Novel Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges

Novel Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges

MEREKA semua mengenakan pakaian serbahitam, menyatu  dalam kegelapan ruangan tempat mereka mengadakan upacara. Lilin-lilin hitam menyala di sekeliling mereka, memberikan penerangan sekaligus aura gelap di ruangan itu, sementara bau dupa yang mistis melayanglayang di udara. Hakim Tertinggi keluar dari barisan, dan naik kepanggung di depan mereka semua, tempat diletakkan sebuah altar tua yang telah diwariskan selama dua belas generasi berturut-turut. ”Kita,” teriaknya lantang seraya menghadap para anggota dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, ”adalah para pemimpin yang dipilih oleh para pendahulu kita, untuk menjaga kedamaian dan menegakkan keadilan di sekolah kita yang tercinta ini.” Semua anggota menyetujui sambil ikut mengangkat tangan mereka dengan penuh semangat. ”Kita adalah murid-murid istimewa!” teriak Hakim Tertinggi lagi. ”Kita diberi hak khusus melakukan apa saja untuk melenyapkan murid yang mengganggu ketenangan sekolah kita, dengan segala cara!” Sekali lagi para anggota menyetujui sambil menonjoknonjok udara dengan ganas. ”Sebab kita adalah The Judges, para hakim Sekolah Harapan Nusantara! Aut vincere aut mori! Menguasai atau mati!” Kalimat aut vincere aut mori memenuhi udara dengan dengungan kelam dan menyeramkan. Setiap kata seolaholah merasuki hati setiap anggota, memenuhi mereka dengan keangkuhan dan kekejaman. Tanpa membalikkan badan, sang Hakim Tertinggi mengibaskan tangannya. Tirai di belakang altar terbuka, menampakkan sepuluh foto yang diambil secara diamdiam. Dengungan itu pun langsung berhenti seketika. ”Kalian semua sudah tahu target-target kita. Semuanya nak-anak terbaik SMA Harapan Nusantara. Jadi kita tidak boleh ceroboh dalam menangani mereka. Gunakan otak kalian dan kerahkan kemampuan terbaik kalian untuk menghadapi mereka. Tetapi, ada anak-anak tertentu
yang harus kalian perhatikan secara khusus.” Mendadak saja dari balik lengan jubah, si Hakim Tertinggi mengeluarkan sebilah pisau. Dalam sekejap, dia berbalik dan melemparkan pisau itu ke antara foto-foto yang terpampang, tepat mengenai foto seorang cewek berambut pendek jabrik, lalu kembali menghadap para anggota yang menatapnya dengan takzim. ”Erika Guruh. Murid genius sekolah kita saat ini dan mungkin murid paling genius yang pernah dimiliki sekolah kita. Memiliki daya ingat fotografis, nilai sempurna, dan kemampuan fisik yang sulit ditandingi oleh cowok sekalipun. Kelemahannya adalah, dia tidak punya  memampuan mematuhi otoritas. Dia bisa menjadi sekutu yang kuat dan bisa diandalkan, namun juga bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya.” Sekali lagi dia mengeluarkan pisau dan dengan gaya mendadak yang sama, dia melemparkannya ke foto kedua, foto seorang cewek berkacamata yang tampak lemah. ”Valeria Guntur. Peraih juara umum kedua. Meski bukan genius, nilai-nilainya hanya sedikit di bawah Erika Guruh. Ini menandakan dia seorang pekerja keras yang luar biasa. Meski kelihatannya lemah, dia pandai dalam bidang olahraga. Selain itu, dia juga anggota berbakat Klub Drama. Yang membuatnya patut diperhitungkan adalah kenyataan bahwa dia putri tunggal keluarga Guntur. ”Dan terakhir...” Tanpa membuang-buang waktu si Hakim Tertinggi melemparkan pisaunya ke foto cewek di ujung bawah, ke wajah yang hampir semuanya ditutupi
rambut panjang yang mengerikan. ”Rima Hujan. Ketua Klub Kesenian, pelukis genius, sekaligus peramal sekolah kita. Dialah yang paling berbahaya, sebab dia sanggup mengetahui semua rahasia, trik, dan jati diri kita. Tapi jangan khawatir, aku tahu cara mengatasi kemampuannya. Kalau dia melakukan hal-hal mencurigakan, laporkan padaku, dan aku akan mengurus sisanya. Aut vincere aut mori!” Dan dengungan menyeramkan itu pun kembali memenuhi ruangan. Menandai permainan berdarah yang akan segera dimulai.

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #3: Misteri Organisasi Rahasia The Judges
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9822 - 2
Tebal         : 312 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar