Critical Eleven by Ika Natassa

Critical Eleven by Ika Natassa

Sinopsis:
I’M one of those weird people who loves airports. There’s just something liberating yet soothing about it. Bahkan saat aku di situ untuk terbang demi urusan bisnis, bandara itu seperti tempat peristirahatan sementara. A temporary break from my mundane life. Tentu nanti begitu mendarat bakal langsung sibuk dengan tumpukan pekerjaan apa pun yang menanti, tapi sementara ini aku bisa ”parkir” dulu di sini. I admire people who have the ability to sit still. Karena aku tidak bisa. Sudah bertahuntahun tidak bisa. Aku harus selalu menyibukkan diri dengan sesuatu, karena setiap aku diam, my mind would start to wonder to places I don’t want it to wonder to. Mempertanyakan makna hidup, tujuan hidup ini sebenarnya mau ngapain, apakah aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai manusia pada umur segini. Rasanya seperti dikejarkejar Ligwina Hananto yang setiap mengajar financial planning selalu bertanya, ”Tujuan lo apa?” Truth is, aku tidak tahu tujuanku apa. I have no idea where I’m going in life. And it gets pretty scary sometimes if I let myself think about it. Yang aku tahu hanya menjalani hidup ini one day at a time, bekerja, makan, tidur, tertawa, ngobrol. As long as I got some jobs to do and men to do, I’m fine. I should be fine. Walau sekarang yang bagian men-nya itu sedang musim kemarau. Sudah setahun. So maybe I’m only half fine. Musim kok setahun toh, nduk. 
A 28 year-old aimless, manless girl. Menyedihkan. Mungkin karena itu aku suka bandara. Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination. Semua yang ada di bandara harus punya tujuan dan memang punya tujuan. Bahkan tujuan itu tercantum jelas di secarik kertas. Boarding pass. Setiap memegang boarding pass, aku merasa hidupku akhirnya punya tujuan, walau tujuannya hanya berupa tiga huruf. CGK, SIN, ORD, TTE, HKG, LGA, EWR, NRT. Boarding pass is my mission statement in life. Ini keren untuk jangka pendek dipamer-pamerin di social media, tapi miris jika mengingat aku tidak punya tujuan pulang. Tidak punya orang yang menungguku di rumah. Tidak punya ciuman terakhir sebelum berangkat ke bandara. I don’t have that last call before take off and the first  call after I landed. Sempat-sempatnya mengasihani diri sendiri ya, Nya. Anyway, sudah waktunya boarding. Can I just get to my window seat now so I can sleep please? Menit itu aku bertemu dia. Dia sedang serius menunduk membaca buku waktu aku tiba di sisi tempat duduknya. ”Sorry, excuse me.” Pada detik ini dia mendongak dan menatapku. Alhamdulillah akhirnya kutukan yang membuatku selalu duduk di dekat om-om atau anak kecil yang nangis melulu akhirnya berakhir juga. ”My seat is there,” senyumku. Dia tersenyum balik, tipis, tapi diam. Berdiri memberi jalan buatku untuk masuk. 
Damn, he’s tall. Aku Cuma sepundaknya. Tapi tetap nggak bicara apa-apa.”Flight attendants, take off position.” Okay, here it is. Did I mention that I actually hate flying? Aku suka bandara tapi aku benci terbang. Bukan masalah terbangnya, tapi masalah menyerahkan nasib di tangan orang lain selama berada di dalam pesawat dan tidak bisa ke mana-mana. Menjadi penumpang pesawat itu sebenarnya sama dengan menjadi kucing Schrödinger yang pasrah di dalam kotak berisi kapsul sianida. Dan sampai era ketika sudah ada fasilitas wifi di pesawat, orang-orang di luar sana juga tidak tahu kabar kita bagaimana sampai mendarat nanti. In the hours that we’re still on the plane sama dengan satu jam si kucing terkurung dalam kotak people are left with a paradox 50-50 chance that we still live on board.Memercayakan nasib di tangan pilot. Di tangan orang lain. I hate that.

Detail Buku:­­
Judul         : Critical Eleven
Penulis      : Ika Natassa
Penerbit     : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-1892-9
Tebal         : 344 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar