Dahsyatnya Tahajud Seorang Perempuan Penulis Tatit Ujiani Prasetyaningsih

Dahsyatnya Tahajud Seorang Perempuan Penulis Tatit Ujiani Prasetyaningsih

Detail Buku:

Judul: Dahsyatnya Tahajud Seorang Perempuan
Penulis: Tatit Ujiani Prasetyaningsih
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer, 2013
ISBN: 978-602-249-327-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 112 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 937Kb

Deskripsi:

Shalat Tahajud adalah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT dan merupakan sarana mendekatkan diri pada-Nya. Ketika malam datang dan kita bermunajat kepada Allah SWT, ketika tetesan air mata mengalir dengan deras saat mengingat dosa yang telah kita lakukan, saat itulah keimanan kita meningkat. Dan, di sepertiga malam itulah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan doa kita.kepada Allah SWT, ketika tetesan air mata mengalir dengan deras saat mengingat dosa yang telah kita lakukan, saat itulah keimanan kita meningkat. Dan, di sepertiga malam itulah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan doa kita.

Ketika seorang ibu menengadahkan tangannya di tengah malam sunyi, beralaskan sajadah, dan mendoakan keberhasilan suami serta anak–anaknya dengan ketulus- an cinta dan keikhlasan, saat itu Allah SWT akan menjaminnya. Karena Allah SWT telah memberikan jaminan kepada perempuan yang rela bangun di tengah malam dan berperang melawan hawa dingin untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam.

Seorang suami tak akan berhasil tanpa dukungan dan doa dari istrinya. Ketika kerinduan tumpah dari pelupuk mata sang ibu untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, mendoakan agar keluarganya selalu dirahmati dan diberi kemudahan serta kelancaran dalam mengarungi kehidupan, saat itulah Allah SWT akan mendekat kepadanya. Karena Allah SWT akan dekat kepada hamba-Nya yang tak kenal lelah untuk memohon dan mengadu.

Di dalam buku ini, Anda akan menemukan tip dan trik bagaimana agar selalu istiqamah menjalankan shalat Tahajud serta uraian mengenai keutamaan-keutamaan menjalankan shalat Tahajud. Anda juga akan menemukan sepenggal kisah tentang keberhasilan seorang perempuan dalam mengantarkan kesuksesan kepada anaknya dan mendampingi sang suami dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Selain itu, di dalam buku ini juga dapat Anda temukan doa-doa perempuan selepas shalat Tahajud.


Dahsyatnya Spiritual Detok Penulis Drs. Madyo Wratsongko, MM

Dahsyatnya Spiritual Detok Penulis Drs. Madyo Wratsongko, MM

Detail Buku:

Judul: Dahsyatnya Spiritual Detok
Penulis: Drs. Madyo Wratsongko, MM
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2015
ISBN: 978-602-02-7231-3
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 179 halaman
Jenis File: PDF
Besar file: 2,58Mb

Deskripsi:

Buku yang Anda baca saat ini merupakan kumpulan materi ceramah penulis yang lebih banyak menyoroti tentang bagaimana membangun kesehatan dan kecerdasan bagi masyarakat tanpa kebergantungan pada para instruktur atau terapis. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam bahwa kesehatan dan kecerdasan dapat diupayakan secara mandiri dengan MENDIRIKAN SHALAT.

Ilmu  Spiritual  Detok  yang  berbasis  pada  ilmu  Terapi  Getar Saraf dan Senam Ergonomik telah dikenal masyarakat dengan nama  BEST  –  (Brain  Ergonomic  Spiritual  Technique).  Dalam penyebarannya, BEST disinergikan dengan ilmu manajemen sehingga memiliki manfaat langsung pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Peningkatan  kualitas  Sumber  Daya  Manusia  (SDM)  sangat mudah  dilakukan  apabila  kita  memahami  ilosoi  dasarnya. Selama  ini  kita  mengenal  arti  kata  SDM  sebatas  pada  aset perusahaan, roda penggerak, pelaksana, dan sebagainya. Dari pengalaman saat melakukan perjalanan spiritual, penulis menemukan  makna  yang  lebih  dalam  dari  SDM,  bahwa makna  SDM  adalah  Sumber  Daya-NYA  Manusia.  Jadi,  apabila kita  mengenal  Sumber  Daya-Nya  Manusia,  semua  persoalan kehidupan manusia akan tuntas, selesai dengan baik, karena mendapat solusi terbaik dari Allah Swt.

Namun,  bagaimanakah  cara  mengenal  Sumber  Daya- Nya Manusia itu? Itulah persoalannya. Sebelum penulis menyampaikan kata kunci untuk mengenal-Nya, mari kita buka cakrawala pola pikir kita agar selaras sehingga kita akan memahami semua materi spiritual detok yang disampaikan secara utuh, yaitu dengan membaca buku yang ada di hadapan Anda  secara  serius  dan  mengikuti  tahapan-tahapannya.  Jadi, tidak hanya sebagai wacana pengetahuan, tetapi juga praktik melakukan dan akhirnya membantu dalam menyebarkan ilmunya. Namun,  bagaimanakah  cara  mengenal  Sumber  Daya- Nya Manusia itu? Itulah persoalannya. Sebelum penulis menyampaikan kata kunci untuk mengenal-Nya, mari kita buka cakrawala pola pikir kita agar selaras sehingga kita akan memahami semua materi spiritual detok yang disampaikan secara utuh, yaitu dengan membaca buku yang ada di hadapan Anda  secara  serius  dan  mengikuti  tahapan-tahapannya.  Jadi, tidak hanya sebagai wacana pengetahuan, tetapi juga praktik melakukan dan akhirnya membantu dalam menyebarkan ilmunya.

Bulan by Tere Liye

Bulan by Tere Liye

Gerimis membungkus halaman sekolah. Langit mendung. Gumpalan awan hitam seakan bosan beranjak di atas sana. Satu-dua tetes air mengenai jendela kelas lalu terbawa angin. Udara terasa lembap dan dingin. Ini sebenarnya sudah di ujung musim hujan. Tak lama lagi musim kemarau yang kering akan tiba. ”Bagus sekali, Ali! Kamu lagi-lagi memperoleh nilai terbaik.” Suara Pak Gun memecah keheningan kelas. Lelaki itu berseru dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Ali yang baru saja menerima hasil ulangan. Kelas seketika ramai oleh tawa. Seli di sebelahku juga tertawa. Aku menyikutnya. Dengan mata melotot, kutegur dia, ”Itu tidak sopan, tahu!” Seli mengangkat bahu. ”Apanya yang tidak sopan?” Ini pelajaran pertama, pelajaran biologi. Pak Gun memulai pelajaran dengan membagikan satu per satu lembar jawaban ulangan anak-anak minggu lalu. Aku tahu sekali maksud kalimat ”nilai terbaik” itu. Di kertas yang dipegang Ali sekarang pasti hanya ada angka 2 atau 3 dari maksimal  10. Aku menoleh ke lorong meja. Ali berjalan tidak peduli, duduk di bangkunya, memasukkan kertas ulangannya ke kolong meja. ”Dua hari lagi kita ulangan.” Pak Gun sudah membagikan kertas terakhir. ”Yaaa...,” anak-anak berseru kecewa, serempak. Termasuk Seli. Dia menepuk dahi. ”Jangan protes.” Pak Gun menggeleng. ”Kalian harus terbiasa belajar setiap hari, mempersiapkan diri. Tinggal satu minggu lagi ujian akhir semester. Bapak kecewa dengan nilai rata-rata yang hanya tujuh. Bapak percaya kalian bisa lebih baik lagi. Dan kamu, Ali, kamu merusak nilai rata rata kelas. Kapan kamu akhirnya mau belajar sungguhsungguh?” Semua teman di kelas sekarang menoleh ke arah Ali. Yang ditatap hanya menggaruk-garuk kepala dengan rambut berantakan.
”Sekali lagi kamu memperoleh nilai dua saat ulangan, kamu harus konsultasi ke guru BK. Semoga setelah itu kamu bisa memahami pentingnya belajar. Kamu dengar itu, Ali?” Pak Gun menghela napas panjang. Seli lagi-lagi menutup mulut, menahan tawa. ”Apanya yang lucu, Sel?” aku menoleh, berbisik. ”Eh, lihat tuh, wajah Ali lucu sekali. Rambutnya yang berantakan itu serasi sekali dengan wajah kusutnya. Aku berani bertaruh, dia pasti tidak sempat mandi pagi tadi. Dan nilai dua, Ra...,” Seli berbisik geli. Aku keberatan, lantas memotong kalimat Seli, ”Ali teman kita, Sel. Kamu tidak boleh menertawakannya. Lagi pula, kamu tahu persis dia hanya malas, bukan bodoh. Dia bahkan menguasai pelajaran biologi sejak SD.” Seli lagi-lagi mengangkat bahu. Apa salahnya tertawa? Demikian maksud ekspresi wajahnya. Gerimis terus turun sepanjang pelajaran biologi. Pak Gun adalah guru biologi yang baik dan telaten menjelaskan, pun pengetahuannya luas. Usianya hampir lima puluh tahun, dan beliau salah satu guru senior di sekolah. Meski generasi guru lama, Pak Gun selalu punya metode mengajar
yang up-to-date dan menarik. Seperti hari ini, dia menggunakan video. Hampir semua anak memperhatikan dengan antusias, sesekali mencatat. Aku tidak terlalu suka pelajaran ini. Aku lebih suka pelajaran bahasa. Tapi karena yang mengajar Pak Gun, aku ikut menyimak. Mungkin hanya Ali yang menguap bosan. ”Electrophorus electricus atau disebut juga electric eel adalah belut listrik yang bisa menghasilkan sengatan listrik hingga 600 volt.” Pak Gun menunjuk ke layar di depan kelas. Dia memutar video singkat tiga puluh detik yang memperlihatkan seekor belut besar sedang menyengat heIsi

 Detail Buku:
Judul         : Bulan
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978-602-03-1411-2
Tebal         : 400 hlm
Download      : Google Drive


Negeri Di Ujung Tanduk by Tere Liye

Negeri Di Ujung Tanduk by Tere Liye

RUANGAN besar yang disulap menjadi arena pertarungan itu terlihat ramai. Seruan tertahan, suara mengaduh, suara tepisan, bunyi berdebuk, terbanting, teriakan menyemangati, hingga teriakan bersahut-sahutan memenuhi langit-langit ruangan. Satu-dua berseru dalam bahasa yang tidak dipahami bahkan oleh orang yang berdiri di sebelahnya. Wajah-wajah dan perawakan antarbangsa, wajah-wajah antusias bercampur tegang. Udara terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Dua petarung sedang jual-beli pukulan di tengah ruangan, bertinju. Arena pertandingan tanpa ring pemisah apalagi kerangkeng tertutup. Hanya lingkaran merah di atas lantai, berdiameter dua depa. Percik keringat petarung, dengus napas, suara pukulan menghantam badan, semuanya terdengar langsung, tanpa jarak. Penonton berkerumun di sekitar lingkaran,  berdesak-desakan, dan berdiri menonton. Tangan mereka terangkat menyemangati. Ini jenis pertunjukan yang mengesankan. Satu tinju lagi menghantam cepat rahang salah seorang petarung. Membuat penonton berseru tertahan, sebagian besar berseru girang, ”Yes!” Sebagian mengeluh, ”Oh, no!” Disusul tinju lainnya mengenai dagu, kali ini lebih telak. Sepersekian detik berlalu, penantang yang beberapa menit lalu masih terlihat segar bugar segera tumbang ke lantai. Knockout alias KO.Pengunjung serempak berteriak kegirangan, melontarkan kebisingan. Napas petarung satunya, yang masih berdiri kokoh di tengah arena, bahkan tidak terlihat tersengal. Hanya kausnya yang sedikit basah oleh keringat.
”Fantastico!” ”Bravo!” Aku menelan ludah, melirik jam besar di tiang ruangan. Hanya dua menit lima belas detik lawan pertamanya dibuat tersungkur. ”Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?” Sebuah tangan menyikut lenganku, berkata kencang, berusaha mengalahkan bising. Aku menoleh, menatap wajah menyebalkan di sebelahku. ”Maksudku, jika kau mau, aku masih bisa membatalkan pertarungan. Aku bisa pergi ke mereka, mengarang-ngarang alasan. Kau sakit perut misalnya. Atau asmamu kambuh, mag kronis.” Theo mengangkat bahu, menunjuk salah satu sudut kerumunan, tempat beberapa anggota klub petarung yang bertindak sebagai inspektur pertandingan malam ini. ”Atau kita bisa mengarang  cerita, tiba-tiba bisulmu pecah....”
”Aku tidak akan membatalkan pertarungan,” aku menyergah Theo, memotong kalimatnya, ”simpan omong kosongmu!” Theo tertawa ringan, menyeka peluh di pelipis. Salah satu inspektur pertandingan meraih pengeras suara. Dia mengenakan pakaian kerja seperti kebanyakan pengunjung lain—hanya kemejanya terlihat berantakan, keluar dari celana, lengan dilipat, dan dasi entah tersumpal di mana. Dengan bahasa Inggris bercampur Portugis yang sama fasihnya, dia berseru tentang pertarungan yang baru saja selesai. ”Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentlemen. Well, simpan teriakan kalian. Pertarungan kedua akan segera tiba. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertarung sejak enam bulan.” Wajah inspektur antusias, juga keramaian di ruangan. ”Jangan lupa, seperti yang kami sebutkan pada awal pertemuan malam ini, kami telah menyiapkan kejutan besar di pertarungan terakhir, ladies and gentlemen. Ini sungguh kejutan hebat. Kalian pasti suka.” Petarung yang masih bertahan di tengah lingkaran merah menolak duduk di kursi yang disediakan. Dia memilih berdiri, melemaskan bahunya. Tatapan matanya tajam, gestur wajahnya tenang. Sama sekali tidak terpengaruh situasi sekitar. Sementara penantang keduanya bersiap di tepi lingkaran. Dia memasang sarung tinju tipis dan pelindung kepala. Beberapa orang berseru menyemangati, menepuk-nepuk bahu. Detik-detik pertarungan
semakin dekat. Suasana semakin panas. ”Lee! Lee!” Nama sang juara bertahan diteriakkan beramai-ramai.


Detail Buku:
Judul         : Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis      : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :978 - 979 - 22 - 9429 - 3
Tebal         : 360 hlm
Download      : Google Drive


The Expendables Of Kurusetra (Tujuh Bunga Pandawa) by Ony Dwi Raharjo

The Expendables Of Kurusetra

Awan gelap seolah menggantung di atas langit sebuah desa yang subur dan makmur. Suasana yang senyap membuat enggan untuk memandang, bahkan walau hanya sebentar. Seorang wanita dan lima anak laki-laki, berjalan di jalan setapak menuju desa itu. Dari tempatnya berjalan, mereka dapat dengan leluasa memperhatikan desa tersebut, karena mereka berjalan di sisi pinggir pegunungan, yang lebih tinggi dari desa tersebut. Keringat dan peluh membasahi kain mereka yang telah menjadi kumal. Wajah wajah yang hitam dan berdebu, membuat mereka semakin terlihat lusuh. Keletihan menghinggapi diri mereka. Kain kain yang mereka kenakan, tak hanya lusuh oleh keringat dan debu, namun disana sini terlihat juga bekas bekas jilatan api hingga menghitam bahkan robek. Wanita itu, demikian terlihat letihnya, hingga kadang jalannya terseok seok dan tertatih tatih, bahkan beberapa kali hilang keseimbangan dan hampir jatuh. Seorang anak laki-laki yang mempunyai tubuh paling besar diantara mereka, dengan sigap meraih tubuh wanita itu, dan kemudian di angkatnya, dan di dudukkannya di pundak kanannya. Tangan kanannya yang sangat kuat, bagai sebuah kayu yang dapat menjadi sandaran bagi tubuh wanita itu untuk dapat beristirahat, karena memang tak mungkin mereka berhenti sejenak walaupun hanya untuk sekedar istirahat. Sementara dua anak laki-laki yang berperawakan sedang, dengan wajah dan tubuh yang hampir sama, tak kalah menyedihkannya pula. Beberapa kali mereka merengek pada saudaranya. Lapar dan haus telah mendera mereka. Hal ini membuat mereka berenam menjadi semakin gundah. Gundah akan keadaan mereka sendiri yang tidaklah begitu baik, dan kini saudara termuda mereka juga mengalami hal yang demikian. Keduanya selalu berdekatan dengan satu orang lagi yang berwajah tampan diantara mereka. Dia selalu menggandeng tangan mereka di kiri dan di kanan. Dia berjalan agak lebih di depan, mendampingi seorang lagi yang berperawakan hampir sama dengannya, namun dia lebih terlihat sangat bijaksana. Dia berjalan satu satu, melihat dan memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya. “Kakang Puntadewa, berhentilah Kakang ” kata wanita yang duduk diatas pundak laki-laki bertubuh besar itu. “Sena  turunkan aku ” pinta wanita itu kemudian kepada laki-laki bertubuh besar itu. “Baik Kakang Mbok ” katanya sambil menurunkan tubuh wanita itu ke tanah, hampir bersamaan dengan kata kata Puntadewa. Puntadewapun kemudian berhenti dan menghadap istrinya. “Puntadewa, berhentilah sejenak. Aku melihat terdapat sebuah rumah di depan jalanan ini, mungkin kita dapat mencari tahu tentang desa di bawah itu….” Kata wanita itu. “Baiklah Diajeng …” jawab Puntadewa. “Lagipula, lihatlah Si Kembar adikmu. Mereka letih, lapar dan dahaga. Mereka tak sekuat kalian….” Katanya kemudian. “Arjuna, biarkan mereka kemari….” Pintanya pada Arjuna yang dari tadi menggandeng tangan Si Kembar, Nakula dan Sadewa. “Kakang Mbok……” kata mereka berdua lirih. Dewi Drupadi, sang kakak ipar, isteri dari kakak sulungnya, Puntadewa, membelai kedua kepala anak itu, sambil memeluknya erat erat. Air mata Dewi Drupadi menetesi kedua pundak anak kembar itu. Tangisnya terisak isak, hingga tak satu pun kata kata mampu keluar dari mulutnya. “Lihatlah rumah di depan itu, adakah rumah itu berpenghuni. Biarlah kita istirahat barang sebentar di rumah itu.” Kata Dewi Drupadi. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Arjuna dan Sena segera melangkah maju untuk melihat dari dekat rumah sederhana yang terlihat tak begitu terurus. Sementara Puntadewa masih berdiri, menemani Dewi Drupadi yang masih memeluk Nakula dan Sadewa. Beberapa saat berjalan, Arjuna dan Sena tiba di rumah tersebut. Rumah yang terbuat dari bambu dan kayu, yang sangat sederhana. Melihat debu debu yang menempel di dinding, serta halaman yang penuh dengan daun daun kering, sarang laba laba di setiap sudut, mereka yakin bahwa rumah itu telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Dengan isyarat tangan, Arjuna dan Sena memanggil Puntadewa yang mengawasi mereka dari kejauhan. Melihat isyarat tangan tersebut, Puntadewa kemudian mengajak Dewi Drupadi serta Kembar untuk segera menyusul Arjuna dan Sena. Setelah tiba di rumah itu, mereka pun beristirahat sejenak, di balai balai yang terletak di sudut beranda rumah itu. Walaupun kotor dan berdebu, mereka sangat bersyukur telah menemukan tempat untuk melepas lelah barang sebentar. Arjuna dan Sena kemudian berputar mengelilingi rumah itu untuk mencari setidaknya air yang dapat mereka gunakan untuk membasahi tenggorokan mereka. “Kakang Puntadewa, adakah seseorang yang masih tinggal di rumah ini?” bertanya Dewi Drupadi.


Detail Buku:
Judul         : The Expendables Of Kurusetra (Tujuh Bunga Pandawa)
Penulis      : Ony Dwi Raharjo
Penerbit     : PT. Woolu Aksara Maya
ISBN         :-
Tebal         : -
Download      : Google Drive


The Fire Sermon (The Fire Sermon, #1) by Francesca Haig

The Fire Sermon (The Fire Sermon, #1) by Francesca Haig

AKU SELALU MENGIRA mereka akan mendatangiku pada malam hari, tapi keenam laki-laki itu justru muncul di ladang pada siang bolong. Saat itu masa panen. Seluruh warga permukiman bangun dini hari dan bekerja hingga larut malam. Panen subur tak pernah terjadi di wilayah gersang yang terbuka bagi Omega. Musim yang lalu, hujan lebat melepaskan abu yang terkubur dalam-dalam di tanah. Sayuran akar1 tumbuh kecil-kecil, atau malah tidak sama sekali. Tanaman kentang di seisi ladang tumbuh ke bawah—kami menemukan kentang terbenam hampir dua meter di bawah permukaan yang kotor. Seorang anak lakilaki tenggelam ketika menggalinya. Kedalaman lubangnya hanya beberapa meter, tapi dinding lempungnya roboh. Anak itu tak pernah muncul lagi. Terpikir olehku untuk pindah, tapi semua area di lembah tergenang air, dan tak satu pun permukiman mau menyambut pendatang pada musim kelaparan. Jadi, aku tetap tinggal dan menghadapi tahun suram itu. Orang-orang bertukar cerita tentang kekeringan, ketika gagal panen tiga tahun berturut-turut. Saat itu aku memang masih kecil, tapi aku ingat melihat bangkai ternak yang mati kelaparan, yang lelah membanting tulang mengarungi ladang debu. Tapi itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kali ini tidak akan separah tahun-tahun kekeringan, begitulah cara kami saling menghibur, seolah dengan terus mengucapkannya harapan kami akan terwujud.  usim semi berikutnya, kami mengamati tangkaitangkai di ladang gandum dengan saksama. Panen awal muncul dengan menjanjikan—wortel panjang dan besar yang kami gali tahun itu membuat anak-anak muda tertawa gembira. Dari petak kecilku sendiri, aku memanen sekarung besar bawang putih yang kubopong ke pasar seperti membawa bayi. Sepanjang musim semi aku mengamati gandum di ladang milik bersama tumbuh tinggi dan mantap. Lavendel di belakang pondokku dirubungi lebah dan, di dalam, rak-rakku penuh dengan makanan. Mereka datang pada pertengahan masa panen. Aku
sudah merasakannya. Kalau boleh jujur, perasaan ini sudah muncul selama berbulan-bulan. Dan fi rasat itu sangat jelas sekarang, kewaspadaan mendadak yang tak bisa kujelaskan kepada siapa pun selain peramal. Rasanya seperti ada yang bergerak: seperti awan yang melintasi matahari, atau angina yang berubah arah. Aku menegakkan tubuh, menggenggam sabit, dan memandang ke selatan. Aku mulai berlari sebelum teriakan terdengar dari ujung permukiman. Saat suara jeritan semakin keras dan muncul enam laki-laki berkuda, orangorang
lain juga ikut berlari—bukan kejadian aneh jika Alpha menyerbu permukiman Omega, mencuri apa pun yang berharga. Tapi, aku tahu apa yang mereka buru. Aku juga tahu bahwa percuma saja kabur. Bahwa seharusnya sejak enam bulan yang lalu aku mengindahkan peringatan ibuku. Bahkan saat aku merunduk di pagar dan berlari kencang ke tepi permukiman yang dipenuhi batu besar, aku tahu mereka akan menangkapku. Mereka nyaris tidak mengurangi laju kuda. Salah satu dari mereka menyambarku begitu saja selagi aku berlari. Dia menjatuhkan sabit yang kupegang dengan sekali pukul, lalu melemparku dengan wajah lebih dulu ke bagian depan sadel. Aku menendang-nendang, tapi kudanya malah berlari makin kencang. Guncangan yang menghantam rusuk dan perutku terasa lebih menyakitkan daripada pukulan tadi. Satu tangan besar menahan punggungku, dan bisa kurasakan tubuh laki-laki itu di atasku saat dia membungkuk ke depan, mendesak kudanya agar terus berlari. Aku membuka mata, tapi buru-buru


Detail Buku:
Judul         : THE FIRE SERMON
Penulis      : Francesca Haig
Penerbit     : Noura Books
ISBN         :978-602-385-000-6
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Enigma by Yudhi Herwibowo

Enigma by Yudhi Herwibowo

Sinopsis :
Ruangan itu terasa senyap. Hanya ada sepi, dan dirinya yang masih berdiri diam di ambang pintu, menatap sudut-sudut gelap. Matanya seakan telah terbiasa dengan celah-celah ruang hingga ia bisa melihat perabot-perabot rumah yang tertutup debu tebal. Sofa tua dan mejanya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kursi santai dan lemari jati di ujung ruangan. Sebuah lukisan di dinding yang sedikit miring karena angin. Juga meja makan besar dengan taplak yang terurai sampai ke bawah. Sejenak, ia masih berdiri mengencangkan jaketnya. Sejak tadi, di perjalanan menuju ke rumah ini, embusan angina kencang yang membawa hawa dingin tak henti menamparnamparnya. Untunglah, angin seperti berubah rupa saat ia sampai di ambang pintu rumah. Tembok tua rumah ini memang masih bisa menahan terpaannya, namun dari celah-celah sempit jendela, pintu, dan lubang angin, sebagian tetap berhasil lolos. Kali ini tak hanya mengembuskan hawa dingin, tapi juga debu-debu yang menebali seluruh isi rumah ini. Bahkan, angin yang berhasil melalui celah-celah sempit itu, kemudian menimbulkan bunyi-bunyi seakan siulan panjang yang tak henti-henti.  Tapi itu semua tak urung membuatnya terus melangkah ke dalam. Langkahnya sangat perlahan, seakan tak ingin jejaknya bertanda di lantai yang berdebu. 
Beberapa garis cahaya menerobos samar dari lubang-lubang angin, seakan ingin menuntun langkahnya yang terasa rapuh. Ya rapuh,  ingga suara apa pun yang tertangkap di telinganya, selalu membuatnya terhenti dan menahan napas sejenak! Kini, ia menghentikan langkahnya di depan meja makan besar yang taplaknya terurai hingga di lantai. Lalu, di antara temaram di sekelilingnya, dipandanginya lekat-lekat meja itu, seakan-akan ada sesuatu yang terlihat di sana. Tanpa disadarinya, angin yang sejak tadi berembus menaburkan debu dan menimbulkan siulan-siulan panjang, tiba-tiba terhenti. Semua seakan menepi. Namun entah mengapa, di saat seperti itulah tubuhnya mendadak terasa menggigil. Tangannya yang berusaha terangkat, ingin menyentuh meja yang masih selangkah di depannya, tampak bergetar. Airmatanya begitu saja menggenang di pelupuk matanya. Dan seiring luruhnya satu titik air mata membelah pipinya, bibirnya bergetar. Marga, engkau masih di sini bukan? Hasha 

miles away from light at noon total eclipse of the moon many reasons to believe in life just listen what it`s telling you

 Sebenarnya malam ini aku hanya ingin bicara pada lilin-lilin. Berdua saja, tanpa ada yang lain, dalam temaram yang sudah kuakrabi setiap sudutnya. Ini adalah kebiasaan lamaku. Namun telah lama tak lagi kulakukan. Entah mengapa, malam ini, tiba-tiba saja aku kembali ingin melakukannya. Terlebih sejak aku membeli beberapa lilin aroma terapi di pinggiran Nonongan beberapa hari lalu. Aku ingat, dulu, aku kerap membiarkan kamar kosku gelap tanpa cahaya. Teman-teman selalu menyangka aku tidur lebih dini. Tapi sebenarnya aku sekadar berdiam diri di kamarku. Memperhatikan geliat api dari sumbu lilin yang seakan menari di depanku. Lalu begitu saja, aku mengajaknya bicara. Ah, tidak-tidak, lebih tepat membatin mungkin. Ini mungkin terdengar sedikit tidak biasa, tapi aku merasa melakukan sesuatu hal yang wajar. Seperti bocah-bocah yang berbicara dengan mainannya, atau orang-orang yang membatin tentang penampilannya saat bercermin. Aku melakukan hal yang mungkin sedikit lebih wajar dibanding mereka. Aku menunggu respons dari batin, karena gerak api yang halus selalu kuanggap sebagai ekspresinya. Jawabannya. Tapi tetap saja, ini sebenarnya sedikit memalukan. Tapi aku selalu berdalih seperti pepatah Cina yang pernah kudengar; lebih baik menyalakan lilin daripada mengeluh pada kegelapan. Aku tak ingin berkonotasi macam-macam terhadap maknanya, hanya sekadar

Detail Buku:
Judul         : Enigma
Penulis      : Yudhi Herwibowo
Penerbit     : PT Grasindo
ISBN         :-
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Rumah Gema (The Hollow) By Agatha Christie

Rumah Gema (The Hollow) By Agatha Christie

Pada suatu pagi hari Jumat, jam 06.13, Lucy Angkatell membuka matanya yang biru dan besar lebar-lebar, menyambut satu lagi hari baru. Sebagaimana biasa, ia langsung sadar sepenuhnya, dan segera mulai memikirkan halhal yang diciptakan oleh pikirannya yang luar biasa aktif.  Ia merasa sangat memerlukan tukar pikiran dan percakapan, dan untuk itu dipilihnya saudara sepupunya yang masih muda, Midge Hardcastle. Gadis itu baru semalam tiba di The Hollow. Lady Angkatell cepat-cepat turun dari tempat tidur, mengenakan kimono, lalu pergi ke kamar Midge. Lady Angkatell memiliki jalan pikiran yang cepat dan membingungkan, dan sudah menjadi kebiasaannya untuk menciptakan percakapan-percakapan dalam pikirannya sendiri. Hal itu pun dilakukannya saat itu, dan daya khayalnya yang subur menciptakan jawaban- jawaban dari Midge. Percakapan dalam angan-angannya itu sedang berlangsung dengan hangat-hangatnya waktu Lady Angkatell membuka pintu kamar Midge. ”...Jadi, Sayang, kau terpaksa harus membenarkan bahwa pertemuan akhir pekan ini benar-benar akan menimbulkan kesulitan-kesulitan!” ”Eh? Apa?” gumam Midge sambil menguap. Ia terkejut karena dibangunkan dengan mendadak dari tidurnya yang nyenyak dan nyaman. Lady Angkatell langsung berjalan ke jendela, dan dengan gerakan cepat, membuka semua jendela dan kerai. Sinar fajar yang masih pucat di bulan September itu pun masuk ke kamar. ”Burung-burung itu!” katanya, sambil memandang ke luar dengan perasaan senang. ”Alangkah manisnya.” ”Apa?” ”Yah, pokoknya cuaca tidak akan menyulitkan. Agaknya  cuaca telah menyesuaikan diri dengan baik. Itu bagus. Sebab, kalau beberapa orang yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda-beda terkurung di dalam rumah, aku yakin kau sependapat denganku bahwa itu akan sepuluh kali lebih menyusahkan. Mungkin kita bisa mengadakan beberapa permainan, tapi mungkin hasilnya akan sama seperti tahun lalu. Rasanya aku tak dapat memaafkan diriku sendiri mengenai Gerda yang malang. Setelah peristiwa itu, kukatakan pada Henry bahwa aku memang kurang berpikir panjang. Tapi, yah, kita tentu harus mengundang dia juga, sebab tak mungkin kita bisa mengundang John tanpa mengundang Gerda. Itulah susahnya. Yang paling menyulitkan adalah karena dia begitu baik. Kadang-kadang rasanya aneh sekali, bahwa seseorang sebaik Gerda sama sekali tidak memiliki kecerdasan. Kalau memang itu yang disebut ‘kompensasi’, kurasa itu sama sekali tak adil.” ”Apa sih yang kaubicarakan, Lucy?” ”Tentang pertemuan akhir pekan yang akan dating ini, Sayang. Tentang orang-orang yang akan datang besok. Semalaman aku memikirkannya, dan aku amat terganggu. Jadi aku akan merasa amat lega kalau bisa membicarakannya denganmu, Midge. Kau selalu berpikiran sehat dan praktis.” ”Lucy,” kata Midge dengan ketus, ”tahukah kau jam berapa sekarang?” ”Tepatnya aku tak tahu, Sayang. Kau kan tahu aku tak pernah tahu waktu.” ”Sekarang baru jam enam lewat seperempat.” ”Benarkah itu, Sayang?” kata Lady Angkatell, sama sekali tanpa rasa risi. Midge memandanginya dengan kesal. Gila, benar-benar
tak masuk akal si Lucy ini! Aku benar-benar tak mengerti, bagaimana kami sampai bisa menyesuaikan diri dengannya, pikir Midge! Tapi, selagi berpikiran begitu, ia langsung tahu jawabannya. Lucy Angkatell tersenyum, dan melihat senyumnya, Midge merasakan daya tarik kuat yang memang dimiliki Lucy sejak dulu. Bahkan setelah berumur lebih dari enam puluh tahun pun, daya tarik itu tidak berkurang. Gara-gara daya tarik itulah orang-orang di seluruh dunia, orang-orang asing terkemuka, para ajudan, dan para pejabat pemerintah, rela mengalami hal-hal tak menyenangkan, yang mengesalkan hati, dan membingungkan. Perilakunya yang menyenangkan dan kekanakkanakan menghilangkan semua rasa tak senang dan menghapus semua kritik. Lucy hanya tinggal membuka mata birunya yang besar itu lebar-lebar, dan mengulurkan tangannya yang halus, lalu bergumam, ”Aduh!

Detail Buku:
Judul         : THE HOLLOW (Rumah Gema)
Penulis      : Agatha Christie
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
978 – 979 – 22 – 8261 – 0
Tebal         : 368 hlm
Download      : Google Drive


Love, Lies, Promise, Past by Titi Setiyoningsih

Love, Lies, Promise, Past by Titi Setiyoningsih

I believe that two people are connected at the heart and it doesn't matter what you do, or who you are, or where you live, there are no boundaries or barriers if two people are destined to be together. (Julia Robert)
Aninda mengayuh sepeda butut dengan galau sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup
oleh satpam bengis penjaganya ini pertama kali ia berangkat sekolah sebagai siswi SMA  Harapan Jaya setelah satu minggu ditindas para senior dalam kegiatan MOS bahkan ia tak peduli dengan bunyi klakson kendaraan yang sejak tadi memperingatkan dirinya untuk memelankan sepedanya. yang ada dibenaknya hanyalah: jangan sampai terlambat kalau tidak mau berurusan lagi dengan para senior sok galak. lampu merah diperempatan membuat aninda berhenti gerbang SMA Harapan Jaya yang terbuka lebar tampak dipelupuk mata. matanya berkilat saat detik-detik menuju lampu hijau. SREEET! ia memacu dengan semangat berlebihan hingga menyerempet sepeda motor sporty biru yang tergesa-gesa. Bruuk! aninda terjatuh sepedanya masih melaju kencang tanpa kendali. ia melihat sepedanya itu masuk selokan besar dan sekejap saja lenyap dari pandangan.orang-orang langsung mengerubunginya, begitupun pemilik motor sporty yang menyerempetnya tadi. petugas ambulans yang kebetulan lewat bergegas menolong dirinya, sedangkan nasib sepedanya sangat tragis. selokan dalam dan berlumpur membuat warga enggan mengambilnya. "sepedanya relakan saja, harganya juga tidak seberapa" gumam seorang bapak dari balik mobil aninda terdiam pasrah karena dahinya sedang diobati paramedis. cowok pengendara motor sporty tadi mendekati aninda setelah melepas helm. "sori buat yang tadi, ini kartu namaku" kata cowok tampan itu singkat, lalu beranjak pergi mengendarai motornya. hati aninda mencelus. dia cuma bilang kayak gitu tanpa rasa bersalah? sialan! umpatnya dalam hati. Setelah selesai mengobati luka didahi, paramedis mengantar aninda sampai didepan gerbang sekolah. "makasih ya pak" kata aninda sambil tersenyum semanis mungkin. "lain kali lebih hati hati ya dik, sekarang jalanan ramai banget." kata paramedis itu sopan, kemudian ambulans menderu pergi. aninda menarik napas dalam-dalam, kemudian perlahan mengembuskannya lewat mulut. ia selalu begitu bila sedang gugup. sebentar lagi ia harus menerima omelan kakak kelasnya, wali kelasnya, dan entah dari siapa lagi saking banyaknya orang yang akan mengomelinya. belum lagi omelan orangtuanya bila tahu sepeda mereka satu-satunya musnah oleh anak sendiri. baru saja aninda melewati gerbang sekolah, dua senior mendekati dirinya. "ayo, ikut kami keruang OSIS!" ujar salah satu cewek. aninda jelas kaget "memangnya saya kenapa kak?" "udah ikut aja" ujar cewek satunya lagi. begitu tiba di ruang OSIS, aninda langsung disambut omelan. "baru kelas sepuluh udah berani telat lima belas menit!" omel salah satu pengurus OSIS yang terkenal galak disekolah. namanya marsya, cewek paling populer dan paling diidolakan kaum adam. "tadi saya kecelakaan kak, jadinya telat" jawab aninda sambil menunduk sepolos mungkin. ia melirik marsya dan kedua cewek tadi. semua siswa tahu marsya dan dua dayangnya ini pentolan SMA Harapan Jaya. talenta dibidang cheerleader membuat mereka populer sekaligus besar kepala. "ini kartu peringatan buat ditandatanganin orangtuamu. udah, sana balik kekelas" kata marsya sambil memberi aninda kartu merah. dengan langkah gontai aninda keluar dari ruang OSIS.  Waktu aninda sampai diruang kelasnya X-8, jam pertama sudah dimulai. Aninda mengintip dari
jendela. Bu Purwanti guru bahasa inggris sedang menulis materi pelajaran di papan tulis. Aninda mengetuk pintu, kemudian masuk dengan senyum konyolnya pada Bu Purwanti. “Okay, come here please” ujar Bu Purwanti dengan aksen London. “Apa bu?” Tanya aninda dengan wajah blo’on. Seisi kelas tertawa melihat ekspresi aninda. “Oh my God! You don’t know what I mean?!” lagi-lagi aninda melongo mendengar perkataan Bu Purwanti. Seisi kelas kembali tertawa. Wajah aninda memanas sehingga memerah. “ oke, kamu ke bangkumu saja. Ibu kasihan sama kamu” kata Bu Purwanti akhirnya. Aninda menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal, kemudian nyengir sambil melenggang menuju bangkunya. “dahi kamu kenapa?” bisik yasmin, teman sebangku sekaligus teman terlamanya.

Detail Buku:
Judul         : Lolipop
Penulis      : Titi Setiyoningsing
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN         :
-
Tebal         : -
Download      : Google Drive


UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan Hc

UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan

Kota Makkah melambaikan salam perpisahan kepada tamutamunya. Mereka berasal dari berbagai suku dan kabilah yang berbondong-bondong datang ke kota ini untuk menyaksikan Festival ‘Ukâzh2. Pada festival ini setiap suku dan kabilah mempertontonkan  kemampuan penyairnya masing-masing dalam bersyair. Demikian juga antusiasme suku Quraisy yang menunjukkan kebolehan para pemudanya yang hebat dalam bergulat. Namun, ada pula orang-orang yang terpesona pada kota agung ini sehingga enggan meninggalkannya dan memilih untuk menetap di sana. Dan, di antara mereka, ada seorang laki-laki tua yang berjalan dengan susah payah. Dia melangkahkan kakinya menuju Dârun Nadwah untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya dan berbincang bersama mereka tentang masa lalu, dari sore hingga berganti malam. Ketika berjalan, laki-laki tua itu berjumpa dengan seorang pemuda dari kalangan Arab badui. Pemuda tersebut tampak sedang menggembalakan kambing-kambing milik seorang pemuka suku Quraisy. Pemuda tersebut bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah tahu tentang sebuah berita besar, Saudaraku?” Laki-laki tua itu menjawab, “Berita apakah itu, Nak?” “Berita tentang si Kidal,” jawab sang pemuda. “Oh, si Kidal yang engkau maksud itu pemuda yang sering bergulat di ‘Ukâzh?” “Betul!” “Oh, ada apakah gerangan dengan dirinya?” tanya lakilaki tua itu. Sang pemuda menjawab, “Sesungguhnya dia telah memeluk Islam dan menjadi pengikut Muhammad.” Seketika laki-laki tua itu terkejut sekaligus terkagum- kagum. kemudian, dia berkata dengan pancaran wajah yang penuh makna, “Demi kebenaran, sesungguhnya dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Siapakah si Kidal yang kerap bergulat di Pasar ‘Ukâzh itu? Tiada lain dia adalah ‘Umar ibn Al-Khaththab r.a. Adapun kabar yang disampaikan oleh pemuda badui tadi datang bagaikan semburat fajar saat gulitanya pagi hari dan cahaya yang membuat siang terang benderang. Sejak itu, tak ada lagi sebutan si Pegulat Kidal bagi ‘Umar ibn Al-Khaththab ibn Nufail ibn ‘Abdul ‘Uzza dari Bani ‘Adi. Dia tak lagi meneruskan kegemarannya mencari lawan tanding yang kuat di Pasar ‘Ukâzh untuk bergulat dengan dirinya. Dia telah berubah menjadi ‘Umar Al-Faruq3, sosok yang menjadi pembeda dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan di seluruh Jazirah Arab hingga meluas ke seluruh penjuru bumi.Kelak, dia menjadi pemimpin dengan keadilan, keimanan, cinta kasih, dan petunjuk yang pengaruhnya meliputi penjuru bumi. Dia pun menjadi guru yang mengantarkan manusia pada kecerdasan sesungguhnya. Dia menjadi guru yang ketika itulah dunia tunduk di bawah kedua kakinya. Pada akhirnya, dia menjadi manusia yang diangkat derajat dan kehidupannya oleh Allah Swt. “Dia akan meluaskan kebaikan atau melapangkan keburukan bagi mereka.” Bagaimana bisa seorang laki-laki Arab yang tua renta melontarkan ucapan seperti demikian? Bagaimana mungkin  dia bisa memperkirakan sesuatu di masa depan secara tepat dan cerdas? Sesungguhnya siapa pun yang sempat menyaksikan ‘Umar sejak muda, dia pasti mengungkapkan ucapan serupa. Dia akan sampai pada keleluasaan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi dengan dirinya di masa depan sebagaimana yang dilakukan laki-laki tua tadi tanpa sedikit pun diliputi rasa ragu. ‘Umar adalah sosok laki-laki perkasa. Posturnya kekar dan besar, kulitnya kemerah-merahan, telapak kaki dan tangannya kuat, dan bahunya lebar. Dia cekatan dan bertubuh tinggi. Bila berjalan dengan orang-orang dari kaumnya, ia menjadi sosok yang paling terlihat karena tubuhnya yang tinggi. Dia sangat identik dengan sifat, “Jika berkata, pasti didengar. Jika berjalan, pasti cepat. Dan jika memukul, pasti merobohkan.” ‘Umar adalah sosok yang dalam hidupnya tak pernah merasa takut kepada manusia mana pun. Hatinya keras, tak pernah dihantui dengan perasaan gentar atau panik. ‘Umar mewarisi sifat ayahnya. Sosok yang tangguh, pemberani, dan tak kenal kata menyerah. Ketegasannya tak mengenal ragu. Tekadnya kuat, tak pernah setengah- setengah. Begitulah


Detail Buku:
Judul         : ‘UMAR IBN AL-KHATHTHAB Khalifah Penegak Keadilan
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid,
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-15-8
Tebal         : -
Download      : Google Drive


Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Utsman Ibn Affan : Khalifah Penjunjung Al-Quran

Saat pertama kali terbitnya fajar risalah, ada beberapa orang yang dikenal sebagai kaum terhormat karena kemuliaannya. Orang-orang inilah yang kemudian ditakdirkan menjadi generasi pertama dalam rangkaian luhur yang membawa “kalimat agama” kepada dunia. Mereka membawa cahaya Allah dan petunjuk-Nya bagi seluruh makhluk yang tersesat, tanpa awal, akhir, maupun keterputusan. Ketika takdir berlaku untuk memilih, ia telah membuat akal manusia terpana dalam menentukan pilihannya Pada kesempatan ini, kita akan menyaksikan seorang yang terhormat di tengah keluarga, bangsawan, dan kaumnya dipilih untuk menduduki posisi yang luhur. Namun, dalam waktu bersamaan, dia duduk di samping kaum fakir dan hamba sahaya yang diperjualbelikan. Mereka yang hidup dalam keadaan terbatas dan kekurangan serta akrab dengan rantai dan belenggu. Kita akan menyaksikan seorang yang kaya raya—dengan gelimang harta benda di tangannya—duduk bersama kaum fakir miskin yang hidup dalam kesengsaraan. Seperti seseorang yang kuat, penuh keberanian, dan mampu mengalahkan para pegulat  di Pasar ‘Ukâzh, dia ditakdirkan untuk hidup mendampingi dan melayani kaum lemah tak berdaya yang kedua kakinya bergetar karena tertiup angin. Dengan demikian, ‘Utsman adalah manusia cerdas—kecerdasan dan kemampuannya memancar dari dalam dirinya—yang tetap setia mendampingi rak yat jelata. Semua kenyataan ini—tanpa ikatan tertentu—telah menunjuk kepada suatu kaum yang besar dan memilih para kesa tria aga ma baru yang dikehendaki Allah Swt. kepada Muhammad Saw. untuk menyampaikan panji-panji kebesaran-Nya. Kaum yang memiliki keberagaman sifat dan perbedaan karakter dan de ra jat ini akan menunjukkan keindahan Islam dan mukjizat-Nya yang agung. Selain itu, Islam telah menjadikan para tokoh pem besar yang berpengaruh dari kaum Quraisy, seperti Abu Bakar, ‘Utsman, dan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, sebagai sosok-sosok penolong dan saudara bagi manusia lainnya, seperti Shuhaib, Bilal, dan ‘Ammar. Islam pun menciptakan persatuan dari latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan, semua perbedaan itu diikat dalam satu ikatan persaudaraan. Saksikanlah, takdir akan menunjukkan ketika para kesatria itu terpilih, sesungguhnya me reka berasal dari latar yang berbeda-beda. Bukankah mereka di tak dirkan bertemu dan bersatu dengan ke khasan masing-masing yang sangat banyak, mulai dari sifat yang unik, ke du dukan, dan kemampuan mereka? Tentu saja, ada titik yang mempertemukan mereka. Semen - tara, untuk menemukan titik tersebut bukanlah hal yang sulit. Al-Quran yang agung telah memberikan kabar kepada kita bahwasanya, Allah lebih mengetahui di mana Dia menem pat kan tugas kerasulan-Nya (QS Al-An‘âm [6]: 124). Benar, sesungguhnya Allah Swt. mengetahui bagaimana Dia akan me milihkan para pembela dan pembantu setia bagi Rasulullah Saw. Siapa pun rasulnya tentu dipilih oleh Allah Swt. Sosok yang dipilih adalah pribadi yang kehidupannya berada di atas segala kebenaran, kebaikan, dan keutamaan yang tak dimiliki manusia lain. Sebab itu, dengan karunia dari Tuhannya, seorang rasul haruslah memiliki kelebihan khusus berupa keutamaan jiwa dan kesungguhan hati, sehingga mampu menunaikan tugasnya: menyampaikan risalah. Ditegaskan pula, siapa pun yang menjadi rasul tak akan bisa bekerja sendirian. Dia memerlukan orang-orang beriman yang turut membantunya dalam menjalankan amanah agung tersebut. Selain itu, orang-orang ini harus memiliki kualitas yang tingkatannya mampu menunaikan peran mulia yang akan dipikul pundak mereka. Mereka bisa berasal dari pemuka agama, pemimpin kaum, orang-orang kaya, rakyat jelata, atau hamba sahaya. Ketika menunjuk para kesatria yang terpilih, sesungguhnya takdir pun telah memasukkan pandangannya hingga relung yang paling tersembunyi dari setiap kepribadian mereka. Meskipun, secara kasatmata, ada pola hidup mereka yang sangat akrab dengan kemewahan, penyimpangan, bahkan pembangkangan. Anak panah takdir telah melesat hebat terhadap pribadipribadi yang terpilih karena kesucian, keistiqamahan, dan ketulusan mereka. Takdir mengukuhkan kesatria yang gagah berani tersebut untuk memikul tugas. Dengan cara seperti inilah, takdir menunjukkan bagaimana terpilihnya orang-orang yang akan sanggup mengemban misi suci untuk membela Islam pada masa awal kemunculannya, ketika sang fajar masih diselimuti gelap gulita. Salah seorang yang terpilih adalah ‘Utsman. Dia laki-laki dari kaum ningrat atau bangsawan, pemuka kaum Quraisy, dan kalangan pembesar bangsa Arab. Dia ditakdirkan untuk menduduki tempatnya dengan segera di antara orang yang pertama
masuk barisan pemeluk agama dan petunjuk yang benar. Saat itu, dia sama sekali tak ragu menerima amanah agung tersebut.

Detail Buku:
Judul         :UTSMAN IBN ‘AFFAN Khalifah Penjunjung Al-Quran
Penulis      : Khalid Muhammad Khalid
Penerbit     : PT Mizan Pustaka
ISBN         :
978-602-1337-14-1
Tebal         : -
Download      : Google Drive