah kedua muda-mudi itu memproklamasikan hubungan cinta mereka kepada orangtua, mereka diberitahu perihal upaya dan keinginan menjodohkan itu. Orangtua Arif dan  irna tak kepalang girangnya. Bahkan Kris Sasongko, ayah Mirna, sampai menari-nari di depan putrinya. Sementara Nani, istrinya, lebih pandai mengendalikan emosi. Dia hanya memeluk dan mencium Mirna lalu mengucapkan selamat. Kegembiraan mereka yang berlebihan itu mengharukan tapi juga membuat Mirna cemas. ”Bagaimana kalau kami tidak saling tertarik dan memilih orang lain?” tanyanya. ”Oh, tentu tidak apa-apa, Mir. Kau tahu sendiri kami tidak pernah terang-terangan memperlihatkan keinginan itu,” ucap Nani tenang. Mirna mengakui kebenaran kata-kata ibunya. Sampai saat itu ia tak pernah menyangka sedikit pun bahwa orangtuanya punya keinginan demikian. Jika menilik upaya dan kegembiraan yang mereka perlihatkan, sepertinya keinginan itu lebih pantas disebut sebagai ambisi. Atau obsesi? Alangkah

Detail Buku:
Judul         : Pernikahan Yang Agung
Penulis      : V. Lestari
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1511 – 9
Tebal         :
424 hlm
Download      : Google Drive


Warisan Masa Silam by V. Lestari

Warisan Masa Silam by V. Lestari

BOLA sepak berwarna putih dekil itu melayang tinggi melewati pagar sebuah rumah besar lalu mendarat entah di mana. Tak kelihatan lagi. ”Gila lu! Jauh banget nyepaknya!” seru Dono. ”Hebat, kan?” kata Kiki bangga. ”Hebat apaan? Ilang dah bolanya!” bentak Madi kesal. Dia pemilik bola. ”Nggak mungkin ilang. Ada di dalam kok,” bantah Kiki. ”Tapi mana? Nggak kelihatan tuh,” kata Gilang. ”Kayaknya tadi nyemplung di semak-semak sana itu.” Fani menunjuk ke sudut pekarangan sebelah kiri yang rimbun dengan tanaman kembang sepatu berwarna merah. Dia, adik Kiki, adalah satu-satunya anak perempuan di kelompoknya Mereka berlima, para pemain bola jalanan, berderet di depan pintu gerbang sebuah rumah besar yang tampak sepi. Kelimanya memegang pagar dengan dua tangan dan melayangkan pandang ke segala penjuru Untuk sesaat mereka terpesona dan melupakan bola tadi. Mereka berhadapan dengan bagian depan rumah itu. Hanya pintu gerbang yang memiliki celah di antara jerujinya hingga memungkinkan mereka melihat ke dalam. Sepanjang pagar ke kiri dan kanannya tak memiliki celah di antara jeruji karena rapat tertutup oleh tanaman pagar. Bangunan besar itu sebuah rumah kuno dengan pilar-pilar tinggi, menyangga plafon yang tinggi. Pintu utamanya besar dengan dua daun pintu berikut jendela-jendela yang juga besar di kiri dan kanannya. Di bagian samping rumah yang posisinya lebih masuk ke dalam juga terdapat pintu dan jendela. Warna peliturnya cokelat tua, terlihat mengilap di bawah penerangan lampu teras. Dindingnya berwarna putih. Sebelah kiri dan kanan rumah bagian depan lebih menonjol ke depan membentuk setengah lingkaran yang didereti jendela-jendela kecil memanjang ke atas berlapis kaca patri dengan motif bunga lili aneka warna. Karena di bagian dalam ada lampu yang menyala terang, maka lukisan di kaca itu jadi kelihatan lebih jelas. Rumah itu, termasuk beberapa rumah lain di kawasan yang sama, merupakan cagar budaya di Jakarta. Jadi tak diperkenankan untuk dibongkar atau diubah bentuk aslinya. Yang dibolehkan hanya merenovasi bila ada kerusakan atau kerapuhan karena termakan usia, tanpa mengubah bentuk. Anak-anak itu sudah beberapa kali bermain bola di jalanan itu tanpa pernah memperhatikan rumah-rumah di kawasan tersebut. Mereka sendiri bukan warga daerah yang merupakan pemukiman elite itu; mereka tinggal di pemukiman berseberangan, yang merupakan
pemukiman baru berasal dari tanah kosong bekas kebun yang tak lagi diolah. Jadi keduanya kontras. Yang satu pemukiman kuno tapi elit, yang lainnya pemukiman baru tapi sederhana. Jalanan di situ sepi hingga dianggap ideal bila dijadikan lapangan sementara. Bila sesekali ada mobil melintas mereka bisa segera menepi. Bukan hanya idealnya saja yang membuat mereka senang bermain di situ, tapi juga karena sampai saat itu belum ada yang melarang. Mereka baru mencari tempat lain jika nanti sudah ada pelarangan bermain di kawasan tersebut. ”Wah, bagus sekali ya? Kayak istana,” decah kagum Fani. ”Kata bapakku, umurnya udah lebih dari seratus tahun. Dari zaman Belanda,” kata Madi. ”Gede banget! Garasinya aja lebih gede dari rumahku,” kata Gilang. ”Orang Belanda kan gede-gede,” kata Fani, disambut tawa yang lain. ”Emangnya raksasa?” kata Kiki. ”Ah, emang gede, kan? Makanya mereka bisa menjajah kita begitu lama,” kata Fani. ”Tahu, nggak? Kalau kita tinggal di situ, bisa main bola di dalam!” seru Gilang. Semuanya terdiam sejenak. Bukan membenarkan ucapan Gilang, tapi mengingatkan akan tujuan semula.  Apalagi Madi. Bolanya!


Detail Buku:
Judul         :Warisa Masa Silam
Penulis      : V. Lestari
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978 - 979 - 22 - 9147 - 6
Tebal         : 672 hlm
Download      : Google Drive


Misteri Sang Kekasih By V. Lestari

Misteri Sang Kekasih By V. Lestari

Apa yang harus dilakukan seorang anak bila ia sangat yakin bahwa ibunya telah melakukan kesalahan yang bodoh? Pertanyaan itu menghantui pikiran Maya sejak upacara pemberkatan di gereja dan terus berlangsung selama resepsi perkawinan ibunya, Lilis Kurniati, dengan Yogi Darwis. Ketika sepasang mempelai mengucapkan janji-janji sakral pernikahan, dan keduanya duduk bersanding, terus menerus mata Maya mencermati wajah keduanya, berganti-ganti dari yang satu kepada yang lain. Ia melihat wajah ibunya berseri-seri, cantik memesona oleh rias wajah yang tebal. Kulit Lilis yang putih kelihatan jadi semakin putih, kontras dengan pemerah pipinya. Dalam usianya yang 37 Lilis masih cantik meskipun tubuhnya lebih gemuk hingga pipinya sedikit tembem. Karena tubuhnya agak pendek, posturnya jadi kelihatan kurang proporsional. Sementara itu pasangannya, Yogi, bertubuh tinggi besar, dengan perut agak membuncit. Wajah lelaki itu persegi dan tulang rahang menonjol di dekat telinga. Mulut Yogi besar dengan kumis tipis di atas bibir yang tebal. Kulitnya sawo matang. Di mata Maya, kedua orang itu benar-benar tidak serasi. Meskipun Lilis sudah mengenakan sepatu hak tinggi, tetapi tetap saja tampak cebol saat berdampingan dengan Yogi. Kepala Lilis bahkan tak mencapai pundak Yogi. Semakin lama memandangi mereka, Maya menjadi sebal sekaligus geli. Mereka
kelihatan seperti badut. Ia ingin sekali tertawa mencemooh mereka. Sayang tak bisa. Nanti dikira sinting. Dan lihatlah wajah ibunya yang menampakkan kebahagiaan selangit. Apa Lilis mengira telah berhasil mendapatkan orang hebat? Sementara lelaki besar di samping Lilis itu terus-menerus meliriknya dengan tatapan cinta. Huh, gombal! Pasti ibunya sudah dijejali oleh rayuan gombal dan ungkapan cinta. Goblok sekali! Sebagai pelajar SMP kelas tiga, Maya merasa banyak tahu perihal cinta, yang tulus maupun yang gombal, dari lusinan novel drama percintaan yang telah dilahapnya. Ia sangat suka membaca, terutama kisah drama yang bercerita tentang kehidupan realistis dengan konflik dan problem berikut solusinya. Sudah tentu ada percintaannya. Hidup akan hambar tanpa cinta. Dari kisah-kisah itu ia juga belajar halhal baru, yang mungkin dan bisa terjadi. Karena berpengalaman dalam memilih buku yang mau dibelinya, ia tahu mana kisah yang menawarkan mimpi dan mana yang ceritanya berbelit absurd hingga sulit dipahami. Kedua jenis kisah itulah yang tak akan dipilihnya. Jadi Maya banyak belajar tentang kehidupan dari novel. Ibunya suka menertawakan teorinya. Ibunya pun melecehkan koleksi novelnya dan menolak ikut membaca. Bagi ibunya, membaca membuang waktu. Tapi tidak dengan tidur! Karena itu tak mengherankan bila ibunya bertambah gemuk. Dulu Lilis langsing, hingga tampak mungil. Ya, terus saja melar begitu, maka sepuluh tahun lagi potongan tubuh ibunya akan seperti bola. Yogi itu pun besar kemungkinan akan menjadi gembrot. Sekarang saja bakat gendut sudah kelihatan. Maka yang satu menjadi bola kecil, sedang yang lainnya bola besar. Maya tersenyum sendiri membayangkan khayalannya menjadi kenyataan. Tapi kemudian senyumnya lenyap ketika terpikir, bahwa kemungkinan sesuatu yang mengerikan keburu terjadi sebelum kedua orang itu menjadi bola-bola. Wajahnya menjadi murung. Ketika ia mengangkat kepala, kebetulan ia beradu pandang dengan mata Yogi yang terarah kepadanya. Kembali ia melihat sesuatu di mata itu.  Sesuatu yang melecehkan, merayu dan mengajak! Ia pun balas menatap dengan kebencian. Ia menyatakannya dengan terang-terangan, tanpa rasa takut sedikit pun kepada lelaki besar itu. Tetapi Yogi, ayah tirinya sekarang (uh, betapa bencinya ia dengan istilah itu), tersenyum kepadanya. Senyum bermakna
apakah itu? Orang lain tentu akan menganggapnya sebagai senyum ramah kebapakan. Uh, apa sih kebapakan itu? Baginya, itu senyum yang mengancam. Awas kau! Pada suatu saat aku akan datang kepadamu dan Pundaknya ditepuk seseorang. Maya memekik kaget. Orang-orang menoleh kepadanya. Wajahnya menjadi kemerahan tersipu. ”Kamu lagi ngapain, May?” Della, bibinya atau adik ibunya, merangkul pundaknya lalu duduk di sebelahnya. ”Kok Tante ke sini? Nggak di depan

Detail Buku:
Judul         :  Misteri Sang Kekasih
Penulis      :
V. Lestari
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1546 – 1
Tebal         :
464 hlm
Download      : Google Drive