THALITA menanggalkan pakaiannya dan berjalan ke bawah shower. Tangannya meraba keran shower, dan membukanya hingga maksimal. “Adooooowwwwww!!!” jerit Thalita sekuat tenaga begitu air shower mengguyur tubuhnya. Dingin kayak es! Ini pasti diimpor dari Kutub Utara! gerutunya dalam hati. “Tha? Kamu kenapa?” Thalita mendengar suara mamanya di balik pintu, tapi dia nggak sanggup menjawab karena masih menggigil kedinginan. “Oh iyaa… Mama lupa bilang water heater-nya lagi rusak, jadi terpaksa pagi ini kamu mandi air dingin ya! Lumayan, biar seger, kan?” Walaupun dibatasi pintu, Thalita bisa membayangkan seulas senyum yang mengembang di bibir mamanya. “Huh! Seger apanya? Bikin aku jadi es lilin sih iya!” Thalita mengomel panjang-pendek. Tangannya cepat-cepat menutup keran shower yang masih memuntahkan air dingin. Ia lalu meraih handuk, dan dengan cepat membungkus tubuhnya. Pilihan untuk meneruskan mandi jelas sama dengan cari mati. Tapi bayangan bahwa ia harus nggak mandi di hari pertamanya jadi murid SMA membuat Thalita bergidik. Gimana kalau ia nanti bau kecut, dan teman-teman barunya bakal terus mengingatnya sebagai “Miss Bau Badan” sepanjang sisa masa SMA mereka? Tak usah deh ya! Thalita lalu menguatkan nyali untuk berada kembali di bawah air shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa juga dengan suhu air dari shower yang dingin itu. Ternyata setelah beberapa saat, tubuhnya terbiasa dengan suhu air dari shower. Thalita bahkan berani memutuskan untuk keramas. Sambil membusakan sampo di rambutnya, Thalita merenung. Ini hari pertamanya jadi murid SMA, tapi ia sama sekali tak bersemangat. Ia malas, dan itu nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa ia harus bangun pagi lagi setelah sebulan lebih bisa molor sampai siang karena sedang liburan. Ia teringat kejadian tiga minggu lalu Andra baru saja mematikan mesin motornya di depan rumah Thalita, saat terdengar suara menggelegar mengagetkan mereka berdua. “Thalita! Masuk!” Papa muncul di pagar dengan berkacak pinggang, ia menatap Thalita geram. Dan tatapannya pada Andra… Thalita sampai mengkeret melihatnya! Mungkin kalau Papa punya kemampuan seperti Sylar di serial Heroes, yaitu bisa menggerakkan benda dengan hanya menatapnya, Andra pasti bukan hanya sudah melayang-layang di udara sekarang, tapi pasti juga sudah dilemparkan ke seberang jalan sana! “Pa…,” Thalita berusaha membujuk papanya. Hari sudah malam, dan ia nggak ingin para tetangga berhamburan keluar dari rumah masing-masing karena mendengar ada ribut-ribut. “Papa bilang masuk ke dalam rumah! Sekarang!” kali ini Papa mendesis berbahaya. Thalita nggak berkutik, mau nggak mau ia menuruti perintah Papa. Saat ia baru mencapai pintu depan, ia mendengar Papa menghardik Andra. “Kamu! Saya sudah peringatkan kamu, jangan dekati anak saya lagi! Pergi kamu!” Tidak terdengar suara Andra membantah, hanya terdengar deru motornya yang menjauh pergi. Thalita merasa hatinya perih. Papa berjalan mendekati Thalita, dan setengah menyeret tangan anak gadisnya itu untuk masuk ke rumah. “Duduk!” perintah Papa saat mereka sampai di ruang tamu. Thalita menurut, ia duduk di salah satu sofa di ruang tamu itu, dan menghela napas dalam-dalam. “Papa nggak tahu harus bilang apa lagi supaya kamu menuruti kata-kata Papa.”
Thalita diam. “Anak itu berbahaya, Tha! Kenapa kamu masih mau dekat-dekat dia?” “Namanya Andra, Pa,” kata Thalita pahit. “Andra kek, Andro kek, Andri kek, Papa nggak peduli! Papa cuma mau kamu nggak dekat-dekat dia lagi! Kamu kan tahu, dia itu pengguna narkoba!” Thalita sudah mendengar kalimat itu berkali-kali keluar dari mulut Papa, tapi setiap kali mendengarnya tetap saja ia merasa pedih. Ya, Andra memang pemakai narkoba, Thalita tahu itu. Sudah hampir setahun Andra terjerumus dalam dunia narkotika, dan itu hanya beberapa bulan setelah mereka mulai pacaran. Tapi, biarpun berita tentang Andra pemakai narkoba entah bagaimana caranya berhasil mencapai telinga Papa, dan berakibat keluarnya larangan bagi Thalita untuk pacaran dengan cowok itu, Thalita jalan terus sama Andra. Ada banyak sifat dan sikap cowok itu yang membuatnya jatuh hati. Andra perhatian, pengertian, romantis… kekurangannya hanya satu, ia tak bisa menjauhkan dirinya dari narkoba. Dan Thalita tahu, Andra jadi seperti itu karena dia tak bisa menerima kenyataan ortunya telah bercerai. Narkoba hanya pelariannya. Thalita bukannya nggak pernah berusaha melepaskan Andra dari dunia hitam itu. Dia sudah berusaha sebisanya, dengan berbagai cara. Mulai dari membujuk Andra baik-baik, memohon
Detail Buku:
Judul : Thalita
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :-
Tebal : -
ISBN :-
Tebal : -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar