Kafka On The Shore (Dunia Kafka )

Kafka On The Shore (Dunia Kafka )

” Adi sudah kau kumpulkan semua uangnya?” bocah bernama gagak itu bertanya dengan suaranya yang malas. Serupa suaramu saat kau baru bangun tidur, serta mulutmu yang terasa berat dan lemas. Tapi sepenuhnya dia sadar, dia hanya berlagak. Seperti biasa. Aku mengangguk. ”Berapa?” Aku coba mengingat-ingat jumlahnya. ”Hampir tiga ribu lima ratus tunai, ditambah uang yang dapat kuambil dari ATM. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukuplah. Untuk sementara ini.” ”Lumayan,” kata bocah laki-laki bernama Gagak itu. ”Untuk sementara ini.” Aku kembali mengangguk. ”Aku rasa ini bukan uang hadiah Natal dari Santa Klaus.” ”Yah, kau benar,” jawabku. Gagak menyeringai dan memandang ke sekeliling. ”Kurasa kau mulai dengan merampok laci-lacinya, kan?” Aku tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia tahu uang siapa yang tengah kami bicarakan, sehingga semestinya tidak perlu lagi ada pertanyaan panjang serta berbelit-belit. Dia hanya merepotkan aku saja. ”Tidak masalah,” kata Gagak. ”Kau benar-benar membutuhkan uang ini dan kau boleh mendapatkannya minta, pinjam ataupun mencuri. Itu uang ayahmu, jadi siapa yang peduli, bukan begitu? Ambil sebanyak-banyaknya, dan kau dapat memanfaatkannya. Untuk sementara waktu. Tapi apa rencanamu setelah uang itu habis? Uang tidak mirip jamur di hutan tidak bisa tumbuh sendiri. Kau harus makan, harus punya tempat tinggal. Suatu hari nanti kau akan kehabisan uang.” ” adi sudah kau kumpulkan semua uangnya?” bocah bernama gagak itu bertanya dengan suaranya yang malas. Serupa suaramu saat kau baru bangun tidur, serta mulutmu yang terasa berat dan lemas. Tapi sepenuhnya dia sadar, dia hanya berlagak. Seperti biasa. Aku mengangguk. ”Berapa?” Aku coba mengingat-ingat jumlahnya. ”Hampir tiga ribu lima
ratus tunai, ditambah uang yang dapat kuambil dari ATM. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukuplah. Untuk sementara ini.” ”Lumayan,” kata bocah laki-laki bernama Gagak itu. ”Untuk
sementara ini.” Aku kembali mengangguk. ”Aku rasa ini bukan uang hadiah Natal dari Santa Klaus.” ”Yah, kau benar,” jawabku. Gagak menyeringai dan memandang ke sekeliling. ”Kurasa kau mulai dengan merampok laci-lacinya, kan?” Aku tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia tahu uang siapa yang tengah kami bicarakan, sehingga semestinya tidak perlu lagi ada pertanyaan panjang serta berbelit-belit. Dia hanya merepotkan aku saja. ”Tidak masalah,” kata Gagak. ”Kau benar-benar membutuhkan uang ini dan kau boleh mendapatkannya minta, pinjam ataupun mencuri. Itu uang ayahmu, jadi siapa yang peduli, bukan begitu? Ambil sebanyak-banyaknya, dan kau dapat memanfaatkannya. Untuk sementara waktu. Tapi apa rencanamu setelah uang itu habis? Uang tidak mirip jamur di hutan—tidak bisa tumbuh sendiri. Kau harus makan, harus punya tempat tinggal. Suatu hari nanti kau akan kehabisan uang.” ”Tapi aku harus pergi,” ucapku padanya. ”Tidak bisa tidak.” ”Yah, aku rasa kau benar.” Dia mengembalikan pemberat kertas itu ke meja, lantas meletakkan kedua tangannya di belakang
kepalanya. ”Bukan berarti melarikan diri bakal menyelesaikan segala  nya. Aku tidak akan menghalangimu sama sekali, tapi seandainya aku jadi kau, aku tidak akan meninggalkan tempat seperti ini. Tidak peduli seberapa jauh pun kau pergi. Jarak tidak sanggup menyelesai - kan apa pun.” Bocah laki-laki bernama Gagak itu menghela nafas, lalu me - letakkan satu ujung jari di atas masing-masing kelopak matanya yang tertutup, serta berbicara padaku sembari memejamkan mata. ”Bagaimana jika kita memainkan permainan kita?” ujarnya. ”Baiklah,” jawabku. Aku memejamkan kedua mataku, lalu dengan tenang menarik nafas panjang. ”Ok, bayangkan suatu badai pasir yang mengerikan!” katanya. ”Singkirkan yang lain dari pikiranmu!”
Aku melakukan apa yang dikatakannya, menyingkirkan hal-hal lain dari pikiranku. Bahkan aku lupa siapa aku. Aku benar-benar kosong. Kemudian berbagai hal mulai bermunculan. Berbagai hal yang—sambil duduk di sofa kulit tua di ruang kerja ayahku dapat kami lihat. ”Kadang-kadang nasib ibarat badai pasir kecil yang terusmenerus berubah arah,” kata Gagak. Kadang-kadang nasib ibarat badai pasir kecil yang terus-menerus berubah arah. Kau mengubah arahmu tetapi badai pasir itu terus mengejarmu. Kau berbalik, badai itu tetap mengikutimu. Kau
melakukan hal yang sama terus-menerus, seakan menari-nari dengan kematian men jelang fajar. Mengapa? Karena badai ini bukanlah sesuatu yang bertiup dari kejauhan. Bukan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu. Badai ini adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang ada di dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan hanyalah menyerah, masuk ke dalam badai itu, menutup mata serta telingamu, sehingga pasirnya tidak dapat masuk, lantas berjalan melewati -
nya langkah demi langkah. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada waktu.

Detail Buku:
Judul         : Kafka On The Shore
Penulis      : Haruki Murakami,
Penerbit     : PT Pustaka Alvabet
ISBN         :978-602-9193-03-9
Tebal         : 605 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar