Husband by Phoebe

Husband by Phoebe

LINEA Lavoille Fujisawa, gadis dengan triple L di namanya itu adalah seorang pegawai administrasi di sebuah majalah travelling yang sudah berdiri mungkin hampir seumur Ayahnya. Begitu keluar dari universitas Todai, Linea langsung pindah mengikuti Grandmere-nya ke Prancis yang merupakan tempat kelahiran ayahnya, Keith Lavoille Fujisawa. Tak kurang dari dua tahun yang lalu, Linea melamar ke DArE. Memiliki seorang teman bernama Kyla yang sekarang duduk di meja sebelahnya dan beberapa orang lain yang tidak begitu dekat dengannya di kantor ini. Setahu Linea, di kantor ini hanya Kyla yang menganggapnya ada, berbicara dengannya secara baik-baik dan memandangnya sebagai manusia. Sedangkan karyawan yang lain sangat acuh dan masih tidak perduli meskipun Linea sudah bekerja di DArE selama dua tahun. Sekarang beginilah hidupnya setiap hari, duduk di depan komputer dan mengetik, mengetik, mengetik, seolah-olah keyboard adalah dirinya. Linea sangat mengantuk karena hari ini dirinya hamper seharian berada di kantor tanpa melakukan apa-apa, ia bahkan tidak pergi keluar untuk makan siang. Bukan karena terlalu banyak pekerjaan tapi Linea sedang diet demi tampil sempurna pada pernikahannya yang akan berlangsung bulan depan. Carlo, calon suaminya selalu mengatakan kalau Linea tampak gemuk dan Linea tidak akan suka bila terlihat gemuk di hari pernikahannya. Ponselnya yang berada di sebelah komputer bergetar. Linea membuka matanya lebar-lebar karena matanya sudah redup sejak tadi. Ia benar-benar merasa lapar dan itu sudah membuatnya mengantuk. Tapi melihat siapa pengirim pesan di ponselnya semua rasa kantuk Linea lenyap begitu saja dan tidak tersisa sama sekali.

Bb, Pulang Jam berapa?
Bisa bertemu hari ini?
Plg kerja datang ke café ku ya?
Aku sangat merindukanmu
(Sender: Carlo. XXX)

Carlo pada akhirnya mengirim pesan juga setelah seharian ini Linea menanti kabar darinya. Semenjak rencana pernikahan mereka di putuskan, Carlo benar-benar berkonsentrasi bekerja seolah-olah ia akan meninggalkan cafenya untuk selamanya. Semua hal itu menyebabkan Linea mengurusi persiapan pernikahannya seorang diri dan semakin sulit untuk bertemu dengan Carlo. Tapi Linea selalu merasa kalau hal itu bukanlah masalah yang harus di ribut-ributkan. Linea sudah terlalu banyak menuntut kepada Carlo dan dirinya sama sekali tidak akan
meminta hal yang lebih lagi. Linea sudah harus bersyukur karena Carlo mengabulkan permintaannya untuk mempercepat pernikahan meskipun hal itu membuatnya repot seorang diri. Tidak, ada Kyla yang siap membantunya meskipun Linea tidak memberi tahu dengan siapa ia menikah nanti pada Kyla, Linea patut bersyukur. Linea tidak pernah memperkenalkan Carlo kepada siapa-siapa kecuali Grandmere sehingga rencana pernikahan ini juga sama rahasianya seperti keberadaan Carlo. Kedua orang tuanya juga belum tau, hanya Grandmere satu-satunya orang yang tau dan Grandmere sangat tidak setuju. Grandmere pada awalnya menyukai Carlo, tapi begitu tau kalau Linea dan Carlo akan melangkah kejenjang yang lebih serius, randmere menolak keberadaan Carlo terang-terangan. Terlebih sejak Linea mengatakan kalau dirinya akan pindah dan tinggal bersama Carlo setelah menikah, kebencian Grandmere kepada Carlo semakin menjadijadi. “Linea, Kau di panggil Monsieur Fabius keruangannya!” Kyla berdiri di depan pintu ruang kerja mereka sambil memijat dahinya. Gadis itu mendapat Job yang sangat luar biasa belakangan ini. Seringkali Kyla mengeluh kalau dirinya hampir muntah menghadapi kertas-kertas dan compute “Ada apa?” “Pokoknya segeralah kesana. Kau tau, kan? Besok dia akan pension dan ini adalah hari terakhirnya di kantor.” Linea mengangguk lalu memandang kalender yang berada di sebelah komputernya, 22 Juni. Carl Fabius pernah mengatakan rencana pensiunnya saat rapat terakhir mereka minggu lalu. Sama sekali tidak di duga bahwa rencana itu berlangsung secepat ini, jarang sekali ada orang yang memulai pensiunnya pada pertengahan bulan Juni, seperti yang Carl Fabius lakukan. Linea berusaha mengembalikan semangatnya dan berjalan menuju ruangan kerja Carl Fabius. Begitu sampai, Linea hanya perlu mengetuk pintu beberapa kali dan ia melihat bayangan Tuan Fabius yang berjalan mendekati pintu lewat dinding Kaca anti pecah yang berwarna keabu-abuan. Siapapun bisa melihat bayangan dari dalam ruangan tapi tidak bisa melihat semuanya selain warna hitam yang bergerak pada dinding Kaca yang menyelubungi ruangan Carl Fabius. Entah siapa yang punya ide untuk membuat ruangan kerja seperti ini, yang pasti ide ini membuat Atasan manapun menjadi kehilangan lebih dari lima puluh persen privasinya. “Silahkan, Nona!” Carl Fabius benar-benar muncul di balik pintu dan mempersilahkan Linea masuk. Laki-laki yang sangat baik. Seandainya Carl Fabius tidak punya istri, Linea akan memaksa laki-laki itu untuk menikah dengan Grandmere-nya. Linea menahan tawa sambil melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu. Carl Fabius menutup pintu dan memandangi Linea sambil bertolak pinggang. “Jadi menikah bulan depan?” Tanyanya. Linea mengangguk. “Tentu saja.” “Masih merahasiakan siapa calonnya? Bagaimana bila aku tidak bisa datang pada pernikahanmu bulan depan? Aku mau liburan ke Florida bersama keluargaku!”

Detail Buku:
Judul         : Husband
Penulis      : Phoebe Maryand
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar