My Better Half by Indah Hanaco

My Better Half by Indah Hanaco

Sinopsis:
Bujangan Paling Diidamkan Berada di bawah tatapanmu Membuat hatiku diliputi kehangatan Seakan selama ini aku cuma mengenal pekat dan gelap Menyadarkanku akan kehadiranmu Dirimu yang utuh Menawan dan indah Dengan cara yang melembutkan jiwa Aku cuma bisa terpana Mensyukuri saat Tuhan menciptakanmu Maxim Fordel Arsjad mengernyit saat melihat sampul majalah gaya hidup beroplah tinggi, Th e Bachelor. Wajahnya terpampang di sana, bersama dua orang pria lainnya. Ada judul mencolok yang juga tertera, setidaknya menurut opini Maxim. Bujangan Paling Diidamkan. Bah! Dua pria yang wajahnya juga terpajang di Th e Bachelor adalah Malcolm Manoppo dan Jimmy Prasad. Tidak ada satu pun yang dikenal Maxim secara pribadi. Malcolm seorang atlet basket yang konon mendapat tawaran menggiurkan dari sebuah klub dan siap memecahkan rekor bursa transfer lokal. Sementara Jimmy adalah model top yang cukup sering diundang show ke luar negeri. Mereka bertiga menjalani sesi wawancara dalam waktu yang berbeda. Maxim bukannya tidak tahu mengapa dia mendapat kehormatan diwawancarai majalah itu. 
Saat ini, dirinya dianggap sebagai  pengusaha muda yang turut berperan besar membawa sepatu prewalker bermerek Buana Bayi mendapat perhatian publik. Buana Bayi baru diproduksi kurang dari tiga tahun tapi sudah hamper merajai angka penjualan di tanah air. Maxim sempat enggan menjalani wawanncara. Karena merasa ini adalah kesuksesan kolektif. Ada tim tangguh yang berjuang untuk kesuksesan Buana Bayi, bukan cuma dirinya. Ponselnya berbunyi, dan Maxim mengerang dengan mencolok saat melihat nama yang tertera di layar. Sean Gumarang. Maxim terdorong untuk mengabaikan telepon itu. Tapi dia tahu kalau Sean tidak akan puas sampai bisa mengolok-oloknya. “Halo,” katanya kemudian. “Kalau kamu menelepon Cuma untuk mengejekku, terima kasih.” Suara Sean yang santai memang dimaksudkan untuk menipu sekaligus membuat kesal sepupunya. “Wah, pagi-pagi sudah marah. Aku sarankan, cek tekanan darahmu ke dokter, Max!” Maxim tidak terbujuk untuk meladeni Sean. “Aku banyak pekerjaan, Sean! Tidak sempat untuk bercanda,” balas Maxim ketus. “Hei, ada tidak yang bilang kalau sekarang kamu itu makin menyebalkan?” tanya Sean ringan. “Aku tidak sedang meng ganggumu, kok. Aku cuma mau tahu, seperti apa rasanya menjadi Bujangan Paling Diidamkan?” tawa Sean meledak kemudian. “Aku sudah tahu, pasti itu tujuanmu,” Maxim cemberut. “Itu julukan yang sangat memalukan. The Bachelor bilang mereka akan menerbitkan edisi khusus. Kukira cuma berisi artikel sejumlah pria lintas profesi yang dianggap sedang sukses. 
Astaga, ternyata....” Maxim enggan meneruskan kalimatnya. “Jadi, sudah cukup mendengar keluhanku pagi ini?” Maxim yakin, di mana pun Sean berada saat ini, pasti dadanya sedang dipenuhi rasa puas. Begitulah mereka berdua selama bertahun-tahun. Saling menggoda dan mengolok-olok yang lain. Meski menurut Sean belakangan ini Maxim sudah tidak sesantai dulu dan lebih banyak cemberut. Sejak pagi itu, Maxim merasa orang-orang di kantor memandangnya dengan tatapan aneh. Entah memang seperti itu atau cuma perasaannya saja. Maxim tidak pernah menyukai perhatian. Menjauh dari fokus orang-orang sekitarnya membuat lelaki itu merasa aman. Dia setuju diwawancarai Th e Bachelor pun atas bujukan tepatnya paksaan kakak perempuannya, Aurora. “Ayolah Max, ini cuma wawancara biasa. Anggap saja semacam promosi gratis buat Buana Bayi. Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk tampil di majalah top, lho!” “Tapi, bukan aku yang bertanggung jawab atas kesuksesan Buana Bayi. Masih ada banyak orang yang....” “Tapi cuma kamu yang tampangnya enak dilihat. Yang lain sudah terlalu uzur,” Aurora tersenyum lebar. “Orang ingin tahu, siapa yang berada di balik Buana Bayi. Ketika tahu kalau salah satu perancang sepatu prewalker ini adalah kamu, ibu-ibu muda pasti berebut ingin membeli koleksi kita.” “Itu sama sekali tidak ada hubungannya, Mbak! Itu alasan yang sangat mengada-ada,” bantah Maxim. “Tentu saja ada! Kamu sih tidak pernah tahu bagaimana otak kaum perempuan itu bekerja. Rumit, tahu! Kami berbeda dengan kalian. Ayolah Max, jangan egois. Ini peluang bagus yang belum tentu akan kamu dapatkan lagi di masa depan. Apalagi kalau usiamu sudah bertambah tua dan pesonamu memudar. Atau setelah Declan bergabung di sini. Kamu kalah bersaing, aku jamin itu!” Ada sederet kalimat bujukan lain yang dilontarkan Aurora

Detail Buku:­­
Judul         : My Better Half
Penulis      : Indah Hanaco
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo,
ISBN         :978-602-02-5344-2
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar