Novel Gerhana Kembar Karya Clara Ng

Gerhana Kembar Karya Clara Ng

Sinopsis :
LENDY terpaku menatap Diana, neneknya, yang berbaring damai, tertidur akibat zat sedatif yang diberikan dokter. Sekarat akibat kanker, ingatan neneknya berangsur-angsur hilang. Pandangannya melayang, tak tentu arah. Selama di rumah sakit ini, Eliza—mamanya, sering kali tidak tidur. Ia duduk di samping Diana, hanya memegangi tangannya. Terkadang Eliza membisikkan panggilan di telinga Diana berkali-kali. Oma hanya berdeham lemah, menanggapi panggilan lembut itu. ”Diana Sutanto,” Lendy bergumam lirih. ”Apa?” ”Nama Oma. Itu yang tertulis di data pasien.” ”Betul.” Eliza mengangguk. Sambil memaksakan diri, dia mengambil gelas kosong, menuang air ke dalamnya. Sekali teguk, gelas itu telah licin tandas. ”Apakah ada nama lain?”  ”Nama lain?” ”Nama depan. Yang mungkin dimulai dengan abjad F.” Sejenak Eliza menatap Lendy dengan tatapan bingung. ”Mungkin. Mengapa bertanya seperti itu?” Mata Lendy beralih, menghindari menatap mata ibunya langsung. Eliza merebahkan kepalanya di ranjang Oma. Lendy kasihan melihat mamanya. Beginilah anak tunggal. Ketika orangtua sakit, tidak ada bantuan dari saudara-saudara sekandung. Lendy meringis frustrasi membayangkan masa depannya jika terjadi sesuatu pada keluarganya. Lendy juga anak tunggal, tak ada kakak atau adik kandung yang dapat dimintai bantuan saat kesulitan menerpa keluarganya. ”Pulanglah, Ma. 
Biar saya yang menemani Oma.” Eliza tidak menjawab. Dia hanya memandang seprai yang berwarna putih bersih. Perlahan-lahan, Eliza membungkuk di atas tangan Diana, lalu mencium tangan itu dengan hormat. Lendy beranjak dari kursi lalu duduk di ujung ranjang, ragu-ragu menatap Eliza sambil berpikir keras. Dia teringat  ada naskah berjudul Gerhana Kembar yang tanpa sengaja ditemukannya di dalam lemari baju Diana, di tempat yang paling pojok. Tumpukan kertas dalam satu bundel yang sudah menguning dan mengumpulkan debu. Sejak kemarin, Eliza menyuruhnya mencari akta kelahiran Oma, entah untuk apa. Tapi alih-alih menemukan akta kelahiran, Lendy malah menemukan benda lain yang lebih mengejutkannya. Sebagai editor di perusahaan penerbitan berkelas, Lendy mempunyai mata ketiga yang sangat tajam mengenali mana naskah yang ditulis bagus dan mana yang tidak. ”Bagus” memang relatif, tapi naskah yang ditulis dengan rapi dan mempunyai  emampuan membetot perhatian pembaca agaknya tidak banyak. Selalu saja Lendy harus berkompromi terhadap ribuan naskah yang menyerbu mejanya. Penulis kelas B memang bertebaran, tapi Lendy tidak terlalu tertarik dengan penulis kelas ini.
Lendy selalu bermimpi menjadi editor penulis kelas A, penulis yang memang dilahirkan dengan bakat dan panggilan alamiah. Penulis sejati yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk memperkaya khazanah sastra. Ah, bukankah itu juga khayalan teman-teman editor Lendy di kantornya? Pagi ini dia menemukan naskah yang memancing perhatian dan rasa penasarannya. Lima halaman prolog berbau tinta mesin tik kuno di kertas yang menguning ujungnya sungguh menjanjikan. Sisanya masih sebundel, tapi Lendy belum sempat membukanya, apalagi menelitinya. Tumpukan kertas yang diikat karet gelang tersebut tampak ringkih dan berdebu. Bukan hanya ingin mengetahui kelanjutan kisah itu, Lendy juga ingin tahu hal-hal lainnya. Dia bertanya-tanya dalam hati. Mengapa naskah itu ada di dalam lemari baju neneknya? Mengapa diletakkan di tempat yang tersembunyi? Apakah naskah ini pernah diterbitkan? Siapakah yang menulis naskah ini? Apakah pengarang ini berinisial FDS, sesuai  dengan inisial yang diketikkan di akhir prolog? Atau. ”Felicia.” Tiba-tiba Eliza mendongak. ”Apa?”

Detail Buku:
Judul         : Gerhana Kembar
Penulis      : Clara Ng
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978-602-03-1878-3
Tebal         : 368 hlm;
Download      : Google Drive 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar