Dylan, I Love You! by Stephanie Zen

Dylan, I Love You! by Stephanie Zen

 “JADI, lagunya apa nih? Harus yang berhubungan sama persahabatan lho!” Jerry, ketua kelasku, mengoceh di depan whiteboard. Sebelah tangannya menggenggam spidol yang tutupnya terbuka, mengeluarkan bau tinta yang tajam. “Lagunya itu aja, yang judulnya Graduation, Friends Forever itu!” Sisca berteriak dari bangku depan. Jerry mengedikkan bahunya, lalu menoleh meminta persetujuan wali kelas kami, Bu Emmy. Beliau mengangguk, jadi Jerry menuliskan Graduation, Friends Forever besar-besar di papan tulis. Oh ya, namaku Alice, lengkapnya Alice Henrietta Hawkins. Sebelah alismu pasti terangkat gara-gara membaca namaku, ya? Yup, aku memang bule. Setengah bule, tepatnya, dan itu salah satu alasan kenapa aku sebal banget nget nget sama hidupku! Bokapku orang Australia, kalau nyokap blasteran Jawa-Cina. Sayangnya, ingredients yang bagus itu ternyata nggak membuat aku jadi cantik kayak Nadine Chandrawinata atau Julie Estelle. Aku pesek, pendek, dan jerawatan. Ditambah lagi, rambutku warnanya kusam kayak baju yang sudah bulukan. Pokoknya, penampilanku bisa digambarkan dengan satu kata: menyedihkan. Aku sekarang duduk di kelas satu di SMA Harapan, salah satu SMA di Jakarta. Aku bukan anak populer, tapi juga bukan nerd yang doyannya mojok di perpus tiap jam istirahat. Yah... pokoknya aku termasuk golongan netral deh, satu hal yang membuatku nggak pernah jadi istimewa di antara ratusan murid lainnya di sekolah ini. “Hoi, ngelamun mulu!” Grace, teman sebangkuku, menyikuku keras. “Lo kasih saran dong mau nyanyi lagu apa?” Ah, ya. Sekarang ini kelasku lagi mengadakan rapat kelas untuk memutuskan kami bakal menyanyikan lagu apa di pesta kelulusan anak-anak senior. Aturannya, setiap angkatan harus menyumbang satu penampilan, dan kelasku terpilih mewakili kelas satu untuk ngeband. Tapi, sampai sekarang kami belum tahu mau membawakan lagu apa, padahal acara kelulusan itu tinggal tiga minggu lagi! “Emangnya lagu apa aja sih yang udah diusulkan?” Aku mendongak menatap whiteboard. Jerry sudah menuliskan beberapa judul lagu hasil usul anak-anak sekelas di sana.

1. Graduation, Friends Forever Vitamin C
2. Untuk Sahabat Audy feat. Nindy
3. Pengyou gak tau penyanyinya siapa
4. Sahabat Peterpan
.
“Hmm... apa ya? Gue bilang sih udah bagus tuh pilihan lagunya. Jadi nyanyi berapa lagu?”  tanyaku ke Grace. “Katanya sih mau dua aja, tapi gue nggak sreg tuh sama pilihan lagunya.” Grace merengut, bersedekap. “Emangnya lo mau ngusulin lagu apa?” “Hehe... nggak tau.” Dia nyengir, memamerkan gigi-giginya yang dipasangi behel. Aku menopang daguku dengan tampang nggak berminat. Gila, anak-anak kelasku memang hobi banget bikin segala sesuatu dengan persiapan minim, selalu dibuat menjelang detik terakhir Kayaknya nggak bakal ada satu pun alumnus kelas ini yang jadi pemilik EO suatu saat nanti. Kalaupun ada, pasti EO itu bakal kacau-balau. “Alice,” tiba-tiba Bu Emmy memanggilku, “kamu ada ide?” Ups. Aku menatap whiteboard dengan mata membesar, berharap satu judul lagu bakal muncul di kepalaku. Aku ogah banget kelihatan culun di depan seisi kelasku. “Mmm...,” aku menggumam, “saya...” Dan tiba-tiba saja, lagu itu melintas di kepalaku! Lagu yang kudengar di radio dalam perjalanan ke sekolah tadi pagi! “Bagaimana kalau lagunya Skillful?” Alis Bu Emmy terangkat, dan aku maklum banget melihatnya. Mungkin beliau nggak tahu bahwa Skillful itu nama band. “Skillful?” Jerry menatapku bingung. “Yang judulnya apa?” “Eh...” Otakku berusaha keras mengingat judul lagu itu. “Tetap Sahabatku?” “Yang kayak apa sih lagunya?” Kali ini Sisca menoleh dari bangkunya dan menatapku juga. “Oh, yang ini nih,” aku mulai menyanyikan sepotong refreinnya, “kau masih tetap sahabatku... biar kita terpisah waktu... tapi ku kan s‟lalu mengenangmu... mengingat dan menjagamu...” Senyap. Aku langsung mencelos. Gawat, kenapa tadi aku pakai nyanyi segala? Omigod, pasti aku tadi kelihatan tolol banget! Sekarang tatapan anak-anak sekelasku menghunjam seolah aku ini hewan yang hamper punah. Sebentar lagi pasti bakal terjadi hal yang membuatku menyesal dilahirkan. “Bageeeesssss...! Lo aja yang jadi vokalisnya, Lice!” seru Oscar, cowok jangkung yang sudah terpilih sebagai gitaris band kelas kami, menirukan gaya bicara Indy Barends. Nah lho, benar, kan, aku sudah tau kalau sesuatu yang buruk pasti bakal terjadi. Dan kenapa juga aku lupa band kelas ini belum punya vokalis? Nggak ada satu pun yang dengan rela mengajukan dirinya jadi vokalis, orang yang bakal jadi pusat perhatian puluhan anak kelas tiga dan guru-guru sekolah ini di pesta kelulusan nanti. “Wah, ternyata suara lo boleh juga, Lice,” Grace mengedip-ngedipkan matanya menggodaku.  Maksud lo, suara gue nggak jelek?” tanyaku takut-takut. “Ya enggak lah! Suara lo tuh bagus! Unik, lagi!” “Iya, Bu Emmy, Alice aja yang jadi vokalisnya!” dukung Oscar. “Iya, iya, gue juga setuju,” tambah Sisca. Aku nyengir bego, dan cengiran itu semakin kelihatan tolol waktu Bu Emmy mengumumkan, “Oke, jadi Alice yang akan jadi vokalis band kita di pesta kelulusan nanti. Sekarang, sudah ada lima pilihan lagu, kita voting saja, ya?”

Detail Buku:
Judul         : Dylan I love You
Penulis      : Stephanie Zen
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar