Green Card

Judul: Green Card
Penulis: Dani Sirait
Penerbit: Gramedia

Hari itu adalah awal petualangan terbesar Rafli sepanjang hidupnya. Kapal pesiar tempat ia bekerja sebentar lagi berlabuh di Port of Miami, Florida, Amerika Serikat. Ia telah membulatkan tekad untuk “mendarat” dan tak pernah kembali ke kapal mewah itu. Jump Ship.

Sekumpulan energi besar telah mengantarkan Rafli, anak kampung dari sebuah kecamatan kecil di Sumatera Utara, melenggang menyusuri lekuk-lekuk New York City (NYC), kota sejuta impian. Tanpa paspor, izin tinggal, apalagi Green Card.

Kartu sakti yang terakhir itulah alasan Rafli tetap bertahan di NYC. Bahkan demi Green Card, Rafli mencoba cara konvensional yang kemudian justru menjadi bumerang tajam baginya: melakukan pernikahan pura-pura dengan Erina, sesama orang Indonesia yang telah lebih dahulu memiliki Green Card.

Hingga peristiwa 11 September 2001. Razia terhadap pendatang ilegal semakin gencar dilakukan di seluruh negara bagian. Hari-hari Rafli dan jutaan pendatang ilegal dari berbagai negara tidak lagi semarak seperti kerlap-kerlip lampu Times Square. Kecemasan dan kegelisahan bergantian menghampiri benaknya.

Sampai berapa lama dan bagaimana perjuangan Rafli bertahan di AS demi Green Card dan American Dream itu? Novel ini menuntun Anda menemukan kedalaman makna tentang mengapa kehidupan itu harus diperjuangkan. (Sumber: Goodreads.com)

DOWNLOAD EBOOK DISINI

Mr B vs Miss AB: Reality by Bianca Sastra

Mr B vs Miss AB: Reality by Bianca Sastra


“It’s so easy, to think about love, to talk about love,
To wish for love,
But it’s not always easy, to recognize love,
Even when we hold it in our hands.
-Jaka


Tut. Sambungan telepon terputus. Suara anak kecil yang menggemaskan kini sudah tidak terdengar lagi dari ujung sana. Meninggalkan sedikit rasa kecewa bagi seorang perempuan bernama Han Mi Soo. Anak-anak dari panti asuhan lagi?” Mi Soo menatap wajah sahabatnya, Hye Sun, yang sedang duduk manis di hadapannya. Di antara mereka terdapat meja kecil dengan dua piring berisi cake serta dua cangkir latte yang diletakkan di atasnya. Uap panas pun masih mengepul dari dalam cangkir. Aroma kopi yang kuat bercampur dengan susu membuat Han Mi Soo tidak dapat menahan keinginannya untuk segera menyesap sedikit dan mencicipi rasa latte miliknya. “Ya. Akhir-akhir ini aku sudah jarang sekali mengunjungi mereka,” jawab Mi Soo setelah meletakkan kembali cangkir miliknya ke atas meja. Ia harus mengakui bahwa kopi yang baru saja ia minum kini masuk ke dalam daftar favoritnya yang akan ia ukir secara permanen di dalam memori. “Aigoo, ternyata ramalan itu benar!” seru Hye Sun. “Ramalan tentang apa?” “Bahwa perempuan bergolongan darah AB memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi.” Hye Sun mengangkat majalah yang sebelumnya tergeletak di atas pangkuannya ke atas meja dan menunjukkan sebuah halaman dengan headline ‘Dirimu dan  golongan Darahmu’. “Shin Hye Sun! Berhenti membaca majalah yang sudah mencuci otakmu itu! Seharusnya kau lebih banyak membaca buku-buku tentang masakan daripada majalah wanita yang isinya hanya menyebarkan gosip, skandal, dan cara mendapatkan laki-laki,” Mi Soo tanpa sadar sudah menarik majalah Hye Sun dari genggamannya dan dengan kejam menutup majalah itu lalu menaruhnya di lantai. Tepat di samping kakinya. Sesungguhnya Mi Soo ingin mengetahui bagaimana reaksi sahabatnya apabila Mi Soo mengatakan bahwa dulu ia juga bernasib sama dengan anak-anak itu? Tetapi sepertinya ia harus membiarkan hal itu tersimpan rapat-rapat dan menjadi rahasianya sendiri. “Ya! Lihat, 'kan? Majalah itu sekali lagi benar! Perempuan bergolongan darah AB ternyata memang tidak segan mengomentari sesuatu. Bahkan tidak peduli apakah komentarnya terdengar menyakitkan atau tidak. Ayolah Han Mi Soo! Kembalikan majalahku! Aku baru saja membelinya tadi! Kau kira majalah itu murah?” “Aku melakukan ini untuk kebaikanmu!” Mi Soo akhirnya mengambil kembali majalah milik Hye Sun dengan berat hati karena tidak tega melihat wajah perempuan itu yang terlihat meminta belas kasihan lalu meletakkannya tanpa perasaan di atas meja. “Ya, aku tahu. Kau memang sahabat yang baik hati Han Mi Soo, tapi kau harus mengerti bahwa aku bukan seorang yang sangat berdedikasi pada dunia memasak sepertimu. Aku juga memiliki ketertarikan lain seperti, ya laki-laki.” “Laki-laki itu merepotkan!” Mi Soo bergidik. Ia tampak tidak menyukai perbincangan apa pun tentang cinta walaupun ia tidak menyangkal bahwa ia pernah merasakan hal itu. “Baiklah. Mari kita melupakan masalah ini dan kembali ke topik awal. Kalau aku boleh jujur padamu, aku ingin tahu apa saja yang kau lakukan dengan anak-anak di panti asuhan jika berkunjung ke sana?” tanya Hye Sun. Mereka berdua jarang sekali membicarakan tentang hal ini karena sebagian besar waktu mengobrol mereka selalu didominasi oleh topik seputar cinta yang dibawakan oleh Hye Sun. “Banyak. Aku sering menemani mereka bermain lalu memasak untuk mereka juga. Mereka itu seperti obat lelahku. Setiap aku melihat mereka, aku merasa hidup lagi.” “Aku tidak bisa membayangkan betapa beruntungnya apabila kau memiliki anak nanti.” Bibir merah Mi Soo melengkung dengan sempurna membuat senyuman ketika mendengar pujian dari sahabatnya. Menit-menit berikutnya yang bergulir mereka berdua habiskan

Detail Buku:
Judul         : Reality
Penulis      : Byanca Sastra
Penerbit     : PT Grasindo,
ISBN         :
 978-602-251-922-5
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


ROMANCE OF THE THREE KINGDOMS by Ivan Halim

ROMANCE OF THE THREE KINGDOMS by Ivan Halim

Kaisar Ling, yang memercayakan pemerintahan kepada para kasimnya, membuat keadaan negara semakin memburuk. Pada masamasa ini, timbul pemberontakan di mana-mana. Setiap penguasa setempat berlomba-lomba merebut kekuasaan, mulai dari He Jin, Dong Zhuo sampai dengan Cao Cao. Ketidakmampuan kerajaan dalam mengatur negara tidak membuat Liu Bei berkecil hati. Bersama kedua saudaranya, Guan Yuan dan Zhang Fei, dia bertekad mengembalikan masa-masa kejayaan Kerajaan Han.

Pengambilan Sumpah di Taman Persik
Pada masa pemerintahan Kaisar Ling1, ada tiga saudara bermarga Zhang (Zhang Jiao, Zhang Liang, dan Zhang Bao) yang mendirikan Partai Selendang Kuning2. Mereka berhasil menggalang simpatisan. Seiring berjalannya waktu, pada 184, partai ini mengibarkan bendera perlawanan kepada kerajaan. Untuk membasmi pemberontak ini, Kerajan mengundang para sukarelawan, di antaranya Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Merasa memiliki hasrat yang sama. Mereka sepakat mengambil sumpah menjadi saudara. Pengambilan sumpah dilakukan di taman persik yang letaknya di belakang halaman rumah Zhang Fei. “Aku Liu Bei‚ Guan Yu, dan Zhang Fei, hari ini bersumpah untuk mengikat tali persaudaraan. Sekalipun tidak lahir pada tahun, bulan, tanggal yang sama, kami berharap bisa mati pada tahun, bulan, dan tanggal yang sama.” Sesudah mengucapkan sumpah, mereka minum arak dari mangkuk yang sama yang sebelumnya telah diteteskan darah masingmasing. Dalam pengikatan tali persaudaraan ini, Liu Bei menjadi kakak tertua, Guan Yu urutan nomor dua, dan Zhang Fei yang termuda. Selanjutnya mereka bertiga lebih dikenal dengan sebutan Liu Guan Zhang bersaudara.

Intrik Istana
Ketika dinobatkan sebagai permaisuri, Permaisuri He meng angkat He Jin dan He Miao untuk menempati posisi penting dalam kerajaan. Karena sudah tidak bisa menoleransi Selir Wang, selir kesayangan Kaisar Ling, Permaisuri He meracuninya. Tindakan ini membuat kaisar marah dan ingin mencopot kedudukannya sebagai permaisuri. Namun, atas pembelaan Kasim Jian Shuo, kaisar membatalkan rencananya. Pada 189, Kaisar Ling mangkat tanpa menunjuk ahli waris. Itu membuat Kasim Jian Shuo, bersama antek-anteknya, berencana menjadikan Pangeran Liu Xie3 sebagai pewaris takhta. Namun, He Jin mendahuluinya dengan mengangkat Pangeran Liu Bian4 sebagai kaisar. Mengingat umur kaisar masih muda, He Jin yang memegang kendali pemerintahan. Untuk memperluas kekuasaannya, He Jin memutuskan untuk menyingkirkan Jian Shuo. Dipanggillah Yuan bersaudara5 menghadap ke Luoyang6. Setelah membeberkan ren cananya, He Jin memberikan perintah, “Singkirkan manusia kebiri ini tanpa sisa.” Jian Shuo berhasil lolos dari aksi pembantaian ini dan me mohon perlindungan Ibu Suri He yang sebelumnya adalah Permaisuri He. Mengingat jasa Jian Shuo sebelumnya, Ibu Suri memanggil He Jin untuk menghadap. Karena masih menaruh hormat pada sang kakak, akhirnya He Jin membatalkan aksinya sekalipun Yuan ber saudara telah melarangnya.

He Jin Menemui Ajalnya
He Jin memerintahkan bawahannya untuk menyita semua harta milik Jian Shuo. “Tidak disangka seorang kasim bisa memiliki begitu banyak harta,” ujarnya kepada Yuan Shao. Yuan Shao menjawab, “Tuan, sebaiknya segera singkirkan Jian Shuo! Kalau tidak kelak Tuan pasti akan menyesal.” “Menyesal?” Dengan nada angkuh, He Jin membalasnya, “Apa artinya Jian Shuo? Membunuhnya ibarat seperti menginjak mati seekor semut.” Melihat tingkah He Jin yang sudah lupa diri, Yuan Shao memutuskan untuk meninggalkan istana. He Jin yang baru saja menjabat sebagaiperdana menteri dengan segala gaya hidup mewahnya semakin hari menjadi semakin lupa diri, membuatnya semakin jauh dari urusan kerajaan. Setelah menjabat sebagai kepala pengurus puri ibu suri, suatu ketika secara tidak sengaja Jian Shuo memergoki Xiao Hui, dayang kepercayaan ibu suri, sedang bermesraan dengan seorang pengawal istana. “Biadab!” Apa yang sedang kalian lakukan!” Takut dijatuhi hukuman membuat pasangan ini langsung berlutut mohon ampun. Jian Shuo berjanji tidak akan melaporkan asal mereka bersedia membantunya. Setelah mendengarkan secara rinci permintaan Jian Shuo, sekalipun awalnya masih ragu-ragu, akhirnya mereka menurutinya juga. Atas permintaan Jian Shuo, Dayang Xiao Hui menghadap He Jin untuk menyampaikan bahwa ibu suri ingin bertemu. Tanpa menaruh curiga, He Jin memasuki istana. Setibanya di puri ibu suri, He Jin terjebak dalam perangkap yang telah disiapkan sebelumnya. Melihat lawannya tak berdaya, Jian Shuo maju menghinanya, “He Jin! He Jin! Sekarang engkau bagaikan ikan dalam jala, tinggal dibakar dan disajikan.” Atas perintah Jian Shuo, He Jin mati dengan cara yang sangat mengenaskan, seolah-olah dibunuh oleh pembunuh bayaran. Ketika memperoleh kabar bahwa He Jin telah mati terbunuh, Yuan bersaudara menuntut pembalasan. Dengan pasukannya, mereka datang ke istana. Yuan Shao memerintahkan untuk membunuh setiap kasim yang ditemui. Dengan menawan kaisar dan Pangeran Liu Xie, Jian Shuo berhasil meninggalkan istana. Dalam perlariannya, muncul Dong Zhuo menghadang mereka. “Pengkhianat! Cepat serahkan nyawamu!” Bersama anteknya, Jian Shuo mati seketika.

Detail Buku:
Judul         : Romance of the Three Kingdoms
Penulis      : Halim Ivan
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :
 978-602-02-5455-5
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Rumah adalah di Mana Pun by Ken Ariestyani

Rumah adalah di Mana Pun by Ken Ariestyani

Selalu ada keraguan tiap kali mau melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi berhari-hari. Pergi untuk naik gunung, misalnya. Ada sebuah keraguan di hati: untuk apa aku melangkah kali ini? Aku baru saja menyudahi hubunganku dengannya, beberapa hari setelah ulang tahun pertama kita. Apakah perjalanan ini hanya sebuah pelarian? Atau pencerahan batin yang suntuk? Atau mungkin perjalanan  i mana aku harus mulai membersihkan sisa-sisa kenanganku bersamanya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri pun, aku masih ragu. Seorang teman pernah berkata, "Ketika hatimu patah, bawalah kakimu untuk melangkah.” Sepatah itukah hatiku sampai-sampai harus melangkahkan kaki ke gunung? Rumit memang. Namun sudahlah, nikmati saja perjalanannya. Pukul 8 malam, aku tiba di Kampung Rambutan. Sudah banyak pendaki yang melintas dengan carrier besar di punggungnya, namun tak juga ku temukan teman-teman seperjalananku. Sepertinya aku yang pertama tiba. Segera kuhubungi Rangga dan menanyakan posisinya. Rangga adalah sosok lelaki muda yang tegas, dengan postur tubuh kurus dan berkulit sawo matang. Rambutnya panjang dan selalu dikuncir. Bukan berarti statusnya mahasiswa gadungan atau pengangguran, ia bekerja pada institusi yang memang tidak mengutamakan penampilan. Tak perlu menunggu lama, ia datang beberapa menit setelah aku duduk di sebuah warung. Kami menunaikan makan malam sambil menunggu yang lainnya. Kemudian Rama dan Dinda datang. Mereka berdua adalah sepasang travelmate yang selalu ribut dan bertengkar di tiap perjalanan, namun keduanya tak pernah bisa dipisahkan. Sekalinya terpisah, salah satu dari mereka akan merasa ada sesuatu yang kurang. Rama perawakannya gemuk dan memiliki hobi memasak, sementara Dinda kurus dan susah makan. Cocok sekali, bukan? Sesaat setelah semangkuk soto ayam dan segelas es jeruk di hadapanku habis, terlihat sosok Nadia di kejauhan yang berjalan semangat menghampiri kami. Ia terlihat manis dengan carrier di punggungnya yang berwarna hijau stabilo. Tak lama Bowo hadir dengan carrier super besarnya. Setelah berbasa-basi dan membahas sedikit tentang gunung yang akan kami daki, akhirnya kami berenam segera mencari bus menuju kawasan Cibodas. Perjalanan dari Kampung Rambutan menuju Cibodas ditempuh dalam waktu 3 jam. Selama di bus, kami tertidur untuk memulihkan sisa-sisa energi sepulang bekerja seharian tadi. Pikiranku mengawang-awang kepada ia, yang setahun terakhir menemaniku di tiap perjalanan. Kami sudah menghabiskan banyak waktu di tiap tempat dan kota-kota yang kami kunjungi. Namun ia memilih pergi ketika aku menemukan hobi baruku, mendaki gunung. Janggal, ‘kan? Semua berawal pada akhir 2012, ketika aku mengutarakan niatku untuk menikmati lam Semeru di malam tahun baru. Ia menolak mentah-mentah untuk menemaniku, ia pun bersikeras tak mengizinkanku. Entah karena memang khawatir dengan fisikku yang lemah atau karena faktor lain, aku tak tahu. Namun aku tetap melangkahkan kakiku ke sana, ke tanah tertinggi pulau Jawa bersama keenam teman-temanku ini. Dan yang paling mengenaskan adalah, ketika aku menghubunginya melalui saluran telepon bahwa aku sudah turun, ia tak peduli. Ia juga tak menjemputku. Bahkan dengan angkuhnya mengatakan bahwa ia sedang menikmati liburan tahun baru dengan sahabat kami, seorang wanita yang kerap kali menjadi tempat curhat kami dan bertindak sebagai penengah bila hubungan kami sedang bergejolak. Ternyata!! Arghh! Mengingat-ingat hal itu di dalam bus yang semakin dingin membuat hatiku kian membeku, mengeras bagai es. Bus melaju kencang dan terus menanjak, sementara hatiku terasa memberontak. “Yuk, bangun yuk. Udah mau sampai,” Ujar Bowo membangunkan yang lainnya.
Aku masih menatap nanar jendela bus, kenangan pahit masih bergelayut. Bowolah yang paling mengerti apa yang kualami. Selama ini, ia selalu bersedia menjadi tempat sampahku. Dengan telaten dan sabar, ia mendengarkan tiap kalimat yang meluncur dari mulutku. Kemudian ketika aku diam, barulah ia mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan dan petuah yang selalu berhasil membuatku tumpah. Kami turun perlahan dari bus, kemudian menumpuk carrier-carrier di satu sisi jalan. Dua orang pendaki asal Bandung menyambut kedatangan kami dengan penuh rindu. Terakhir kali kami bertemu di Semeru empat bulan lalu. Ihsan menjabat tanganku dengan lembut dan hangat sementara Fahrul mengguncang- guncangkan tubuh kami dengan semangat.


Detail Buku:
Judul         : Rumah Adalah Di Mana Pun
Penulis      : 19 Pejalan Perempuan
Penerbit     : PT. Grasindo,
ISBN         :
 978-602-251-464-0
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


10+ Ebook Gratis Sejarah Peradaban Islam - Download Sekarang

Tentu kita tidak lupa akan sebuah ungkaoan dan singkatan terkenal yang dilontarkan oleh Bung Karno.

JASMERAH , Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Mempelajari sejarah agar kita tidak terjebak melakukan kesalahan untuk kedua atau kesekian kalinya.

Mempelajar sejarah  dapat menginspirasi untuk mengulang hal yang pernah terjadi atau dilakukan sebelumnya.

Kita perlu mempelajari sejarah untuk memulai perubahan dan mengambil tindakan tepat terhadap tujuan kita.

Dengan mempelajari sejarah peradaban Islam, umat Islam dapat mengambil banyak pelajaran apa saja sebab-sebab tegaknya Islam di masa lalu dan apa saja sebab-sebab runtuhnya Islam.

Dengan demikian umat Islam dapat membangun kembali peradaban Islam.


Sejarah Peradaban Islam adalah keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam dari satu waktu ke waktu lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai detik ini.

Berikut link-link ebook, artikel, jurnal dan makalah tentang peradaban Islam. Silahkan dibuka:

BUKU SISWA SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

DOWNLOAD ENSIKLOPEDIA PERADABAN DUNIA .PDF

DOWNLOAD ENSIKLOPEDIA PERADABAN DUNIA .PDF


Oleh : Achmad Desmon Asiku

Halaman             : 110

Ukuran File         : 2.51 mb

Format File         :  pdf


Ensiklopedi

PERADABAN

DUNIA

SEBUAH ENSIKLOPEDI PRAKTIS

NAN LENGKAP

4.000 Peristiwa Penting

900 TOKOH DUNIA

DAN RATUSAN ARTIKEL MENARIK


Download

Download Buku Shalahuddin al-Ayyubi Riwayat Hidup dan Imperium Islam karya John Man

Download Buku Shalahuddin al-Ayyubi Riwayat Hidup dan Imperium Islam karya John Man


Shalahuddin al-Ayyubi di Barat disebut Saladin tetap menjadi tokoh paling ikonik pada zamannya. Pemersatu bangsa Arab dan penyelamat Islam dari Tentara Salib di abad ke-12, ia pahlawan terkemuka di dunia Islam. 

Kukuh menjaga keimanannya dan brilian dalam kepemimpinan, ia memiliki kualitas pribadi yang dikagumi oleh musuh Kristennya. Ia mengerti batas-batas kekerasan, penuh toleransi dan kemurahan hati sehingga banyak orang Eropa melihatnya sebagai contoh ideal sosok kesatria.

Tapi, Saladin lebih dari sekadar pahlawan dalam sejarah. Sosoknya abadi sepanjang hayat, dan menjadi simbol harapan bagi dunia Arab-Islam usai terpecah belah. 

Berabad-abad setelah kematiannya, di berbagai kota—dari Damaskus sampai Kairo dan di luarnya, hingga Semenanjung Arab dan Teluk—Shalahuddin terus jadi simbol ampuh bagi perlawanan agama dan militer terhadap Barat. 

Sebagai pejuang, pembangun, pelindung kesusastraan, dan teolog, dialah pusat memori Arab dan tipe ideal bagi persatuan negara Islam.

Biografi otoritatif ini menghadirkan sosok Shalahuddin dan dunianya begitu detail dan hidup. Menggambarkan sang tokoh menuju kekuasaan, perjuangannya menyatukan faksi-faksi Muslim yang terus bertikai, dan pertempurannya merebut kembali Yerusalem serta mengusir pengaruh Kristen dari tanah Arab. 

John Man mengeksplorasi kehidupan, legenda, dan warisan abadi sang pemersatu Islam sambil menarik signifikansinya untuk dunia saat ini.


***


“Biografi luar biasa dan seperti nyata. Jelas dan kuat pada pokok permasalahan.” - Chicago Tribune

“Lebih dari sekadar cerita tokoh, buku ini berisi kisah-kisah pertempuran yang memukau, perselisihan sektarian dan perang saudara... kekuatan, pengkhianatan, dan perlawanan. Membacanya seperti menyaksikan drama politik modern. Biografi pahlawan Muslim yang sangat penting.” -Foreword Reviews

“Tak seorang pun dapat diharapkan jadi pencerita atau analis ulung melebihi John Man. Ada sesuatu yang baru dan mengagumkan di setiap halaman.” -Simon Sebag Montefiore

“Keahliannya yang sangat memukau dalam bertutur cerita membawa kita seolah berada dalam peristiwa nyata; seolah kita tengah meraba, merasa, mencium, dan menyentuh apa saja yang ia gambarkan.” -Michael Palin

“Buku ini penting bagi siapa saja yang tertarik dengan Perang Salib atau sejarah abad pertengahan. Koleksi yang sangat baik. Tulisan yang sangat mencerahkan.”  -Library Journal

“John Man dikenal dalam keahlianya tentang biografi Jenghis Khan. Namun rupanya, ia tak kalah hebat me-ngisahkan tokoh-tokoh lainnya.” -Manhattan Book Review

“Jejak munculnya Sultan Shalahuddin sejak kecil yang sedikit terdokumentasikan di Timur Tengah modern, tumbuh menjadi pemegang kekuasaan pertama di Mesir, dan akhirnya menjadi tokoh paling terkenal sebagai orang yang ‘menendang’ kaum Kristen dari Yerusalem. ... John Man menuliskannya sesuai konteksnya.” -Portland Book Review

“Kadang-kadang, tidak sering, buku yang berfokus pada perang tidak hanya menjelaskan peristiwa masa lalu, tetapi juga terbukti memiliki relevansi yang signifikan pada peristiwa masa sekarang. Begitu pula dengan buku ini.” -InfoDad blog

“Buku yang sangat bagus, memberikan wawasan mengenai pemikiran para pembangun kekhalifahan. Biografi ringkas dan cerdas tentang salah satu orang paling berpengaruh dalam sejarah.” -Counterpunch

“Setiap orang yang akan memahami dasar-dasar Timur Tengah modern wajib membaca buku ini.” -Donovan’s Bookshelf

“Karakter yang menarik. Pembaca buku ini akan men-dapatkan perspektif berharga tentang ketegangan abad ke-21 antara Islam dan Barat.” -Internet Review of Books

“Biografi yang sangat menarik dan informatif, memberikan wawasan yang relevan tentang isu seputar Timur Tengah saat ini.” -Toy Soldier & Model Figure

Detail Buku:
Judul: Shalahuddin al-Ayyubi
Riwayat Hidup, Legenda, dan Imperium Islam
Penulis: John Man
Penerjemah: Adi Toha
Penerbit: Alvabet, 2017
ISBN: 978-602-6577-09-2
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 402 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 6,11Mb



First Love Dilemma karya Pricillia A.W. PDF

First Love Dilemma karya Pricillia A.W. PDF

Detail Buku:

Judul: First Love Dilemma
Penulis: Pricillia A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011
ISBN: 978-979-22-6528-6
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 259 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 1,41Mb
Review: Goodreads

Deskripsi:

Sejak kematian mamanya dan kepergian cinta pertamanya, hidup Azura terpuruk. Azura yang periang berubah menjadi gadis pendiam. Namun, pertemuannya dengan Tristan membuat hidup Azura kembali berwarna. Gadis itu mulai berani membuka hatinya, dan pelan-pelan mampu membalut luka lama yang awalnya tidak pernah disentuhnya.

Tetapi, ketika Azura mulai berani menata masa depan dengan Tristan, masa lalu seolah tak bisa melepaskannya. Azura bertemu kembali dengan cinta pertamanya, yang ternyata adalah adik Tristan.

Manakah yang akan dipilih Azura, melanjutkan cinta masa lalunya atau merajut cinta baru?


Masih Ada Kereta yang Akan Lewat kary Mira W. PDF

Masih Ada Kereta yang Akan Lewat kary Mira W. PDF

Detail Buku:

Judul: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat
Penulis: Mira W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cet-9, 2009
ISBN: 978-979-22-4947-7
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 242 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 2,06Mb

Deskripsi:


Delapan tahun yang lalu karena takut ketinggalan kereta, Arini telah menumpang kereta yang salah. Kereta api yang menjerumuskannya ke jurang penderitaan. Tetapi penderitaan yang bagaimanapun beratnya tidak menjerumuskan perempuan sederhana yang polos dan bodoh seperti Arini ke lembah kenistaan. Dia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan laki-laki. Atau terkapar menangisi nasibnya di tempat tidur. Dengan sisa-sisa kekuatannya sendiri, Arini berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Bertekad menjadi seorang wanita terhormat, agar tidak seorang pun berani menghinanya lagi. Dia menempa dirinya menjadi seorang wanita karier yang sukses, meskipun untuk itu dia terpaksa mulai dari tempat yang paling bawah sekali. Di ujung suksesnya, ia mengira tak ada lagi kereta yang akan melintasi hidupnya. Tetapi dalam sebuah kereta api cepat di daratan Eropa, kereta api terakhir yang menuju Stuttgart, Arini berjumpa dengan Nick. Dan di dalam diri laki-laki yang sepuluh tahun lebih muda ini, Arini menyadari, masih ada kereta api yang akan lewat. Kereta yang membawanya ke Jakarta. Mempertemukannya kembali dengan Helmi, laki-laki yang pernah menjadikannya seorang istri pulasan, demi menutupi skandal cintanya dengan Ira, teman Arini yang telah menikah. Dendam yang membara di hati Arini nyaris menemukan pelampiasannya ketika ia melihat apa yang telah dilakukan Helmi terhadap anak perempuan mereka selama ini. Dan di dalam diri anaknya yang telah ditinggalkannya begitu saja selama tujuh tahun, yang lebih memilih ibunya daripada Arini, dia kembali dihadapkan pada suatu dilema.

Mati Ketawa Ala Refotnasi Penulis: Emha Ainun Nadjib PDF

Mati Ketawa Ala Refotnasi Penulis: Emha Ainun Nadjib PDF

Detail Buku:

Judul: Mati Ketawa Ala Refotnasi
Penerjemah: Triwibowo B.S.
Penerbit: Mizan, 2016
ISBN: 978-602-291-224-8
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 200 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 6,96Mb

Deskripsi:


Tiap hari saya bertemu dengan ribuan rakyat di berbagai daerah dan pulau. Hampir semua bertanya, “Kok, partai politik kita sekarang begitu banyak? Ini demokrasi ataukah perpecahan ataukah ketidakdewasaan? Kami harus memilih yang mana?”

Saya tidak bisa menjawab. Malah balik bertanya, “Orang partai mana yang sudah kulonuwun kepada Sampean-Sampean di kampung ini?”

Mereka menjawab, “Belum ada .…”

Pertemuan saya dengan mereka biasanya bermuara pada satu tema: jangan sampai kita rakyat kecil ini gampang didustai lagi.

Theories of Learning Penulis: B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson PDF

Theories of Learning Penulis: B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson PDF

Detail Buku:

Judul: Theories of Learning
Penulis: B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson
Penerjemah: Triwibowo B.S.
Penerbit: Kencana, Cet-6, 2017
ISBN: 978-979-1486-54-5
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 554 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 3,98Mb

Deskripsi:

Empat tujuan utama dari buku teks ini adalah mendefinisikan apa itu belajar (learning) dan menunjukkan bagaimana proses belajar dikaji (Bab 1 dan 2); meletakkan teori belajar dalam perspektif historis (Bab 3); dan menyajikan ciri-ciri esensial dari teori belajar utama dengan implikasinya bagi praktik pendidikan (Bab 4 sampai 15). Kami berusaha mempertahankan ciri terbaik dari edisi sebelumnya sembari melakukan revisi untuk memasukkan riset akademik terkini. Revisi yang paling signifikan antara lain adalah: