Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih mujair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang. Ia tengah melemparkan dedak yang dimintanya dari penggilingan padi, serta daun singkong dan pepaya, dan ikan-ikan menyundul riang, kala ia mendengar deru mesin motor di suatu jarak, di antara deretan batang cokelat, pekak di telinganya. Ia terlalu mengenal bunyi itu untuk memaksanya menoleh, seakrab bunyi beduk dari surau lima kali sehari, sebab ia bisa mendengarnya lebih dari itu sebagaimana telinga tetangga lain telah bersahabat dengannya. Itu Honda 70 milik Mayor Sadrah, dengan warna merahnya yang masih cemerlang, penjelajah jejalan setapak di antara rumah, mengantarkan pemiliknya ke surau, mengirim istri pemiliknya ke pasar, dan kala lain sekadar berputar-putar di antara dinding rumah tetangga, dan setiap senja yang tak ada kerjaan, Mayor Sadrah akan membawanya berkeliling ke tempattempat yang lebih senyap. Kini umurnya lewat delapan puluh, Mayor Sadrah itu, dengan tubuh tetap bugar. Bertahun lampau berhenti dari dinas militer, pensiun dan berdiri di hari Kemerdekaan pada rombongan para veteran, dan pemerintah kota konon telah memberinya sepetak tanah di taman makam pahlawan sebagai balasan atas pengabdiannya, yang sering disebutnya sebagai undangan untuk segera mati. Lelaki ini menggiring motornya, berbelok dan berhenti di tepi tegalan kolam, membunuh mesinnya dan mengusap mu lutnya yang tersembunyi di balik kumis gelap, sebab tanpa gerakan itu serasa ia bukan dirinya. Kyai Jahro belum juga menoleh, hingga Mayor Sadrah berdiri di sampingnya, dan mereka berbincang tentang hujan badai semalam, yang untung tidak datang saat perusahaan jamu memutar film di lapangan bola, namun jelas hampir bikin patah hati para pemilik kolam. Hujan badai semacam itu pernah datang berbulan-bulan lalu, satu minggu tak ada henti, seolah pipa-pipa pemadam kebakaran yang ada di muka bumi tercurah serentak di sana. Sungai kecil yang dijejali lebih banyak lumpur daripada arus itu meluap setinggi satu depa, melemparkan angsa-angsa yang menghuninya ke muara, dan menenggelamkan kolam-kolam dengan sempurna. Masihlah untung jika ikan-ikan itu hanya tertukar-tukar, barangkali anak tetangga sendiri yang bakalan memakannya, sebagian besar hengkang entah, dan ketika air mereda, mereka hanya disisakan bekicot dan batang pisang yang berlayar dari udik. Kyai Jahro menoleh pada Mayor Sadrah dan berkata, kini ia telah bersiap dengan jala yang akan mencungkupi kolamnya, melindungi kan-ikan dari banjir macam mana pun.
Detail Buku:
Judul : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :978-602-03-0749-7
Tebal : 340 hlm
ISBN :978-602-03-0749-7
Tebal : 340 hlm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar