Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu

Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu

Semua orang mengenalku sebagai Jenny dari ”Hanny dan Jenny”. Di seluruh angkatan baru SMA Persada Internasional, ada tiga siswi bernama Jenny. Gara-gara keteledoran petugas administrasi sekolah, ketiganya dimasukkan ke kelas yang sama di kelas X-3. Hal ini menyebabkan berbagai kekacauan yang, pada akhirnya, memaksa semua orang mulai dari guru-guru paling serius hingga ibu kantin yang hobi bergosip memberikan julukan bagi para Jenny. Jenny pertama adalah Jenny Limantara, Jenny yang judes banget dan hobi menyalahkan tompelnya yang rada berbulu untuk semua masalahnya. Padahal, tompel itu oke-oke saja seandainya tidak terlalu sering dihina-hina oleh pemiliknya sendiri. Akibat kelakuan negatifnya sendiri, semua pun memanggil Jenny Limantara dengan panggilan ”Jenny Tompel”, tak peduli berapa keras upayanya meminta, memaksa, dan memohon-mohon orang untuk memanggilnya dengan panggilan ”J-Li” yang, tentu saja, dimaksudkan agar mirip dengan nama panggilan idolanya, Jennifer Lopez. Yang kedua adalah Jenny Handoyo, Jenny yang merusak imagenya sendiri pada hari pertama sekolah dengan dilindas bajaj. Cuma ujung sepatunya, sebenarnya. Jenny Handoyo adalah ratu drama supercengeng. Dia meraung-raung sembari digiring ke ruang UKS. Di sana dia diperiksa dan tidak ditemukan luka secuil pun bentol bekas gigitan nyamuk pun tidak ada. Sejak hari itu, dia dikenal sebagai ”Jenny Bajaj”. Kau akan mengira kejadian itu membuatnya sedikit lebih kalem, tapi Jenny Bajaj sama sekali tidak kenal kata kapok. Selalu ada saja keluhan dan tangisan yang dikeluarkannya, membuat guru kesehatan, guru olahraga, dan teman-teman sekelasnya termasuk aku diam-diam punya niat terpendam untuk mencekiknya setiap kali melihatnya muncul dengan air mata bergulir di pipi. Dan, bukannya aku jahat, tapi kalau melihat muka Jenny Bajaj yang bulat, cembung, dan kemerahan, bahkan orang yang tidak pernah melihat bajaj seumur hidup pun bisa langsung membayangkan kendaraan imut tersebut. Jenny ketiga adalah aku. Sebenarnya, setelah mendengar julukan superkeji yang diberikan pada Jenny-Jenny lain, aku sempat ketakutan setengah mati. Soalnya, nama lengkapku adalah Jenny Angkasa. Apa kalian bisa menebak, julukan apa yang akan mereka berikan padaku? Yep, ”Jenny Jenazah”. Seharusnya sih ”Jenny
Jenasa”, tapi itu kan tidak ada artinya. Pasti semua orang lebih suka ”Jenny Jenazah” karena itu lebih menghibur mereka dan menghina diriku. Gawat banget, kan? Untungnya, Hanny-lah yang menyelamatkanku. Di hari pertama sekolah, nasib mempertemukan kami sebagai teman sebangku, dan sejak hari itu kami tak terpisahkan lagi. Karena itu, aku pun dikenal sebagai Jenny dari ”Hanny dan Jenny” meski di seluruh sekolahku hanya ada satu Hanny. Harus diakui, Hanny memang unik banget. Sesuai namanya, dia mengingatkan semua orang pada madu (yah, tahu lah, biasanya orang-orang mengira nama Hanny ditulis dengan ejaan Honey). Rambutnya selalu dipotong pendek, namun sangat sesuai untuknya. Kulitnya tidak terlalu putih berbeda denganku yang pucat banget, nyaris seperti vampir karena aku jarang keluar rumah tapi sehat dan berkilauan. Senyumnya sangat manis, melelehkan hati setiap cowok yang melihatnya. Warna kesukaannya pun warna madu bukan cokelat, bukan kuning, tapi warna madu dan itu terlihat dari tas, kotak pensil, bolpoin, bahkan pakaian dalamnya (yang terakhir ini kuketahui saat berada di ruang ganti cewek, bukan karena aku punya kelainan suka ngintip-ngintip pakaian dalam teman sendiri lho!). Dengan segala kelebihan itu, Hanny langsung jadi cewek kelas sepuluh paling beken tahun ini. Dalam bulan pertama sekolah, dia sudah ditembak lebih dari dua lusin cowok dari kelas-kelas yang lebih atas, memacari delapan di antaranya, dan mencampakkan semuanya dan akulah saksi mata satu-satunya. Hanny, dengan segala kemurahan hatinya, selalu melibatkanku dalam semua petualangan cintanya. Saat dia pergi berkencan, dia selalu mengajakku sama seperti pacarnya yang juga mengajak teman-temannya. Biasanya kami makan siang bareng, dilanjutkan dengan nonton di bioskop. Di dalam bioskop, sementara dia berasyik-masyuk dengan pacarnya di barisan belakang paling ujung, aku duduk dengan canggung bersama teman-teman pacar Hanny yang sepertinya menganggapku tidak ada. Tentu saja, untuk apa mereka memedulikanku? Aku jelek, pendiam, dan canggung jenis cewek yang mereka hindari di

Detail Buku:­­
Judul         : Obsesi - buku 1 serial Johan Series karya Lexie Xu
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 – 602 – 03 – 1293 – 4
Tebal         : 240 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar