Sinopsis:
Ari, atau lengkapnya Matahari Senja, adalah biang onar di SMA Airlangga. Penyandang sederet predikat buruk dan pelanggar sederet peraturan. Dia menyimpan satu rahasia, karena tak seorang pun dia biarkan mengetahui tempat tinggalnya. Tari, atau lengkapnya Jingga Matahari, seorang siswi angkatan baru, membuat seisi SMA Airlangga tercengang. Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek dan membuatnya jadi incaran karena statusnya yang terus jomblo, tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Semua menduga karena persamaan nama. Ari terus mendekati Tari. Namun, nama buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengannya. Cewek itu mati-matian menjauhkan diri. Angga, atau lengkapnya Anggada, cowok pentolan SMA Brawijaya, musuh bebuyutan SMA Airlangga sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu tak sengaja cewek itu terjebak dalam tawuran dan Ari ber- usaha keras menyelamatkan Tari. Angga menduga Tari adalah pacar Ari. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad harus bisa merebut Tari. Memanfaatkan peluang yang ada, cowok itu kemudian maju sebagai pelindung Tari. Ari berhasil mematahkan usaha Angga, karena keberadaan Anggita sepupu Angga yang ternyata bersekolah di SMA Airlangga terbongkar.
Demi keselamatan sepupunya itu, Angga terpaksa mundur. Akibatnya, Tari kini sendirian. Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di sebuah mal, tanpa sengaja Tari bertemu Ari. Tapi ternyata cowok itu sama sekali bukan Ari, melainkan Ata. Saudara kembar Ari! Tari jelas syok. Tapi yang membuatnya lebih syok lagi, nama lengkap Ata adalah Matahari Jingga! Rahasia terbesar Ari, mungkin juga yang terkelam, akhirnya terkuak. Tari merasa semua pertanyaannya selama ini akhirnya terjawab. Kenapa Ari tercatat sebagai siswa yang paling bermasalah. Kenapa cowok itu dengan gigih terus berusaha mendekatinya. Dan kenapa sejak awal dirinya bisa merasakan, Ari sebenarnya baik. Sementara yang sesungguhnya terjadi lebih rumit daripada itu. Sebuah rahasia Ari yang lain telah menempatkan Tari sebagai korban, tanpa sedikit pun Ata terlibat di dalamnya. INI bukan lagi sekadar teror. Ini teror yang sudah bisa dikategorikan mengarah ke pembunuhan. Tidak dalam bentuk tindak kekerasan secara langsung, tapi dalam bentuk serangan jantung. Ari tidak mau menunggu lama. Dua mata sembap pagi itu melekat kuat di dalam kepala dan terus menyiksanya. Karenanya, selama sepasang bibir itu belum menjelaskan penyebabnya, dirinya tidak akan pernah bisa tenang. Dan Ari sudah terkenal tidak akan berkompromi terhadap siapa pun yang membuat dirinya tidak tenang. Hari ini, dua hari setelah menerima SMS ancaman dari Ari, Tari terdiam di ruang kelasnya yang langsung kosong begitu bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu. Dia belum mendapatkan petunjuk apa pun kecuali rasa cemas dan sederet tanda tanya tanpa jawaban. Tiba-tiba ponselnya di saku kemeja bergetar. Tari terlonjak. Dikeluarkannya benda itu. SMS masuk, dari Fio. Tar, bruan. Soto lo kburu dingin nih. SMS kak ari smntra gak ush dipkrin dulu deh. Tari langsung ingat, tadi dia meminta Fio memesankan semangkuk soto ayam dan berjanji akan segera menyusul.
Tari berdiri dan bergegas ke luar kelas. Tapi belum sampai dua meter ditinggalkannya pintu kelas, langkah-langkah cepatnya sontak terhenti. Oji melompat dari tepi koridor, tempat cowok itu berdiri dengan punggung menyandar di dinding, entah sejak kapan, lalu berdiri tepat di tengah-tengah koridor. Setelah beberapa detik menatap kaki tangan Ari itu dengan keterkejutan, Tari balik badan. Tapi kali ini lebih parah. Kakinya bahkan belum sempat melangkah, untuk kedua kalinya tubuhnya menegang. Tak jauh di depannya, Ridho berdiri menjulang. Tari menelan ludah. Dia melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh tembok pagar pembatas koridor. ”Kakak berdua kenapa sih?” tanya Tari, berusaha tetap terlihat tenang. Tak satu pun dari kedua cowok yang saat ini sedang memblokir jalannya menjawab. Keduanya menjalankan aksi mereka tanpa bicara. Oji menghalangi jalan dengan sikap berlebihan. Kedua tangannya terentang lebar-lebar. Nyaris menyentuh lebar koridor dari ujung ke ujung. Seolah-olah Tari adalah buronan berbahaya yang paling dicari dan selama ini punya catatan sebagai tukang kabur. Sedangkan Ridho, meskipun terlihat santai, hanya memblokir dengan tubuhnya, kedua tangannya bahkan terlipat di depan dada. Tari tahu dengan pasti, separuh lebih jarak
Detail Buku:
Judul : Jingga Dalam Elegi
Penulis : Esti Kinasih
Penulis : Esti Kinasih
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :978 - 979 - 22 - 6647 - 4
Tebal : 392 hlm
ISBN :978 - 979 - 22 - 6647 - 4
Tebal : 392 hlm
Download : Google Drive

Tidak ada komentar:
Posting Komentar