Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Semoga kau terbakar di dalam rumah ini!” Perempuan itu menggelimpang. Pipi menempel di tanah, rambutnya awut-awutan ke segala arah. Kain di sekujur tubuh diseraki lumpur kering. Lambungnya berhari-hari tak berisi, sekalipun oleh gandum basi. Tenggorokan kering, jauh dari air. Matanya redup hampir memejam, bibirnya gemetaran, “Semoga engkau pernah terbakar di dalam rumah ini!” Sedikit meninggi suaranya, “Semoga kau terbakar terang di dalam rumah ini!”
“Diam kau, Perempuan!” Kaki-kaki mengentak-entak tanah. Suara laki-laki kalap, suami perempuan itu, “Diamlah atau Ahuramazda akan menyiksamu!” “Semoga engkau berkembang dalam rumah ini.” Suara perempuan itu kian melantang. Pecah, tetapi terdengar mengguncangkan. “Dalam waktu yang lama sampai datangnya pemulihan dunia!” “Makanlah dan berhentilah menistakan ayat-ayat Zardusht!” Lelaki itu hanya berteriak-teriak. Tepat setelah dia melemparkan panci berisi buah-buahan kedaluwarsa ke depan wajah istrinya, dia hendak buru-buru meninggalkannya begitu saja. Membiarkan perempuan itu menggeletak di lantai gudang, sedangkan dia kembali pada kesehariannya. Istri sang lelaki sedang tidak suci. Darah menstruasi itu kotor, tidak suci. Tidak boleh ada makanan, apalagi minuman.Hanya ketika napas perempuan itu merapat pada kematian, boleh dia menelan beberapa teguk air dan sedikit makanan. Bagi sang suami, mendekatinya pun berdosa. Jangan coba-coba. Itu bertentangan dengan ajaran agama. Seorang wanita akan mandi di Danau Kasava. Dia akan melahirkan nabi yang dijanjikan, Astvat-ereta.” “Apa kau ingin direbus di neraka, hai, Perempuan?” sang suami berusaha menghentikan teriakan istrinya yang semakin meruncing. Kumis yang melintangi daerah di antara bibir dan hidungnya bergerak-gerak, mengikuti kegelisahan pemiliknya. “Nabi itu akan melindungi iman Zarathustra, menumpas iblis, meruntuhkan berhala, membersihkan pengikut Zardusht dari kesalahan mereka.” Sang lelaki terdiam. Inginnya menghunjami istrinya dengan tamparan, tendangan, dan lebih banyak lagi caci maki. Namun, dia berhenti. Kakinya, mulutnya, berhenti. Tak bersuara apa-apa lagi. Astvat-ereta! Siapa Astvat-ereta? Danau Zhaling, kaki Gunung Anyemaqen, Tibet. Menghijau padang rumput yang menghadirkan kesegaran hanya dengan menatapnya. Sepagi itu, kawanan yak mengikuti naluri mamah biak mereka yang sedang bagus, mengunyah tetumbuhan persis di pinggir danau. Angin menjelajah, membunyikan lonceng-lonceng kecil di tenda yang tegak oleh
tambang-tambang kencang dengan pasak-pasak kokoh meng hunjam tanah. Di permukaan danau, angin itu meninggalkan jejak-jejak yang menggelombang. Riak bening pada cermin cair.
“Sudah kau urus bongkahan pupuk hewan itu?” Perempuan berwajah keras itu melapisi tubuhnya dengan pakaian rangkap. Baju lengan panjang tanpa kerah, berkancing di samping dan celana bertabur hiasan, dengan “pipa” mengerut mendekati mata kaki. Dia melangkah sigap dengan dua tong kayu berisi air membebani dua lengannya. Leher, pergelangan tangan, dan pinggangnya dipenuhi perhiasan bebatuan: giok, akik, emas, dan perak. “Beres, Bu.” Perempuan lain yang lebih muda mengangguk sembari mengangkat dua alisnya dengan ekspresi jenaka. Dia jauh lebih muda disbanding perempuan pertama. Usianya di pertengahan belasan tahun. Dia mengenakan jubah bergaris warna-warni, menjuntai sampai ke pangkal kaki. Sabuk brokat lebar menahan perut. Kain seperti celemek menutupi dadanya. “Malam nanti awal musim dingin. Kalau engkau ceroboh mengolah pupuk hewan itu, kita bisa kedinginan.” “Percayakan kepadaku,” jawab si gadis. Langkahnya ceria menjajari pergerakan kaki-kaki ibunya yang sedikit maskulin. Tugas membereskan bongkahan pupuk hewan menjadi vital, terutama ketika udara semakin dingin, belakangan. Pupuk hewan itu untuk api penghangat, penerangan, sekaligus untuk bahan bakar tungku. Asalnya dari kotoran yak yang digumpalkan:
diremas-remas, ditepuk-tepuk, sebelum dijemur sampai kering berkerak. “Kalau begitu, bantu aku membuat mentega. Tadi aku sudah memerah susu cukup sampai makan malam. “He-eh.” Si ibu masuk ke tenda diikuti anak gadisnya. Dia lalu meletakkan dua tong berisi air di tengah tenda. Persis di samping

Detail Buku:
Judul         :  MUHAMMAD: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis      :
Tasaro GK
Penerbit     : PT Bentang Pustaka
ISBN         :978-602-291-050-3
Tebal         :
650 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar