La Barka By Nh. Dini

La Barka By Nh. Dini

Matahari musim panas bersinar dengan cahayanya yang kekuningan ketika kereta api kami sampai di stasiun Les Arcs. Seorang laki-laki yang berdiri di dalam kereta api menolongku menurunkan kedua kopor, lalu menyambut tubuh anakku dan diletakkannya dengan hati-hati di peron. ”Terima kasih, Anda baik sekali,” kataku. ”Saya tidak dapat menolong Anda sampai di luar stasiun. Tunggulah sebentar. Nanti akan ada tukang pelat.” Sebelum aku mengucapkan sekali lagi rasa terima kasih, dia telah melompat ke dalam kereta api yang beberapa detik mulai
bergerak untuk meneruskan perjalanannya. Kuambil tangan anakku dan melayangkan pandang ke arah gedung. Seorang laki-laki mendekati tempat kami berdiri. Dari baju luarnya yang biru disulam dengan nomor-nomor tertentu, aku segera tanggap dialah tukang pelat itu. ”Dapat saya bantu, Nyonya?” ”O, ya,” jawabku dengan segera, ”kalau Anda sudi membawakan kedua kopor ini sampai di luar stasiun, saya akan berterima kasih.” Diangkatnya kedua koporku ke atas kereta dorong dari kerangka besi, lalu dia menariknya menuju gedung. Kami mengikuti. ”Nyonya datang dari mana?” tanyanya tanpa menoleh.  Dari Jenewa.” ”Bagaimana udara di sana?” ”Jelek. Jelek sekali. Kemarin malam hujan. Pagi tadi, ketika kami berangkat lagi, langit masih penuh awan.” ”Nyonya datang untuk berlibur?” ”Ya.” ”Di sini Nyonya akan menjumpai langit yang selalu terang.” ”Tidak hujan?” ”Oh, sudah hampir enam bulan tidak hujan.” ”Itu malah menyusahkan.” ”Memang. Beberapa rumah yang tinggal di bukit dan di ladang anggur mulai kekurangan air.” Kami berjalan beriringan. Tukang pelat itu sebentar berhenti, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu menyeberangi rel kereta api yang terdapat tepat di depan gedung. Kami mengikutinya, masuk ke ruang penjualan karcis lalu keluar ke bagian yang lain. Kami sampai di luar stasiun. Sebuah bus besar berwarna biru berhenti di seberang jalan. Aku mencari wajah yang kukenal. Tapi tak seorang pun kutemui. ”Ada yang menjemput?” ”Belum datang. Saya akan menunggu sebentar.” Kuambil lima franc dari tasku, kuberikan kepada laki-laki itu. ”Terima kasih, Nyonya.” Seperti mengkhawatirkan nasib kami berdua, dia tidak segera meninggalkan tempat itu. Sebentar melihat sekeliling, berjalan hilir-mudik, akhirnya menghilang di balik salah satu pintu. Kupergunakan saat bersendiri itu untuk mengamati lebih baik mobil-mobil yang berjajar di pinggir jalan, di antaranya beberapa yang masih baru. Kukenali satu demi satu nama pabriknya. Di seberang jalan, selain bus, ada dua sepeda motor yang tersandar di dekat pohon. Jalan kelihatan lengang. Sebentar-sebentar terdengar suara mobil atau deru mesin truk lewat di jalan besar yang mestinya terletak tidak jauh dari sana. Pintu terbuka, kulihat tukang pelat tadi kembali mendekati  kami. ”Belum datang?” ”Belum. Mudah-mudahan telegram saya sudah sampai.” ”Kapan Anda mengirimkannya?” ”Kemarin pagi.” ”Tentu sudah sampai. Ke mana Nyonya akan pergi?” ”Ke Trans.” Laki-laki itu melihat jam tangannya. ”Bus di depan itu akan berangkat ke Draguignan tujuh menit lagi. Dia menunggu kereta api dari Nice. Kalau Anda mau naik, saya tolong membawakan kopor ke seberang jalan.” ”Anda baik sekali. Tapi saya akan menunggu sebentar lagi.” ”Trans tidak jauh dari sini. Hanya dua belas kilo. Kalau Anda naik bus, turunnya di perhentian kedua.” Tanpa menunggu jawaban dariku, laki-laki itu masuk kembali ke gedung. Kupandangi anakku. Di tangan kanannya dia memegang beruang mainan yang didekapkan ke dadanya. Sedang di lengan kirinya tergantung tas kecil dari perusahaan penerbangan yang kami tumpangi dari Athena ke Jenewa. Kulepaskan gantungan tas dari bahunya. Kududukkan anakku di atas kopor abu-abu. Kuperhatikan wajahnya yang lembut. ”Mengapa kita tidak naik bus, Mama?”

Detail Buku:­­
Judul         : La Barka
Penulis      : Nh. Dini
Penerbit     : PT Grasindo
ISBN         :978-979-22-5439-6-
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar