Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Negeri Para Bedebah by Tere Liye

Pesawat berbadan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London. Penerbangan ini nonstop menuju Singapura. Gadis dengan rambut dikucir dan seperangkat touchscreen di tangan, berisi corat-coret daftar pertanyaan, tersenyum gugup di kursi berlapis kulit asli di sebelahku. Aku sedang tidak berselera untuk tersenyum, cukup menyeringai, menatapnya datar. ”Silakan,” kataku. ”Maaf, wawancara ini sudah berkali-kali ditunda. Kami sudah berusaha menyesuaikan jadwal. Tapi begitulah, tidak mudah mengejar kesibukan Anda.” Dia sedikit percaya diri tampaknya. Senyumnya lebih baik. Aku mengangguk. Aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Janji pertama bertemu di Jakarta kemarin pagi batal karena aku sudah berangkat menghadiri konferensi. Editor senior majalah mingguan  tu spesial meneleponku, minta maaf, bilang wawancara ini  amat penting, waktunya mendesak, pembaca setia mereka ingin tahu bagaimana cara terbaik menyikapi turbulensi ekonomi dunia saat ini. Apa pun akan mereka lakukan untuk mendapatkan materi wawancara, termasuk menyusulku ke London. Baiklah, aku memberikan waktu satu jam selepas konferensi. Lagi-lagi wartawan mereka datang terlambat di gedung konferensi, dan aku sudah menumpang taksi bergegas menuju bandara. Editor itu kembali terburu-buru menelepon, bilang mereka  udah berusaha mengirimkan wartawan terbaik mengejarku ke Eropa, tetapi jadwalku terlalu padat untuk diikuti. Sambil tertawa, dia bergurau, ”Kau tahu, Thom. Bahkan jadwalmu lebih padat dibanding presiden.” Demi sopan santun aku ikut tertawa, lantas berkata pendek, ”Kita lakukan saja sekarang di atas langit atau lupakan sama sekali.” ”Seperti yang mungkin sudah disebutkan dalam e-mail, ini akan menjadi judul di halaman depan.” Gadis dengan blus putih dan rok hitam konservatif selutut itu masih melanjutkan dengan kalimat pembukanya. ”Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya, tapi karena saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan.ebih besar dibandingkan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali pesawat biasa. Dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.” Aku mengangguk, lebih asyik mengamati penampilan ”wartaIsi-wan terbaik” di sebelahku itu. Aku bergumam, semoga isi kepalanya secantik penampilannya. Gadis itu lebih cocok menjadi pembawa acara di layar televisi dibandingkan kuli tinta, bergenit ria dengan dandanan dan kalimat, padahal kosong. Apa tadi kualifikasinya? Lulusan terbaik sekolah bisnis? Ada ribuan orang yang memiliki predikat itu—aku bahkan punya dua. ”Sejak kapan kau menjadi wartawan?” Senyum riang gadis itu terlipat, meski ekspresi wajah terbaiknya tetap menggantung. ”Saya?” ”Ya, sejak kapan kau menjadi wartawan?” ”Dua tahun,” dia menjawab ragu-ragu. ”Berapa usiamu sekarang?” ”Usia? Eh, dua puluh lima.” ”Ada berapa wartawan di kantormu?” ”Eh?” ”Ya, anggap saja aku yang sedang mewawancaraimu.” Aku menatapnya tipis, mengabaikan pramugari yang penuh sopan santun berlalu-lalang menawarkan kaviar serta anggur terbaik. ”Hampir tiga puluh.” ”Menarik.” Aku menjentikkan telunjuk. ”Dari tiga puluh
wartawan di kantor review ekonomi mingguan yang mengklaim terbesar di Asia Tenggara, pemimpin redaksi kalian ternyata memutuskan mengirimkan juniornya yang berusia dua puluh lima dan baru bekerja dua tahun, melakukan wawancara yang katanya paling penting, topik paling aktual, yang judulnya akan diletakkan di halaman depan edisi breaking news. Amat menarik, bukan?” Wajah gadis itu memerah. Sepertinya aku berhasil meIsi-

Detail Buku:
Judul         : NEGERI PARA BEDEBAH
Penulis      :
Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 8552 - 9
Tebal         :
440 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar