Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. Ia satu dari beberapa orang yang mengetahui kemaluan Ajo Kawir tak bisa berdiri. Ia pernah melihat kemaluan itu, seperti anak burung baru menetas, meringkuk kelaparan dan kedinginan. Kadang-kadang bisa memanjang, terutama di pagi hari ketika pemiliknya terbangun dari tidur, penuh dengan air kencing, tapi tetap tak bisa berdiri. Tak bisa mengeras. Ajo Kawir duduk di pinggir tempat tidur, tanpa pakaian. Ia memandangi selangkangannya, memandangi kemalauannya yang seolah dalam tidur abadi, begitu malas. Ia berbisik kepadanya, Bangun, Burung. Bangun, Bajingan. Kau tak bisa tidur terus-menerus. Kau harus bangun. Tapi Si Burung kecil sialan itu tak mau bangun. Ia memikirkan gadis itu. Iteung.
Kau harus bangun, demi gadis itu, bisiknya lagi. Gadis itu menginginkanmu. Menginginkanmu bangun, besar dan keras. Seperti dulu kau biasa bangun, besar dan keras. Bajingan, bangun. Aku tak memiliki kesabaran lebih. Aku ingin kau bangun. Sekarang. Si Burung berpikir dirinya seekor beruang kutub yang harus tidur lama di musim dingin yang menggigilkan. Ia memimpikan butir-butir salju yang turun perlahan, yang tak pernah dilihat oleh tuannya. a masuk ke kamar mandi. Ia menempelkan selembar sampul buku teka-teki silang tua yang disobeknya secara sembarangan di dinding. Foto seorang artis. Ia tak tahu namanya. Ia hanya suka wajahnya, terutama tubuhnya. Si artis hanya mengenakan bikini dengan dada rendah. Buah dadanya menyembul, seperti berusaha keluar dan melepaskan diri dari tubuh pemiliknya. Yang paling menyenangkan adalah bulu di ketiaknya, hitam dan lebat. Ia membayangkan seperti apa bau ketiaknya. Ajo Kawir mengguyur tubuhnya. Ia merasa sedikit tenang. Rasa segar menyelimuti tubuhnya. Ia kembali mengambil air dari bak dengan gayung, dan mengguyurkan air melalui kepalanya. Ujung-ujung rambut menempel di dahi dan telinganya. Butir-butir air berjatuhan dari ujung dagu dan hidungnya. Aku akan mencobanya lagi, pikirnya. Ia meman dangi foto itu. Melirik ke celah dada perempuan itu, juga ke hitam legam bulu keteknya. Ia memegangi kemaluannya. Mengelusnya. Bangun, bisiknya. Ia mengambil sabun, menggosokkannya di telapak tangan. Memejamkan mata sejenak. Ia kembali memegangi kemaluannya. Bangun, bisiknya. Bangun, Bajingan. Demi lolongan anjing di musim kawin, biasanya kau bangun dengan cara ini. Si Burung berpikir dirinya beruang kutub dan ini waktu untuk tidur panjang. Si Burung sedang tidur lelap. Dengan mimpi tentang salju. Tai, gumamnya.
Si Tokek juga tahu kemaluan Ajo Kawir tak bisa bangun. Itulah kenapa Si Tokek tidak pernah mengajaknya untuk menggoda gadis-gadis yang lewat di depan kantor pos. Begitu juga Si Tokek tak pernah mencoba mengajaknya menonton video porno atau meminjaminya novel stensilan, percaya bukan hanya hal tersebut tak akan menyembuhkan bocah itu, tapi malahan hanya akan membuat Ajo Kawir berang. Lelaki yang tak bisa ngaceng sebaiknya jangan dibuat berang, begitu Iwan Angsa akan mengingatkan lama setelah itu. Mereka berjalan di trotoar, masing-masing dengan kretek di antara jari mereka. Yang satu mengisap Djarum, yang lain tak pernah berpaling dari Gudang Garam. Si Tokek meletakkan kretek di mulutnya, dan membiarkannya terus di sana, sementara kedua tangannya diselipkan ke dalam saku jins. Ia menggigit kreteknya agar tak jatuh, ketika ia mencoba mengembuskan asap dari mulutnya. Asap perlahan keluar dari mulutnya, dan dengan kemahiran seorang perokok, asap berputar diisap masuk ke lubang hidungnya, sebelum dikeluarkan kembali, bergulung-gulung. Ajo Kawir menengadah dan mengembuskan asap kretek ke udara, lalu menoleh ke arah Si Tokek. “Aku ingin menghajar orang,” katanya. “Dua bocah yang duduk di tembok pagar itu boleh juga.” jo Kawir menoleh ke arah yang diisyaratkan oleh Si

Detail Buku:
Judul         : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis      : Eka Kurniawan
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         :
-
Download      : Google Drive



Tidak ada komentar:

Posting Komentar