Novel Garis Waktu Karya Fiersa Besari

Novel Garis Waktu Karya Fiersa Besari

Sinopsis :
Pernahkah kau ada di titik di mana hidupmu begitu teratur, melakukan segala yang kau mampu untuk menjadi "seragam", berharap semua akan baik-baik adanya, namun tetap merasa ada yang hilang? Seolah, ada satu kepingan puzzle yang tak juga melengkapi teka­teki yang kau ciptakan sendiri.  Semestaku sebelum kau datang adalah konstalasi yang sistematis; mengandung stagnansi yang konservatif. Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang membakar langit hingga kemerahan. Aku tidak tahu caranya mencium wangi hujan yang membasahi bumi. Aku tidak paham di mana indahnya kalimat yang termaktub dalam larik-larik puisi. Malam-malamku hanya berisi kumpulan tugas yang harus rela kubagi dengan jam tidur. Dan pagi-pagiku hanyalah repetisi membosankan untuk mengenyangkan logika. Aku lupa bahwa bintang pun bernyawa, hutan pun bernapas, dan kita diciptakan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari sekadar rutinitas harian. Aku lupa bahwa kita semua terkoneksi; bahwa cinta sepatutnya menjadi bahan bakar agar kita tetap melangkah. Garis besarnya, aku lupa caranya menjadi manusia. Kau menjadi seseorang yang memorak-morandakan jagat rayaku. Dengan cara yang termanis, kau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir. 
Maka, izinkanlah aku menulis untukmu, tentangmu, meski aku tidak tahu apakah surat ini akan tiba di sisi ranjangmu, atau hanya terdampar di bentangan ufuk. lzinkanlah aku mengabadikan perjalanan kita, agar aku tidak lupa bahwa suatu ketika di antara perjumpaan dan selamat tinggal, malam pernah dipenuhi senyum, senja pernah menjadi bait puisi, hujan pernah mengantarkan kerinduan, dan tangan kita pernah saling bergandengan. Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kita pernah Perjumpaan yang Sederhana April, tahun pertama Kota ini sedang dilanda gerimis tatkala jalan hidupku ditakdirkan untuk berubah selamanya. Adalah matamu yang pertama kali berbicara, menembus pertahananku secara membabi buta. Kau diamkan tanganmu di dalam jabatanku selama beberapa detik. Aku idamkan tanganku di dalam genggamanmu untuk selamanya. Segala keteraturan yang kubangun selama ini, runtuh dalam sekejap. Padahal, perjumpaan kita begitu sederhana; tidak sedramatis kisah-kisah yang didongengkan para pujangga. Meski begitu, bagiku kau istimewa, melebihi apa yang mampu digambarkan susastra. Bahkan, aku yakin kau bukan manusia biasa. Mungkin kau adalah malaikat yang sedang menyamar, diturunkan bersama lusinan born atom yang meledakkan dimensiku. Dan aku hanya bisa pasrah membiarkan perkenalan kita dimulai.
Hey! Jangan dulu pergi. Aku tidak ingin pulang ke rumah lalu berlama-lama menatapmu membeku di layar ponsel. Kau terlalu indah untuk kubiarkan berkeliaran di linimasa. Sudah, duduk saja di sebelahku, hingga di penghujung zaman bila perlu. Aku takkan keberatan. Jangan tanya kenapa. Logika telah mati. Ajukan saja pertanyaan muluk itu pada jantungku yang berdebar saat tenggelam dalam senyumanmu (meski kutahu senyumanmu untuk saat ini hanya basa-basi normatif). Tumbuh harapan dalam hatiku; berharap kelak dapat kutemui senyumanmu yang sesungguhnya. Dan jika tidak berlebihan, akulah orang yang membuatmu tersenyum. Kau pun pamit undur, menyisakan wangi yang pekat mewarnai udara. Tanpa mau bertanggung jawab, kau tinggalkan aku termabuk sendirian. Jika kasmaran adalah narkotik, maka kau adalah bandarnya. Dan aku bagaikan pecandu yang rela menggadaikan jiwa demi menatap matamu sekali lagi. Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu,  kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain

Detail Buku:
Judul         : Garis Waktu
Penulis      : Fiersa Besari
Penerbit     : Mediakita
ISBN         :978-979-794-1
Tebal         : 212 hlm
Download      : Google Drive

Tidak ada komentar:

Posting Komentar