Sepatu Emas Untukmu by Maria A. Sardjono

Sepatu Emas Untukmu

Awan bergerak perlahan-lahan dari ufuk barat sana, dan mulai berarak-arak memayungi rombongan orang yang sedang berjalan keluar pintu gerbang pemakaman. Seolah, hendak menunjukkan rasa belasungkawanya, khususnya kepada gadis berparas cantik yang tampak pueat dalam gaun hitam yang dikenakannya. Seorang perempuan gemuk yang sejak awal upacara pemakaman berdiri di sisi gadis cantik itu, menatap ke arah langit beberapa saat lamanya, kemudian menarik napas panjang. “Tampaknya mulai mendung lagi...,” gumamnya perlahan. Tak seorang pun di antara rombongan, yang sedang mengayunkan langkah, menanggapi gumamannya. Tidak juga Uci, gadis cantik bergaun hitam itu. Namun demikian, diam-diam melalui kerimbunan rambutnya, ia mengintai ke atas langit dengan mata yang berlapis duka itu. Seluruh pikiran dan perasaannya tertuju kepada ibunya. Dalam batinnya ia bertanya-tanya sen-diri, apakah arwah ibunya ada di atas awan-awan yang berarak-arak itu, dan dengan penuh kasih menatap ke bawah, kepada anak kandung satu-satunya ini. Ah, kalau saja ia boleh dan mampu memutar jarum jam kembali ke masa-masa lalu ketika ibunya masih
sehat. Sungguh, tak terkatakan dalam untaian kata, betapa dalam rasa kehilangan yang kini mengimpit  jiwanya ini. Hampir-hampir tak tertanggungkan. Ia betul-betul menjadi yatim-piatu kini. Dan meskipun ia masih mempunyai beberapa orang paman dan bibi serta sekian jumlah sepupu, tetapi rasanya ia sebatang kara. Tak punya siapa-siapa lagi. Ia tak pernah akrab, bahkan nyaris merasa asing terhadap mereka semua. Suatu keadaan yang bisa dimengerti. Sejak ia lahir, ia tak pernah dikenalkan kepada mereka. Ibunya hidup terasing dan terkucil di  rantau. Mereka semua menganggap ibunya sebagai duri dalam daging. Padahal sepanjang ingatannya, ibunya adalah seorang perempuan yang teramat lembut dan baik. Terhadap orang, ia selalu bertutur kata dengan sopan dan halus. Siapa pun orangnya. Dan terhadap Uci, ibunya selalu penuh kasih sayang dan sabar meskipun kehidupan mereka berdua teramat berat sebelum bertemu dengan Pak Suryadi yang kini menjadi ayah tirinya. Uci menggigit bibirnya sendiri hingga terasa asin di mulutnya. Untung ibunya bertemu dengan Pak Suryadi, * pikirnya. Pak Suryadi telah memberi ibunya uatu kebahagiaan yang tak pernah dikecapnya selama ini. Meskipun mereka hanya hidup bersama selama enam tahun dan lalu maut menjemputnya, ibu
Uci merasa puas lahir batin. Bahkan ketika matanya terkatup untuk selama-lamanya, di bibirnya terukir kelegaan yang nyata sesudah mendengar sendiri janji Pak Suryadi untuk melindungi Uci seperti anak kandungnya  sendiri. Meskipun demikian, Uci tahu bahwa di dalam hatinya, ibunya masih belum terpuaskan secara menyeluruh. Sebab, keinginannya melihat Uci menikah dengan lelaki idamannya, belum terwujudkan. Bahkan tampaknya tak akan terwujud dalam suatu kenyataan. Hasrat melihat Uci berada dalam lingkup kasih sayang suami berakhir di liang kuburnya. “Ah, kasihan Ibu,” Uci terisak sedikit tanpa mampu menahannya. Kemudian lekas-lekas ia menundukkan kepalanya, berharap tak seorang pun tahu apa yang sedang bergejolak dalam batinnya yang terkoyak. Tetapi perempuan gemuk yang berjalan di sisi Uci tadi mendengar isakannya. Tangannya yang montok terulur dan menyentuh bahu gadis itu dengan gerakan lembut. “Sudahlah, Den Uci, jangan ditangisi lagi kepergian ibumu!” katanya dengan suara membujuk. “Kasihan beliau. Iklaskanlah agar lapang jalannya, tanpa beban yang masih ada sangkutannya dengan dunia!” Uci menggigit bibirnya lagi hingga berdarah. Dan dengan sekuat kemampuannya yang tersisa ia berusaha  enahan agar tangisnya jangan sampai keluar.
Tetapi apa yang diusahakannya itu bukan karena kata kata klise yang diucapkan oleh pembantu rumah tangganya yang sudah semakin tua itu, melainkan karena ia tak ingin ada orang lain lagi yang sempat melihat air matanya. “Usap air matanya, Den!” Mbok Mi, perempuan gemuk yang sudah banyak ubannya itu berkata lagi. “Lihat itu, Den Bramanto menghampiri kita.” Seorang lelaki muda berpakaian gelap berjalan tergesa mendekati Uci. “Kau ditunggu ayahmu, Dik Uci!” katanya dengan

Detail Buku:
Judul         : Sepatu Emas Untukmu
Penulis      : Maria A. Sardjono
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978 - 602 - 03 - 1052 - 7
Tebal         :
304 hlm
Download      : Google Drive


Tidak ada komentar:

Posting Komentar