Novel Omen #4: Malam Karnaval Berdarah

Novel Omen #4: Malam Karnaval Berdarah

SUASANA malam itu begitu mengerikan. Aku mendapati diriku berada di tengah-tengah komidi
putar. Kedua tanganku terikat, demikian juga kakiku. Lantai komidi putar berputar perlahan, sementara lagu It’s a Small World After All berkumandang dari speaker yang sudah mulai pecah. Sebagian besar lampu komidi putar sudah tidak menyala lagi, membuat suasana terlihat temaram. Terdengar suara tawa yang tiada henti dari patung badut bermuka rusak, menambah keangkeran malam itu. Di depanku, aku menghadapi Daniel yang mengacungkan pisau ke arahku. Wajah cowok itu sama sekali tidak menampakkan ekspresi. Matanya yang sipit dan biasanya dipenuhi tawa kini menatapku dengan tajam. Bibirnya yang biasanya menyunggingkan senyum kini terkatup rapat. Sementara itu, gerak tubuhnya jelas-jelas dipenuhi rasa tegang. Otot-otot bahunya tampak jelas, demikian juga urat di pelipis kirinya. Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat yang membuatnya tampak begitu keren sekaligus menakutkan. Satu hal yang aku tahu pasti: apa pun yang nantinya akan dilakukan Daniel padaku, aku tidak akan pernah bisa membencinya. Suara iblis mengalun di antara kami. Lembut, namun licik dan penuh tipu muslihat. ”Sudah waktunya menyingkirkan dia, Daniel. Garagara dia, kita semua menderita di bawah kediktatoran The Judges. Dia harus dilenyapkan. Kalau tidak, kamu yang paling rugi. Seandainya dia mati, kamu yang akan mengambil kedudukannya. Kamu akan menjadi orang paling berkuasa di seluruh sekolah. Kamu akan mengalahkan orang yang selama ini selalu berada di atasmu, Erika Guruh. Kamu tidak perlu diperbudak lagi oleh The Judges, dan kamu takkan dicap pengkhianat lagi oleh temantemanmu.
Bukan itu saja. Kalau dia mati, kamu juga bisa bersama cewek yang sudah lama kamu inginkan. Cewek yang selama ini menghindarimu karena pertemanan antara dia dan Rima. Bunuh dia, Daniel, dan Valeria Guntur akan jadi milikmu….” Aku bisa merasakan keputusan yang mendadak dibuat dalam hati Daniel. Pupil matanya mengecil saat dia mengangkat pisau. Hatiku mencelus saat mendengar dia berbisik perlahan, ”Maaf, Rima.” Aku memejamkan mata.
Dan hal terakhir yang kulihat sebelum menutup mata adalah Daniel yang menerjang ke arahku.”PERHATIAN untuk para pengurus OSIS, harap segera mengikuti rapat di ruang OSIS. Sekali lagi, perhatian untuk para pengurus OSIS, harap segera mengikuti rapat di ruang OSIS.” Yes! Inilah hal yang paling kusukai dari menjadi pengurus OSIS kesempatan untuk bolos pelajaran sekolah terang-terangan di hadapan guru dan teman-teman lain. Kututup buku teks ekonomi yang tebal dan bercover jelek dengan puas, lalu kulempar dengan penuh gaya, tepat ke dalam laci meja yang sempit. ”Pergi dulu, Yang…,” ucapku pada teman sebangkuku yang memelototiku dengan sorot mata iri. ”Sana pergi ke neraka!” jawab Welly, si teman sebangku bertampang jelek sekaligus sahabat dekatku yang mendadak jadi musuh besar saat melihatku menggunakan hak istimewa sebagai anggota golongan elite. Aku hanya tertawa pongah. Berhubung tepi mejaku menempel pada tembok, aku harus berjalan melewatinya. ”Brengsek, gue disodorin pantat lagi!” ”Jangan banyak komplen,” ucapku sambil sengaja nungging. ”Attitude kayak gini yang harus dihindari kalo kepingin ikutan jadi pengurus OSIS. Ya nggak, Mir?” Sobat dekatku yang memiliki tinggi dan lebar tubuh di atas rata-rata, Amir, yang kebetulan duduk di meja di samping kami, berlagak tidak melihat maupun mendengarku sementara tangannya terus merogoh lacinya untuk mengambil kacang. Yah, jadi menurutnya, kacang lebih menarik daripada aku? Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku tidak membuang-buang waktu memberikan nasihat berharga kepada orang-orang yang jelas-jelas tidak mau belajar dari kesuksesan orang lain. Aku melenggang keluar kelas dengan gembira seraya melambaikan ciuman mesra pada Bu Tarmini yang tampak geli melihat ulahku. Bukannya aku sok, tapi hamper semua guru cewek suka banget padaku, termasuk yang tegas dan galak dengan ukuran badan supermini (tidak heran Bu Tarmini sering dipanggil si Cabe Rawit). Padahal semua orang tahu, guru-guru cuma suka pada muridmurid  intar, sementara nilai-nilaiku bahkan lebih jelek lagi dibandingkan muka si Welly). Tapi mana mungkin ada yang tidak menyukaiku? Dari segi tampang saja, aku oke banget. Rambutku yang tadinya agak gondrong kini dipotong pendek dan rapi model shaggy yang sekarang lagi beken dong dengan sedikit semburat warna pirang. Tubuhku tinggi besar, kuat, dan ideal tidak seperti Welly yang mirip tiang listrik berjalan atau Amir yang mirip Kolonel Sanders zaman masih ABG. Mataku yang sipit, hidungku yang besar mancung, dan senyumku yang cemerlang (gosipnya, semua itu mengingatkan orang-orang pada Rain,

Detail Buku:­­
Judul         : Omen #4: Malam Karnaval Berdarah
Penulis      : Lexie Xu
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 602 - 03 - 0189 - 1
Tebal         : 400 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar