AKU melonjak-lonjak girang begitu bangun pagi ini. Hari ini, turnamen Thomas dan Uber Cup 2008 bakal dimulai! Yeeeesssss! For your information nih, Thomas-Uber Cup adalah kejuaraan beregu bulutangkis. Thomas untuk cowok, Uber untuk cewek. Diselenggarakannya tiap dua tahun sekali, dan kebetulan tahun ini diadakan di Indonesia! Aku bener-bener excited menyambut turnamen tahun ini. Soalnya, gengsi Thomas-Uber itu selevel dengan Olimpiade. Of course, aku berniat bakal nonton langsung di Istora Senayan. Apa gunanya tinggal di Jakarta dan jadi badminton mania kalau aku melewatkan event kali ini? Jam satu siang, Papa mengantarku ke halte busway blok M. Aku memang berinisiatif untuk naik bus Transjakarta dari sini sampai halte Senayan. Soalnya, kasihan Papa kalau harus mengantarku sampai Istora. Rumahku kan di Bintaro, yang lumayan jauh dari Senayan. Bakal boros bensin banget, kan? Ingat global warming cuy, lebih baik menggunakan transportasi umum. Di halte busway Senayan aku turun, dan ternyata Wilson, Charles, serta Sharleen sudah stand by di sana. Kami memang janjian ketemu di sini, baru ke Istora bareng-bareng. Waktu kami sampai di Istora, ternyata suasananya nggak begitu rame. Mungkin karena masih babak pertama kali ya? Kami beli tiket di loker dan langsung masuk. Partai pertama (tunggal putri) antara Indonesia dan Jepang bakal dilangsungkan sebentar lagi, antara Maria Kristin Yulianti dan Eriko Hirose. Aku duduk di salah satu tribun, dan jumpalitan sendiri selama pertandingan. Aku memang agak norak kalau nonton bulutangkis, bisa jerit-jerit sendiri. Orang rumah suka rese kalau lihat aku nonton bulutangkis di TV, karena aku suka tegang dan histeris berlebihan. Kayak terlalu menghayati, gitu. Tapi sebodo amat, nggak pernah dengar namanya orang nge-fans, ya? Toh aku nggak pernah protes juga kalau Claudia, adik cewekku yang masih SMP itu, heboh nonton Nidji di TV. Dan aku juga nggak pernah ngomel kalau Lionel norak nonton Barney, padahal, please deh, itu kan cuma boneka dinosaurus! Jadi, mana yang lebih wajar: histeris karena nonton pertandingan olahraga, atau karena nonton Nidji dan Barney? Nah, balik lagi ke pertandingan live di hadapanku sekarang. Maria Kristin akhirnya harus menyerah melawan Jepang. Walaupun dia berhasil merebut game pertama, dia kalah di dua game selanjutnya. Aku lesu, tapi tetap optimis Indonesia bakal bisa merebut partai berikutnya. Hmm, kujelaskan sedikit lagi. Di babak penyisihan Uber Cup ini akan ada lima partai yang dipertandingkan antar dua negara. Pertama, tunggal putri, lalu ganda putri, terus tunggal lagi, ganda lagi, dan terakhir tunggal lagi (untuk Thomas Cup sama, hanya saja yang main cowok). Yang berhasil merebut tiga partai duluan, dia yang menang. Tapi biasanya untuk penyisihan akan dimainkan sampai habis lima partai. Kalau sudah sistem gugur, seperti babak perempat final, semifinal, dan final, pertandingan diakhiri kalau ada tim yang sudah merebut tiga partai duluan, jadi kalau sudah ada yang kedudukannya 3-0 atau 3-1, ya partai berikutnya nggak usah dimainkan lagi, karena sudah jelas siapa yang melaju ke babak berikutnya, kan? sekarang partai kedua, ganda putri. Indonesia menurunkan Vita Marissa/Lilyana Natsir. Asal tahu aja, kedua orang ini sebenarnya bukan pemain ganda putri, tapi ganda campuran. Dan bukan ganda campuran ecek-ecek juga. Vita bersama Flandy Limpele ada di peringkat tiga dunia. Lilyana jangan ditanya, dia berhasil menduduki posisi puncak bersama Nova Widianto. Hanya saja, aku nggak tahu kenapa tiba-tiba dua pemain cewek ganda campuran ini dipasangkan jadi ganda putri. Kesannya kayak coba-coba banget, gitu. Tapi kalau aku nggak salah, mereka justru berhasil meraih juara di China Open tahun lalu! Weits, baru dipasangkan, tahu-tahu juara. Siapa yang nggak kagum? Sudah menjadi rahasia umum, prestasi pebulutangkis putri Indonesia sangat jeblok belakangan ini. Di Olimpiade 2004, kita bahkan nggak mengirimkan wakil di sektor putri sama sekali. Aku miris banget waktu melihatnya, karena seolah kita sudah nggak punya harapan lagi dari sektor putri sejak pensiunnya Susi Susanti dan hijrahnya Mia Audina ke Belanda. Tapi untunglah, tim Uber Indonesia bisa lolos ke putaran final kali ini. Kayaknya mereka memang nggak ditarget terlalu tinggi. Mungkin berhasil sampai perempat final pun sudah bagus. Ya iyalah, secara tahun 2006 kita bahkan nggak lolos kualifikasi! Jadi kali ini berhasil masuk penyisihan pun udah lumayan. Aku dan Sharleen bengong-bengong tegang sewaktu melihat Vita/Lilyana melawan Satoko Suetsuna/Miyuki Maeda. Buset, mereka memang layak banget menjuarai China Open tahun lalu. Permainan mereka keren banget, defense-nya bak tembok, dan smash-smash-nya, omaigaatttt... are they really women? Tenaga mereka kayak mesin giling! dan tiba-tiba aku seperti tersadar... Pak Richard waktu itu benar. Aku memang mengalahkan Sharleen, Wilson, dan Charles, tapi semua seranganku penuh emosi, gara-gara aku lagi kesal sama Albert. Sedangkan sejuta serangan yang dilancarkan Vita/Lilyana sangat terkontrol. Kelihatan sekali mereka pebulutangkis profesional, mainnya nggak pakai emosi, tapi pakai otak. Mendadak, aku jadi merasa bersalah banget, sudah membantah Pak Richard waktu itu.
Detail Buku:
Judul : Badminton Freak!
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :-
Tebal : -
ISBN :-
Tebal : -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar