Novel Omen #6: Sang Pengkhianat

Novel Omen #6: Sang Pengkhianat

BANGUNAN kosong itu sudah tidak pernah digunakan lagi, namun tidak dirobohkan juga Konon, bangunan bekas ruangan musik itu dihantui oleh siswa teladan sekolah ini yang tewas di dalam bangunan itu. Konon, siswa malang itu ditikam berkalikali oleh sahabatnya sendiri yang cemburu berat, tidak hanya terhadap prestasi siswa teladan tersebut, melainkan juga karena cewek yang disukainya jatuh cinta pada si siswa teladan. Konon, rasa cemburu yang berlebihan membekas dalam ruangan itu hingga puluhan tahun, menebarkan kebencian di sekolah, dan menyebabkan sekolah itu dikutuk untuk selamanya. Kecemburuan berlebihan yang sama juga menyebabkan masalah besar di sekolah belakangan ini. Kecemburuan  berlebihan yang diakibatkan olehku bertahun-tahun lalu, dan kini aku jugalah yang harus menyelesaikannya. Karena itulah aku mengumpulkan sekutu-sekutuku di sini malam ini. Kupandangi bangunan itu dan bergidik. Asal tahu saja, ke sini, bulu kudukku selalu merinding. Dulu, sewaktu masih bersekolah di sini, aku senang mengorek-ngorek sejarah sekolah. Saat itulah kuketahui hantu siswa teladan itu memiliki nama yang sama denganku. Jonathan. Bahkan nama panggilan kami pun sama, yaitu Nate. Mungkin karena itu, setiap kali ke sini, perasaanku
jadi tidak enak. Seolah-olah ada seseorang atau sesuatu  yang menyambut kedatanganku di sini. ”Nate, Nate. Permainan lo bagus banget sih! Ayo, mainin lagi dong!” ”Nate, udah denger belum? Lo ranking satu lagi!” ”Nate, kenapa lo nggak jadian sama Erlin? Masa garagara si Bejo naksir dia? Lo juga tau, dia kan kagak suka sama si Bejo!” Aku menyentakkan kepala, melupakan kenangankenangan masa lalu yang tidak ingin kuingat lagi. Semua itu sudah masa lalu, sesuatu yang tak bakalan bisa diulang dan diperbaiki lagi. Aku lebih tertarik memikirkan masa depan. Itu sebabnya di dalam otakku hanya ada rencana, rencana, dan rencana ”Nate?” Aku berpaling dan menatap wajah sobat lamaku sejak belasan tahun lalu. ”Halo, Erlin.” Erlin tersenyum dan berdiri di sebelahku seraya memandangi bangunan kosong itu. ”Masih juga takut masuk ke sana?” Aku memandanginya dengan kejengkelan yang tak kusembunyikan. ”Sejak kapan aku pernah takut?” ”Ah ya.” Nada suara Erlin terdengar mengejek salah satu hak istimewanya sebagai sahabatku. Kalau orang lain yang bersikap kurang ajar begini, sudah pasti akan  aku tidak mudah ketakutan. Namun, setiap kali dating kupreteli mukanya. ”Jonathan Guntur yang terkenal. sejak kecil sudah jadi pahlawan sekolah, dan setelah dewasa pun masih terus menjaga sekolah ini. Kadang aku nggak ngerti, Nate, kamu itu memang baik hati atau keponya nggak kira-kira.” ”Jawabannya jelas dong,” sahutku dengan nada pongah. ”Aku memang kepo nggak kira-kira.” Erlin tertawa, tawa lepas yang menandakan dia tidak suka berpura-pura feminin, tawa lepas yang sejak dulu sangat kusukai dan membuatku terus-menerus membuat lelucon konyol di depannya. Tebersit rasa sakit menghunjam hatiku saat mendengar tawa itu. Kenapa dulu aku begitu tolol? Kenapa aku membuat keputusan-keputusan
yang salah, mendorong kami berdua berjalan ke arah yang berbeda? Kini aku harus menanggung akibatnya. Seumur hidup, aku tidak akan pernah bisa mengucapkan kata-kata yang sejak dulu ingin kukatakan padanya. Dan hingga kami mati nanti, dia tidak akan pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. ”Sejak dulu kamu memang nggak tau malu. Mungkin kamu manusia paling muka badak yang pernah kutemui.” ”Sepertinya itu bukan kekurangan,” ucapku. Erlin mengangkat alis dengan gaya yang menyiratkan ketidaksetujuannya
pada ucapanku, jadi aku pun menjelaskan. ”Kalau itu memang kekurangan, kenapa kamu masih saja tahan berteman denganku selama ini?” ”Oh, itu sih karena,” Erlin mencondongkan wajah ke telingaku dan berbisik lembut, membuat jantungku berdebar- debar tak keruan seperti anak-anak abege (astaga, padahal anak-anakku pun sudah abege!), ”aku juga dikutuk, sama seperti almamater kita ini.”

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #6: Sang Pengkhianat
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-0900-2
Tebal         : 472 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar