Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Perempuan Cahaya by Lien Auliya Rachmach

Selasa pagi Februari 2013, kulangkahkan kakiku tergesa memasuki pelataran Kantor Pelayanan Kesehatan Pelabu h an Kota Cirebon. Harus segera kutuntaskan urusanku di sana karena siang harinya jadwal cuci darah menungguku di RS Gunung Jati Cirebon. Di dalam ruangan 7 × 5 meter itu, tampak duduk dua orang berseragam di belakang meja panjang. Di kursi tunggu ada beberapa orang yang sedang menunggu antrean untuk dilayani petugas. Aku langsung menuju meja panjang, mendaftarkan diriku untuk membuat Kartu Kuning yang berisi bukti bahwa aku sudah disuntik vaksin meningitis, salah satu syarat yang harus kupenuhi sebelum berangkat umrah sebulan kemudian. Selesai mendaftar, aku diminta mengisi biodata, menyerahkan foto kopi paspor dan pasfoto ke petugas. Kemudian, aku diminta menunggu beberapa saat hingga namaku dipanggil seorang ibu berseragam dan berjilbab putih.“Ibu Lien Auliya, sekarang tes urine dulu, ya. Silakan, kamar mandinya di sebelah sana,” ujar si ibu sambil menyerahkan botol kecil kepadaku. Aku terdiam, ada yang berkecamuk hebat di pikiranku. “Ibu, maaf, tes urine ini untuk tes kehamilan, ya? Saya belum menikah, Bu,” tanyaku terbata. “Iya. Walau belum menikah, ini prosedur, Bu. Silakan, Bu,” jawabnya datar. “Tapi ....tapi, saya sudah tidak bisa pipis, Bu.” Kalimatku kembali terbata-bata. “Oh, ya? Kalau gitu, Ibu minum dulu yang banyak. Nanti pasti pengen pipis. Saya tungguin, Bu.” “Ibu, saya pasien gagal ginjal, pasien cuci darah. Udah lebih dari tujuh tahun ini saya gak pernah pipis, Bu. Jadi, dipaksain minum banyak juga, nggak akan keluar.” Hhhh, akhirnya kusampaikan juga kalimat pamungkasku, berharap ia akan mengerti. “Hah?” Si ibu melongo sambil menatapku. “Jadi, gimana, Bu?” Aku berusaha menetralkan keadaan. “Ada surat keterangan?” tanyanya. “Maksudnya, hasil lab, Bu?” “Bukan, surat keterangan dari dokter bahwa Ibu tidak pipis.” “Hah? Emang ada, Bu, surat keterangan kayak gitu?” “Enggak ada sih. Tapi, intinya gini, ya, Bu. Saya tidak bisa me lanjutkan pelayanan suntik meningitis kalau belum ada surat itu. Ini prosedur, Bu. Saya tidak mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa di kemudian hari. Silakan Ibu buat dulu. Nanti, kembali lagi dengan surat keterangan, ya, Bu.” “Mungkin, Jumat saya baru ke sini lagi, ya, Bu. Siang ini saya jadwal cuci darah di RS Gunung Jati. Rumah saya jauh, Bu, di Ku ningan.” Si ibu mengangguk seiring saya berlalu meninggalkannya dengan air mata menggenang. Ya Allah, suntik vaksin doing kok ribet amat, ya. Sesampainya di RS Gunung Jati, kusampaikan masalahku kepada dokter dan perawat ruang HD (hemodialisis). Mereka tertawa mendengar ceritaku. Seumur-umur, tidak pernah ada yang namanya Surat Keterangan Tidak Pipis. Setelah aku memohon, akhirnya dibuatlah surat keterangan format baru yang menyatakan bahwa aku pasien cuci darah dan sudah tidak pipis, ditanda-tangani oleh dr. Dzulkifli, dokter Ruang HD. Nanti kita lihat, ya, apakah surat ini nanti akan dibakukan menjadi surat resmi nasional. Kalau iya, banggalah aku jadi sampel kasusnya, Tiga hari kemudian, aku kembali menyambangi Kantor KPP Pelabuhan, kali ini dengan surat sakti di tanganku. Sesampainya di sana, aku disambut ramah oleh ibu berjilbab yang kemarin menemuiku. Ia menerima suratku, melihatnya sekilas, dan lang sung mempersilakan aku ke ruang suntik. Di sana, ia pun menyapaku begitu hangat. Kami bicara banyak, bercerita layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Dan, kisah Surat Keterangan Tidak Pipis pun jadi perantara aku menemukan teman ba ru di tempat yang baru. Inilah salah satu kisah dari sekian banyak suka-dukaku hidup tanpa pipis. Sukanya banyak, tak perlu ke kamar mandi tengah malam, tak perlu antre di WC umum, tak perlu bolak-ba lik ke kamar mandi saat di pesawat, tak perlu khawatir saat naik bus jarak jauh, dan tentu saja peluang batal wudhu lebih se dikit. Tapi, dukanya tentu tak kalah seru. Suka bingung sendiri saat menjelaskan kepada orang yang baru tahu, seperti si ibu

Detail Buku:
Judul         : Perempuan Cahaya
Penulis      :
Lien Auliya Rachmach,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :978-602-1637-56-2
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar