Kenangan melemparku ke masa lalu. Aku menghela napas panjang. Ah… tempat ini selalu berhasil membuat dadaku seakan-akan dipenuhi oleh sesuatu dan sukses memaksa mataku memanas. Ya… aku tak bisa membohongi perasaanku. Gundukan tanah yang ada di hadapanku dan berada di antara pepohonan ang sesekali seolah membisikkan kata-kata rahasia ini selalu membuat pikiranku melayang-layang ke satu masa itu. Satu masa di mana kekasih jiwaku masih ada di sampingku. Tak sadar, air mataku meluncur begitu saja, dan bukannya berhenti, semakin lama malah semakin deras. Dadaku pun semakin sesak. Aku sesenggukan. Entah sudah berapa helai tisu yang kupakai untuk menghapus air mataku, tapi tak juga berhasil menghapus kilasan-kilasan kisah tentang dirinya. Bayangan demi bayangan bermain-main di kelopak mataku. Hingga detik ini, aku tak sanggup membuat bayangan tentang dirinya lenyap. Masih teringat dengan jelas sosok itu, sosok yang sering kali membuat aku tak mampu membantah apa pun yang ia inginkan dariku. Masih teringat jelas juga suaranya ketika memanggil namaku. Bahkan meskipun Sang Kuasa telah memeluknya, saat aku memejamkan
mataku sambil mengingat sosoknya, aku masih bisa mendengar suara itu sayup-sayup menyapaku dan menemaniku. Benar, aku hampir berani bersumpah kalau betul suara itu adalah suaranya. Suara penuh wibawa yang membuat aku jatuh cinta. Aku yakin saat itu dia memang sedang memanggil aku. Ah… kalau sudah seperti ini, siapa yang ingin kenangan itu pergi jika hanya itu satu-satunya yang mampu membuatku bertahan hingga saat ini? Sebelumnya, aku selalu mendengar bahwa kehilangan belahan hati adalah hal yang paling menyakitkan di dunia. Tapi, tak pernah sedikit pun terbayangkan olehku bahwa rasanya akan seperti ini. Rasa yang kurasakan saat ini bagiku tak layak jika dinamakan sakit. Bagiku, rasa ini hanya punya arti remuk atau dengan kata lain hancur berantakan hingga aku tak sanggup lagi merasakannya. Ibarat kematian itu sendiri, kehilangan orang tercinta untuk selamalamanya bagiku sama seperti mati begitu saja. Seolah nyawaku untuk berkontemplasi dan berdialog dengan hati nuraniku, membuatku seakan dapat mendengar suaraku sendiri. Sunyi yang mampu menenggelamkanku dalam sejuta kenangan yang meluncur perlahan menuruni bukit-bukit nun jauh di sana, mencari-cari dan menggapai sesuatu yang entah harus kunamakan apa.
Desau angin bahkan tak lagi mampu kurasakan gemerisiknya di sekujur tubuh. Memejamkan mata di hadapan pusara teramat sederhana, aku tenggelam kian dalam dan semakin dalam. Tak kuhiraukan senja yang belum usai jingganya, bahkan tak kupedulikan seseorang yang menemaniku acap kali datang ke makam ini. “Ibu, hari sudah gelap. Ayo, kita pulang.” Dina, putri keduaku, menyentuh bahuku pelan, memecahkan sunyi, membuyarkan keheninganku. Aku menelengkan kepala, menoleh kepadanya. “Pulang ke mana, Nak? Di sini rumahku, di sini tempatku yang seharusnya, di samping bapakmu.” Aku menghela napas dalam-dalam. Rinduku belum lagi usai, dan aku tahu pasti bahwa tak akan pernah usai. Dina hanya bisa sunyi. Dari tatapan matanya, aku tahu Dina sangat mengerti akan hal itu. Beberapa tahun belakangan ini, memang Dina-lah yang selalu menemaniku jika aku ingin berziarah ke makam almarhum bapaknya, suamiku. Entah kenapa aku merasa nyaman saja jika ditemani anak keduaku ini. Dina seakan paham betul bahwa aku benar-benar tak ingin diganggu oleh apa pun dan siapa pun saat berkunjung ke pemakaman keluarga yang perjalanannya memakan waktu sekitar dua setengah jam dari rumahku di pusat kota. Mataku tanpa sadar memperhatikan dirinya yang sepertinya juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Putriku yang satu itu, kata orang-orang di sekitarku, sangat mirip bapaknya. Dan, aku pun sepakat dengan mereka. Ia keras seperti bapaknya, tapi apa terlepas perlahan dari tubuh dan melayang pergi, tanpa aku punya kuasa untuk menariknya kembali. Aku harus mengakui bahwa diriku memang hancur, meski entah hancur seperti apa yang mampu mewakili kehancuranku sepeninggal Mas Soerono, lelaki yang telah mendampingiku selama puluhan tahun. Lelaki yang pada bahunya kusandarkan kepercayaan penuh atas hidupku selepas dipersunting olehnya. Tak akan pernah ada rasa sakit yang sebanding dengan sakit yang satu ini, kini kuyakini hal itu sepenuh hati. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, kuseka air mata yang masih menggenangi mataku. Pemakaman ini masih sesunyi dahulu, ketika aku pertama kali datang untuk mengantarkan kekasih hatiku ke peristirahatan terakhirnya. Sunyi yang mengundangku
Detail Buku:
Judul : Peluk Ia Untukku
Penulis : Tatiek S.
Penulis : Tatiek S.
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
ISBN :-
Tebal : -
ISBN :-
Tebal : -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar