Dari cara berjalan yang sempoyongan, Karel jelas mabuk berat. Kakinya berjalan saling silang dengan tangan yang terus menopang ke dinding bar. Ayalisse hanya minum satu sloki. Kepalanya seperti dipukul-pukul tongkat baseball. Tapi, ia masih berusaha membantu Karel berdiri seraya menahan sakit di kepalanya sendiri. “Selamaaat, Ayaaa ... selamat untuk sang pemenaaang, Ayalisseee!” racau Karel sambil berusaha mencari-cari kunci mobilnya di dalam saku. Begitu menemukan benda yang dia cari, alih-alih memanggil sopir, Karel malah memberikan kunci itu pada Ayalisse. Ayalisse mengernyit bingung. “Malam ini ... pemenangku harus merayakannya dengan ... menyetir. Yeeeaaah!” Jidat Karel akhirnya membentur kaca mobil dan membuatnya hampir jatuh. “Hati-hati, Karel...” Dibanding Karel, kesadaran Ayalisse jelas masih jauh lebih tinggi. Ia kemudian memegangi Karel, mengambil kunci di tangannya, dan membuka pintu. Setelah mendudukkan Karel di jok depan, ia menyalakan mesin. Ayalisse tahu ia tidak punya SIM karena masih di bawah umur untuk menyetir. Tapi, seperti yang dikatakan Karel tadi, malam ini adalah perayaan untuk kemenangan Ayalisse sebagai aktris pendatang baru wanita terbaik di ajang tahunan paling bergengsi di ASEAN, Starlight Film Festival. Siapa yang tak takjub pada Ayalisse? Ia masih 16 tahun dan berhasil menggondol penghargaan yang bahkan belum pernah dimenangkan oleh siapa pun di Indonesia. Urusan mobil, Ayalisse sudah pernah belajar menyetir pada Karel setahun belakangan. Itu sebabnya ia tak kesulitan menjalankan BMW hitam Karel. Selain otaknya yang sedikit tumpul karena pengaruh alkohol, semua berjalan baik-baik saja sampai tanpa mereka sadari perjalanan satu jam itu malah membawa Ayalisse dan Karel mengarah ke luar Jakarta. “Ayaaa?!” Setengah mata Karel yang terbuka tampak celingukan. “Kita mau ke manaaa? Ke Puncak?! Hahahaha! Puncaaak?” Alis Ayalisse bertaut. Tidak seperti orang lain, pengaruh minuman sialan itu selalu datang dengan cara seperti ini pada Ayalisse. Perlahanlahan. Semakin lama, semakin membuat otaknya lumpuh. Ia bahkan sudah sulit mencerna apa yang dikatakan Karel dan pandangannya mulai mengabur. “Ke ... mana?” ulangnya sambil tertawa bodoh. Ayalisse tidak tahu mereka ada di mana. Yang ia lihat hanyalah jalanan dengan lampu penerangan seadanya. Melihat pagar besi pembatas di sisi kiri, Ayalisse menyimpulkan mereka berada di sebuah jalan layang. Entahlah. Ayalisse sedang mencoba menajamkan pandangan mata saat Karel berusaha menarik tangannya. Ayalisse berontak karena apa yang dilakukan Karel membuat mobil mereka berbelok tak keruan dan hampir menabrak pembatas jalan. “Karel...” “Ayalisse sayaaang ... akuuu ... sayanggg bangeeet, cinta bangeeet sama kamuuu.” Karel tampaknya sudah kelewat mabuk sampaisampai ia terus menarik tubuh Ayalisse mendekat, berusaha untuk memeluknya. Akibatnya, Ayalisse jadi kehilangan seluruh konsentrasi. Ayalisse masih berusaha meluruskan setir saat tahu-tahu seseorang yang entah datang dari mana melintas tepat di depan mobil mereka. Ayalisse mencoba membanting setir untuk menghindar, tapi sosok itu sudah keburu tertabrak dan terpental membentur pembatas. Ayalisse kehilangan kendali, Sedan hitam itu merangsek ke pagar besi dan melindas tubuh yang terlempar tadi sekali lagi. Tujuh tahun kemudian….“Ayalisse ... ki ... ta kenapa? Aya ... si-siapa tadi? Apa kita na ... brak ... orang? Ayaaa.” “Karel ... Kareeel ... Kareeel!” Gadis berambut hitam sepunggung itu terduduk dengan dada naik turun. Napasnya yang tak teratur memecah keheningan. Jari-jarinya kemudian meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Ia lalu mencoba meraba-raba untuk menemukan gelas minumnya, tapi malah berakhir membuat keributan dengan suara pecahan kaca. Dalam gelap, Ayalisse mendengar langkah-langkah terburu-buru. Dre pasti terkejut karena keributan yang hampir setiap malam ia buat itu. “Aya? Nggak apa-apa?” Ayalisse menggeleng. Mata cokelatnya tampak kosong dengan keringat yang membasahi pelipis. Ayalisse belum sempat mengatakan apa-apa saat tahu-tahu Dre mengusapkan selembar sapu tangan ke wajahnya. Ayalisse meraba wajah dan berhasil mengambil alih kain itu dari Dre. Ayalisse sudah banyak merepotkan gadis itu dan setidaknya ini masih bisa ia lakukan sendiri. “Mimpi lagi?” Ayalisse tersenyum pahit. “Maaf karena membangunkanmu lagi. Aku nggak tahu sampai kapan akan terus membuat tidurmu nggak nyenyak.” Ayalisse sudah pernah menawarkan Dre untuk tidak
Detail Buku:
Judul : Sirius’ Secret
Penulis : Dita Safitri
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :978-602-02-5535-4
Tebal : -
ISBN :978-602-02-5535-4
Tebal : -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar