Novel Omen #2 : Tujuh Lukisan Horor By: Lexie Xu

Novel Omen #2 : Tujuh Lukisan Horor By: Lexie Xu

ENTAH kenapa aku mau datang ke sekolah malam-malam begini. Atau sebenarnya aku tahu, hanya saja aku tak mau mengakuinya. Aku harus datang supaya masalah itu tidak tersebar. Tidak, aku tidak ingin masalah itu sampai tersebar dan kedengaran semua orang terutama orangtuaku. Mereka sudah menaruh harapan begitu besar padaku, dan selama ini aku sudah menjaganya dengan prestasi yang kuraih dengan susah payah. Skandal mengerikan seperti ini
sudah pasti akan memukul perasaan mereka. Kenapa bisa ada yang tahu masalah ini? Kenapa bisa ada yang tahu selain mereka-mereka yang terlibat? Aku tahu, tak ada satu pun di antara kami yang akan menceritakannya pada orang lain. Kami semua telah membuat kesalahan yang teramat besar, dan sebagian dosanya lebih besar daripada yang lain. Tapi kami semua berada
dalam posisi yang sama. Kami sama-sama takut masalah ini tersebar, dan tak ada satu pun di antara kami yang sudi membocorkannya pada orang lain. Kecuali cewek itu. Tapi masa dia...? ”Halo?” tanyaku, dan suaraku langsung bergema di ruangan kosong itu. ”Ada orang di sini?” Tadinya aku sengaja tak menyebutkan nama, tak ingin ada pihak-pihak tak berkepentingan yang mengetahui urusanku. Siapa tahu ada penjaga sekolah yang lewat atau barangkali guru BP kami yang raksasa itu, Pak Rufus, sedang bertengkar dengan ibunya yang pemarah dan memutuskan untuk menginap di sekolah. Siapa tahu. Tapi pertanyaanku tidak mendapatkan jawaban sama sekali, dan aku mulai takut. Bukan hanya karena suasananya mengerikan. Masalahnya, kalau ditanya, sulit bagiku untuk menjaga kerahasiaan masalah ini, apalagi kalau
sampai ada mulut bocor di antara kami. Seandainya saja ada orang yang mau menemaniku datang ke sini malam ini. Sialnya, semua orang yang terlibat tidak bisa kuhubungi. Kebetulankah? Atau ada sesuatu yang telah menimpa mereka? Oke, aku mulai berharap Pak Rufus dan Pak Jono, si penjaga sekolah bermuka tikus, mendadak muncul lalu menangkapku. Setidaknya, aku jadi punya alasan untuk pulang. ”Halo?” panggilku sekali lagi dengan suara gemetar. Sial, aku kan cowok. Masa suaraku seperti pengecut begini? Aku mengumpulkan semua nyaliku dan membentak, ”Halo!!!” Tetap saja tak ada jawaban. ”Ini nggak lucu!” ucapku dengan nada semarah mungkin. ”Kalo lo cuma mau ngerjain gue, sori, gue nggak ada waktu buat ngeladenin elo. Mendingan gue pulang sekarang juga!” Aku sudah berjalan ke pintu saat lukisan itu menarik perhatianku. Lukisan yang dibuat dalam rangka pameran lukisan yang diadakan sekolah kami. Aku tahu, lukisan itu milik Rima. Rima si anak kelas sepuluh yang kurus
dan jelek dengan rambut panjang mengerikan, cewek lemah yang biasanya jadi bahan tertawaan kami, anakanak populer. Tapi entah kenapa Rima dinobatkan sebagai pelukis paling berbakat di sekolah kami. Padahal lukisannya tak bagus-bagus amat kok. Agak seram, sebenarnya. seperti lukisan ini. Ada sebuah sosok yang mirip manusia, mungkin laki-laki, menyeret dirinya keluar dari sebuah pintu, sementara sosok lain yang mirip monster sedang mengayunkan parang besar di belakangnya. Darah berceceran di lantai, yang tentunya berasal
dari kaki si sosok laki-laki yang sudah buntung. Lukisan itu dibuat dengan sapuan cat minyak yang lebih mirip corat-coret orang sinting ketimbang lukisan orang berbakat. Tunggu dulu. Kenapa sosok yang mirip laki-laki ini berambut pirang? Kuangkat tanganku untuk menyisir rambutku yang dipotong shaggy dan dicat warna pirang. Jantungku makin berdegup keras saat melihat jam tangan bertali krem di pergelangan tangan sosok itu, yang tampak mirip dengan jam tangan yang kini melilit di pergelanganku. Tadi pagi  waktu aku melihat lukisan ini, rasanya belum ada detaildetail kecil ini. Masa sih...? Aku mendengar bunyi di belakangku dan langsung
berbalik.Napasku tercekat melihat salah satu patung berIsi-

Detail Buku:­­
Judul         : Tujuh Lukisan Horor
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9664 - 8
Tebal         : 424 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar