Menyusuri Labirin Kehidupan Bersamamu

Menyusuri Labirin Kehidupan Bersamamu

Sebut aku pengecut. Melarikan diri hanya karena ditolak oleh gadis yang kusukai. Masih kuingat cercaan Pipit padaku hari itu. “Kau tuh laki atau bukan? Pergi sana, perjuangkan! Rebut Dina kembali!” Jika gadis itu memang mencintaiku, sedikit saja, aku memiliki alasan bertahan dan bertarung habis-habisan demi mendapatkan  dia. Namun, Dina tidak pernah memilihku dari pertama. Hati, jiwa, dan raganya telah tertambat pada pria lain. Bicara tentang patah hati, ini bukanlah patah hati pertamaku. Bukan juga patah hati yang membuatku begitu terpuruk. Sejujurnya, aku terus membandingkan dengan wanita itu. Mendapati berbagai kemiripan antara keduanya, yang memancing rasa ingin tahu akan Dina. Kejadian bersama Dina membawaku kembali pada kenangan lama. Saat aku dan wanita di masa lalu harus menentukan pilihan yang teramat sangat sulit. Cinta atau restu. Perpisahan, yang membuatku mencari keamanan pada kota kelahiran. Lucunya, ketika mengalami penolakan, aku malah memilih melarikan diri ke kota ini, berlibur di Semarang. Kota yang terpaksa kutinggalkan, padahal aku selalu ingin membangun rumah kecil di sini. Tempat kenanganku bersama wanita masa lalu. Yah, aku harus menyebutnya wanita dari masa lalu, sekarang. Apa yang kupikirkan dan kuharapkan sebenarnya? Keluar dari Ahmad Yani Internasional Airport, aku segera menuju salah satu taksi yang terparkir di depan pintu masuk bandara. Belum tangan ini menyentuh pintu taksi, pikiranku berubah. Aku tidak ingin langsung menuju salah satu penginapan murah meriah dengan kualitas pelayanan bagus yang sering kupakai dulu. Ada tempat lain yang ingin dituju. Dengan tas ransel kecil berisi beberapa lembar pakaian dan barang-barang penting di punggung, aku menyusuri jalanan. Tidak jauh dari jalan keluar bandara, terlihat beberapa motor terparkir di sana. “Pantai Tirang.” “Pantai Marina lebih keren toh, Mas. Fasilitasnya lengkap, pasirnya cantik. Terus, banyak yang seru-seru lainnya. Top pasti.” Pengendara motor itu memberi saran. Mungkin, dia mengira aku turis yang sama sekali buta mengenai kotanya. Atau, sepertinya dia enggan karena tahu rute menuju Pantai Tirang jelek. Sebenarnya, potensi dan keindahan pantai tersebut sangat menakjubkan. Hanya perlu sentuhan dan perhatian lebih. “Mau anterin atau ndak? Kalau ndak, aku cari yang lain,” ucapku sambil melihat beberapa motor ojek yang terparkir. Pengendara motor itu segera mengangguk dan memasang helmnya. “Sudah pernah ke Pantai Tirang yo, Masnya?” tanya dia. “Sudah.” Ya, aku sudah pernah pergi. Bahkan sering. Mungkin, aku manusia paling bodoh. Mencoba melupakan patah hati dengan menyusuri kenangan patah hati yang pertama. Dulu, aku bertemu dengannya di Pantai Tirang. Dia gadis manis kurus setinggi pundakku, dengan pakaian serba ungu. Warna favoritnya. Dia menghampiri, berdiri di depanku. Aku memperhatikan rambut ikalnya, bergelombang seperti ombak bergulung di pantai. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya soal berbagai hal tanpa rasa canggung.
“Wisatawan ya?”
“Kok bukannya ke Pantai Marina saja?”
“Tertipu sama tukang ojek pasti toh.”
“Zaman modern gini kok yo nggak cek internet dulu soal objek
wisata di tempat yang akan dikunjungi.”

Anehnya, bisa dikatakan, seharusnya aku bersyukur karena menemukan pantai indah ini. Dia bercerita tentang berbagai hal mengenai Pantai Tirang. Objek wisata yang kurang diperhatikan. Mulai dari akomodasi, jalan masuk, sampai pengelolaan yang tidak

Detail Buku:­­
Judul         : Menyusuri Labirin Kehidupan Bersamamu
Penulis      : Elly Taurina Lingga
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
ISBN         :978-602-02-4049-7
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar