Sinopsis:
”AKU sudah menemukan tunanganmu!” Alis Lucas Ford terangkat tinggi mendengar kata-kata kakeknya yang diucapkan dengan suara penuh semangat itu. Sebelah tangannya terangkat memegang ponsel yang tadi terjepit di antara telinga dan bahu sehingga kepalanya bisa ditegakkan kembali. ”Tunggu sebentar, Pop,” katanya singkat. Ia menurunkan ponsel dari telinga dan memberi isyarat kepada salah seorang sous chef-nya, menyuruhnya mengambil alih pekerjaan. Setelah itu Lucas berjalan keluar dari dapur restorannya yang sibuk namun teratur ke arah ruang kerja pribadinya. Beberapa saat kemudian ia sudah duduk di balik meja kerjanya yang belum sempat dirapikannya selama beberapa hari. Ia menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata, ”Nah, apa katamu tadi?” ”Aku sudah menemukan tunanganmu!” ulang kakeknya dengan suara yang lebih bersemangat lagi. ”Ada dua masalah di sini,” kata Lucas sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi dan mengacungkan dua jari, walaupun kakeknya tidak bisa melihat. ”Satu, aku tidak tahu dia menghilang. Dua, aku bahkan tidak tahu aku sudah punya tunangan.” ”Ya, kau sudah punya tunangan. Aku hanya tidak pernah memberitahumu selama ini,” kata kakeknya dengan nada sambil lalu.
Lucas memejamkan mata dan mendesah. ”Pop, kau ada di mana sekarang? Bukankah kau berencana menghadiri pernikahan temanmu malam ini?” ”Pernikahan cucu temanku,” koreksi kakeknya. ”Dan tunanganmu ada di sini. Makanya cepatlah kemari.” ”Apakah semua ini gara-gara Miranda?” ”Siapa?” ”Miranda Young. Tinggi, cantik, rambut merah, mata hijau. Kau mengenalnya. Aku baru saja memperkenalkan kalian kemarin.” Miranda adalah model cantik yang juga adalah teman dekat Lucas. Wanita itu teman yang menyenangkan, selalu bersedia mendampingi Lucas ke acara apa pun yang harus dihadiri Lucas. Tentu saja Lucas menyadari salah satu alas an Miranda bersedia melakukannya karena ia juga ingin memperluas koneksi. Lucas adalah koki kepala di Ramses, salah satu restoran paling terkenal di New York, jadi ia mengenal orang-orang yang mungkin bisa membantu Miranda dalam bidang pekerjaannya. Hubungan mereka dekat, namun hanya sebatas teman. Setidaknya bagi Lucas, dan setidaknya untuk sementara ini. Selama ini Lucas tidak pernah memperkenalkan wanita-wanita yang dekat dengannya kepada keluarganya.
Ia sebenarnya juga tidak bermaksud memperkenalkan Miranda kepada kakeknya. Tetapi kemarin Miranda datang menemuinya di Ramses ketika kakeknya juga ada di sini, jadi Lucas terpaksa memperkenalkan mereka berdua. ”Oh, dia,” kata kakeknya di ujung sana. ”Ya, dia.” ”Memangnya ada apa dengannya?” ”Apakah alasan kau tiba-tiba memutuskan bahwa aku sudah punya tunangan adalah karena Miranda?” ”Tentu saja bukan,” bantah kakeknya. ”Apakah kau serius dengannya?” Lucas tersenyum kecil. ”Entahlah. Mungkin aku berniat menikahinya,” guraunya. ”Well, urungkan niatmu karena kau sudah punya tunangan,” kata kakeknya. ”Dan cepatlah kemari, Lucas. Aku butuh tumpangan pulang ke rumah. Apakah kau tega melihat kakekmu yang sudah renta ini naik taksi atau kereta bawah tanah di New York sendirian?” Gordon Ford memang sudah berumur 75 tahun, tetapi sama sekali tidak renta. Ia masih sangat sehat, sangat aktif, sangat mandiri, dan Lucas tahu benar otak kakeknya masih sangat tajam. ”Bukankah kau berangkat bersama salah seorang temanmu tadi sore? Apakah dia tidak bisa mengantarmu pulang?”
Detail Buku:
Judul : In a Blue Moon
Penulis : Ilana Tan
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN :978 - 602 - 03 - 1462 - 4
Tebal : 320 hlm
ISBN :978 - 602 - 03 - 1462 - 4
Tebal : 320 hlm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar